Kamis, 21 Januari 2021

Awan Di Atas Taman - #AStoryAbout



AWAN DI ATAS TAMAN

 

Setiap aku sedih, aku selalu datang ke taman bermain ini. Aku tahu, sekarang aku sudah besar, umurku sudah 17 tahun. Aku tahu, aku bukan anak kecil lagi yang bisa bermain ayunan sepuasnya, atau sekedar berlari-lari mengelilingi taman bermain ini, seperti yang selalu aku lakukan saat kecil dulu. Entah mengapa saat berada di taman ini aku selalu merasa tentram, dan kesedihanku langsung menghilang. Bisa duduk-duduk santai di bawah pohon rindang, tempat favoritku saat berada di taman ini, membuatku merasa damai. Seperti Minggu sore ini, aku mengunjungi taman bermain yang tak bernama itu. Aku menamai taman bermain ini dengan nama “Taman Awan”, karena aku suka sekali melihat awan dari bawah pohon rindang di taman bermain ini. Bisa menatap awan yang berjalan berarakan membentuk berbagai macam bentuk yang lucu dan indah, membuatku bahagia.  

          Saat ini aku sedang sedih. Karin, sahabatku, entah mengapa akhir-akhir ini seperti menghindarku. Dan yang paling parah adalah kegalauanku karena Raja! Yup! Si Raja, cowok pujaanku itu. Menginggat Raja, membuat jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Ah, kenapa aku selalu merasakan getaran indah setiap kali hatiku menyebutkan nama Raja? Kenapa selalu ada deguban kencang saat teringat pada Raja? Apakah aku sedang jatuh cinta pada tetangga baruku itu? Cowok yang tinggal di sebelah rumah yang membuat hariku penuh warna.

          Entah sejak kapan aku naksir Raja, mungkin sejak pertama kali aku melihatnya. Aku inggat, sore itu aku sedang menyiram tanaman di halaman depan rumah saat sebuah truk berhenti di rumah sebelah yang kosong, setelah pemilik sebelumnya berhasil menjual rumah tersebut beberapa bulan yang lalu. Saat itu aku tidak terlalu memperhatikan orang-orang yang sibuk memindahkan barang-barang dari truk menuju ke dalam rumah. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang saat melihat cowok itu! Aku suka melihat cowok yang sedang berjalan menuju ke dalam rumah bersama anjingnya. Melihat wajahnya yang lucu dengan pipi chubby-nya, melihat gayanya yang cuek, membuatku hatiku meleleh. Aku merasakan pipiku menghangat saat cowok itu melihat sekilas ke arahku. 

          Aku tahu, seharusnya saat cowok itu melihat ke arahku, aku memberikan senyuman kepadanya, tapi aku tidak melakukan itu. Aku tahu, seharusnya aku menyapa tetangga baru yang sudah menggetarkan hatiku itu, namun aku tidak melakukannya. Waktu itu aku malah pura-pura cuek, dan tetap sok sibuk menyiram tanaman, padahal aku ingin sekali memberikan senyuman terbaikku. Aku hanya bisa menyesal saat akhirnya cowok itu masuk kedalam rumah dan aku gagal berkenalan dengannya.    

 Sampai akhirnya sekitar seminggu yang lalu aku melihat cowok lucu itu di jalan, saat aku sedang berjalan menuju rumah sepulang dari les Bahasa Inggris. Setelah berhari-hari aku tidak melihat dia, sejak pindahan rumah itu, akhirnya sore itu aku melihat dia sedang berjalan kaki berkeliling komplek bersama anjingnya. Namun lagi-lagi aku melewatkan kesempatan untuk sekedar memberikan senyumku kepadanya. Saat kami berpapasan, aku malah pura-pura sibuk melihat ke arah lain. Bukannya berusaha untuk melakukan kontak mata dengan dia, aku justru menghindari tatapan cowok lucu itu saat dia melihatku. Stupid me! Kesempatan emas terbuang lagi!

Aku akhirnya tahu kalau cowok lucu itu bernama Raja dari Bapak Sapta, satpam di komplek perumahan kami. Sejak sore itu, hampir setiap hari Raja melewati rumahku untuk berjalan-jalan berkeliling komplek bersama anjingnya. Aku tahu, seharusnya aku menyapa Raja saat dia melintas di depan rumahku, namun aku selalu saja melewatkan kesempatan baik itu. Aku tahu, seharusnya aku menyiram tanaman saat Raja lewat, namun sebaliknya, aku justru mulai menyiram tanaman setelah Raja berlalu. Aku tahu aku bodoh, karena selalu saja melewatkan kesempatan untuk menyapa Raja. Namun aku yakin, suatu hari nanti aku pasti bisa berkenalan dengannya. Raja, wait for me!

          Aku menghela nafas panjang dan kembali menatap awan. Wajah Raja tergambar jelas diantara awan yang sedang berjalan beriringan di atas langit yang cerah. Kenapa fikiranku tidak bisa sedetikpun lepas dari Raja? Uh!

*

          “Maaf Sifa, aku tidak pernah bermaksud menghindari kamu.” Aku sedang berbicara dengan Karin, sahabatku. Kami sedang duduk berdua di bawah pohon rindang di taman awan.  

          “Aku minta maaf kalau aku punya salah sama kamu Rin, tapi jangan menghindariku seperti ini.” Air mata Karin tiba-tiba jatuh. “Karin, kamu kenapa?” Aku jadi sedikit panik saat melihat Karin menangis.

