LAKI LAKI ITU
Setiap
hari Senin siang, antara pukul 12.00-13.00, laki-laki itu selalu datang ke Vleap,
cafe tempat aku bekerja sebagai kasir. Dia akan memesan menu yang sama, segelas
hot tea, sandwitch tuna, dan salad
buah. Laki-laki tampan dengan hidung mancung dan bentuk badan yang proposional
itu selalu datang sendiri. Dia akan duduk menghadap jendela, membelakangi aku
yang duduk di meja kasir. Jujur, aku suka dia sejak dia datang pertama kali di
Vleap beberapa bulan yang lalu. Iya, aku suka dengan laki-laki yang selalu
memakai kemeja rapi dipadu celana jins, dan sepatu sportnya yang kadang
berwarna merah, biru, atau kuning.
Sebenarnya aku ingin mengobrol
sebentar dengan dia di luar urusan “transaksi menu”. Aku ingin menanyakan,
siapa namanya. Kenapa dia selalu datang di hari Senin. Kenapa dia selalu
memesan menu yang sama. Apa pekerjaannya. Dan lain-lain. Ah, seandainya aku
benar-benar bisa melakukan semua itu, bukan hanya dipendam di dalam hati saja.
Yang sampai sekarang bisa aku lakukan saat bertemu dengan laki-laki itu, hanya berusaha
memberikan senyum terbaikku, dan mengucapkan terimakasih saat dia selesai membayar.
Setiap hari Senin aku sengaja mengambil shift
pagi, tentu saja agar aku bisa bertemu dengan laki-laki itu, laki-laki yang
memberikan debaran indah di hatiku.
*
Dia datang! Ya, aku melihat laki-laki
itu membuka pintu Vleap, dan bersiap menuju meja favoritnya. Sayang, meja itu
sudah ditempati. Akhirnya, laki-laki itu memilih meja yang berada tepat di depanku.
Bisa dibayangkan, jantungku semakin berdegup kencang saat laki-laki itu duduk
menghadap ke arahku. Ah, kenapa dia tidak memilih duduk di kursi yang
membelakangi aku saja, sehingga kami tidak harus berhadapan seperti ini!
Aku mulai curi-curi pandang ke arah
laki-laki itu, tentu saja aku melakukannya secara diam-diam, saat laki-laki itu
sedang asyik dengan ponselnya, atau saat pandangan laki-laki itu tidak tertuju
di meja kasir. Siang ini, laki-laki itu terlihat sangat segar dengan kemeja
abu-abu, jins biru, dan sepatu sportnya yang juga berwarna biru.
“Toilet dimana ya?”
“Eh…
Iya… maaf, apa?” aku langsung gugup saat laki-laki itu berdiri didepan meja
kasir dan bicara denganku diluar urusan “transaksi menu”.
“Toilet?”
“Oh,
itu, disana.” Setengah mati aku berusaha untuk tetap bersikap tenang, padahal
jantungku sedang berdebar hebat saat menatap laki-laki itu.
“Oh… ternyata disana, tidak kelihatan.”
“Iya Mas, pot besar dengan pohon palem
itu memang sedikit menutupi pintu toilet.”
“Oh iya… pohonnya!” laki-laki menunjuk
pot sambil tertawa. Ah, dia memang menawan! “Sudah sering kesini tapi belum pernah
tahu dimana toiletnya…”
“Anda kan hanya datang setiap Senin
saja…” Apa yang baru saja aku katakan!
Kenapa aku harus terlihat sangat memperhatikan dia! Bodoh!
Aku
mulai merasakan wajahku yang mulai memanas saat laki-laki itu tersenyum dan
berlalu menuju toilet.
*
Senin
ini aku memang berdandan lebih istimewa. Mengoleskan maskara lebih banyak,
memulas blush on sedikit lebih tebal,
dan mengganti warna lipstick peachku
dengan warna orange. Aku sengaja memakai bandana warna hitam, dan membiarkan
rambut ikalku tergerai, tidak diikat seperti biasanya. Sebelum berangkat kerja
aku terus bercermin, hanya untuk memastikan apakan dandananku sudah sempurna.
Apakah bedakku terlalu tebal. Apakah baju seragam kasirku yang berwarna krem
ini membuat kecantikanku berkurang. Apakah ini, apakah itu… Ah, jatuh cinta
memang membingungkan! Rasanya ingin selalu terlihat cantik di depan orang yang
kita suka. Eh, tunggu… jatuh cinta? Apa benar aku sedang jatuh cinta? Yang
pasti, aku ingin terlihat istimewa dihadapan laki-laki yang datang setiap hari
Senin itu.
Awalnya
aku merasa tidak nyaman saat teman-teman kerjaku mulai menggoda. Ya, mereka
menyadari perubahanku! Tapi lama-lama aku tidak terlalu peduli saat mereka
bilang aku berubah layaknya akan kondangan nikahan! Dasar usil! Yang jelas, aku
merasa cantik hari ini.
Dia
datang!
Jantungku
berdegup cepat saat laki-laki itu melambaikan tangannya ke arahku sambil
berjalan menuju meja favoritnya. Aku membalas lambaian tangannya dan berusaha
memberikan senyum terbaikku. Ah, kenapa meja di ujung yang menghadap ke jalan
raya itu kosong? Aku berharap dia akan duduk berhadapan denganku seperti Senin
lalu. Ya, sudahlah, melihat dia datang saja aku sudah bahagia. Senin ini
laki-laki itu memakai celana jins hitam, dengan kemeja putih lengan pendek,
dipadu sepatu sport warna kuning. Tampan!
