Rabu, 06 Februari 2019

Cerpen - Gara Gara Coklat



GARA-GARA COKLAT

Aku diam-diam masuk ke dalam rumah saat pulang sekolah siang ini. Setelah memastikan Ibu sedang berada di dapur, dan adikku bermain di halaman belakang, aku langsung melesat masuk ke dalam kamar.
Senyumku mengembang saat membuka tas sekolah. Diantara buku-buku dan alat tulis di dalam tas, ada sesuatu di dalam tas plastik berwarna hijau yang membuatku tidak sabar untuk membukanya.
            Suara tiba-tiba langkah Ibu yang berjalan di depan kamar, membuatku mengurungkan niat untuk mengambil sesuatu dari dalam dalam tas hijau itu.
            Pintu kamarku diketuk.
            “Tasya…” Terdengar suara Ibu dari balik pintu.
            “Ya Bu…”
            Ibu membuka pintu kamar yang memang tidak terkunci.
            “Kamu sudah pulang sekolah?”
            “Sudah Bu…”
            “Kok Ibu tidak tahu kamu sudah pulang, tadi tidak salam ya saat masuk rumah?”
            “Hehe… Iya Bu, lupa.” Maaf Ibu, aku berbohong, padahal aku memang sengaja tidak mengucapkan salam seperti biasanya saat aku tiba di rumah. Aku kan memang tidak ingin Ibu ataupun Wawan, adikku tahu kalau aku sudah pulang.
            “Ya sudah, ganti baju sekolah kamu, terus makan ya. Ibu sudah siapkan makan siang.”
            “Iya Bu…”
            Ibu menutup pintu kamar, dan aku kembali membuka tas sekolah. Aku mengambil tas plastik warna hijau perlahan supaya tidak menimbulkan suara berisik, jaga-jaga kalau Ibu masih berdiri di depan pintu kamarku.
            Senyumku kembali mengembang saat membuka tas plastik hijau. Coklat batangan berjumlah dua batang porsi jumbo siap untuk aku santap hari ini!
Ah, senangnya!
*
            Ibu sudah sering bilang kalau aku tidak boleh banyak makan coklat, kata Ibu gigiku bisa sakit. Namun siapa yang bisa menahan godaan untuk menyantap makanan lezat itu? Aku memang sengaja menyisihkan uang jajanku untuk membeli coklat batangan di minimarket dekat sekolah, karena aku suka sekali dengan coklat itu.
            “Kamu mau mampir ke minimarket lagi?” Siang ini, seperti biasa, aku pulang sekolah bersama Sari, teman satu kelas yang rumahnya satu komplek dengan rumahku. Jarak antara sekolah dan rumah memang tidak terlalu jauh, aku hanya membutuhkan waktu sekitar 10 sampai 15 menit dengan berjalan kaki.
            “Iya. Kamu mau menemaniku ke minimarket, atau mau langsung pulang Sari?”
            “Aku temani kamu ya…”
            “Asyik… Terimakasih Sari…”
            “Sama-sama Tasya… Aku juga ingin membeli sesuatu di minimarket.”
            “Beli apa? Coklat juga?”
            “Bukan… aku tidak terlalu suka coklat.”
            “Coklat kan enak.”
            “Iya, memang enak, tapi aku pernah sakit gigi karena kebanyakan makan coklat, dan rasanya sakit sekali…”
            “Ah, masa?”
            “Iya… sakit gigi itu rasanya tidak enak!”
            “Eh, sudah sampai minimarket, ayo kita masuk ke dalam Sari.”
            “Ayo.”
            Aku dan Sari masuk ke minimarket. Sari bilang dia akan membeli roti isi keju.
*
            Selesai mengerjakan tugas matematika, aku teringat coklat batangan yang aku beli siang tadi di minimarket. Sekarang saatnya menikmati makanan kesuakaanku!
            Baru akan mengeluarkan coklat dari tas plastik warna hijau, pintu kamarku diketuk.
            Aku buru-buru memasukkan coklat di laci meja belajar.
            Aku membuka pintu kamar, ternyata Wawan adikku yang masih duduk di Taman Kanak-kanak.
