Minggu, 25 Desember 2011

DI TOKO BUKU - #Percikan

- My "Percikan" @ Majalah Gadis, edisi No. 29 (2-11 November 2010) -

Minggu pagi yang cerah, aku menuju ke salah satu mal. Aku mau membeli novel terbarunya karya Ferro Prayoga. Dia adalah seorang pengarang muda yang punya cerita-cerita bagus nan dasyat. Menurut pendapatku, novel-novel Ferro punya cerita yang ringan tapi sarat makna. Sangat dekat dengan kehidupan anak muda.
Sebagai penggemar berat, aku mengikuti perkembangan terbaru Ferro Prayoga. Mulai dengan mengecek blog-nya setiap hari, jadi follower di Twiter-nya, berteman via facebook. Walaupun secara personal aku belum mengenal dia, tapi rasanya aku merasa sangat dekat dan mengenal Ferro lewat karya-karyanya yang indah itu.
Begitu memasuki toko buku aku langsung mendatangi rak bagian novel. Ah mana novelnya Ferro? Nah! Ini dia! Akhirnya ketemu juga. Aku membaca sekilas sinopsis ceritanya di halaman belakang. Novel keempat Ferro ini, bercerita tentang petualangan sekelompok anak muda yang sedang berlibur di kota Jogja. Dengan bumbu asmara yang melengkapi petualangan seru itu, membuat cerita terasa segar dan menggoda untuk segera dibaca. Aku mengamati lekat-lekat buku berjudul "Sejuta Rasa di Jogja" yang berada di genggaman tanganku.
"Bukunya bagus loh." Sebuah suara menyapaku.
Idih, siapa sih orang yang berada dibelakangku ini? Kok rese banget. Aku memalingkan wajahku ke arah suara tadi. Dan whaaat? Itu Ferro Prayoga! Seseorang yang sangat ingin aku temui, kini dia di depanku!
"Hai, kok malah bengong?" Ferro menatapku. Mungkin sekarang wajahku tak karuan. Perpaduan antara bingung, senang, grogi, ah.....pokoknya campur aduk deh!
"E...Mas Ferro, kan?" akhirnya aku bisa membuka mulut juga. 
"Benar sekali."
"Aduh tidak menyangka bisa ketemu langsung sama Mas." Jantungku berdetak kencang.
"Mau beli buku ini, ya?" Ferro tersenyum manis sambil menunjuk novelnya.
"Iya."
"Makasih sudah mau membeli novel keempatku."
"Sama-sama. Aku punya semua novel Mas Ferro looh..."
"Oh iya? Wuihh senangnya. Tunggu...tunggu, kayaknya aku familiar sama kamu deh. Apakah kamu salah satu teman di akun Facebook-ku?"
"Iya Mas. Saya Clara." Dengan pede-nya aku mengulurkan tangan, untung Ferro mau menyambutnya. Aku sampai gemetaran. Jangan sampai pingsan Clara!
Lalu, kejutan datang lagi ketika Ferro mengajakku makan siang. Tak mungkin aku tolak! Ferro memilih salah satu resto Jepang di mal dan kami berhadapan, aku masih sering salting. Rasanya tidak percaya aku bisa makan siang dengan Ferro Prayoga!
Ternyata Ferro orang yang menyenangkan. Aku semakin larut dalam suasana akrab bersamanya. Sesekali Ferro menatapku lekat, membuat hatiku semakin tak karuan.
"Clara, aku boleh minta nomer telepon kamu?"
Aha! Ini yang aku tunggu-tunggu!
"Boleh Mas." Aku menyebutkan nomor ponsel-ku, Ferro mencatat di handphone-nya. Aouww!
"CLARA!!!"
Tunggu..tunggu, kenapa ada suara Mbak Sinta, kakak perempuanku? Suara nyaringnya nyaris membengkakkan telinga.
"Clara! Bangun! Sudah siang! Katanya mau ke toko buku sama kakak!" suaranya semakin menjadi.
"Clara, kamu mimpi apa sih" Sampai mengigau gitu. Ngomong sendiri, senyum-senyum sendiri." Aku membuka kedua mataku. Tak ada Ferro. Dan Mbak Sinta, sekarang nampak jelas di pelupuk mata. Wajah jutek-nya sungguh menganggu. Uh sebel.
"Malah bengong. Buruan mandi, terus kita ke toko buku."
"Aku kan sudah ke toko buku."
"Ke toko buku apaan? Kamu pasti mimpi."
"Mimpi?"
"Yoi! Ayooooo buruaaan mandi! Kalau sampai lima menit lagi kamu nggak keluar kamar, kakak nggak mau menemani kamu ke toko buku!" Mbak Sinta keluar kamarku sambil ngomel-ngomel.
Apa? Jadi ini hanya mimpi? Aku masih termangu di tempat tidur.
"Claraaa, buruaaan!"
"Iyaaa!" Secepat kilat aku turun dari tempat tidur. Langsung menuju kamar mandi dengan sebuah doa yang kuucapkan sepenuh hati. Semoga mimpiku bertemu Ferro di toko buku itu bukan hanya sekedar mimpi belaka. Amien! ***

