KARDI,
NINGSIH, DAN MALIOBORO
Kardi,
pemuda sederhana yang tinggal di daerah Kasongan, Bantul mengendarai motor
bebeknya menuju Malioboro. Sudah satu tahun belakangan ini Kardi bekerja
sebagai pegawai di sebuah toko mebel yang terletak kawasan Malioboro, pusat
keramaian di kota Jogjakarta yang memiliki slogan “Jogjakarta Berhati Nyaman”. Pukul
07.30 pagi Kardi sudah siap berangkat menuju tempat kerjanya.
Kardi
mengendarai motor dengan santai sambil sesekali menyapa tetangganya yang
kebanyakan bekerja di toko-toko kerajinan gerabah yang berada di daerah
Kasongan. Kardi merasa bahagia bisa bekerja di Malioboro, menjadi pegawai toko
di pusat perbelanjaan Malioboro memang cita-cita Kardi setelah lulus SMA. Dan
Kardi merasa bersyukur bisa diterima kerja di toko mebel yang memang sudah
menjadi incarannya begitu dia menamatkan pendidikan SMAnya. Dengan menempuh
perjalanan sekitar 30-45 menit dari Kasongan menuju Malioboro, Kardi selalu
bersemangat mengendarai motor bebek klasik peninggalan Bapaknya.
“Mas Kardi…” suara merdu seorang perempuan menyapa Kardi
saat dia melewati salah satu toko gerabah. Kardi menghentikan motornya, dan
tersenyum senang saat melihat gadis berbaju kuning yang sedang menatap Kardi
dengan malu-malu.
“Selamat pagi Ningsih.”
“Pagi. Mas Kardi mau berangkat kerja?”
“Iya Ning…”
“Ini untuk Mas Kardi.” Ningsih, gadis manis berkulit sawo
matang dengan rambut kuncir kuda, yang juga merupakan tetangga Kardi
mengulungkan tas plastik berwarna putih pada Kardi.
“Apa ini Ning?” Kardi menerima plastik putih dari tangan
Ningsih.
“Nasi gudegnya Mbok Jum, yang diujung jalan itu Mas.”
“Buat aku?”
“Iya, itu buat Mas Kardi, sebungkus nasi gudeg suwiran ayam, lengkap dengan kerecek,
areh, dan tolo.”
“Wah enak! Kamu kok repot-repot sih Ning.”
“Engga repot kok Mas.” Wajah Ning semakin tersipu saat
Kardi menatap lekat-lekat gadis yang selalu membuatnya berdebar.
“Matur nuwun ya
Ning…makasih.”
“Sama-sama Mas…eh, Mas aku kerja dulu ya.”
“Iya Ning, kalau begitu aku berangkat ya Ning.”
“Hati-hati Mas.”
“Iya.”
Lambaian tangan Kardi yang menjadi tanda perpisahan
disambut hangat oleh Ning. Senyuman Ning dengan lesung pipitnya membuat Kardi
semakin bersemangat melewati hari. Sebentar
lagi aku akan menyatakan cinta Ning, tunggu ya Ning, aku mengumpulkan
keberanian dulu untuk bilang cinta sama kamu. Dada Kardi berdebar-debar
saat kata-kata cinta terus saja berulang didalam hatinya. Kardi tidak sabar
menunggu waktu itu tiba, waktu untuk menyatakan cinta pada pujaan hatinya.
Ah,
jatuh cinta memang indah!
*
Kardi tidak bisa berhenti tersenyum dihari ini. Wajah manis
Ning yang selalu terbayang membuat Kardi semakin bersemangat menjalani
pekerjaannya di hari ini. Toko mebel tempat Kardi bekerja buka dari pukul
09.00-21.00, dan kebetulan hari ini Kardi masuk pagi dari jam 09.00-15.00.
Kalau masuk siang Kardi mulai bekerja pukul 15.00-21.00.
“Kardi, dari tadi kau senyum-senyum terus…rupanya temanku
ini sedang bahagia.” Ucok, teman karib Kardi yang berasal dari Medan sepertinya
menangkap gelagat Kardi yang sedang jatuh cinta.
