PUJAAN
HATI BERNAMA REZA
Gerimis
masih turun saat aku keluar kelas menuju gerbang sekolah. Reza! Jantungku berdegup kencang saat melihat sosok cowok
berkacamata dengan sweater birunya, lewat didepanku. Ya Tuhan, mengapa sampai
sekarang aku selalu dibuat beku saat berhadapan dengan Reza? Padahal aku ingin
sekali menyapa kakak kelasku itu! Ah, aku benci diriku! Aku selalu membiarkan
Reza berlalu begitu saja, disaat aku ingin sekali memanggil namanya. Ya,
sudahlah! Mungkin lain waktu aku bisa menyapa Reza, tentunya setelah berhasil mengumpulkan
keberanian dan tekad baja.
“Woiii!!” suara cempreng Mira langsung mengalihkan pandanganku saat menatap
punggung Reza yang semakin lama semakin terlihat menjauh.
“Bisa
ga kalau ga ngangetin!” aku langsung pasang tampak jutek.
“Busyet, nih anak nyolot banget, abis kesambar apa sih? Santai dunk Key…”
“Kalau
mau santai ya di pantai sono!”
“Ya
ampun Keyla, kamu kenapa sih? Kalau marah-marah begini ntar cantiknya hilang…”
“Aku
cantik ya?”
“Nah,
mulai nih anak….” Tawaku akhirnya pecah saat melihat tampang manyun Mira. “Kenapa Key? Kok
marah-marah begini?”
“Gak
ada apa-apa kok Mir….”
“Ciyuss?”
“Swear!”
“Yakin gak ada apa-apa?”
“Hmmmm…..Reza….”
“Aha!
sudah kuduga!” Mira melotot, dan aku nyengir
kuda. “Wajah Reza itu tergambar sangat jelas di dalam fikiranmu.”
“Sok
tahu! Emangnya kamu bisa baca fikiranku?”
“Lha,
cenayang begini kok dilawan!”
“Cenayang
itu yang ditarik ulur, terus terbang-terbang di langit itu kan?”
“Itu
layang-layang dodol!” aku ngakak
sambil menahan sakit perut melihat wajah Mira yang cemberut. “Udah, ga usah
ketawa-ketawa gitu! Balik ke Reza….gimana..gimana..kapan kamu akan menyapa
dia?” tawaku terhenti seketika saat mendengar nama Reza disebut-sebut.
“Sampai
aku siap melakukannya….”
“Kapan
Key? Keburu Reza lulus….”
“Secepatnya!”
“Janji
Key?” aku mengacungkan dua jari tanganku membentuk huruf V.
“Janji!”
“Yuksss
ke halte sekarang….”
“Yuksss…”
Aku
dan Mira berlari-lari kecil menuju halte bus, sebelum gerimis berubah menjadi
hujan.
♦
Aku menatap bungkusan berwarna merah
di atas meja belajar. Entah sudah berapa lama bungkusan merah itu berada di
meja belajarku, mungkin sudah berbulan-bulan yang lalu. Didalam bungkusan itu
ada jam dinding dengan gambar Mancashter United, club bola kesukaan Reza. Kado
berbungkus merah itu sebenarnya ingin aku berikan pada Reza, saat ulang
tahunnya bulan depan, namun aku belum tahu, apakah aku punya keberanian untuk
memberikan kado tersebut.
Hatiku mulai gelisah, mungkin Mira
benar, aku tidak boleh melewatkan kesempatan demi kesempatan begitu saja! Kalau
saat kelulusan tiba, dan aku belum juga berani menyapa Reza, sia-sialah semua.
Baik, aku akan membulatkan tekad untuk menyapa Reza besok! Apapun yang terjadi,
aku akan tetap maju terus pantang mundur!
Jantungku kembali berdegup kencang
saat teringat Reza.
♦
“Doakan aku ya Mira.”
“Pasti
Key! Kuncinya, tenang.”
“Sip!”
Mira menepuk bahuku pelan sesaat sebelum aku melangkah meninggalkannya.
Aku
berjalan menuju arah Reza, yang aku lihat sedang berdiri di depan papan majalah
dinding sekolah. Tekadku sudah sangat bulat, sebulat telur ayam, pokoknya hari
ini aku akan menyapa dan berjuang untuk bisa berkenalan dengan cowok pujaan
hatiku itu.