Sabtu, 03 Desember 2011

GATOT OH GATOT - #Percikan

"Miraaaaa, udah bobok, ya?"
"Ya ampun Rena, kamu ngapain sih telpon malam-malam begini? aku udah tidur, tauk!"
"Maafkaaan....tapi aku harus cerita sama kamu."
"Ya udah buruan cerita."
"Mir, aku barusan chatting sama Gatot."
"Bukannya hampir tiap malam kamu memang chatting sama gebetan masa SMP-mu itu?"
"Dengerin dulu dong, jangan langsung sewot gitu. Kamu tahu, si Gatot ngajakin aku ketemuan!"
"Akhirnyaaaaa..."
"Minggu siang besok, Gatot ngajakin aku ketemuan di Strawberry Cafe. Dia pengin ngobrol-ngobrol sama aku. Hmm, apa Gatot mau bilang kalau selama ini dia juga naksir aku, ya? Hehehe."
"Mulai deh, kumat penyakit ge-er-nya...Ren, aku ngantuk, nih. ceritanya disambung besok ajah, ya.."
"Iya deh. Maaf Mir, udah gangguin kamu, hehehe."
"Ah udah biasaaaaaa..."
"Good night Mir, habis ketemuan sama dia aku telpon kamu, ya!"
Aku menutup telepon dengan hati bahagia.
Senyumku kembali mengembang, menginggat Gatot, gebetan-ku semasa SMP. Setelah lulus SMP, aku kehilangan kontak dengannya. Lalu, dua minggu yang lalu, kami "ketemuan" di Facebook. Hampir setiap hari aku dan Gatot chatting. Kami biasanya chatting di malam hari, setelah aku selesai belajar. Setelah kami berpisah selama 2 tahun, pastinya aku tidak akan melewatkan kesempatan kedua ini.
***

"Hai Rena, apa kabar?" Gatot menjabat erat tanganku saat kami bertemu di Strawberry Cafe. Dia datang lebih dabulu daripada aku. Senyum Gatot tetap saja mempesona seperti dulu.
"Kabar baik, kamu apa kabar?"
"Aku juga baik. Duduk Ren."
"Makasih."
Aku dan Gatot mulai mengobrol. Kami mengenang masa-masa indah sewaktu SMP dulu. Sesekali aku dan Gatot tertawa lepas, saat membicarakan tingkah polah teman-teman SMP yang lucu.
"Ren, kamu jerawatan?" tiba-tiba Gatot memperhatikan wajahku dengan seksama. Aku mulai salah tingkah.
"Eh..ehm..eh..iya nih, akhir-akhir ini aku sering jerawatan." Aku menjawab dengan grogi.
"Aku dulu juga jerawatan, tepi setelah memakai cream penghilang jerawat ini, jerawatku langsung hilang. Lihat, sekarang wajahku bersih tanpa jerawat kan? Coba deh Ren, cream ini bagus untuk kulit wajah." Gatot tiba-tiba mengeluarkan botol berisi cream penghilang jerawat dari dalam tasnya.
"Ini produk kosmetik baru, tanpa efek samping. Kalau kamu yang beli, aku kasih diskon 30% deh. Secara sama teman sendiri, gituu looh. Hehehe. Cream ini khasiatnya oke banget."
"Kamu jualan obat jerawat?" aku bertanya dengan nada aneh saking kagetnya. Apa-apaan ini?
"Sebenarnya bukan aku, tapi kakak cewekku. Kalau aku berhasil menjual obat jerawat ini, aku dapet uang dari kakakku. Selain obat jerawat, aku punya produk lain. Ada cream pemutih wajah, cream pencerah wajah dan cream malam. Kalau kamu beli satu paket, dapet bonus bodylotion looh. Kamu juga bisa tawarin produk ini ke teman-teman kamu, nanti kamu dapet 10 % deh dari aku. Kan lumayan Na, bisa buat tambahan uang jajan. Gimana, Na? Tertarik?" Gatot mengeluarkan botol-botol lain, dari tas ranselnya.
"Jadi kamu ngajakin aku ketemu hari ini, hanya untuk nawarin dagangan?" aku tak bisa menyembunyikan suaraku yang sangat kecewa.
"Ya enggaklah, aku ketemu kamu kan ingin bernostalgia. Sekalian jualan juga sih, hehehe."
Aku tertunduk lemas. Ternyata semua tidak berjalan sesuai rencana.
Tapi, ya sudahlah... Siapa tahu obat jerawat yang dijual Gatot ini memang manjur. Aku kembali melanjutkan obrolan dengan Gatot. Tapi, kali ini kami bicara soal "bisnis". Meski dongkol, tapi aku senang, kok. Setidaknya gara-gara obat jerawat ini, aku bisa makin sering bertemu Gatot, kan? Mira pasti setuju. Hihi. ***


# my "Percikan" on Majalah GADIS no 20 (22 Juli-1 Agustus 2011)

Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...