Kamis, 12 Oktober 2017

Pertemuan Di Taman - #AStoryAbout


PERTEMUAN DI TAMAN

“Makanya bergaul, biar cepat bertemu dengan jodoh.” Kata-kata yang selalu kudengar setiap kali bertemu dengan Rita, sahabatku sejak SMA. Rita sudah menikah beberapa tahun setelah kelulusan sekolah. Suaminya yang pengusaha pupuk sudah memberikan 2 orang anak yang lucu-lucu.
          “Aku kan anak gaul, meski ga sekaliber selebritis sih, yang semua orang bakal nengok kalau aku lewat di depan mereka.”
          “Gaul apaan! Orang kok kerjaannya cuman ngendon dirumah.”
       “Sebagai penulis kan memang lebih banyak menghabiskan waktu dirumah. Bertapa, cari ide, cari inspirasi, ngetik… tapi, sesekali aku juga nulis di luar rumah kok. Di perpustakaan, di taman, di cafe juga…”
“Percuma nongkrong di cafe kalau cuman menatap layar laptop. Lirik kanan-kirilah jugalah, cuci mata!”
“Hmmm...”
“Kita kan sudah temenan sejak bertahun-tahun silam ya, kok ya kamu tuh betah banget sih masih sendiri terus sampai sekarang.”
“Hmmm…”
“Kamu itu kalau dibilangin selalu begini, hmmm… hmmm… hmmm… basi!”
          “Sudah ah, ngobrolin yang lain saja.”
          “Fariza sudah mau masuk TK, Alif juga sudah naik kelas 4.”
          “Terus?”
          “Terus, kapan kamu nikah!”
          Aku menggaruk kepala yang tidak gatal.
*
          “Aku kan sudah bilang, ga mau dijodoh-jodohin!” Aku langsung sewot saat Tiwi mulai pasang aksi mengabsen teman laki-laki yang belum menikah di kantornya, di sebuah bank swasta.
          “Kenalan dulu ya. Kali aja ada yang cocok, terus pacaran, terus menikah.”
          “Ini sudah zaman Rihanna, bukan zaman Siti Nurbaya!”
          “Nah, kamu lupa! Ini buktinya!” Tiwi menepuk-nepuk dadanya. “Aku hasil dari perjodohan, dan selalu hidup bahagia bersama Mas Aryo.” Wajah Tiwi, teman akrabku sejak kuliah semester pertama itu selalu tampak bangga saat menyebut nama suaminya yang dosen.
          “Itu kan kamu. Kalau aku, tidak akan pernah mau dijodohin!”
“Keras kepala!”
“Bisa tidak ngobrolin hal lain selain soal JODOH!”
          “Tentu bisa! Terus, kapan kamu menikah?”
Please…”
“Ingget umur sayang! Tahun ini sudah 34.”
          “Ga usah diingetin juga sudah inggat. Bisa ngobrolin yang lain tidak?”
          “Ini…” Tiwi menunjukkan sesuatu di jari manisnya.
          “Wow! Ini cincin idaman kamu kan? Yang mahal itu kan?”
          “Ah, aku jadi malu.”
          “Akhirnya, Mas Aryo tercinta luluh juga.”
          “Pasti! Suami siapa dulu?”
Idih!”
“Bagus ya cincinnya.”
          “Banget!”
          “Eh, aku tunjukin foto-foto cowok jomblo di kantor ya.”
          “Ampun!!!”
          Tawa Tiwi meledak. 
*
          “Aku akan menikah tahun depan! Januari, yang tinggal 4 bulan lagi.”  
          “Yes! Selamat Vonny. I’am happy for you!” aku memeluk Vonny, tetangga sebelah rumah sekaligus sahabatku sejak masa anak-anak.
          “Makasih.”
          “Acara lamaran semalam syahdu banget ya. Suka!”  
          “Dimas ganteng banget ya pas semalam pakai batik.”
          “Yes! Rasakan kamu anak band! Akhirnya ngelihat si drummer pakai baju resmi.”
          Vonny tertawa. Ada sorot kebahagiaan yang terus terpancar dari mata sahabat terbaikku itu.
          “Padahal, Dimas itu pacar tersingkatku.”
Yes! Dalam waktu kurang dari setahun sejak kalian pacaran, Dimas akhirnya melamar kamu.”
“Dimas akan menjadi suamiku!” sorot kebahagiaan itu semakin terpancar saat melihat wajah Vonny yang tampak berseri. Sumpah, aku iri!
          “Sudah jodoh Vonny.”
          “Terus, jodoh kamu mana?”
          “Nah, kan, kepalaku mulai berputar-putar, perutku mulai mual…”
          “Dari dulu pendekatan terus, tapi ga jadian-jadian.”
          “Jahat!”
“Maaf…”
“Inginnya ya langsung bertemu dengan seseorang yang tepat, lalu menikah.”
          “Nah, temukan laki-laki itu!”
          “Belum ketemu.”
          “Kamu tidak mencarinya.”
          “Jodoh akan datang dengan sendirinya.”
          “Jodoh itu dicari!”
          “Sudah mencari! Tapi belum ketemu.”
          “Usahanya kurang kenceng! Masih terganjal masa lalu.”
          Aku diam.
          “Maaf…”
“Kamu kan tahu Vonny, bagaimana perihnya ketika kamu jatuh cinta setengah mati dengan seseorang, dan akhirnya orang itu menikah dengan orang lain.”
          “Waktu itu kamu tidak menunjukkan perasaan pada Rizal.”
