PATAH HATI ANYA
Aku melambaikan
tangan pada Anya saat menemukannya sedang duduk di bangku taman. Sore ini kami
memang janjian bertemu di Taman Kota, tempat favorit untuk melewatkan sore.
Dengan angin yang sepoi-sepoi, aneka jajanan lezat di depan taman, serta mengamati
orang-orang yang melakukan berbagai aktivitas sore, ah sungguh menyenangkan
berada di sini.
“Mau ice cream Mia?”
“Belum juga duduk
udah ditawarin ice cream aja nih. Oke,
strawberry rainbow...”
Anya segera berlalu
setelah aku selesai menjawab. Ah, kenapa Anya ini? Biasanya kami akan
duduk-duduk bersama dulu, kemudian bingung bersama akan memilih burger atau
batagor untuk jadi teman camilan selama mengobrol, lalu akan ditutup dengan
makan ice cream bersama, lalu…
“Ini.” Anya
menyerahkan cup ice cream rasa strawberry dengan taburan aneka meses
warna-warni.
“Anya, kamu baik-baik
saja?”
“Tidak…” air mata
Anya tiba-tiba jatuh di pipinya.
“Anya… Ya ampun, kamu
kenapa?”
Anya memelukku, erat.
“Bukan hal mudah
untuk bisa menerima semua ini Mia...” Sambil melepaskan pelukannya, Anya bicara
sesengukan.
“Ini…” aku
menyodorkan tissue yang aku ambil dari dalam tas. Anya menghapus air matanya,
namun tidak berapa lama air matanya jatuh lagi.
“Aku benci dia!”
“Siapa?”
“Aris.”
“Anya…”
“Bagaimana bisa dia
memutuskan untuk bersama dengan yang lain, sementara selama ini aku kurang apa
Mia…”
“Anya…”
“Iya, aku tahu, Aris
tidak pernah suka aku. Aku tahu, Aris hanya bersikap baik karena aku selalu
baik sama dia. Aku tahu itu Mia…”
Aku sedih melihat
Anya.
“Seharusnya aku tidak
berharap pada Aris kan Mia? Seperti yang pernah kamu bilang.”
Aku diam. Saat ini
aku tidak bisa bilang apa-apa, selain duduk di samping sahabatku.
“Aku tahu, ini pasti
akan kejadian. Tapi kenapa sakit banget Mia saat Aris benar-benar memilih yang
lain, bukan aku.”
Aku masih diam.
“Kamu boleh salahin
aku karena kebodohanku untuk tetap mempertahankan rasa ini untuk Aris,
sementara aku tahu, benar-benar tahu, Aris not
falling in love mith me!” air mata Anya yang sudah mulai mengering kembali
jatuh.
“Anya… Aku… Aku…” Ah,
kenapa aku kehabisan kata-kata begini?
“Mia, itu ice
creamnya cair. Buruan diabisin, udah aku traktir juga…”
“Hah? Ah, iya! Eh,
baru nyadar kalau kamu cuman beli ice cream buat aku, hahaha… Makasih ya.”
Anya tertawa. Ah,
sorot mata Anya yang sedih itu sungguh membuatku tergetar.
*
Aku ragu-ragu
memasuki restaurant pizza yang sudah di depan mata. Aku melihat Aris dari balik
kaca. Dia memang tidak melihatku saat tanpa sengaja mataku menangkap sosok Aris
yang sedang asyik mengobrol dengan seseorang yang duduk di depannya. Dan,
seseorang itu, Malika, sepupuku. Pagi tadi Malika menelpon dan mengundangku
untuk merayakan kegembiraannya karena sekarang sudah memiliki pacar. Tapi, apakah
Aris pacar Malika? Apa ini yang Anya bilang, Aris jatuh cinta dengan seseorang
yang baru saja dikenalnya saat bertemu dalam sebuah acara diskusi film, dan aku
tahu sekali, Malika cinta dunia film.
Ah, tapi kenapa harus Aris, Malika?
Langkahku terasa
sangat berat saat memasuki restaurant.***
Note :
Cerita Percikan ini
pernah dikirim di Majalah Gadis (2016), namun tidak dimuat.