“Kamu ga salah apa-apa Sifa…”

          “Maaf Karin, aku tidak bermaksud membuat kamu menangis…”

Karin mengambil tissue yang aku sodorkan kepadanya dan menghapus air matanya.

          “Papa dan Mamaku akhir-akhir ini sering bertengkar hebat Fa…. aku takut kalau mereka akan berpisah…” Sorot mata Karin memancarkan kesedihan. “Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin curhat sama kamu tentang hal ini tapi…”

          “Tidak apa-apa Karin, terkadang memang ada cerita yang bisa kita bagi bersama sahabat, tapi ada juga cerita-cerita yang memang ingin kita simpan sendiri.” Karin mengangguk. “Maaf Karin, kesannya aku jadi memaksa kamu untuk menceritakan masalah yang sebenarnya tidak ingin kamu bagi denganku…” Aku jadi merasa bersalah pada Karin.

          “Engga Sifa, aku justru lega bisa berbagi sama kamu.”

          “Aku hanya bisa berdoa semoga semua akan baik-baik saja Rin.”

          “Amin! Terimakasih untuk doanya.”

“Sama-sama.”

Eh si tetangga baru, gebetan kamu itu gimana?” Karin kembali terlihat bersemangat saat bertanya soal Raja.

Aku mulai bercerita tentang Raja, cowok yang semakin hari semakin membuatku penasaran. Karin tertawa ngakak waktu aku bercerita tentang kekonyolanku, saat aku sering bolak-balik melewati rumah Raja dan berharap Raja akan keluar rumah lalu menyapaku. Namun kenyataan yang aku terima tidak sesuai dengan harapanku, Raja tidak pernah keluar rumah saat aku lewat didepan rumahnya. Pernah suatu hari aku menyiram tanaman lebih lama dari biasanya dan berharap Raja lewat didepan rumah, namun saat Raja benar-benar lewat aku justru kabur masuk ke dalam rumah.

“Kayanya kamu benar-benar sedang jatuh cinta sama si Raja deh…”

“Mungkin…. entahlah…”

Cieeeee yang lagi naksir sama tetangga sebelah rumah…” Aku hanya bisa tersipu malu saat Karin  terus saja menggodaku.

Ah, jatuh cinta memang menyebalkan!

*

Sudah lama aku tidak mengunjungi taman awan. Terakhir kali aku datang ke taman awan saat aku dan Karin saling curhat, sambil menatap awan di atas langit yang indah pada siang hari itu. Sekarang tidak ada lagi sorot mata kesedihan yang tepancar dari Karin. Mama dan Papa Karin sudah tidak pernah bertengkar lagi, mereka sudah kembali rukun. Aku turut bahagia untuk Karin, sahabat terbaikku.  

Aku bukannya tidak rindu untuk duduk-duduk di bawah pohon sambil melihat awan yang berjalan berarakan di atas langit. Hanya saja aku tidak sedang bersedih. Aku sudah bilang kan, aku hanya akan mendatangi taman awan saat hatiku sedang diliputi kesedihan. Saat ini aku sedang bahagia. Dan kebahagiaanku itu karena Raja. Aku tidak hanya berhasil berkenalan dengan Raja, tapi sudah satu bulan belakangan ini aku jadian dengan Raja! 

Aku inggat, saat akhirnya aku bisa berkenalan dengan Raja. Sore itu aku memang sudah membulatkan tekad untuk menyapa Raja. Saat Raja lewat di depan rumahku bersama anjing kesayangannya, aku mengarahkan selang air ke arahnya. Tentu saja aku sengaja melakukannya! Aku sempat khawatir kalau taktikku tidak berhasil. Aku takut Raja justru marah karena aku menyemprotkan selang air ke arahnya. Jantungku langsung berdegup kencang saat melihat senyum Raja untuk pertama kalinya. Aku tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini. Aku buru-buru minta maaf kepada Raja, Rajapun memaafkan aku. 

Yes, taktikku berhasil! 

Sejak saat itu kami jadi sering mengobrol. Aku berusaha menyempatkan waktu untuk menemani Raja jalan jalan sore mengelilingi komplek perumahan. Raja yang kocak dan lucu selalu berhasil membuatku tertawa dengan lelucon-leluconnya. Raja benar-benar membuat hari-hariku dipenuhi dengan keceriaan. Hidupku terasa lebih berwarna saat bersama Raja, dan aku selalu merasa bahagia saat berada disampingnya. 

Raja lalu mengutarakan perasaannya kepadaku, dia bilang ingin jadi seseorang yang spesial untukku. Selama ini aku berfikir bahwa Raja hanya menganggapku sebagai teman saja, karena aku tidak merasakan tanda-tanda kalau Raja juga merasakan perasaan yang sama seperti yang aku rasakan. Sikap Raja yang selalu tenang saat bersamaku, gayanya yang cuek didepanku, dan obrolan kami yang mengalir ringan, membuatku berfikir, bahwa perasaanku pada Raja hanya bertepuk sebelah tangan. Ternyata Raja juga merasakan apa yang aku rasakan. Aku bahagia! 

Aku masih suka memandangi awan, meskipun bukan di bawah pohon rindang di taman awan itu. Sore ini aku dan Raja duduk-duduk santai di teras rumahku. Aku makan ice cream rasa coklat kesukaanku dan Raja menikmati minuman soda kesukaannya sambil mengobrol tentang apa saja. Meskipun aku tidak sedang mengamati awan di taman awan, namun aku tetap merasakan getaran indah saat melihat awan-awan yang berjalan berarakan di atas langit. Aku bahagia bisa melihat awan bersama seseorang yang aku sayang. ***

 

 


Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...