Senin, 13 Desember 2021

Obrolan Film

Hey, sudah menonton film apa nih? Saya sudah menonton beberapa film sebelum berganti tahun nih, hehe! Senang bisa kembali menonton di bioskop. Bagaimanapun juga menonton film di bioskop itu menggembirakan. Bisa menonton film di layar yang lebar dengan suara membahana dan suasana yang khas, menonton film di bioskop memberikan sensasi yang tak tergantikan. Yay! 

Mau cerita cerita ya tentang film yang saya tonton.


YUNI

Baru kemarin banget nonton film Yuni. Film ini kental dengan nuansa warna ungu, warna kesukaan Yuni, si tokoh utama. Senang rasanya bisa menonton film dengan setting di suatu daerah/kota dengan bahasa, budaya, kehidupan, yang sebelumnya tidak banyak saya ketahui. Jalan cerita di film Yuni menarik untuk diikuti, tentang perjuangan perempuan yang dihadapkan dengan persoalan persoalan "pelik" dalam menjalani kehidupan mereka. Selesai menonton film ini, Yuni, dan tokoh perempuan perempuan lain yang ada di film ini, memberikan semacam perenungan buat saya. 

     

MENUNGGU BUNDA

Senang sekali mendapat kesempatan menonton film Menunggu Bunda di perhelatan JAFF 2021. Menunggu Bunda adalah film keluarga yang menyentuh, membuat haru, dan di akhir akhir cerita memberikan kejutan bagi penonton.   


PARANOIA

Film yang seru untuk ditonton. Nicolas Saputra (masih) menjadi magnet saya untuk menonton film Paranoia ini :)  


Baik, selamat menonton film! 

 

Minggu, 29 Agustus 2021

SI TETANGGA IDOLA - Cerita Pendek

 

SI TETANGGA IDOLA

 

Kabar yang beredar satu minggu belakangan ini, kalau ada selebritis yang menjadi bagian masyarakat di wilayah tempat tinggalku, menyebar dan cukup santer terdengar. Para tetangga sedang sibuk membicarakan orang tersebut. Rumah di ujung jalan, yang mana hanya berselisih 2 rumah dari rumahku, katanya dihuni oleh bintang sinetron kenamaan. Sebenarnya aku cukup heran mengetahui ada selebritis beken yang tinggal di wilayah tempat tinggalku. Jalan depan rumah yang hanya bisa dilewati dua mobil secara bergantian, mungkin bukan sebuah pilihan tempat tinggal bagi seorang public figure.

          “Eh, gimana, sudah ketemu sama si pemain sinetron itu?” Carla, teman sedari kecil, tetangga beda gang, yang sore ini sedang main ke rumah, langsung memasang tampang kepo to the max saat kami sedang duduk santai di teras.

          “Kalaupun ketemu, gue juga ga bakal ngeh dia tuh yang mana. Secara Bunda juga bukan penggemar sinetron striping kaya Ibu-Ibu di sini, jadi ya gue belum pernah lihat tampang tuh orang, at least di tv sekalipun. Cuman tahu nama doang sih.”

          “Dasar kudet! Nonton infotaiment makanya.”

Gue nonton kok, kalau pas ada Nicolas Saputra sih...”

“Hahaha! Well, berhubung Mama penggemar berat doi, jadilah setiap hari terpaksa deh gue harus mendengarkan puja puji beliau ke orang itu.”

“Tapi Mama lo ga kaya Ibu-Ibu disini, yang pada heboh wara-wiri di depan rumahnya si aktor sinetron itu.”

“Untungnya belum sih, namun entah suatu hari nanti. Gue harap itu ga akan terjadi! Malu gue kalau beneran bakal kejadian.”

          “Hihihi. Katanya orangnya tuh ganteng banget.”

          “Kalau ga ganteng ya ga bakal jadi pemain sinetron kaliiiii...”

          “Hahaha, iya juga sih. Kalau gue perhatiin nih, tuh rumah sepi-sepi aja.”

          “Ya doi sibuk suting kali.”

          “Pernah lihat ada orang bersih-bersih sih, semacam home cleaning service gitu.”

          “Diam-diam elo memperhatikan juga… curiga gue.”

          “Yaelah, pas kebetulan aja itu.”