“Ah Mas Ucok tahu saja kalau saya sedang bahagia.” Ucok dan
Kardi sedang istirahat untuk makan siang. Mereka berdua berada di warung
angkringan berada tidak jauh dari tempat kerja.
“Kau tidak makan nasi kucing oseng tempe?” Ucok sedikit
heran saat Kardi hanya memesan segelas es teh, tanpa memesan menu favorit
mereka berdua jika sedang makan siang bersama di angkringan.
“Aku sudah bawa bekal Mas Ucok, ini…” Kardi mengeluarkan
bungkusan daun dari dalam tas plastik putih.
“Nasi gudeg dari Ningsih ya?”
“Mas Ucok tahu saja.” wajah Kardi seketika memerah menahan
malu.
“Rupanya kau memang benar-benar sedang jatuh cinta dengan
gadis bernama Ningsih itu ya.” Ucok semakin gencar menggoda Kardi yang sedang tersipu
malu.
“Aduh aku jadi malu.”
“Sudahlah Kardi, buruan saja kau nyatakan cinta pada si
Ningsih itu!” Ucok semakin provokatif.
“Iya Mas, sebentar lagi aku juga akan menyatakan cinta pada
Ning.”
“Kapan? Jangan ditunda-tunda, nanti keburu Ning kau itu
diambil orang.”
“Siap Mas Ucok!”
“Jangan hanya bilang siap-siap, haduh kau ini harus gerak cepat Kardi! Kau bilang Ningsih itu
manis, senyum lesung pipitnya bikin kau tak bisa tidur kan?” Kardi mengangguk
mantap. “Ya sudah Kardi, segera saja kau nyatakan cinta.”
“Lusa aku akan menyatakan cinta pada Ning.”
“Bagus!” Ucok mengacungkan kedua jempol tangannya. “Aku
dukung kau!”
“Doakan ya Mas Ucok, semoga saja Ning mau menerima
cintaku.”
“Ya pasti diterimalah, Ning kan selalu perhatian sama kau.”
“Amin!”
“Sudahlah, buruan kau makan nasi gudeg dari Ning yang
bertaburkan cinta itu.”
“Ah Mas Ucok bisa saja….”
“Aku juga sudah lapar kali ini! Kusikat saja dua nasi
kucing yang satu oseng tempe, yang satu sambal teri, tambah sate kerang,
mendoan, dan tahu susur.” Dengan sigap Ucok mencomot makanan yang sudah diincarnya
itu. “Melihat kau yang berbunga-bunga seperti ini, membuat nafsu makanku bertambah.”
Kardi tertawa cekikikan. “Apalagi kalau sudah ketemu wedang tape buatan Bu
Saniyem yang tiada tandingannya ini!” Ucok menerima segelas wedang tape hangat
yang diserahkan Bu Saniyem, ibu-ibu pemilik warung angkringan.
“Mari makan Mas Ucok.”
“Mari-mari…ah melihat kau yang sedang jatuh cinta seperti
ini aku jadi teringat dengan istriku dirumah, tiba-tiba kangen kali aku sama
dia!”
Kardi
dan Ucok tertawa bersama.
Kardi merasa beruntung memiliki teman karib di tempat
kerjanya. Meskipun umur Ucok jauh lebih tua dari Kardi namun Kardi merasa cocok
berteman dengan Ucok. Meskipun mereka berdua berasal dari latar belakang budaya
yang berbeda, Kardi orang Jawa yang asli Jogja, sedangkan Ucok orang Medan totok, namun perbedaan itu tidak menjadi
penghalang mereka untuk bersahabat. Meskipun karakter Ucok “keras”, namun Kardi
selalu merasa senang mendengar nasihat-nasihat yang selalu diberikan Ucok saat
Kardi sedang membutuhkan solusi dari masalah-masalahnya, baik masalah
pekerjaan, cinta, dan keluarga.
