Senin, 03 Agustus 2020

PUJAAN HATI BERNAMA REZA - #AStoryAbout

 

PUJAAN HATI BERNAMA REZA

 

            Gerimis masih turun saat aku keluar kelas menuju gerbang sekolah. Reza! Jantungku berdegup kencang saat melihat sosok cowok berkacamata dengan sweater birunya, lewat didepanku. Ya Tuhan, mengapa sampai sekarang aku selalu dibuat beku saat berhadapan dengan Reza? Padahal aku ingin sekali menyapa kakak kelasku itu! Ah, aku benci diriku! Aku selalu membiarkan Reza berlalu begitu saja, disaat aku ingin sekali memanggil namanya. Ya, sudahlah! Mungkin lain waktu aku bisa menyapa Reza, tentunya setelah berhasil mengumpulkan keberanian dan tekad baja.

            Woiii!!” suara cempreng Mira langsung mengalihkan pandanganku saat menatap punggung Reza yang semakin lama semakin terlihat menjauh.

            “Bisa ga kalau ga ngangetin!” aku langsung pasang tampak jutek.

            Busyet, nih anak nyolot banget, abis kesambar apa sih? Santai dunk Key…”

            “Kalau mau santai ya di pantai sono!”

            “Ya ampun Keyla, kamu kenapa sih? Kalau marah-marah begini ntar cantiknya hilang…”

            “Aku cantik ya?”

            “Nah, mulai nih anak….” Tawaku akhirnya pecah saat melihat tampang manyun Mira. “Kenapa Key? Kok marah-marah begini?”

            “Gak ada apa-apa kok Mir….”

            Ciyuss?”

Swear!”

“Yakin gak ada apa-apa?”

            Hmmmm…..Reza….”

            “Aha! sudah kuduga!” Mira melotot, dan aku nyengir kuda. “Wajah Reza itu tergambar sangat jelas di dalam fikiranmu.”

            “Sok tahu! Emangnya kamu bisa baca fikiranku?”

            “Lha, cenayang begini kok dilawan!”

            “Cenayang itu yang ditarik ulur, terus terbang-terbang di langit itu kan?”

            “Itu layang-layang dodol!” aku ngakak sambil menahan sakit perut melihat wajah Mira yang cemberut. “Udah, ga usah ketawa-ketawa gitu! Balik ke Reza….gimana..gimana..kapan kamu akan menyapa dia?” tawaku terhenti seketika saat mendengar nama Reza disebut-sebut.

            “Sampai aku siap melakukannya….”

            “Kapan Key? Keburu Reza lulus….”

            “Secepatnya!”

            “Janji Key?” aku mengacungkan dua jari tanganku membentuk huruf V.

            “Janji!”

Yuksss ke halte sekarang….”

            Yuksss…”

            Aku dan Mira berlari-lari kecil menuju halte bus, sebelum gerimis berubah menjadi hujan.

 

Aku menatap bungkusan berwarna merah di atas meja belajar. Entah sudah berapa lama bungkusan merah itu berada di meja belajarku, mungkin sudah berbulan-bulan yang lalu. Didalam bungkusan itu ada jam dinding dengan gambar Mancashter United, club bola kesukaan Reza. Kado berbungkus merah itu sebenarnya ingin aku berikan pada Reza, saat ulang tahunnya bulan depan, namun aku belum tahu, apakah aku punya keberanian untuk memberikan kado tersebut.

Hatiku mulai gelisah, mungkin Mira benar, aku tidak boleh melewatkan kesempatan demi kesempatan begitu saja! Kalau saat kelulusan tiba, dan aku belum juga berani menyapa Reza, sia-sialah semua. Baik, aku akan membulatkan tekad untuk menyapa Reza besok! Apapun yang terjadi, aku akan tetap maju terus pantang mundur!

Jantungku kembali berdegup kencang saat teringat Reza.

 

“Doakan aku ya Mira.”

            “Pasti Key! Kuncinya, tenang.”

            “Sip!” Mira menepuk bahuku pelan sesaat sebelum aku melangkah meninggalkannya.

