Aku mengamati truk besar dari balik
jendela kamar. Barang-barang yang diangkut truk itu sepertinya akan mengisi
rumah kosong yang berada di sebelah kiri rumahku. Sudah sekitar 6 bulanan ini
rumah berpagar hijau itu kosong karena pemilik lama pindah ke Kalimantan. Kabar
yang beredar kalau rumah berlantai 2 itu sudah laku terjual, sepertinya bukan
sekedar gosip belaka.
“Woiii!!!
Malamun aja!” Mbak Sari sudah berdiri di samping meja belajar.
“Apaan sih, ganggu aja!”
“Meja belajar kamu ini kayanya perlu
dipindah deh biar konsen belajar, bukannya malah celingak-celinguk dari balik jendela, lihat sana-sini.”
“Lho,
justru semangat belajarku semakin membara saat melihat birunya langit,
memandangi orang yang sedang berjalan, me…”
“Cukup… cukup… puisinya cukup ya!”
“Mbak, itu tetangga baru kita siapa
ya?”
“Hah? Tetangga? Mana?” Mbak Sari
ikutan mengintip dari jendela.
“Ih,
ikutan ngintip juga! Tadi protes soal jendela dan meja belajarku…”
“Akhirnya rumah sebelah ga kosong
lagi, serem juga kalau terlalu lama kosong gitu… ntar kalau…”
“Stop!
Aku ga mau denger cerita serem!”
Mbak Sari keluar kamar sambil
cekikikan.
*
Sudah beberapa hari ini, sejak
tetangga depan rumah itu pindah, aku sedikit terganggu dengan suara musik yang
disetel dengan volume cukup kencang dari lantai 2, terutama saat malam hari.
“Selamat siang... apa saya bisa… ”
“Sari?”
“Mia?”
Hah? Kenapa Mbak Sari malah
peluk-pelukan dengan seseorang yang membukakan pintu, saat siang ini kami
datang untuk “protes” ke tetangga baru. Well,
lebih tepatnya, aku yang memaksa Mbak Sari untuk menemaniku datang ke rumah
tetangga baru itu. Setelah menolak keras, akhirnya dia mau juga menemaniku.
Mungkin Mbak Sari juga mulai sedikit terganggu dengan “volume kencang” itu.
Papa dan Mama mencoba menahanku untuk protes ke tetangga baru, tapi kesabaranku
sepertinya sudah habis!
“Tidak disangka bertemu kamu Sari.”
“Eh, iya, hmm… ternyata kita tetanggaan. Rumahku yang di samping itu.” Mbak
Sari menunjuk rumah kami. “Eh, ini kenalin ini adikku… Vio.”
Aku dan teman Mbak Sari yang bernama
Mia itu saling berjabat tangan.
“Mari masuk…”
“Eh… ini… hmmm…. Kapan-kapan saja deh kami main lagi ke sini. Kebetulan tadi
aku sama Vio lagi ngejar tukang bubur ayam, terus mampir. Ini, Vio pengen
kenalan sama tetangga baru katanya…” Aku langsung melotot pada Mbak Sari, yang
entah kenapa raut wajahnya berubah jadi aneh gitu. Entah panik, entah apa, aku
tidak paham.
“Begini Mbak Mia… sebelumnya…”
“Ayo Vio, ntar tukang bubur ayamnya
keburu jauh…” Mbak Sari menarik tanganku kuat-kuat. “Bye Mia!”
“Bye!
Sampai ketemu lagi ya… Sari, Vio…”
Mbak Sari berjalan cepat sambil
terus menarik tanganku kuat-kuat.
“Mbak! Apa-apaan sih! Sakit nih
tanganku. Eh, kita kan mau protes, kenapa malah begini!”
“Ah, kenapa juga harus Mia!”
Akhirnya Mbak Sari melepaskan genggaman tangannya.
“Kenapa sih emangnya?”
“Aku dulu merebut Bagas dari Mia.”
“Mas Bagas yang mantan pacar Mbak
beberapa tahun silam itu, yang pas awal-awal SMA kan?” Mbak Sari mengangguk
pelan. “Mas Bagas itu pacarnya Mbak Mia lalu…”
“Gebetan! Mereka belum jadian.”
“So? Kalau baru gebetan sih…”
“Tapi semua anak-anak
kelas paduan suara tahu kalau Mia itu naksir berat sama Bagas, tapi malah
jadiannya sama aku. Ah, bete!”
“Tapi kan kejadiannya sudah lama, lagian
Mbak Sari kan sudah putus sama Mas Bagas.”
“Mia itu cinta mati sama Bagas…”
“Ya kan itu dulu… Mungkin saja Mbak
Mia sekarang sudah punya pacar.”
“Tapi aku tetap
merasa bersalah pada Mia jika inggat kejadian itu.”
“Ya, terus,
kalau sudah begini, aku ga boleh protes?”
“Tau ah!”
Mbak Sari berjalan lemas menuju
rumah. Aku jadi tidak tega melihatnya.
Ah, tapi protes must go on! Someday.***