Jumat, 28 Desember 2012

SALE - #Percikan


                    “Jangan lupa besok kita hunting looh…siapkan fisik dan mental untuk shopping, hehehe…” Lela begitu semangat memprovokator Indri, Tanya, dan Rani. Walaupun terik matahari begitu menyengat hingga ke ubun-ubun Lela tetap menggebu.
          “Siap, Boss…” ketiga sahabatnya nggak kalah semangatnya.
          “Nah itu bus aku udah datang, duluan yah sampai ketemu besok di mal, inggat jam 11 ting! Jangan sampai telat ya gurls…” Lela siap-siap naik bus yang akan membawa menuju rumahnya.
          “Sip…ati-ati ya, La….sampai ketemu besok…” ketiga sahabatnya kompak menjawab.
          Byeeeee….”
          Uh rasanya sudah nggak sabar menunggu hari Minggu besok. Lela dan teman seganknya sudah sejak dua minggu yang lalu merencanakan untuk menghabiskan hari Minggunya dengan belanja di mal favorit setelah Senin-Sabtu berkutat dengan rutinitas sekolah. Apalagi ada sale besar-besaran di mal yang oke itu. Uang jajan dua minggu ditambah tabungan celengan di rumah pasti akan memuaskan hasrat belanjaku. Rasanya cukup untuk membeli T-shirt keren dan sepatu flat shoes imut, batin Lela.
          Keesokan harinya.
          Dengan dandanan yang super keren Lela sudah siap untuk berburu barang-barang lucu seperti yang suah dia bayangkan. Mereka janjian untuk langsung bertemu di mal.
          Perjalanan cukup 20 menit dengan busway, dan Lela sudah di mal tepat jam 11 kurang 5 menit. Lela langsung menuju tempat janjian. Ternyata, ketiga temannya sudah menanti.
          “La, kita ke bagian baju dulu yuks, aku udah ga sabar ingin memborong.” Bujuk Rani dengan semangat.
          “Wkeeee..” yang lain menjawab kompak dan langsung menuju stan baju.
          “Wow sale 70%...!!” Indri langsung histeris melihat tulisan sale 70% yang di gantung besar-besaran di depan stan baju. Dengan kalap mereka langsung memilih baju.
          “Gimana ada yang oke? Aku dapet tiga nih murah-murah pula,” Kata Rani setelah beberapa waktu memilih baju.
          “Iya aku juga dapet dua, uhuyyy…” Tanya dan Indri nggak mau kalah.
          “Ehm…sebenarnya ada baju yang aku suka tapi size-nya nggak ada yang pas…” keluh Lela manyun.
          “Makanya kalo punya badan jangan gede-gede dong. Kan susah cari bajunya…”
          “Indri please deh jangan mulai meledekku…”
          “Hehehe…maaf-maaf…yuk, kita coba cari-cari lagi. Siapa tau ada yang pas buat kamu.”
          “Yukz…”
          Mereka kembali berburu. Memang ada beberapa potong baju yang bersize XL sesuai dengan badan Lela yang lebih besar di banding ketiga sahabatnya, tapi model baju ibu-ibu. Uh mana mungkin? Tanpa putus asa mereka tetap semangat mencari T-shirt yang oke untuk Lela, tapi tetap saja tak ada satu pun baju yang pas. Giliran modelnya bagus, ukurannya nggak cukup. Uh, serba salah.
          “Sudahlah aku menyerah…” Lela langsung lemas.
          “Jangan sedih, La, kita lihat-lihat sepatu yuk. Siapa tahu ada flat shoes yang oke….” Teman-temannya berusaha menghibur.
          “Baiklah…” Dengan semangat yang masih tersisa Lela menuju stan sepatu diikuti teman-temannya.
          Setelah mengubek-ubek stan sepatu selama lebih dari satu jam, lagi-lagi Lela harus kecewa. Ada sepatu oke, tapi nggak pas dikaki. Uhh!
          “Aku tak dapat apa-apa neh, sebel!” Lela suntuk berat.
          “Jangan sedih, La. Kita coba cari lagi, yuk,” hibur Indri.
          “Sudahlah kita pulang saja, aku capek nih…” Lela sudah putus asa.
          “Beneran nggak apa-apa La, kalau kita pulang?” Tanya juga udah kelihatan lelah.
          “Iya…”
          Akhirnya mereka berempat menghentikan acara belanja dan turun ke lantai dasar untuk pulang. Lela sirik berat melihat ketiga temannya mendapatkan barang yang diinginkan. Sedangkan dia sebagai “provokator” malah harus pulang dengan tangan kosong. Merasa sia-sia sampai mengorbankan celengan.
          Wait…!” tiba-tiba Lela berhenti mendadak. “Itu optik juga lagi diskon, ya? Ke sana yuk…” Lela kembali bersemangat melihat optik kacamata yang cukup terkenal juga menggelar diskon. Ah, siapa tahu disini dapet!
          “Eh, ini kacamata yang aku incar. Didiskon 50%!” Lela setengah histeris saat menatap sebuah kacamata berbingkai unik di etalase. Ketiga temannya ikut girang.
          Setelah cek mata, Lela langsung membeli kacamata impiannya yang ternyata cocok banget di pakai pada wajahnya.
          “Akhirnya aku juga belanja tapi belanja kacamata, hehehe….” Lela kembali ceria karena dia memang sudah ingin ganti model paling baru yang dia lihat dari majalah.
          “Iya, La, nggak sia-sia kan sampai buka celengan segala….” Ledek Indri.
          “Pastinya….” Balas Lela tersenyum. “Well, kalo soal baju atau sepatu kapan-kapan bisa cari lagi. Sepertinya aku juga belom terlalu butuh, masih ada baju dan sepatu yang bisa dipakai. Lagian kacamata lebih penting dan aku bangga mampu beli kacamata pakai uang sendiri tanpa minta ke ayah dan ibu…”
          “Siiip….” Timpal yang lain ikut senang.
          Dengan langkah riang Lela meninggalkan mal untuk pulang.
          Besok sore kacamata pesanan sudah jadi dan aku pasti akan terlihat cantik pakai kacamata itu hehehe, batinnya.
          Mungkin belum waktunya menghamburkan uang untuk belanja karena ada kebutuhan lain yang lebih penting. Yaitu kaca mata keren yang akan menghiasi penampilanku di hari-hari kedepan. Pasti Rangga gebetan di kelas sebelah akan lebih sering curi-curi pandang melihatku. Lela senyum-senyum sendiri membayangkan penampilannya besok lusa. ***
@ My “Percikan”, Majalah Gadis No : 21. XXXVI. 31 Juli-10 Agustus 2009


# Catatan kecil :
          Percikan dengan judul “SALE” diatas merupakan Percikan pertama saya yang di muat di majalah Gadis. Sedikit flash back nih, saat itu saya bahagia sekali melihat tulisan saya akhirnya terpampang di majalah remaja yang hip ini! *sombong* hihihihi :O #Thanks Bibik Ida :)
Keep writing!
Have a nice Friday everyone.
Lope…lopeeeee :D
         



         

Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...