Kardi, pemuda berusia 19 tahun merupakan anak ketiga dari
empat bersaudara. Kakak pertama Kardi sudah menikah dan tinggal bersama
suaminya di Sleman. Murni, kakak perempuan Kardi membantu suaminya mengelola
perkebunan salak pondoh milik mertua Murni. Kakak kedua Kardi, Bambang bekerja
di toko oleh-oleh khas Jogja yaitu bakpia di daerah Pathuk. Sedangkan adik
Kardi, si bungsu Sari, masih SMP. Bapak Kardi sudah meninggal 2 tahun yang
lalu, sedangkan Ibu Kardi sudah bertahun-tahun bekerja di toko batik di daerah
Dongkelan. Dengan bekerja sebagai pegawai toko mebel di Malioboro, Kardi bahagia
karena dia merasa sudah tidak lagi membenani Ibunya, karena memiliki
penghasilan sendiri. Kardi juga mulai menabung untuk masa depannya, Kardi punya
impian membangun rumah tangga bersama Ningsih, pujaan hatinya.
*
Hari Minggu yang ditunggupun tiba. Kardi dan Ningsih libur
kerja, mereka berdua janjian untuk pergi bersama. Setelah Kardi menjemput
Ningsih, berpamitan kepada kedua orangtua dan kakak perempuan Ningsih,
merekapun memulai perjalanan. Hari ini Kardi sudah membulatkan tekad untuk
menyatakan cinta pada Ningsih.
“Kita mau jalan-jalan kemana Mas Kardi?” Ningsih yang hari
ini terlihat cantik dengan rok batik merahnya, bertanya pada Kardi saat mereka sudah
berboncengan di atas motor kesayangan Kardi.
“Aku mau mengajak kamu keliling Jogja Ning.”
“Ke Malioboro juga kan?” Kardi mengangguk. “Ningsih tahu
Mas Kardi sudah bosan ke Malioboro, soalnya setiap hari Mas Kardi kan ke
Malioboro untuk bekerja.”
“Aku ga pernah bosan Ning, aku suka selalu suka Malioboro!”
Ningsih tertawa. “Ini serius Ning, aku suka sekali dengan Malioboro, dan aku
merasa bersyukur bisa bekerja di tempat yang aku suka.”
“Iya Mas, Ningsih juga tahu kalau Mas Kardi itu
cita-citanya pengen bekerja di Malioboro.”
“Ga tau ya Ning, Malioboro itu seperti magnet. Meskipun
saat liburan selalu macet, tapi aku itu suka sekali melihat becak berseliweran,
andong yang bertebaran dimana-mana, mengamati berjubel manusia yang datang
mengunjungi Malioboro, rasanya aku tidak akan pernah bosan dengan Malioboro.”
“Ning juga suka Malioboro, meskipun Ning jarang sekali
berkunjung ke Malioboro.”
“Nah, sudah sampai nih!”
“Ini Taman Sari Mas?”
“Iya….kita jalan-jalan dulu ke Taman Sari ya Ning, melihat
pemandian putri-putri Keraton di zaman dulu. Aku dengar dari Mas Ucok, setelah
dipugar Taman Sari jadi lebih indah.”
Kardi dan Ningsih lalu berjalan-jalan di Taman Sari yang
eksotik. Mereka berdua tampak takjub melihat tempat bersejarah yang menjadi
daya tarik bagi para wisatawan itu. Setelah puas berjalan-jalan di Taman Sari,
Kardi lalu mengajak Ning ke Alun-Alun Utara, mereka berjalan-jalan di depan
Keraton Jogja. Kebetulan di Alun-Alun Utara sedang ada Sekatenan, pasar malam
yang diadakan setahun sekali. Meskipun Sekatenan belum dibuka secara resmi,
namun aura khas pasar malam sudah terasa. Di sore yang cerah Kardi mengajak
Ning naik komedi putar di Sekaten, mereka berdua larut dalam suasana pasar
malam lengkap dengan musik campur sari yang disetel kencang di Sekaten.