          Elo ga mulai ikutan wara-wiri di depan rumahnya kan?”

          “Ih, ogah bener! Eh, tapi heran ga sih, masa artis beken mau tinggal di wilayah kita ini. Biasanya selebritis tuh kan milih tinggal di apartement, atau komplek perumahan mewah gitu…”

          “Iya sih. Ah, ga usah curigaan. Mungkin dia selebritis yang down to earth, mau tinggal di kampung kita yang semi komplek perumahan ini, hihi.”

          “Aih, down to earth!”

          “Atau doi sedang dalam misi tertentu.”

          Like what?”

          “Kali aja gebetannya tinggal di wilayah sini, dan doi lagi mau pedekate gitu.”

          “Bisa aja teori lo!”

          Carla ngakak.

          “Eh Sheila, semester ini gue mulai magang di kantor iklan itu lho.”

          “Wah, keren!”

Aku dan Carla berhenti membicarakan si pemain sinetron itu, dan berganti topik pembicaraan tentang kuliah kami masing-masing.

*

          Sebenarnya aku paling malas kalau disuruh Bunda untuk pergi ke minimarket yang letaknya tidak jauh dari rumah. Berhubung persediaan telur dan beberapa bumbu dapur instan di rumah habis, dan sore nanti Bunda harus memasak untuk makan malam kami sekeluarga, akhirnya aku berangkat juga ke minimarket.

Mau tak mau aku nurut kalau disuruh Bunda ke minimarket. Bagaimana lagi, adikku baru kelas 2 SD, tentu Bunda akan menunjukku dalam hal bantu membantu urusan rumah. Dulu aku sempat mengira akan menjadi anak tunggal, karena selama belasan tahun hanya aku saja yang menjadi anak Bapak dan Bunda, eh kemudian aku memiliki adik perempuan yang manis dan lucu.

          BRUK! Ampun aku menabrak seseorang saat memasuki minimarket. Lagian ini orang antri di depan kasir kok ya seenak-enaknya aja, deket bener sama pintu masuk. Huh!

          YA AMPUN GANTENG BANGET COWOK INI! Jantungku berdegup saat bertatatapan dengan seseorang yang aku tabrak tadi.

          “Eh, ada Vino Raharjo!” Seseorang yang baru masuk minimarket langsung heboh dan sedikit histeris. Dan, dalam waktu hanya per sekian detik saja, cowok ganteng yang aku tabrak tadi sudah sibuk membalas sapaan orang yang baru masuk minimarket bersama 2 temannya.

Eh, siapa? Vino Raharjo? Sound familiar with that name!

*

          “Akhirnya ketemu juga lo sama bintang sinetron itu.” Carla cekikikan selesai mendengar ceritaku 2 hari yang lalu di minimarket.

          “Pas denger rumpian cewek-cewek itu, setelah tuh orang cabut, gue baru sadar, ya ampun cowok yang gue tabrak si bintang sinetron itu. Tapi beneran sih orangnya emang ganteng.”

          “Ntar kalau ketemu lagi sama dia minta foto barenglah, lumayan kan buat eksis di sosmed. Ketemu seleb! Gitu kira-kira captionnya.”

          “Boleh juga tuh…”

          Carla cekikikan.

          “Bangku ini kosong?” Aku dan Carla langsung berhenti makan siomay langganan di warung tenda samping minimarket saat seseorang menyapa kami.

          “Eh… iya, kosong.” Aku sedikit terbata saat menjawab. Aku melihat Carla tampak takjub dengan cowok yang sedang tersenyum ke arah kami.

My God, Vino Raharjo duduk di sampingku!

          “Mungkin teori lo tentang cewek gebetan itu adalah gue.” Aku berbisik pelan, dan disambut mata melotot serta tendangan kaki lumayan kencang di bawah meja dari Carla.

Jantungku mulai berdegup. ***  

         


Minggu, 04 Juli 2021

Coretan Minggu

 Hi, Sunday!

Corat coret apa ya di hari Minggu ini? Film? Well, bioskop sedang tutup untuk sementara waktu, jadi keinginan untuk menonton film ditunda dulu. Padahal sudah mengincar film Jakarta vs Everybody. Ya, sudahlah. Semoga keadaan lekas baik, dan bioskop segera buka. Sempat menonton film di bioskop sih beberapa waktu lalu, judulnya Tarian Lengger Maut. 

