DILEMA
“Sabtu malam
nanti kamu pergi sama Tio ya?” sambil terus mengunyah mie ayam favoritnya Vina
membuka pembicaraan. Sedari tadi kami sibuk dengan ponsel masing-masing, saat
siang ini aku dan Vira mampir di warung mie ayam di depan sekolah.
“Rencananya
sih begitu… Tio bilang ingin mengajakku nonton film.”
“Oh..
untungnya aku ga terlalu suka nonton film, jadi ga mupeng deh…”
“Kalau
novel terbarunya…”
“Dee
Lestari! Itu keren! Keren banget! Sudah hampir setengahnya dilahap dunk!”
“Looh
kok ga ngajak-ngajak aku ke toko bukunya.”
“Kamu
kan sibuk sama Tio… nemenin dia futsal lah, lagi ngopi-ngopi sambil diskusilah…
ini lah… itu lah…”
“Ah,
ga segitunya kali…”
“Segitunya
kali…”
“Ya
sudah, maaf ya kalau aku ga jadi nemenin kamu ke toko buku.”
Vina
manyun.
“Vin,
kamu ga pengen punya pacar? Biar ada yang nemenin kalau ke toko buku.”
“Aku bisa ke toko buku sendiri kok.”
“Iya
sih… tapi kan seru juga kalau ditemenin pacar…”
“Gitu
ya? Kaya kamu sama Tio gitu?”
“Ya…
iya.”
“Males
ah kalau punya pacar satu sekolah. Mau cari yang kaya kamu aja ah, yang beda
sekolah.”
“Dikenalin
sama teman-teman cowoknya Tio mau?”
“Ya
ga temannya Tio juga sih…”
“Trus…”
“Hmm….”
“Coba
ikutan pertemanan online? Siapa tahu dapat pacar. Sepupuku yang di Jogja tuh
dapet pacar via online gitu… awalnya chatting
bareng, lalu ketemuan, setelah pedekate
beberapa bulan, akhirnya mereka jadian.”
“Bukannya
serem kalau kenalan via dunia maya gitu?”
“Ya
cari pertemanan online yang bener dunk! Itu, pacarnya sepupuku baik kok. Yang
satu kota aja sih kalau bisa, biar ga LDR-an gitu nantinya kalau jadian
beneran.”
“Iya deh yang ga
bisa jauh-jauh dari Tio…”
“Hahaha. Cobain
sih Vin siapa tahu ada yang klik. Yang hobinya sama gitu, sama-sama suka novel.”
“Ya,
ntar deh…”
“Bener
ya…”
“Pulang
yuks! Hujannya sudah mulai reda. Bus jurusan kita juga udah wara-wiri tuh.”
“Oke!”
Akhirnya
aku dan Vira bisa pulang setelah hujan yang sedari tadi turun berhenti juga.
*
Sore
ini aku dan Vina memasuki sebuah café
mungil yang lokasinya tidak jauh dari komplek perumahan kami. Aku memilih meja
dengan sofa empuk yang bersebelahan dengan jendela, tempat favoritku dan Vina. Sedangkan
Vina memilih duduk di bangku kayu yang terletak di tengah cafe. Pegawai café
yang sudah familiar dengan kami
berdua tampak bingung, kenapa kami tidak duduk satu meja. Mungkin mereka
berfikir kalau kita sedang musuhan, padahal….
Ah,
itu dia! Cowok itu datang menepati janjinya!
Aku
pura-pura asyik bermain ponsel, sesekali menyeruput ice chocolate mint, memandangi
jalanan dari balik jendela. Namun aku tetap berusaha fokus pada Vina yang
sedang mengobrol dengan seseorang bernama Dion, cowok yang dia kenal di
pertemanan online!
Akhirnya!
Sekitar
30 menit berlalu, dan aku melihat Dion beranjak dari kursi berjalan keluar café.
Setelah Dion benar-benar pergi, Vina langsung menuju mejaku.
“Gimanaaaaa????”
“Menurut
kamu gimana Sella?”
“Cute sih Dion… sesuai deh sama foto yang
kamu tunjukin itu.”
“Iya
sih… Kami juga ngobrol lumayan seru. Tapi…”
“Tapi…”
“Arya
gimana?”
“Arya
siapa?”
“Temen
kita…”
“Hah?
Arya teman sekelas kita itu?”
“Kemarin
dia bilang, Vina kalau kamu butuh teman ke toko buku, aku siap menemani.”
“Arya
naksir kamu?”
Pipi
Vina bersemu.
“Ya
ampun! Katanya ga mau punya pacar satu sekolah, ini malah satu kelas…”
“Ih,
apaan sih…”
“Cieeee….
Dion apa Arya nih?”
Wajah
Vina merah padam, dan aku semakin semangat menggoda sahabatku itu. ***