Rabu, 10 Oktober 2012

DI PENGHUJUNG RASA - #Percikan



“Jadi aku yang harus mengantar pesanan kue-kue itu ke rumah Tante Mira?” emosiku langsung naik saat Mbak Rini, kakak perempuanku, baru selesai berbicara denganku. “Kenapa bukan Mbak Rini atau Ibu saja yang mengantar kue-kue itu?”
          “Hari Minggu besok Ibu harus menemani Ayah datang ke acara kondangan, sedangkan Mbak ada acara reuni SMP.”
          “Jadi benaran harus aku yang mengantar kue-kue itu?”
          “Dengan sangat terpaksa, ya, memang harus kamu yang mengantar. Pleaseeee….” melihat wajah Mbak Rini yang memelas, aku jadi tidak tega juga. “Mbak tahu kamu pernah naksir berat sama Rico…”
          Heloooo!! Is so last year, Mbak!” amarahku mulai datang.
          “Yakin?”
          “Sangat yakin!”
          Oke! Kalau begitu besok kamu antar kue itu ke rumah Tante Mira…deal?
          Hmmmm….apakah aku siap bertemu dengan Rico lagi setelah berbulan-bulan kami tidak berjumpa? Lebih tepatnya : aku memang menghindarinya. Aku masih menyimpan rasa kecewa saat mengetahui Rico akhirnya jadian dengan teman sekolahnya itu. Di saat aku sedang melakukan pedekate dengan Rico dan menurutku kami berpotensi untuk jadian, ternyata Rico malah memilih cewek lain.      

*

          Jantungku berdebar saat tiba di rumah Rico. Meskipun telah mempersiapkan mental baja untuk bertemu dengan Rico lagi namun tetap saja rasa gugup masih menyelimutiku.   
          Pintu pagar dibuka setelah aku memencet bel, dan wajah itu muncul…Rico!
          “Dila…” Rico tampak terkejut saat melihatku.
          “Hai Co, apa kabar?” aku berusaha bersikap santai didepan Rico padahal debaran dihatiku semakin menguat.
          “Kabar baik, kamu apa kabar Dila?”
          “Aku juga baik. Co, aku mengantar kue pesanan Mama kamu.” Aku menyerahkan kardus berisi kue bolu kukus pandan.
          “Terimakasih…”
          “Sama-sama.”
Eh, kok ada yang aneh? kenapa perasaanku jadi lega begini, ya? Setelah sekian lama tidak bertemu dengan Rico dan menyimpan rasa kecewa yang dalam, kenapa hari ini aku merasa semua akan baik-baik saja? Dan aku senang bisa bertemu dengan Rico lagi. 
Bye Rico…”
Bye…” Saat aku akan membalikkan badan, disaat itulah aku ingin lari….King!! Anjing kesayangan Rico muncul. Ini dia yang ingin selalu aku hindari saat berada dirumah Rico. Saat dulu aku sering main kerumah Rico untuk meminjam koleksi komiknya, aku pasti meminta Rico untuk dijauhkan dari anjing kesayangannya itu. Sumpah, sejak kecil aku takut anjing!
          “Co, aku pulanggggg!!” setengah berlari aku meninggalkan halaman rumah Rico.
          “Kamu masih takut sama King?”
          “Iyaaaaaaa!!!!” Oh tidak, sepertinya King mulai mengejarku.
“Dila, tunggu…” samar-samar aku mendengar teriakan Rico. Saat aku menengok kebelakang aku melihat Rico yang sedang mengendalikan King untuk tidak mengejarku. “Bolehkah aku mengajak Sarah kerumah kamu? Aku ingin memperkenalkan Sarah dengan kamu dan Mbak Rini.”
          “Ajak Sarah ke rumah asal jangan bawa King!!!”
          “Siap!! Thanks Dila!”
          Yuhuuu….”
          Dalam “pelarian”ku menuju rumah karena lolongan King yang semakin menjadi, fikiranku mulai terbuka.
Mungkin sudah saatnya menghentikan “permusuhan” dengan Rico dan menutup lembaran cerita cinta bersama Rico. Gagal menjadi pacar Rico setelah melakukan pedekate bukan berarti harus menutup akses pertemanan, kan? ***
           

# My “Percikan”, Majalah GADIS no. 26 XXXIX, 02 Oktober- 11 Oktober 2012








Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...