            Aku berjalan menuju arah Reza, yang aku lihat sedang berdiri di depan papan majalah dinding sekolah. Tekadku sudah sangat bulat, sebulat telur ayam, pokoknya hari ini aku akan menyapa dan berjuang untuk bisa berkenalan dengan cowok pujaan hatiku itu.

            Omigoddddd!!! Aku sudah berdiri dibelakang Reza! Ayo Keyla, kamu pasti bisa!

            “Kak Reza….” Suaraku sedikit terbata saat memanggil nama Reza.

            Reza membalikkan badannya, dan menatapku. Sumpah! Jantungku hampir copot!

            “Iya….” Reza menatapku bingung.

            “Aku Keyla…” spontan aku mengulurkan tanganku. Ah, syukurlah, Reza menyambut uluran tanganku. Senangnya bisa bersalaman dengan Reza! Hatiku langsung berbunga-bunga. “Maaf Kak, kalau menggangu….”

            “Ah, engga kok.” Reza tersenyum, dan jantungku kembali berdegup luar biasa kencang saat melihat senyum Reza. “Ada yang bisa aku bantu Keyla?”

            “Engga ada Kak, aku hanya ingin berkenalan dengan Kak Reza.” Ops! Dodol! Apa yang aku katakan? Kenapa aku bisa keceplosan begini? Bodoh! Seharusnya aku kan bisa kasih alasan yang lebih keren! Kenapa malah terlalu jujur begini? Aih! Aku merasakan pipiku yang mulai menghangat, mungkin wajahku sekarang sudah semerah tomat. Sumpah, aku malu!

            Reza tertawa.

            “Senang berkenalan dengan kamu Keyla.”

            “Sama-sama Kak Reza…” KABURRR! “Kalau begitu aku permisi Kak, mau ke perpus.”

            Ok.”

Aku langsung balik badan. Dari kejauhan aku melihat Mira yang sedang tersenyum senang saat melihatku. Dengan debaran yang masih tersisa, aku berlari kecil menuju perpustakaan. Ah, akhirnya aku bisa menyapa Reza, bahkan berjabat tangan dengannya! Sumpah, aku bahagia banget! Rasanya itu seperti habis ketemu Justin Bieber trus dinyanyiin “Baby…baby..baby…oh…Kyaaaaaaa!!!!

Thanks God!

Sejak saat aku berkenalan dengan Reza di depan papan mading, sekarang kami selalu bertegur sapa saat berpapasan. Seperti hari ini, tanpa sengaja kami bertemu di kantin saat aku dan Mira sedang asyik menyantap bakso, jadilah kami mengobrol bersama.

“Kak Reza suka bola?” aku mencoba mengkroscek informasi yang aku dapatkan dari kepoin instragram Reza, apakah Mancaster United memang benar-benar club sepak bola favoritnya.

Yup! Aku penggemar berat Mancater United!” Yes! Dugaanku benar adanya! Ah, rasanya tidak sia-sia aku menyiapkan kado jam dinding dengan lambang club bola kesukaan Reza itu.

“Selain suka bola, Kak Reza suka pertandingan olah raga apalagi?” Mira yang sedari tadi hanya mendengarkan aku dan Reza mengobrol, akhirnya buka suara.

“Bulu tangkis!”

“Wah, kebetulan, si Mira ini jago bermain bulu tangkis lho Kak!”

“Oh ya?”

“Ah…engga jago-jago amat kok Kak…”

“Bohong! Mira itu selalu keluar jadi juara kalau ada perlombaan bulu tangkis, di acara tujuh belasan di komplek perumahannya.”

“Si Keyla mulai lebay nih.”

“Eh, ngomongin fakta malah dibilang lebay, please deh!”

“Tapi ga selalu juara juga kali…”

“Nah, itu piala berjejer di kamar, masih ga mau ngaku juga kalau juara.”

“Lha, kalian berdua kok malah berantem ini….” Aku dan Mira saling bertatapan lalu tertawa secara bersamaan.

“Maaf Kak Reza….”

“Ah, biasa Key, kalau sobatan itu juga kadang-kadang berantem juga kan?”

“100 buat Kak Reza…” Reza tertawa. “Jadi, selain suka sepak bola Kak Reza juga suka bulu tangkis?”

