Sabtu, 28 April 2018

Dilema - #AStoryAbout




DILEMA


“Sabtu malam nanti kamu pergi sama Tio ya?” sambil terus mengunyah mie ayam favoritnya Vina membuka pembicaraan. Sedari tadi kami sibuk dengan ponsel masing-masing, saat siang ini aku dan Vira mampir di warung mie ayam di depan sekolah. 
          “Rencananya sih begitu… Tio bilang ingin mengajakku nonton film.”
          “Oh.. untungnya aku ga terlalu suka nonton film, jadi ga mupeng deh…”
          “Kalau novel terbarunya…”
        “Dee Lestari! Itu keren! Keren banget! Sudah hampir setengahnya dilahap dunk!”
          “Looh kok ga ngajak-ngajak aku ke toko bukunya.”
       “Kamu kan sibuk sama Tio… nemenin dia futsal lah, lagi ngopi-ngopi sambil diskusilah… ini lah… itu lah…”
          “Ah, ga segitunya kali…”
          “Segitunya kali…”
          “Ya sudah, maaf ya kalau aku ga jadi nemenin kamu ke toko buku.”
          Vina manyun.
      “Vin, kamu ga pengen punya pacar? Biar ada yang nemenin kalau ke toko       buku.”          
          “Aku bisa ke toko buku sendiri kok.”
          “Iya sih… tapi kan seru juga kalau ditemenin pacar…”
          “Gitu ya? Kaya kamu sama Tio gitu?”
          “Ya… iya.”
         “Males ah kalau punya pacar satu sekolah. Mau cari yang kaya kamu aja ah, yang beda sekolah.”
          “Dikenalin sama teman-teman cowoknya Tio mau?”
          “Ya ga temannya Tio juga sih…”
          “Trus…”
          “Hmm….”
         “Coba ikutan pertemanan online? Siapa tahu dapat pacar. Sepupuku yang di Jogja tuh dapet pacar via online gitu… awalnya chatting bareng, lalu ketemuan, setelah pedekate beberapa bulan, akhirnya mereka jadian.”
          “Bukannya serem kalau kenalan via dunia maya gitu?”
         “Ya cari pertemanan online yang bener dunk! Itu, pacarnya sepupuku baik kok. Yang satu kota aja sih kalau bisa, biar ga LDR-an gitu nantinya kalau jadian beneran.”
“Iya deh yang ga bisa jauh-jauh dari Tio…”
“Hahaha. Cobain sih Vin siapa tahu ada yang klik. Yang hobinya sama gitu, sama-sama suka novel.”
          “Ya, ntar deh…”
          “Bener ya…”
          “Pulang yuks! Hujannya sudah mulai reda. Bus jurusan kita juga udah wara-wiri tuh.”
          Oke!”
          Akhirnya aku dan Vira bisa pulang setelah hujan yang sedari tadi turun berhenti juga.
*

          Sore ini  aku dan Vina memasuki sebuah café mungil yang lokasinya tidak jauh dari komplek perumahan kami. Aku memilih meja dengan sofa empuk yang bersebelahan dengan jendela, tempat favoritku dan Vina. Sedangkan Vina memilih duduk di bangku kayu yang terletak di tengah cafe. Pegawai café yang sudah familiar dengan kami berdua tampak bingung, kenapa kami tidak duduk satu meja. Mungkin mereka berfikir kalau kita sedang musuhan, padahal….
          Ah, itu dia! Cowok itu datang menepati janjinya!
      Aku pura-pura asyik bermain ponsel, sesekali menyeruput ice chocolate mint, memandangi jalanan dari balik jendela. Namun aku tetap berusaha fokus pada Vina yang sedang mengobrol dengan seseorang bernama Dion, cowok yang dia kenal di pertemanan online!
Akhirnya!
         Sekitar 30 menit berlalu, dan aku melihat Dion beranjak dari kursi berjalan keluar café. Setelah Dion benar-benar pergi, Vina langsung menuju mejaku.
          “Gimanaaaaa????”
          “Menurut kamu gimana Sella?”
          Cute sih Dion… sesuai deh sama foto yang kamu tunjukin itu.”
          “Iya sih… Kami juga ngobrol lumayan seru. Tapi…”
          “Tapi…”
          “Arya gimana?”
          “Arya siapa?”
          “Temen kita…”
          “Hah? Arya teman sekelas kita itu?”
     “Kemarin dia bilang, Vina kalau kamu butuh teman ke toko buku, aku siap menemani.”
          “Arya naksir kamu?”
          Pipi Vina bersemu.
          “Ya ampun! Katanya ga mau punya pacar satu sekolah, ini malah satu kelas…”
          “Ih, apaan sih…”
          “Cieeee…. Dion apa Arya nih?”
          Wajah Vina merah padam, dan aku semakin semangat menggoda sahabatku itu. ***