Di streaming digital banyak sih film Indonesia yang diputar, baik film lama maupun film baru. So far, saya baru menonton film di Bioskop Online. Belum sanggup langganan streaming digital saya mah, hahaha! Kalau di Bioskop Online ya nonton film yang diinginkan, bayar pakai Go***, kelar! Dan bisa ditonton pakai laptop. Sebagai si kacamata minus, saya ga sanggup nonton film di layar ponsel, kecuali film pendek. 

Sebagai orang yang suka menonton film, saya sempat memiliki cita cita untuk berada di industri perfilman Indonesia. Keren gitu ya kalau bisa berada di sebuah produksi film. Debut ikutan acara acara film kalau ga salah dimulai tahun 2010. Karena suka menulis, saya memiliki keinginan untuk menjadi Script Writer. Oke, saya mencoba mengirimkan sinopsis cerita film, naskah film, terutama film pendek sih, karena saya mampu menulisnya ya baru di cerita film pendek. Rentang waktu 2010-2019 saya mengikuti beberapa kompetisi menulis naskah film, dan belum ada yang lolos. Yah, mungkin saya harus lebih banyak belajar lagi mengenai penulisan naskah film, secara saya juga belajarnya secara otodidak, belum belajar secara formil. Atau mungkin "jalannya" memang hanya jadi penonton film saja? Whops! 

Baiklah, selamat berhari Minggu, sehat sehat selalu. Tetap jalankan protokol kesehatan, tingkatkan imunitas, dan semoga pandemi ini segera selesai. Aamiin.

Semangat!!!



Kamis, 21 Januari 2021

Awan Di Atas Taman - #AStoryAbout



AWAN DI ATAS TAMAN

 

Setiap aku sedih, aku selalu datang ke taman bermain ini. Aku tahu, sekarang aku sudah besar, umurku sudah 17 tahun. Aku tahu, aku bukan anak kecil lagi yang bisa bermain ayunan sepuasnya, atau sekedar berlari-lari mengelilingi taman bermain ini, seperti yang selalu aku lakukan saat kecil dulu. Entah mengapa saat berada di taman ini aku selalu merasa tentram, dan kesedihanku langsung menghilang. Bisa duduk-duduk santai di bawah pohon rindang, tempat favoritku saat berada di taman ini, membuatku merasa damai. Seperti Minggu sore ini, aku mengunjungi taman bermain yang tak bernama itu. Aku menamai taman bermain ini dengan nama “Taman Awan”, karena aku suka sekali melihat awan dari bawah pohon rindang di taman bermain ini. Bisa menatap awan yang berjalan berarakan membentuk berbagai macam bentuk yang lucu dan indah, membuatku bahagia.  

          Saat ini aku sedang sedih. Karin, sahabatku, entah mengapa akhir-akhir ini seperti menghindarku. Dan yang paling parah adalah kegalauanku karena Raja! Yup! Si Raja, cowok pujaanku itu. Menginggat Raja, membuat jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Ah, kenapa aku selalu merasakan getaran indah setiap kali hatiku menyebutkan nama Raja? Kenapa selalu ada deguban kencang saat teringat pada Raja? Apakah aku sedang jatuh cinta pada tetangga baruku itu? Cowok yang tinggal di sebelah rumah yang membuat hariku penuh warna.

          Entah sejak kapan aku naksir Raja, mungkin sejak pertama kali aku melihatnya. Aku inggat, sore itu aku sedang menyiram tanaman di halaman depan rumah saat sebuah truk berhenti di rumah sebelah yang kosong, setelah pemilik sebelumnya berhasil menjual rumah tersebut beberapa bulan yang lalu. Saat itu aku tidak terlalu memperhatikan orang-orang yang sibuk memindahkan barang-barang dari truk menuju ke dalam rumah. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang saat melihat cowok itu! Aku suka melihat cowok yang sedang berjalan menuju ke dalam rumah bersama anjingnya. Melihat wajahnya yang lucu dengan pipi chubby-nya, melihat gayanya yang cuek, membuatku hatiku meleleh. Aku merasakan pipiku menghangat saat cowok itu melihat sekilas ke arahku. 

