Kamis, 15 Desember 2016

Patah Hati Anya - #AStoryAbout


PATAH HATI ANYA


Aku melambaikan tangan pada Anya saat menemukannya sedang duduk di bangku taman. Sore ini kami memang janjian bertemu di Taman Kota, tempat favorit untuk melewatkan sore. Dengan angin yang sepoi-sepoi, aneka jajanan lezat di depan taman, serta mengamati orang-orang yang melakukan berbagai aktivitas sore, ah sungguh menyenangkan berada di sini.
“Mau ice cream Mia?”
“Belum juga duduk udah ditawarin ice cream aja nih. Oke, strawberry rainbow...”
Anya segera berlalu setelah aku selesai menjawab. Ah, kenapa Anya ini? Biasanya kami akan duduk-duduk bersama dulu, kemudian bingung bersama akan memilih burger atau batagor untuk jadi teman camilan selama mengobrol, lalu akan ditutup dengan makan ice cream bersama, lalu…
“Ini.” Anya menyerahkan cup ice cream rasa strawberry dengan taburan aneka meses warna-warni.
“Anya, kamu baik-baik saja?”
“Tidak…” air mata Anya tiba-tiba jatuh di pipinya.
“Anya… Ya ampun, kamu kenapa?”
Anya memelukku, erat.
“Bukan hal mudah untuk bisa menerima semua ini Mia...” Sambil melepaskan pelukannya, Anya bicara sesengukan.
“Ini…” aku menyodorkan tissue yang aku ambil dari dalam tas. Anya menghapus air matanya, namun tidak berapa lama air matanya jatuh lagi.
“Aku benci dia!”
“Siapa?”
“Aris.”
“Anya…”
“Bagaimana bisa dia memutuskan untuk bersama dengan yang lain, sementara selama ini aku kurang apa Mia…”
“Anya…”
“Iya, aku tahu, Aris tidak pernah suka aku. Aku tahu, Aris hanya bersikap baik karena aku selalu baik sama dia. Aku tahu itu Mia…”
Aku sedih melihat Anya.
“Seharusnya aku tidak berharap pada Aris kan Mia? Seperti yang pernah kamu bilang.”
Aku diam. Saat ini aku tidak bisa bilang apa-apa, selain duduk di samping sahabatku.
“Aku tahu, ini pasti akan kejadian. Tapi kenapa sakit banget Mia saat Aris benar-benar memilih yang lain, bukan aku.”
Aku masih diam.
“Kamu boleh salahin aku karena kebodohanku untuk tetap mempertahankan rasa ini untuk Aris, sementara aku tahu, benar-benar tahu, Aris not falling in love mith me!” air mata Anya yang sudah mulai mengering kembali jatuh.
“Anya… Aku… Aku…” Ah, kenapa aku kehabisan kata-kata begini?
“Mia, itu ice creamnya cair. Buruan diabisin, udah aku traktir juga…”
“Hah? Ah, iya! Eh, baru nyadar kalau kamu cuman beli ice cream buat aku, hahaha… Makasih ya.”
Anya tertawa. Ah, sorot mata Anya yang sedih itu sungguh membuatku tergetar.
*
Aku ragu-ragu memasuki restaurant pizza yang sudah di depan mata. Aku melihat Aris dari balik kaca. Dia memang tidak melihatku saat tanpa sengaja mataku menangkap sosok Aris yang sedang asyik mengobrol dengan seseorang yang duduk di depannya. Dan, seseorang itu, Malika, sepupuku. Pagi tadi Malika menelpon dan mengundangku untuk merayakan kegembiraannya karena sekarang sudah memiliki pacar. Tapi, apakah Aris pacar Malika? Apa ini yang Anya bilang, Aris jatuh cinta dengan seseorang yang baru saja dikenalnya saat bertemu dalam sebuah acara diskusi film, dan aku tahu sekali, Malika cinta dunia film.
Ah, tapi kenapa harus Aris, Malika?
Langkahku terasa sangat berat saat memasuki restaurant.***  


Note :
Cerita Percikan ini pernah dikirim di Majalah Gadis (2016), namun tidak dimuat.

Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...