“Jangan lupa besok kita hunting looh…siapkan fisik dan mental
untuk shopping, hehehe…” Lela begitu
semangat memprovokator Indri, Tanya, dan Rani. Walaupun terik matahari begitu
menyengat hingga ke ubun-ubun Lela tetap menggebu.
“Siap,
Boss…” ketiga sahabatnya nggak kalah
semangatnya.
“Nah
itu bus aku udah datang, duluan yah sampai ketemu besok di mal, inggat jam 11
ting! Jangan sampai telat ya gurls…”
Lela siap-siap naik bus yang akan membawa menuju rumahnya.
“Sip…ati-ati
ya, La….sampai ketemu besok…” ketiga sahabatnya kompak menjawab.
“Byeeeee….”
Uh
rasanya sudah nggak sabar menunggu hari Minggu besok. Lela dan teman seganknya sudah sejak dua minggu yang
lalu merencanakan untuk menghabiskan hari Minggunya dengan belanja di mal
favorit setelah Senin-Sabtu berkutat dengan rutinitas sekolah. Apalagi ada sale besar-besaran di mal yang oke itu. Uang jajan dua minggu ditambah tabungan
celengan di rumah pasti akan memuaskan hasrat belanjaku. Rasanya cukup untuk
membeli T-shirt keren dan sepatu flat shoes imut, batin Lela.
Keesokan
harinya.
Dengan
dandanan yang super keren Lela sudah siap untuk berburu barang-barang lucu
seperti yang suah dia bayangkan. Mereka janjian untuk langsung bertemu di mal.
Perjalanan
cukup 20 menit dengan busway, dan
Lela sudah di mal tepat jam 11 kurang 5 menit. Lela langsung menuju tempat
janjian. Ternyata, ketiga temannya sudah menanti.
“La,
kita ke bagian baju dulu yuks, aku udah ga sabar ingin memborong.” Bujuk Rani
dengan semangat.
“Wkeeee..”
yang lain menjawab kompak dan langsung menuju stan baju.
“Wow
sale 70%...!!” Indri langsung
histeris melihat tulisan sale 70%
yang di gantung besar-besaran di depan stan baju. Dengan kalap mereka langsung
memilih baju.
“Gimana
ada yang oke? Aku dapet tiga nih murah-murah pula,” Kata Rani setelah beberapa
waktu memilih baju.
“Iya
aku juga dapet dua, uhuyyy…” Tanya dan Indri nggak mau kalah.
“Ehm…sebenarnya
ada baju yang aku suka tapi size-nya
nggak ada yang pas…” keluh Lela manyun.
“Makanya
kalo punya badan jangan gede-gede dong. Kan susah cari bajunya…”
“Indri
please deh jangan mulai meledekku…”
“Hehehe…maaf-maaf…yuk,
kita coba cari-cari lagi. Siapa tau ada yang pas buat kamu.”
“Yukz…”
Mereka
kembali berburu. Memang ada beberapa potong baju yang bersize XL sesuai dengan
badan Lela yang lebih besar di banding ketiga sahabatnya, tapi model baju
ibu-ibu. Uh mana mungkin? Tanpa putus asa mereka tetap semangat mencari T-shirt yang oke untuk Lela, tapi tetap
saja tak ada satu pun baju yang pas. Giliran modelnya bagus, ukurannya nggak
cukup. Uh, serba salah.
“Sudahlah
aku menyerah…” Lela langsung lemas.
“Jangan
sedih, La, kita lihat-lihat sepatu yuk. Siapa tahu ada flat shoes yang oke….” Teman-temannya berusaha menghibur.
“Baiklah…”
Dengan semangat yang masih tersisa Lela menuju stan sepatu diikuti
teman-temannya.
Setelah
mengubek-ubek stan sepatu selama lebih dari satu jam, lagi-lagi Lela harus
kecewa. Ada sepatu oke, tapi nggak pas dikaki. Uhh!
“Aku
tak dapat apa-apa neh, sebel!” Lela suntuk berat.
“Jangan
sedih, La. Kita coba cari lagi, yuk,” hibur Indri.
“Sudahlah
kita pulang saja, aku capek nih…” Lela sudah putus asa.
“Beneran
nggak apa-apa La, kalau kita pulang?” Tanya juga udah kelihatan lelah.
“Iya…”
Akhirnya
mereka berempat menghentikan acara belanja dan turun ke lantai dasar untuk
pulang. Lela sirik berat melihat ketiga temannya mendapatkan barang yang
diinginkan. Sedangkan dia sebagai “provokator” malah harus pulang dengan tangan
kosong. Merasa sia-sia sampai mengorbankan celengan.
“Wait…!” tiba-tiba Lela berhenti
mendadak. “Itu optik juga lagi diskon, ya? Ke sana yuk…” Lela kembali
bersemangat melihat optik kacamata yang cukup terkenal juga menggelar diskon.
Ah, siapa tahu disini dapet!
“Eh,
ini kacamata yang aku incar. Didiskon 50%!” Lela setengah histeris saat menatap
sebuah kacamata berbingkai unik di etalase. Ketiga temannya ikut girang.
Setelah
cek mata, Lela langsung membeli kacamata impiannya yang ternyata cocok banget
di pakai pada wajahnya.
“Akhirnya
aku juga belanja tapi belanja kacamata, hehehe….” Lela kembali ceria karena dia
memang sudah ingin ganti model paling baru yang dia lihat dari majalah.
“Iya,
La, nggak sia-sia kan sampai buka celengan segala….” Ledek Indri.
“Pastinya….”
Balas Lela tersenyum. “Well, kalo
soal baju atau sepatu kapan-kapan bisa cari lagi. Sepertinya aku juga belom
terlalu butuh, masih ada baju dan sepatu yang bisa dipakai. Lagian kacamata
lebih penting dan aku bangga mampu beli kacamata pakai uang sendiri tanpa minta
ke ayah dan ibu…”
“Siiip….”
Timpal yang lain ikut senang.
Dengan
langkah riang Lela meninggalkan mal untuk pulang.
Besok sore kacamata pesanan sudah jadi dan
aku pasti akan terlihat cantik pakai kacamata itu hehehe, batinnya.
Mungkin belum waktunya menghamburkan uang
untuk belanja karena ada kebutuhan lain yang lebih penting. Yaitu kaca mata
keren yang akan menghiasi penampilanku di hari-hari kedepan. Pasti Rangga
gebetan di kelas sebelah akan lebih sering curi-curi pandang melihatku.
Lela senyum-senyum sendiri membayangkan penampilannya besok lusa. ***
@ My “Percikan”, Majalah Gadis No :
21. XXXVI. 31 Juli-10 Agustus 2009
#
Catatan kecil :
Percikan dengan judul “SALE” diatas
merupakan Percikan pertama saya yang di muat di majalah Gadis. Sedikit flash
back nih, saat itu saya bahagia sekali melihat tulisan saya akhirnya terpampang
di majalah remaja yang hip ini! *sombong* hihihihi :O #Thanks Bibik Ida :)
Keep
writing!
Have
a nice Friday everyone.
Lope…lopeeeee
:D