          Aku tahu, seharusnya saat cowok itu melihat ke arahku, aku memberikan senyuman kepadanya, tapi aku tidak melakukan itu. Aku tahu, seharusnya aku menyapa tetangga baru yang sudah menggetarkan hatiku itu, namun aku tidak melakukannya. Waktu itu aku malah pura-pura cuek, dan tetap sok sibuk menyiram tanaman, padahal aku ingin sekali memberikan senyuman terbaikku. Aku hanya bisa menyesal saat akhirnya cowok itu masuk kedalam rumah dan aku gagal berkenalan dengannya.    

 Sampai akhirnya sekitar seminggu yang lalu aku melihat cowok lucu itu di jalan, saat aku sedang berjalan menuju rumah sepulang dari les Bahasa Inggris. Setelah berhari-hari aku tidak melihat dia, sejak pindahan rumah itu, akhirnya sore itu aku melihat dia sedang berjalan kaki berkeliling komplek bersama anjingnya. Namun lagi-lagi aku melewatkan kesempatan untuk sekedar memberikan senyumku kepadanya. Saat kami berpapasan, aku malah pura-pura sibuk melihat ke arah lain. Bukannya berusaha untuk melakukan kontak mata dengan dia, aku justru menghindari tatapan cowok lucu itu saat dia melihatku. Stupid me! Kesempatan emas terbuang lagi!

Aku akhirnya tahu kalau cowok lucu itu bernama Raja dari Bapak Sapta, satpam di komplek perumahan kami. Sejak sore itu, hampir setiap hari Raja melewati rumahku untuk berjalan-jalan berkeliling komplek bersama anjingnya. Aku tahu, seharusnya aku menyapa Raja saat dia melintas di depan rumahku, namun aku selalu saja melewatkan kesempatan baik itu. Aku tahu, seharusnya aku menyiram tanaman saat Raja lewat, namun sebaliknya, aku justru mulai menyiram tanaman setelah Raja berlalu. Aku tahu aku bodoh, karena selalu saja melewatkan kesempatan untuk menyapa Raja. Namun aku yakin, suatu hari nanti aku pasti bisa berkenalan dengannya. Raja, wait for me!

          Aku menghela nafas panjang dan kembali menatap awan. Wajah Raja tergambar jelas diantara awan yang sedang berjalan beriringan di atas langit yang cerah. Kenapa fikiranku tidak bisa sedetikpun lepas dari Raja? Uh!

*

          “Maaf Sifa, aku tidak pernah bermaksud menghindari kamu.” Aku sedang berbicara dengan Karin, sahabatku. Kami sedang duduk berdua di bawah pohon rindang di taman awan.  

          “Aku minta maaf kalau aku punya salah sama kamu Rin, tapi jangan menghindariku seperti ini.” Air mata Karin tiba-tiba jatuh. “Karin, kamu kenapa?” Aku jadi sedikit panik saat melihat Karin menangis.

“Kamu ga salah apa-apa Sifa…”

          “Maaf Karin, aku tidak bermaksud membuat kamu menangis…”

Karin mengambil tissue yang aku sodorkan kepadanya dan menghapus air matanya.

          “Papa dan Mamaku akhir-akhir ini sering bertengkar hebat Fa…. aku takut kalau mereka akan berpisah…” Sorot mata Karin memancarkan kesedihan. “Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin curhat sama kamu tentang hal ini tapi…”

          “Tidak apa-apa Karin, terkadang memang ada cerita yang bisa kita bagi bersama sahabat, tapi ada juga cerita-cerita yang memang ingin kita simpan sendiri.” Karin mengangguk. “Maaf Karin, kesannya aku jadi memaksa kamu untuk menceritakan masalah yang sebenarnya tidak ingin kamu bagi denganku…” Aku jadi merasa bersalah pada Karin.

          “Engga Sifa, aku justru lega bisa berbagi sama kamu.”

          “Aku hanya bisa berdoa semoga semua akan baik-baik saja Rin.”

          “Amin! Terimakasih untuk doanya.”

“Sama-sama.”

Eh si tetangga baru, gebetan kamu itu gimana?” Karin kembali terlihat bersemangat saat bertanya soal Raja.