“Iya Key...suka lihat pertandingannya, tapi jarang main sepak bola maupun bulu tangkis.” Aku dan Mira kompakan manggut-manggut. “Kalau kamu sukanya apa Key?”

“Makan bakso, ngemil coklat plus ice cream…” Aih, kenapa aku bisa bicara sejujur ini! harusnya kan aku bisa jaga imej sedikit! Meskipun badanku yang ‘chubby’ ini jelas-jelas menunjukkan kecintaanku pada makanan, tapi kan seharusnya aku bisa sedikit mengontrol ucapanku tentang makanan! Ah, sudahlah…..

“Kadang-kadang Keyla juga menjadi lawanku saat bertanding bulu tangkis Kak.” Ucapan Mira bagaikan angin sejuk ditelingaku. Sumpah, saat ini aku ingin memeluk Mira dan mengucapkan terimakasih karena dia sudah sedikit ‘menyelamatkan’ku dari Reza.

“Tapi aku belum sejago Mira….”

“Kalau sering latihan lama-lama juga jago kok Key.”

“100 lagi untuk Kak Reza!!! Jadi, point yang sudah terkumpul jumlahnya jadi 200.” Reza tertawa.

“Kamu lucu…” Reza menatapku. Dan, entah darimana datangnya rasa salah tingkah itu. Tatapan Reza membuat jantungku berdegup sangat kencang. Ya Tuhan, semoga Reza tidak melihat rona merah di pipiku yang aku prediksi sudah muncul!

Thanks God! Bel tanda masuk yang berbunyi menyelamatkanku!

“Aku ke kelas dulu ya, kapan-kapan kita mengobrol lagi. Oh iya, kalau pada bertanding bulu tangkis, aku ikutan dunk.”

“Siap! Nanti kami bilang ke Kak Reza.” Mira yang menjawab, sedangkan aku masih terpaku. Sumpah, tatapan Reza membiusku.

Reza melambaikan tangan, aku mencoba melemparkan senyum terbaikku sambil membalas lambaian tangan Reza.

“Eh! Nih anak malah bengong! Ayo ke kelas.” Suara cempreng Mira kembali membawaku ke dunia nyata, bukan di dunia awang-awang lagi. “Ya ampun, nih anak malah makin bengong kaya sapi ompong….helloooo!!! Keyla!!”

“Iya..iya, aku denger!”

“Eh busyet nih anak malah nyolot.”

“Udah ga usah ribut deh!”

“Eh, kok malah marah-marah begini nih, harusnya kamu tuh happy berat karena bisa mengobrol sama Reza, si pujaan hati.”

Lebay!” aku berjalan cepat menuju kelas.

Woiiii…Keylaaaa…tunggu! Eh, busyet, maksudnya apa ini aku ditinggal-tinggal begini.” Aku terus berjalan tanpa menunggu Mira yang masih berada dibelakangku. “Eh, mentang-mentang lagi jatuh cinta trus jadi aneh nih anak!”

Stttttttt!!! Bisa ga sih kalau ga berisik!”

Cieeeeee…Reza nih yeeee…”

Shut up!”

Mira tertawa terbahak-bahak, sedangkan aku hanya bisa cemberut.

 

Hari Minggu pagi yang cerah aku dan Mira menunggu Reza di lapangan bulu tangkis yang terletak di komplek perumahan Mira. Pagi ini, kami janjian untuk bermain bulu tangkis bersama. Meskipun akan berolah raga, namun aku sengaja tampil special di hari ini. Dengan menggunakan t-shirt warna pink, aku berharap Reza membaca “sinyal” yang ingin aku tunjukkan padanya. Semoga Reza tahu, warna pink melambangkan rasa jatuh cinta, dan aku memang sedang jatuh cinta dengan Reza!

Seminggu lagi ulang tahun Reza, dan aku sudah tidak sabar untuk menyerahkan kado special yang sudah aku persiapkan berbulan-bulan yang lalu itu. Semoga acara “pedekate” hari ini berjalan dengan lancar!

Cieeeee….cantik bener hari ini, pink gitu looh!” Mira sedari tadi terus menggodaku dengan tampang jahilnya yang menyebalkan itu.