Omigoddddd!!! Aku sudah berdiri
dibelakang Reza! Ayo Keyla, kamu pasti bisa!
“Kak
Reza….” Suaraku sedikit terbata saat memanggil nama Reza.
Reza
membalikkan badannya, dan menatapku. Sumpah! Jantungku hampir copot!
“Iya….”
Reza menatapku bingung.
“Aku
Keyla…” spontan aku mengulurkan tanganku. Ah, syukurlah, Reza menyambut uluran
tanganku. Senangnya bisa bersalaman
dengan Reza! Hatiku langsung berbunga-bunga. “Maaf Kak, kalau menggangu….”
“Ah,
engga kok.” Reza tersenyum, dan jantungku kembali berdegup luar biasa kencang
saat melihat senyum Reza. “Ada yang bisa aku bantu Keyla?”
“Engga
ada Kak, aku hanya ingin berkenalan dengan Kak Reza.” Ops! Dodol! Apa yang aku katakan? Kenapa aku bisa keceplosan begini?
Bodoh! Seharusnya aku kan bisa kasih alasan yang lebih keren! Kenapa malah
terlalu jujur begini? Aih! Aku merasakan pipiku yang mulai menghangat,
mungkin wajahku sekarang sudah semerah tomat. Sumpah, aku malu!
Reza
tertawa.
“Senang
berkenalan dengan kamu Keyla.”
“Sama-sama
Kak Reza…” KABURRR! “Kalau begitu aku
permisi Kak, mau ke perpus.”
“Ok.”
Aku langsung balik badan. Dari
kejauhan aku melihat Mira yang sedang tersenyum senang saat melihatku. Dengan
debaran yang masih tersisa, aku berlari kecil menuju perpustakaan. Ah, akhirnya
aku bisa menyapa Reza, bahkan berjabat tangan dengannya! Sumpah, aku bahagia
banget! Rasanya itu seperti habis ketemu Justin Bieber trus dinyanyiin “Baby…baby..baby…oh…” Kyaaaaaaa!!!!
Thanks
God!
♦
Sejak saat aku berkenalan dengan Reza
di depan papan mading, sekarang kami selalu bertegur sapa saat berpapasan.
Seperti hari ini, tanpa sengaja kami bertemu di kantin saat aku dan Mira sedang
asyik menyantap bakso, jadilah kami mengobrol bersama.
“Kak Reza suka bola?” aku mencoba
mengkroscek informasi yang aku dapatkan dari kepoin instragram Reza, apakah Mancaster United memang benar-benar
club sepak bola favoritnya.
“Yup!
Aku penggemar berat Mancater United!” Yes!
Dugaanku benar adanya! Ah, rasanya tidak sia-sia aku menyiapkan kado jam
dinding dengan lambang club bola kesukaan Reza itu.
“Selain suka bola, Kak Reza suka pertandingan
olah raga apalagi?” Mira yang sedari tadi hanya mendengarkan aku dan Reza
mengobrol, akhirnya buka suara.
“Bulu tangkis!”
“Wah, kebetulan, si Mira ini jago bermain
bulu tangkis lho Kak!”
“Oh ya?”
“Ah…engga jago-jago amat kok Kak…”
“Bohong! Mira itu selalu keluar jadi juara
kalau ada perlombaan bulu tangkis, di acara tujuh belasan di komplek
perumahannya.”
“Si Keyla mulai lebay nih.”
“Eh, ngomongin fakta malah dibilang lebay, please deh!”
“Tapi ga selalu juara juga kali…”
“Nah, itu piala berjejer di kamar,
masih ga mau ngaku juga kalau juara.”
“Lha, kalian berdua kok malah berantem
ini….” Aku dan Mira saling bertatapan lalu tertawa secara bersamaan.
“Maaf Kak Reza….”
“Ah, biasa Key, kalau sobatan itu juga
kadang-kadang berantem juga kan?”
“100 buat Kak Reza…” Reza tertawa.
“Jadi, selain suka sepak bola Kak Reza juga suka bulu tangkis?”
“Iya Key...suka lihat pertandingannya,
tapi jarang main sepak bola maupun bulu tangkis.” Aku dan Mira kompakan
manggut-manggut. “Kalau kamu sukanya apa Key?”