Aku mulai bercerita tentang Raja, cowok yang semakin hari semakin membuatku penasaran. Karin tertawa ngakak waktu aku bercerita tentang kekonyolanku, saat aku sering bolak-balik melewati rumah Raja dan berharap Raja akan keluar rumah lalu menyapaku. Namun kenyataan yang aku terima tidak sesuai dengan harapanku, Raja tidak pernah keluar rumah saat aku lewat didepan rumahnya. Pernah suatu hari aku menyiram tanaman lebih lama dari biasanya dan berharap Raja lewat didepan rumah, namun saat Raja benar-benar lewat aku justru kabur masuk ke dalam rumah.

“Kayanya kamu benar-benar sedang jatuh cinta sama si Raja deh…”

“Mungkin…. entahlah…”

Cieeeee yang lagi naksir sama tetangga sebelah rumah…” Aku hanya bisa tersipu malu saat Karin  terus saja menggodaku.

Ah, jatuh cinta memang menyebalkan!

*

Sudah lama aku tidak mengunjungi taman awan. Terakhir kali aku datang ke taman awan saat aku dan Karin saling curhat, sambil menatap awan di atas langit yang indah pada siang hari itu. Sekarang tidak ada lagi sorot mata kesedihan yang tepancar dari Karin. Mama dan Papa Karin sudah tidak pernah bertengkar lagi, mereka sudah kembali rukun. Aku turut bahagia untuk Karin, sahabat terbaikku.  

Aku bukannya tidak rindu untuk duduk-duduk di bawah pohon sambil melihat awan yang berjalan berarakan di atas langit. Hanya saja aku tidak sedang bersedih. Aku sudah bilang kan, aku hanya akan mendatangi taman awan saat hatiku sedang diliputi kesedihan. Saat ini aku sedang bahagia. Dan kebahagiaanku itu karena Raja. Aku tidak hanya berhasil berkenalan dengan Raja, tapi sudah satu bulan belakangan ini aku jadian dengan Raja! 

Aku inggat, saat akhirnya aku bisa berkenalan dengan Raja. Sore itu aku memang sudah membulatkan tekad untuk menyapa Raja. Saat Raja lewat di depan rumahku bersama anjing kesayangannya, aku mengarahkan selang air ke arahnya. Tentu saja aku sengaja melakukannya! Aku sempat khawatir kalau taktikku tidak berhasil. Aku takut Raja justru marah karena aku menyemprotkan selang air ke arahnya. Jantungku langsung berdegup kencang saat melihat senyum Raja untuk pertama kalinya. Aku tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini. Aku buru-buru minta maaf kepada Raja, Rajapun memaafkan aku. 

Yes, taktikku berhasil! 

Sejak saat itu kami jadi sering mengobrol. Aku berusaha menyempatkan waktu untuk menemani Raja jalan jalan sore mengelilingi komplek perumahan. Raja yang kocak dan lucu selalu berhasil membuatku tertawa dengan lelucon-leluconnya. Raja benar-benar membuat hari-hariku dipenuhi dengan keceriaan. Hidupku terasa lebih berwarna saat bersama Raja, dan aku selalu merasa bahagia saat berada disampingnya. 

Raja lalu mengutarakan perasaannya kepadaku, dia bilang ingin jadi seseorang yang spesial untukku. Selama ini aku berfikir bahwa Raja hanya menganggapku sebagai teman saja, karena aku tidak merasakan tanda-tanda kalau Raja juga merasakan perasaan yang sama seperti yang aku rasakan. Sikap Raja yang selalu tenang saat bersamaku, gayanya yang cuek didepanku, dan obrolan kami yang mengalir ringan, membuatku berfikir, bahwa perasaanku pada Raja hanya bertepuk sebelah tangan. Ternyata Raja juga merasakan apa yang aku rasakan. Aku bahagia! 

Aku masih suka memandangi awan, meskipun bukan di bawah pohon rindang di taman awan itu. Sore ini aku dan Raja duduk-duduk santai di teras rumahku. Aku makan ice cream rasa coklat kesukaanku dan Raja menikmati minuman soda kesukaannya sambil mengobrol tentang apa saja. Meskipun aku tidak sedang mengamati awan di taman awan, namun aku tetap merasakan getaran indah saat melihat awan-awan yang berjalan berarakan di atas langit. Aku bahagia bisa melihat awan bersama seseorang yang aku sayang. ***

 

 


Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...