Rabu, 31 Agustus 2016

Laki Laki Itu - #AStoryAbout



LAKI LAKI ITU

Setiap hari Senin siang, antara pukul 12.00-13.00, laki-laki itu selalu datang ke Vleap, cafe tempat aku bekerja sebagai kasir. Dia akan memesan menu yang sama, segelas hot tea, sandwitch tuna, dan salad buah. Laki-laki tampan dengan hidung mancung dan bentuk badan yang proposional itu selalu datang sendiri. Dia akan duduk menghadap jendela, membelakangi aku yang duduk di meja kasir. Jujur, aku suka dia sejak dia datang pertama kali di Vleap beberapa bulan yang lalu. Iya, aku suka dengan laki-laki yang selalu memakai kemeja rapi dipadu celana jins, dan sepatu sportnya yang kadang berwarna merah, biru, atau kuning.
          Sebenarnya aku ingin mengobrol sebentar dengan dia di luar urusan “transaksi menu”. Aku ingin menanyakan, siapa namanya. Kenapa dia selalu datang di hari Senin. Kenapa dia selalu memesan menu yang sama. Apa pekerjaannya. Dan lain-lain. Ah, seandainya aku benar-benar bisa melakukan semua itu, bukan hanya dipendam di dalam hati saja. Yang sampai sekarang bisa aku lakukan saat bertemu dengan laki-laki itu, hanya berusaha memberikan senyum terbaikku, dan mengucapkan terimakasih saat dia selesai membayar. Setiap hari Senin aku sengaja mengambil shift pagi, tentu saja agar aku bisa bertemu dengan laki-laki itu, laki-laki yang memberikan debaran indah di hatiku.
*
          Dia datang! Ya, aku melihat laki-laki itu membuka pintu Vleap, dan bersiap menuju meja favoritnya. Sayang, meja itu sudah ditempati. Akhirnya, laki-laki itu memilih meja yang berada tepat di depanku. Bisa dibayangkan, jantungku semakin berdegup kencang saat laki-laki itu duduk menghadap ke arahku. Ah, kenapa dia tidak memilih duduk di kursi yang membelakangi aku saja, sehingga kami tidak harus berhadapan seperti ini!  
          Aku mulai curi-curi pandang ke arah laki-laki itu, tentu saja aku melakukannya secara diam-diam, saat laki-laki itu sedang asyik dengan ponselnya, atau saat pandangan laki-laki itu tidak tertuju di meja kasir. Siang ini, laki-laki itu terlihat sangat segar dengan kemeja abu-abu, jins biru, dan sepatu sportnya yang juga berwarna biru.  
          “Toilet dimana ya?”    
“Eh… Iya… maaf, apa?” aku langsung gugup saat laki-laki itu berdiri didepan meja kasir dan bicara denganku diluar urusan “transaksi menu”.
“Toilet?”
“Oh, itu, disana.” Setengah mati aku berusaha untuk tetap bersikap tenang, padahal jantungku sedang berdebar hebat saat menatap laki-laki itu.
          “Oh… ternyata disana, tidak kelihatan.”
          “Iya Mas, pot besar dengan pohon palem itu memang sedikit menutupi pintu toilet.”
          “Oh iya… pohonnya!” laki-laki menunjuk pot sambil tertawa. Ah, dia memang menawan! “Sudah sering kesini tapi belum pernah tahu dimana toiletnya…”
          “Anda kan hanya datang setiap Senin saja…” Apa yang baru saja aku katakan! Kenapa aku harus terlihat sangat memperhatikan dia! Bodoh!
Aku mulai merasakan wajahku yang mulai memanas saat laki-laki itu tersenyum dan berlalu menuju toilet.
*
Senin ini aku memang berdandan lebih istimewa. Mengoleskan maskara lebih banyak, memulas blush on sedikit lebih tebal, dan mengganti warna lipstick peachku dengan warna orange. Aku sengaja memakai bandana warna hitam, dan membiarkan rambut ikalku tergerai, tidak diikat seperti biasanya. Sebelum berangkat kerja aku terus bercermin, hanya untuk memastikan apakan dandananku sudah sempurna. Apakah bedakku terlalu tebal. Apakah baju seragam kasirku yang berwarna krem ini membuat kecantikanku berkurang. Apakah ini, apakah itu… Ah, jatuh cinta memang membingungkan! Rasanya ingin selalu terlihat cantik di depan orang yang kita suka. Eh, tunggu… jatuh cinta? Apa benar aku sedang jatuh cinta? Yang pasti, aku ingin terlihat istimewa dihadapan laki-laki yang datang setiap hari Senin itu.
Awalnya aku merasa tidak nyaman saat teman-teman kerjaku mulai menggoda. Ya, mereka menyadari perubahanku! Tapi lama-lama aku tidak terlalu peduli saat mereka bilang aku berubah layaknya akan kondangan nikahan! Dasar usil! Yang jelas, aku merasa cantik hari ini.
Dia datang!
Jantungku berdegup cepat saat laki-laki itu melambaikan tangannya ke arahku sambil berjalan menuju meja favoritnya. Aku membalas lambaian tangannya dan berusaha memberikan senyum terbaikku. Ah, kenapa meja di ujung yang menghadap ke jalan raya itu kosong? Aku berharap dia akan duduk berhadapan denganku seperti Senin lalu. Ya, sudahlah, melihat dia datang saja aku sudah bahagia. Senin ini laki-laki itu memakai celana jins hitam, dengan kemeja putih lengan pendek, dipadu sepatu sport warna kuning. Tampan!