“Makasih….tapi kayanya kamu udah bilang berkali-kali deh kalau aku cantik. Sekali lagi kamu bilang aku cantik, nih raket kayanya bakal melayang deh.”

“Ya ampun, nih anak sadis amat!” Aku melotot. “Hmmmm…semoga saja Reza akan datang bersama Varell, si cowok cute itu!”

Ngarep!”

“Eh, boleh dunk aku berharap Reza akan membawa Varell untuk bermain bulutangkis bersama kita. Kan bisa ganda campuran tuh, kamu ama Reza melawan aku sama Varell.” Mira senyum-senyum ceria.

“Mentang-mentang Reza se-gank ama Varell, bukan berarti dia akan menggajak gebetan kamu itu.”

Please Keyla, kalau lagi bahagia itu dibagi-bagi kenapa? Masa kamu pedekate sama Reza, aku ga boleh pedekate sama Varell.”

“Iya deh, aku doakan Reza akan datang bersama Varell, bukan temen se-gank’nya yang lain.”

“Amin….”

“Reza mana sih? kok belum datang-datang….”

“Sabar kali! Ini masih ada waktu 10 menit dari waktu janjian. Kamu sih ngajakin datang lebih awal.”

“Ya jangan sampai Reza menunggu kan?”

“Tapi ga datang setengah jam lebih awal juga kali!” Tawaku langsung pecah saat melihat wajah manyun Mira.

“Itu Reza!” teriakan cempreng Mira membuatku buru-buru merapikan rambut, dan kembali menyakinkan penampilanku sudah terlihat sempurna! Aku harus bisa memberikan kesan yang baik di acara pedekate ini!

Aku membalikkan badan untuk menyambut Reza dengan senyum terbaikku.

Tunggu! Siapa cewek yang ada disamping Reza itu? Seharusnya kan Reza datang bersama Varell, Bayu, Miko, atau temen se-gank’nya yang lain, tapi kenapa Reza tidak datang bersama mereka? Jantungku mulai berdegup tak karuan.

“Selamat pagi….” Sapaan hangat Reza tidak juga meredakan debaran yang semakin menguat.

“Pagi Kak…” Mira yang menjawab, sedangkan aku hanya bisa melemparkan senyum.

“Aku belum terlambat kan?” Aku dan Mira kompakan menggeleng. “Nah, ini teman yang akan menemaniku bermain bulutangkis bersama kalian.” Cewek berambut lurus sebahu itu tersenyum bergantian denganku dan Mira. Aku membalas setengah hati senyum cewek itu. Perasaanku mulai tidak enak. “Kenalkan, dia Claudia, teman istimewaku….” Deg! Sumpah, kali ini jantungku serasa berhenti berdetak.

Aku dan Mira bergantian bersalaman dengan Claudia.

“Teman istimewa, maksudnya pacar Kak?”

“Iya Mira, Claudia ini pacar aku.” Sumpah, aku ingin pingsan! “Kami baru jadian sebulan yang lalu….” Cerahnya matahari pagi langsung tertutup kabut didalam hatiku. Rencana “pedekate” gagal total!!!

“Main bulu tangkisnya bisa kita mulai sekarang?”

“Siap!!!!!!”

“Wah, Keyla bersemangat sekali!”

Aku tertawa, tapi dalam hati menangis.

“Pastinya!” Semangat? Helooooo!!! Aku sedang patah hati Reza! Mira menatapku dengan tatapan yang tidak aku mengerti. “Aku baik-baik saja Mira.” Aku berbisik pelan ditelinga Mira.

Kami bersiap untuk bermain bulu tangkis.

Semua harapan yang sudah aku bangun untuk Reza hancur sudah. Meskipun aku harus menelan kekecewaan yang dalam, namun aku tetap bahagia karena keinginanku untuk bisa berkenalan dengan Reza akhirnya terwujudkan. Meskipun impianku untuk menjadi pacar Reza harus terhempas, namun aku tetap harus kuat bukan? Bagaimanapun juga Reza akan tetap menjadi seseorang yang special untukku. Well, kado ulang tahun Reza akan aku pakai sendiri sajalah! Jam dinding itu sepertinya akan terlihat cantik jika dipajang di tembok kamarku. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

           

 

           


Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...