Setelah puas naik komedi putar dan berkeliling Sekaten,
Kardipun memenuhi janjinya untuk mengajak Ning ke Malioboro. Sebelum
berjalan-jalan di Malioboro, Kardi mengajak Ning makan malam di angkringan Bu
Saniyem, di dekat toko mebel tempat Kardi bekerja yang memang buka dari pagi
hingga tengah malam. Setelah melahap nasi kucing, tahu bacem, ceker goreng, dan
wedang tape, Kardipun mengajak Ning jalan-jalan di Malioboro. Mereka berdua
menikmati indahnya pemandangan di Malioboro dengan toko-toko yang berjejer.
“Capek Ning?”
“Capek tapi senang Mas.”
“Kalau kamu capek kita istirahat dulu yuk.”
“Iya Mas.”
Kardi dan Ning duduk-duduk didepan Istana Negara yang
berhadapan dengan Benteng Vanderburg. Ditempat ini banyak komunitas yang
berkumpul didepan Istana Negara, ada komunitas sepeda, juga komunitas seni
lainnya, serta para pengamen jalanan yang melantunkan lagu-lagu masa kini.
Suasana Malam di depan Istana Negara semakin romatis dengan lampu-lampu “khas
Jogja” yang bertebaran disetiap sudut Malioboro.
“Mas itu titik Nol Kilometer ya?” Ning menunjuk perempatan
yang menghubungkan Alun-Alun Utara dan Malioboro.
“Iya Ning, yang biasa buat demo-demo itu.” Ning
mengangguk-angguk. Musisi jalanan yang berada tidak jauh dari tempat Kardi dan
Ning duduk, menyanyikan lagi “Jogjakarta” yang dipopulerkan oleh Kla Project.
“Ning, ada yang ingin aku sampaikan sama kamu.” Jantung Kardi mulai berdegup
kencang. Ini saatnya! Tekad Kardi untuk
menyatakan cinta pada Ning semakin kuat.
“Ada apa Mas Kardi?”
“Ning, kita sudah lama berteman, dan aku merasa bahagia
saat bersama kamu.” Meskipun lampu jalanan sedikit redup, namun Kardi bisa
melihat dengan jelas rona wajah Ning yang memerah.
“Terimakasih Mas.” Ning menunduk malu.
“Ning, sebenarnya aku sudah lama ingin menyatakan ini sama
kamu, tapi baru hari ini aku berani bilang Ning….”
“Ada apa Mas Kardi?” Meskipun berusaha kerasa menutupi rasa
gugupnya saat mata Ning menatap menatap Kardi, namun Kardi bisa merasakan
debaran jantung Ning.
“Ning, aku cinta kamu.” Lega!
Akhirnya kata itu bisa keluar dari mulutku! Wajah Ning semakin bersemu,
senyuman Ning dengan lesung pipitnya membuat Kardi semakin berdebar.
“Ning juga cinta sama Mas Kardi….”
“Apa Ning, aku ga dengar kamu ngomong apa…” Kardi bohong!
Sebenarnya Kardi sudah mendengar ucapan Ning. “Bisa ga ngomongnya lebih keras
lagi?”
“Ningsih cinta Mas Kardi!!!” Ning sedikit berteriak.
“Oh, makasih ya…” Ning tertawa. “Jadi kita sama-sama saling
mencintai?”
“Iya.”
“Kalau begitu mulai hari ini kita pacaran?”
“Setuju.”
Mereka berdua lalu berjabat tangan.
“Pulang yuk Ning, sudah malam…”
“Iya Mas…”
Mereka berdua bergandengan tangan menuju toko mebel tempat
Kardi bekerja untuk mengambil motor. Hari ini menjadi hari yang indah untuk
Kardi dan Ningsih, Malioboro menjadi saksi terpautnya cinta diantara mereka
berdua.***
Catatan
: Cerita Pendek ini pernah diikutsertakan untuk sebuah lomba menulis, namun
tidak menang. Beberapa bagian tulisan ini sudah diedit.