Satu jam berlalu, dan jantungku mulai berdegup lagi saat dia berjalan menuju meja kasir. Semoga dia menyadari perubahanku. Semoga dia tahu, aku berdandan lebih cantik untuk dia. Semoga…
“Sudah?”
“Ya! Seperti biasa…” sungguh, aku tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia saat laki-laki itu tersenyum dan mulai bicara denganku.
Hot tea, sandwitch tuna, dan salad buah…”
Yes!”
“Kenapa tidak pernah memesan yang lainnya Mas? Semua yang terpampang di menu kami rasanya enak looh…” aku mencoba mengulur pembicaraan, supaya bisa lebih lama mengobrol dengan laki-laki itu.
“Iya, saya percaya. Siapa yang meragukan menu-menu lezat di Vleap.”
“Pasti!”
“Tapi saya tidak akan mengganti menu, karena yang saya pesan adalah yang terbaik!”
“Baiklah…”
“Terimakasih… Lea.” Laki-laki itu memanggil namaku saat menerima uang kembalian! Aku tahu, laki-laki itu bukan cenayang yang tiba-tiba tahu namaku. Atau, laki-laki itu sengaja bertanya pada teman-temanku di cafe siapa namaku. Pin oval berwarna merah yang berada di dada kiri ini, sudah jelas-jelas menunjukkan namaku.
“Terimakasih kembali… silahkan datang lagi hari Senin nanti…”
“Siap! Bye Lea.”
“Selamat jalan.”
Ah, aku bahagia!
*
Alfan, nama laki-laki itu. Iya, laki-laki yang selalu datang ke Vleap setiap Senin siang itu. Alfan bekerja sebagai copywriter di salah satu perusahaan periklanan yang cukup ternama di Yogya. Pada akhirnya aku menemukan jawaban demi jawaban dari pertanyaan yang selama ini tersimpan di hati. Alfan datang setiap Senin setelah dia selesai meeting dengan client yang kantornya tidak jauh dari Vleap. Sekarang, aku tidak hanya bertemu dengan Alfan pada hari Senin saja. Aku dan Alfan sering menghabiskan waktu di perpustakaan, menonton bioskop bersama, atau hanya ngobrol santai di angkringan.  
Aku masih bekerja di Vleap, tapi bukan sebagai kasir lagi melainkan supervisor. Jam kerjaku yang berubah dari pagi hingga malam selama 5 hari, membuat waktuku untuk bertemu dengan Alfan lebih banyak di hari liburku yang 2 hari itu. Alfan masih datang setiap hari Senin siang seperti biasanya, hanya saja aku tidak selalu bisa bertemu dengannya, karena sekarang aku sudah punya “ruang kerja sendiri” di Vleap. Meskipun jarang bertemu Alfan di hari Senin, namun semua itu tidak jadi masalah, karena kami sudah sering bertemu, berbicara, dan menghabiskan waktu bersama. Rasa sayang yang aku miliki untuk Alfan semakin hari semakin besar saja.
  “Aku ingin menjawab pertanyaan kamu Lea.” Di sore yang sejuk, aku dan Alfan duduk berhadapan di sebuah coffeshop mungil di tengah kota Yogya. Coffeshop yang hanya berisi 5 meja ini tampak lenggang. Hanya 2 meja yang terisi. Iringan musik jazz mengiringi pembicaraan kami yang sudah berlangsung sekitar setengah jam lalu.
“Pertanyaan yang mana?”
“Sebelumnya, apa kamu pernah kesini?” aku menggeleng. “Suka coffeshop ini Lea?”
“Suka.” Aku memandangi dinding coffeshop dipenuhi poster-poster band.
“Tempat ini…” mata Alfan menerawang. “Aku punya banyak kenangan disini.”
Aku hanya diam. Entah mengapa perasaanku mulai tidak karuan. Aku tahu, mungkin saja Alfan akan bercerita tentang sesuatu yang tidak aku suka.
“Aku mengenal dia pertama kali disini…” Alfan menarik nafas dalam-dalam.
Dadaku mulai sesak.
Aku benci ini!
“Hanya dalam waktu 2 minggu setelah perkenalan itu, kami menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman biasa.”
“Apa ini tentang mantan pacar Mas Alfan?” mulutku tidak tahan juga untuk tidak berkomentar.
“Namanya Nia.”
Alfan kembali menarik nafas dalam-dalam.
“Kami pacaran 3 tahun, dan sudah berencana untuk menikah. Tapi, dia pergi sebulan sebelum pernikahan kami berlangsung…”
“Maaf….” Aku mulai melihat luka di mata Alfan.
“Dia pergi entah kemana... aku kehilangan jejak. Bahkan sampai sekarang aku tidak tahu kabarnya… ini, Nia.” Alfan menunjukkan foto di layar ponselnya.
Tunggu! Sepertinya aku pernah melihat perempuan berambut panjang sebahu di foto yang ditunjukkan Alfan kepadaku… Ya, aku inggat! Perempuan bernama Nia itu tetangga baruku. Dia pindah beberapa minggu yang lalu. Aku baru sekitar 2 atau 3 kali bertemu dengannya, saat kami berpapasan di jalan komplek perumahan. Dari cerita yang aku dapatkan dari Ibu, tetangga baru itu pindahan dari Australia. Dia tinggal bersama suaminya yang orang Australia, dan seorang anak perempuan mereka yang masih balita.
“Di dalam segelas hot tea, sandwitch tuna, dan salad buah di Vleap aku menemukan Nia, karena minuman dan makanan itu kesukaannya.”
Kepalaku mulai terasa berat.
“Sampai detik ini aku masih sangat mencintainya…”
Dan, hatiku pun terluka. ***

# Cerpen ini pernah dikirimkan, namun tidak mendapatkan respon dari pihak penerima cerpen.
Happy Reading! J

           

          

Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...