Kamis, 05 April 2018

Ice Cream Di Musim Penghujan - #AStoryAbout




ICE CREAM DI MUSIM PENGHUJAN


“Suka ice cream ya?”
Aku menatap sekilas pada cowok yang baru saja duduk disampingku.
          “Kamu sering datang ke taman ini kan?”
        “Apa ada masalah?” aku mulai sedikit kesal dengan cowok berbaju kuning ini. Dengan enaknya dia menganggu kegiatan favoritku, melewatkan sore bersama choco fruit!
          “Tidak, ini tempat umum. Siapa saja boleh datang ke sini.”
          “Nah, itu tahu.”
          “Suka ice cream yang rasa apa?”
          Sumpah, aku mulai terganggu dengan cowok kepo yang entah siapa.
          “Pertanyaannya tidak harus dijawab kan?”
          Ah, kenapa novelnya tidak terbawa!
Aku mengacak-acak tas.
Ya ampun, kenapa aku bisa ceroboh tidak memasukkan novel ke dalam tas sih? Aku kan bisa terlihat sibuk dengan membaca novel, sehingga tidak perlu berbicara dengan cowok ini.
“Kamu mau satu cup ice cream choco fruit lagi?”
“Tidak, terimakasih.”
Busyet! Cowok ini ga ngerti juga kalau aku terganggu! Padahal aku sudah terlihat sangat sibuk dengan memainkan ponselku.
“Anggap saja bonus, karena kamu adalah pelanggan setia ice cream kami.”
Aku mengalihkan pandanganku dari layar ponsel menuju cowok yang sedang tersenyum kepadaku itu.
“Maksudnya?”
“Ice cream Warna-Warni adalah usaha yang kami bangun bersama.”
“Kami?”
“Ya. Aku dan sepupu-sepupuku.” Cowok itu menunjuk seorang laki-laki, dan dua orang perempuan yang sedang melayani pembeli.
“Aku tidak pernah melihat kamu sebelumnya.”
“Aku duduk di depan, di balik kemudi.”
“Oh…”
“Sebentar ya…”
Cowok itu berlalu. Beberapa menit kemudian dia sudah kembali ke bangku taman sambil membawa satu cup ice cream.
“Ini untuk kamu. Choco fruit.”
“Eh, ini beneran?”
“Iya!”
“Kalau kamu tahu rasa ice cream kesukaanku, kenapa tadi bertanya?”
Cowok itu tersenyum.
“Kok senyum?”
Bye!”
“Eh… terimakasih ya!”
Cowok itu melambaikan tangannya, dan berlalu.
*
    Taman tampak sepi, saat aku melangkah menuju bangku tempat aku biasa menghabiskan sore. Hanya tampak beberapa orang yang tetap berolahraga, atau sekedar jalan-jalan santai di tengah gerimis. Di bawah payung, mataku terus tertuju di jalan ujung taman. Kemana mobil VW Combi berwarna merah itu? Sudah satu bulan berlalu, aku tidak menemukannya. Apa karena Kobi Januar sedang berada di Jakarta? Mungkin!
Ya! Kalau saja aku tahu kalau cowok yang memberikan satu cup ice cream choco fruit itu seorang “bintang”, aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk lebih lama mengobrol dengannya sore itu. Aku melihat dia di televisi! Ya, aku melihat cowok yang ternyata bernama Kobi, terpilih menjadi salah satu finalis ajang pencarian bakat bernyanyi. Aku tidak menyangka, cowok berbaju kuning itu punya suara indah. Ah, semoga aku bisa bertemu lagi dengan Kobi bersama choco fruitnya saat musim penghujan berlalu. Di taman ini. ***



         
         

Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...