“Makan bakso, ngemil coklat plus ice
cream…” Aih, kenapa aku bisa bicara
sejujur ini! harusnya kan aku bisa jaga imej sedikit! Meskipun badanku yang ‘chubby’ ini jelas-jelas menunjukkan kecintaanku
pada makanan, tapi kan seharusnya aku bisa sedikit mengontrol ucapanku tentang
makanan! Ah, sudahlah…..
“Kadang-kadang Keyla juga menjadi
lawanku saat bertanding bulu tangkis Kak.” Ucapan Mira bagaikan angin sejuk
ditelingaku. Sumpah, saat ini aku ingin memeluk Mira dan mengucapkan
terimakasih karena dia sudah sedikit ‘menyelamatkan’ku dari Reza.
“Tapi aku belum sejago Mira….”
“Kalau sering latihan lama-lama juga
jago kok Key.”
“100 lagi untuk Kak Reza!!! Jadi, point yang sudah terkumpul jumlahnya
jadi 200.” Reza tertawa.
“Kamu lucu…” Reza menatapku. Dan,
entah darimana datangnya rasa salah tingkah itu. Tatapan Reza membuat jantungku
berdegup sangat kencang. Ya Tuhan, semoga Reza tidak melihat rona merah di
pipiku yang aku prediksi sudah muncul!
Thanks
God! Bel tanda masuk yang
berbunyi menyelamatkanku!
“Aku ke kelas dulu ya, kapan-kapan
kita mengobrol lagi. Oh iya, kalau pada bertanding bulu tangkis, aku ikutan dunk.”
“Siap! Nanti kami bilang ke Kak Reza.”
Mira yang menjawab, sedangkan aku masih terpaku. Sumpah, tatapan Reza
membiusku.
Reza melambaikan tangan, aku mencoba
melemparkan senyum terbaikku sambil membalas lambaian tangan Reza.
“Eh! Nih anak malah bengong! Ayo ke kelas.” Suara cempreng Mira kembali membawaku ke dunia
nyata, bukan di dunia awang-awang lagi. “Ya ampun, nih anak malah makin bengong
kaya sapi ompong….helloooo!!!
Keyla!!”
“Iya..iya, aku denger!”
“Eh busyet nih anak malah nyolot.”
“Udah ga usah ribut deh!”
“Eh, kok malah marah-marah begini nih,
harusnya kamu tuh happy berat karena
bisa mengobrol sama Reza, si pujaan hati.”
“Lebay!”
aku berjalan cepat menuju kelas.
“Woiiii…Keylaaaa…tunggu!
Eh, busyet, maksudnya apa ini aku
ditinggal-tinggal begini.” Aku terus berjalan tanpa menunggu Mira yang masih
berada dibelakangku. “Eh, mentang-mentang lagi jatuh cinta trus jadi aneh nih
anak!”
“Stttttttt!!!
Bisa ga sih kalau ga berisik!”
“Cieeeeee…Reza
nih yeeee…”
“Shut
up!”
Mira tertawa terbahak-bahak, sedangkan
aku hanya bisa cemberut.
♦
Hari Minggu pagi yang cerah aku dan
Mira menunggu Reza di lapangan bulu tangkis yang terletak di komplek perumahan
Mira. Pagi ini, kami janjian untuk bermain bulu tangkis bersama. Meskipun akan
berolah raga, namun aku sengaja tampil special di hari ini. Dengan menggunakan t-shirt warna pink, aku berharap Reza membaca “sinyal” yang ingin aku tunjukkan
padanya. Semoga Reza tahu, warna pink
melambangkan rasa jatuh cinta, dan aku memang sedang jatuh cinta dengan Reza!
Seminggu lagi ulang tahun Reza, dan
aku sudah tidak sabar untuk menyerahkan kado special yang sudah aku persiapkan
berbulan-bulan yang lalu itu. Semoga acara “pedekate”
hari ini berjalan dengan lancar!
“Cieeeee….cantik
bener hari ini, pink gitu looh!” Mira
sedari tadi terus menggodaku dengan tampang jahilnya
yang menyebalkan itu.