“Apa dia tidak pernah sadar, kalau aku benar-benar sayang dia…” dadaku mulai bergemuruh. Ada luka yang belum sepenuhnya sembuh dari dalam hatiku.
“Bukan berarti kamu harus trauma untuk jatuh cinta lagi kan?”
          Tanpa terasa airmataku menetes.
          “Don’t cry!” mata Vonny terlihat mulai berkaca-kaca.
          “Sudah, tidak usah ikut-ikutan menangis. Yang cengeng kan aku.” Aku menghapus airmata yang mulai jatuh di pipi.
          “Aku sedih setiap kamu bicara tentang Rizal.”
          “Rizal sudah bahagia Vonny…”
Vonny memeluk pundakku.
“Lupakan Rizal! Dan move on!”
I will.”
*
          Aku menghirup udara sore dalam-dalam. Rasa lelah setelah berkutat dengan pekerjaan sedikit hilang saat menatap indahnya langit senja. Namun, saat teringat dengan kejadian semalam, dadaku mulai terasa sedikit sesak. Saat makan malam, Bapak tiba-tiba bertanya kenapa aku belum juga memiliki kekasih. Aku cukup terkejut mendapat “serangan mendadak” dari Bapak. Selama ini Bapak jarang sekali membahas hal-hal yang menyangkut masalah pribadi seperti itu. Ibu juga kompakan dengan Bapak, mulai bertanya-tanya tentang teman laki-laki yang belum menikah, yang kemungkinan bisa menjadi calon suamiku.
Aku tahu, memang tidak mudah menjadi orangtua yang hidup bermasyarakat, dan harus menghadapi kenyataan anak perempuannya yang sudah kepala 3 belum menikah. Apalagi teman-teman terdekatku yang juga akrab dengan Bapak dan Ibu satu persatu mulai berumahtangga. Entah sampai kapan aku bisa terus bertahan seperti ini? Lari dari kenyataan dibalik rutinitas pekerjaan, dan selalu berhasil menghindar dari orang-orang yang menyoroti statusku sebagai perempuan single.
Kepalaku mulai pusing!
          “Ini kosong Mbak?” aku tersentak saat melihat sesorang yang sedang menunjuk bangku disebelahku.
          “Eh… iya, kosong Mas.” Hampir saja aku melempar buku ke arah laki-laki yang sedang tersenyum sambil bersiap duduk disampingku.
          Hey, kenapa jantungku berdegup saat melihat senyuman itu?
          “Sedang membaca buku atau sedang melamun? Kelihatannya kaget sekali waktu saya ajak bicara.”
          “Baca buku sambil melamun.”
          Laki-laki dengan kemeja putih lengan pendek, jins hitam, dan berambut cepak itu tertawa.
          “Anda lucu Mbak… Fella.”
          “Anda tahu nama saya?”
          Laki-laki itu menunjuk pin didadaku.
“Oh… iya…” Aku menepuk pelan keningku.
“Anda bekerja di Vloip? Cafe yang terkenal dengan aneka minuman tehnya yang enak itu?”
          Aku mengangguk mantap.
          “Beberapa kali saya datang ke Vloip, tapi tidak pernah bertemu dengan anda.”
          “Saya pekerja lepas di Vloip. Kalau pas ada event saja.”
          “Oh. Ada event apa dalam waktu dekat ini?”
“Launcing buku Bagas Febrianto.”
“Penulis novel Kemana Kau Pergi.”
“Betul sekali. Silahkan datang hari Sabtu nanti Mas…”
          “Ale.” Laki-laki dengan senyum indah itu mengulurkan tangannya.
          “Fella saja, tanpa Mbak.” Aku menyambut uluran tangan laki-laki itu dengan jantung yang kembali berdegup.  
          “Oke… Vloip itu tempat yang menyenangkan. Saya biasa kumpul di sana sama teman-teman kantor.”
“Ditunggu kedatangannya Mas Ale. Sabtu, jam 19.00. Ajakin teman-temannya ya…”
“Siap! Panggil Ale saja ya, tanpa Mas.”
Aku tertawa. Ale ikut tertawa.
Hey, kenapa aku merasa sangat bahagia? Sebuah rasa yang sudah lama hilang dari dalam diriku.   
Apakah Ale… Whops!  ***
   
 * Cerpen ini pernah dikirimkan ke Majalah Femina, namun mendapatkan email balasan tidak dimuat.









Sabtu, 23 September 2017

Hari Ini

Kemana kaki akan melangkah pada hari ini? Menuju ke sebuah tempat yang membuat hati bahagia, meskipun hanya tempat yang sederhana saja, taman di sekitar misalnya. Seru!
Atau, mau jalan-jalan ke Mal, piknik ke luar kota, ke bioskop, nonton teater, ke pameran seni... Well, kemanapun tujuan pada Sabtu ini, pastinya akan menggembirakan hari.
Mau sendirian aja, bersama keluarga, berdua sama pasangan, kumpul sama sahabat, beramai-ramai dengan teman, pastikan agenda kamu menyenangkan hari ini. 
Happy Saturday!

Minggu, 08 Januari 2017

Dua Ribu Tujuh Belas

Wohooo 2017 nih :) Alhamdulillah...
Well, tahun yang baru ini pastinya yang diinginkan semuanya manis, like arumanis, yang manisnya ga habis-habis :)
Syemangaattt!!
* lokasi photo : Sekaten, Desember 2016

Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...