“Pokoknya
Raya nggak mau lagi ke sekolah pakai motor Mas Radit!”
“Tapi
motor itu kan masih bagus, Ya?”
“Bapak,
motor jadul gitu kok dibilang bagus,
sih?”
“Yang
penting kan motornya masih bisa berfungsi dengan baik, Ya.”
“Tapi
Raya mau motor baru, Pak!”
“Kalau
yang lama masih bisa digunakan kenapa harus beli yang baru?”
“Bapak,
teman-teman Raya di sekolah itu semuanya pakai motor matik model masa kini,
dengan warna-warna yang trendy. Masa Raya
harus pakai motor yang ketinggalan zaman begitu, ga gaul banget! Bikin malu aja…”
“Yang
penting, kamu jadi terbantu kan, kalau mau pergi kemana-mana?”
“Pokoknya,
kalau Bapak tidak mau membelikan Raya motor baru, Raya ke sekolah naik bus
saja!” Aku beranjak dari ruang tengah menuju kamar dan memilih mengakhiri
perdebatan dengan Bapak.
Ah,
kenapa Bapak tidak pernah mengerti kalau motor milik Mas Radit itu ketinggalan
zaman banget! Memang motor itu masih terawat dengan baik dan masih enak
dikendarai, tapi kalau modelnya sudah jadul,
males banget deh! Semenjak Mas Radit, kakakku satu-satunya mendapat pekerjaan
di luar kota sekitar sebulan yang lalu, dia mewariskan sepeda motor miliknya
kepadaku. Sebelumnya, aku berangkat dan pulang sekolah selalu bersama Bapak. Karena
sudah ada motor untukku, Bapak tidak lagi mengantar dan menjemputku pulang
sekolah.
Pada
awalnya aku tidak keberatan menggunakan motor itu. Tapi lama-kelamaan aku
merasa risih juga. Coba bayangkan, setiap memarkirkan motor di halaman sekolah
rasanya hanya motorku saja yang tampak kuno dibandingkan motor milik
teman-temanku, kan jadi malu!
*
Sudah
hampir dua minggu ini aku berangkat ke sekolah, pergi les bahkan main ke rumah
teman dengan menggunakan bus atau angkot. Bikin capek juga sih. Setelah bus
berhenti di halte dekat rumah, aku harus berjalan kaki sekitar 15-20 menit
untuk benar-benar sampai rumah. Tapi aku rela melakukan itu daripada harus naik
motor ketinggalan zaman itu.
“Raya….kamu
masih ngambek sama Bapak?” tanya Anty, teman sebangkuku yang sudah aku curhati soal motor jadul itu.
“Masih
dong..”
“Ngak
baik lho Ya, terus-terusan bersikap seperti itu.”
“Aku
tahu tapi mau bagaimana lagi…”
Anty
memandangku, lalu tiba-tiba tersenyum sendiri.
“Kamu
agak kurusan, ya?”
“Hah,
masa?” aku langsung tersipu, senang rasanya ada yang bilang kalau aku kurusan,
secara Ibu tak henti menyuruhku berolahraga supaya berat badanku tidak “sebanyak”
sekarang.
“Swear…”
“Sebenarnya
aku juga merasa kalau rok sekolah yang biasanya sempit sekarang rada sedikit
longgar. Bener Ty, aku kurusan?”
“Bener
kok…kamu sudah menimbang?”
“Belum..nanti
sampai rumah langsung nimbang, deh…”
“Wah
ternyata aksi ngambek kamu berguna tuh…”
“Hehehe,
Ibu pasti hepi nih! Kamu tahu kan Ty,
selama ini aku kesulitan menurunkan berat badan? Nah, ini berat badankuturun
dengan tidak sengaja…”
“Jadi
aksi ngambek dilanjutkan nih, sampai berat turun 10kg?” Anty meledekku.
“Uh,
nggak segitunya kaliiiiiiii…. Tapi boleh juga tuh usul kamu…” aku mulai
menimbang-nimbang. “Aku sih berharap Bapak akan segera mengganti sepeda motor
itu, tapi kalau setiap hari naik bus dan hasilnya berat badan turun begini….uh,
bingung!”
“Jadiiiiii….?”
“Mungkin solusi yang tepat adalah aku akan tetap berangkat sekolah naik bus, tapi berhenti ngambek sama Bapak. Tapi tuntutan untuk berganti sepeda motor baru itu tetap jalan terus!”
“Mungkin solusi yang tepat adalah aku akan tetap berangkat sekolah naik bus, tapi berhenti ngambek sama Bapak. Tapi tuntutan untuk berganti sepeda motor baru itu tetap jalan terus!”
“Setujuuuu….hidup
Raya! Hahahaha….”
Kami
tertawa bareng. Well, siapa sangka
kalau ngambek kali ini membawa berkah penurunan badan untukku. Aku segera
menelpon Bapak, bilang kalau aku nggak ngambek lagi, tapi tuntutan motor baru
tetap berjalan, hehehe…***
# My “Percikan” Gadis Megazine, no. 8.
XXXVII. 19-29 Maret 2010