“Makasih….tapi kayanya kamu udah
bilang berkali-kali deh kalau aku cantik. Sekali lagi kamu bilang aku cantik,
nih raket kayanya bakal melayang deh.”
“Ya ampun, nih anak sadis amat!” Aku
melotot. “Hmmmm…semoga saja Reza akan
datang bersama Varell, si cowok cute
itu!”
“Ngarep!”
“Eh, boleh dunk aku berharap Reza akan membawa Varell untuk bermain
bulutangkis bersama kita. Kan bisa ganda campuran tuh, kamu ama Reza melawan
aku sama Varell.” Mira senyum-senyum ceria.
“Mentang-mentang Reza se-gank ama
Varell, bukan berarti dia akan menggajak gebetan kamu itu.”
“Please
Keyla, kalau lagi bahagia itu dibagi-bagi kenapa? Masa kamu pedekate sama Reza, aku ga boleh pedekate sama Varell.”
“Iya deh, aku doakan Reza akan datang
bersama Varell, bukan temen se-gank’nya yang lain.”
“Amin….”
“Reza mana sih? kok belum
datang-datang….”
“Sabar kali! Ini masih ada waktu 10
menit dari waktu janjian. Kamu sih ngajakin datang lebih awal.”
“Ya jangan sampai Reza menunggu kan?”
“Tapi ga datang setengah jam lebih
awal juga kali!” Tawaku langsung pecah saat melihat wajah manyun Mira.
“Itu Reza!” teriakan cempreng Mira membuatku buru-buru
merapikan rambut, dan kembali menyakinkan penampilanku sudah terlihat sempurna!
Aku harus bisa memberikan kesan yang baik di acara pedekate ini!
Aku membalikkan badan untuk menyambut
Reza dengan senyum terbaikku.
Tunggu! Siapa cewek yang ada disamping
Reza itu? Seharusnya kan Reza datang bersama Varell, Bayu, Miko, atau temen
se-gank’nya yang lain, tapi kenapa Reza tidak datang bersama mereka? Jantungku
mulai berdegup tak karuan.
“Selamat pagi….” Sapaan hangat Reza
tidak juga meredakan debaran yang semakin menguat.
“Pagi Kak…” Mira yang menjawab,
sedangkan aku hanya bisa melemparkan senyum.
“Aku belum terlambat kan?” Aku dan
Mira kompakan menggeleng. “Nah, ini teman yang akan menemaniku bermain
bulutangkis bersama kalian.” Cewek berambut lurus sebahu itu tersenyum bergantian
denganku dan Mira. Aku membalas setengah hati senyum cewek itu. Perasaanku
mulai tidak enak. “Kenalkan, dia Claudia, teman istimewaku….” Deg! Sumpah, kali ini jantungku serasa
berhenti berdetak.
Aku dan Mira bergantian bersalaman
dengan Claudia.
“Teman istimewa, maksudnya pacar Kak?”
“Iya Mira, Claudia ini pacar aku.” Sumpah, aku ingin pingsan! “Kami baru
jadian sebulan yang lalu….” Cerahnya matahari pagi langsung tertutup kabut
didalam hatiku. Rencana “pedekate”
gagal total!!!
“Main bulu tangkisnya bisa kita mulai
sekarang?”
“Siap!!!!!!”
“Wah, Keyla bersemangat sekali!”
Aku tertawa, tapi dalam hati menangis.
“Pastinya!” Semangat? Helooooo!!! Aku sedang patah hati Reza! Mira menatapku
dengan tatapan yang tidak aku mengerti. “Aku baik-baik saja Mira.” Aku berbisik
pelan ditelinga Mira.
Kami bersiap untuk bermain bulu
tangkis.
Semua harapan yang sudah aku bangun
untuk Reza hancur sudah. Meskipun aku harus menelan kekecewaan yang dalam,
namun aku tetap bahagia karena keinginanku untuk bisa berkenalan dengan Reza
akhirnya terwujudkan. Meskipun impianku untuk menjadi pacar Reza harus
terhempas, namun aku tetap harus kuat bukan? Bagaimanapun juga Reza akan tetap
menjadi seseorang yang special untukku. Well,
kado ulang tahun Reza akan aku pakai sendiri sajalah! Jam dinding itu
sepertinya akan terlihat cantik jika dipajang di tembok kamarku. ***