            “Ada apa Wawan?”
            “Wawan mau pinjam pensil Kak Tasya.”
            “Oh, sebentar ya, Kakak ambilkan.”
            “Iya Kak.”
            Aku membuka laci meja belajar dan tanpa sengaja tas plastik hijau berisi coklat ikut ketarik dan jatuh ke lantai.
            “Apa itu Kak?”
            “Ah, bukan apa-apa…”
            Wawan mendekat kemudian berdiri disampingku yang sedang mengambil plastik hijau di lantai.
            “Apa itu Kak?” Wawan menunjuk tas plastik ditanganku.
            “Sudah Kakak bilang bukan apa-apa.”
            “Kakak kok marah-marah…” Wawan cemberut.
            “Kakak engga marah… jadi pinjam pensil tidak?”
            “Jadi…”
            Aku mengambil pensil dari dalam laci meja belajar dan menyerahkannya pada Wawan.
            “Kak itu apa?” Wawan masih juga bertanya isi plastik hijau yang masih berada ditanganku.
            “Sudah Kakak bilang tidak apa-apa Wawan… sudah sana, Kakak mau meneruskan belajar.”
            “Iya Kak…”
            Wawan berlalu dan menutup pintu kamarku.
            Saatnya melahap coklat!
*
            Aku membuka mata. Kenapa gigiku terasa ngilu?
            “Ibu…. Ibu…” aku berlari keluar kamar berteriak memanggil Ibu.
            “Ada apa Tasya?” Ibu keluar dari dapur tergesa menuju ke arahku.
            “Gigi Tasya sakit sekali…” Aku memegang pipi kiriku.
            “Kamu sakit gigi Tasya?”
            Aku meringis menahan sakit di gigiku yang terasa ngilu.
            “Ya ampun itu kok ada tikus keluar dari kamar kamu sambil membawa bungkusan apa itu?”
            Aku melihat tikus yang berlari menuju ke arah ruang tamu.
            “Itu… coklat Tasya…”
            “Coklat? Kamu makan coklat?”
            “Iya Bu…” Aku tertunduk, tidak berani menatap Ibu.
            “Jadi coklat yang menyebabkan kamu sakit gigi Tasya…”
            Aku mengangguk lemah.
            “Kamu gosok gigi tidak semalam sebelum tidur?”
            Aku menggeleng.
            “Nah, itu… sudah makan coklat, tidak gosok gigi lagi…”
            Ibu membelai rambutku.
            “Maafkan Tasya Bu…”
            “Ibu tidak melarang kamu makan coklat Tasya, asalkan tidak keseringan,dan jangan lupa mengosok gigi jika akan tidur.”
            “Iya Bu… Tasya menyesal sudah banyak makan coklat beberapa hari ini.”
            “Iya Tasya…”
            “Tasya juga menyesal telah membuang sisa coklat sembarangan di bawah kolong tempat tidur, sehingga menyebabkan tikus masuk ke dalam kamar dan berkeliaran di rumah…”
            “Iya Tasya tidak apa-apa…” Ibu memegang kedua pipiku.
            “Maafkan Tasya ya Ibu…”
            “Iya Tasya.”
            Aku menangis di pelukan Ibu.
            “Sudah jangan menangis, nanti kita ke dokter gigi ya, sekarang kamu berkumur air hangat dicampur garam dulu ya… supaya ngilu gigi kamu berkurang.”
            “Iya Bu…”
            “Hari ini kamu tidak usah masuk sekolah dulu ya, biar Ibu tuliskan surat izin.”
            “Iya Bu…Terimakasih.”
            “Iya Tasya…”
            Benar kata Sari, sakit gigi itu tidak enak rasanya. Aku janji tidak akan makan coklat banyak-banyak lagi, dan tidak menaruh coklat sisa di sembarang tempat lagi. Aku juga akan rajin mengosok gigi, dan yang terpenting aku akan berbagi coklat dengan Wawan, adik kesayanganku. ***


> Cerpen ini pernah dikirimkan di Majalah Bobo, namun tidak dimuat






Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...