Satu
jam berlalu, dan jantungku mulai berdegup lagi saat dia berjalan menuju meja
kasir. Semoga dia menyadari perubahanku. Semoga dia tahu, aku berdandan lebih
cantik untuk dia. Semoga…
“Sudah?”
“Ya!
Seperti biasa…” sungguh, aku tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia saat
laki-laki itu tersenyum dan mulai bicara denganku.
“Hot tea, sandwitch tuna, dan salad
buah…”
“Yes!”
“Kenapa
tidak pernah memesan yang lainnya Mas? Semua yang terpampang di menu kami
rasanya enak looh…” aku mencoba
mengulur pembicaraan, supaya bisa lebih lama mengobrol dengan laki-laki itu.
“Iya,
saya percaya. Siapa yang meragukan menu-menu lezat di Vleap.”
“Pasti!”
“Tapi
saya tidak akan mengganti menu, karena yang saya pesan adalah yang terbaik!”
“Baiklah…”
“Terimakasih…
Lea.” Laki-laki itu memanggil namaku saat menerima uang kembalian! Aku tahu,
laki-laki itu bukan cenayang yang tiba-tiba tahu namaku. Atau, laki-laki itu
sengaja bertanya pada teman-temanku di cafe siapa namaku. Pin oval berwarna
merah yang berada di dada kiri ini, sudah jelas-jelas menunjukkan namaku.
“Terimakasih
kembali… silahkan datang lagi hari Senin nanti…”
“Siap!
Bye Lea.”
“Selamat
jalan.”
Ah,
aku bahagia!
*
Alfan,
nama laki-laki itu. Iya, laki-laki yang selalu datang ke Vleap setiap Senin
siang itu. Alfan bekerja sebagai copywriter di salah satu perusahaan periklanan
yang cukup ternama di Yogya. Pada akhirnya aku menemukan jawaban demi jawaban
dari pertanyaan yang selama ini tersimpan di hati. Alfan datang setiap Senin setelah
dia selesai meeting dengan client yang kantornya tidak jauh dari
Vleap. Sekarang, aku tidak hanya bertemu dengan Alfan pada hari Senin saja. Aku
dan Alfan sering menghabiskan waktu di perpustakaan, menonton bioskop bersama,
atau hanya ngobrol santai di angkringan.
Aku
masih bekerja di Vleap, tapi bukan sebagai kasir lagi melainkan supervisor. Jam
kerjaku yang berubah dari pagi hingga malam selama 5 hari, membuat waktuku
untuk bertemu dengan Alfan lebih banyak di hari liburku yang 2 hari itu. Alfan
masih datang setiap hari Senin siang seperti biasanya, hanya saja aku tidak
selalu bisa bertemu dengannya, karena sekarang aku sudah punya “ruang kerja sendiri”
di Vleap. Meskipun jarang bertemu Alfan di hari Senin, namun semua itu tidak
jadi masalah, karena kami sudah sering bertemu, berbicara, dan menghabiskan
waktu bersama. Rasa sayang yang aku miliki untuk Alfan semakin hari semakin
besar saja.
“Aku
ingin menjawab pertanyaan kamu Lea.” Di sore yang sejuk, aku dan Alfan duduk
berhadapan di sebuah coffeshop mungil di tengah kota Yogya. Coffeshop yang
hanya berisi 5 meja ini tampak lenggang. Hanya 2 meja yang terisi. Iringan
musik jazz mengiringi pembicaraan kami yang sudah berlangsung sekitar setengah
jam lalu.
“Pertanyaan
yang mana?”
“Sebelumnya,
apa kamu pernah kesini?” aku menggeleng. “Suka coffeshop ini Lea?”
“Suka.”
Aku memandangi dinding coffeshop dipenuhi poster-poster band.
“Tempat
ini…” mata Alfan menerawang. “Aku punya banyak kenangan disini.”
Aku
hanya diam. Entah mengapa perasaanku mulai tidak karuan. Aku tahu, mungkin saja
Alfan akan bercerita tentang sesuatu yang tidak aku suka.
“Aku
mengenal dia pertama kali disini…” Alfan menarik nafas dalam-dalam.
Dadaku
mulai sesak.
Aku
benci ini!
“Hanya
dalam waktu 2 minggu setelah perkenalan itu, kami menjalin hubungan yang lebih
dari sekedar teman biasa.”
“Apa
ini tentang mantan pacar Mas Alfan?” mulutku tidak tahan juga untuk tidak
berkomentar.
“Namanya
Nia.”
Alfan
kembali menarik nafas dalam-dalam.
“Kami
pacaran 3 tahun, dan sudah berencana untuk menikah. Tapi, dia pergi sebulan
sebelum pernikahan kami berlangsung…”
“Maaf….”
Aku mulai melihat luka di mata Alfan.
“Dia
pergi entah kemana... aku kehilangan jejak. Bahkan sampai sekarang aku tidak
tahu kabarnya… ini, Nia.” Alfan menunjukkan foto di layar ponselnya.
Tunggu!
Sepertinya aku pernah melihat perempuan berambut panjang sebahu di foto yang
ditunjukkan Alfan kepadaku… Ya, aku inggat! Perempuan bernama Nia itu tetangga
baruku. Dia pindah beberapa minggu yang lalu. Aku baru sekitar 2 atau 3 kali
bertemu dengannya, saat kami berpapasan di jalan komplek perumahan. Dari cerita
yang aku dapatkan dari Ibu, tetangga baru itu pindahan dari Australia. Dia tinggal
bersama suaminya yang orang Australia, dan seorang anak perempuan mereka yang
masih balita.
“Di
dalam segelas hot tea, sandwitch
tuna, dan salad buah di Vleap aku menemukan Nia, karena minuman dan makanan itu
kesukaannya.”
Kepalaku
mulai terasa berat.
“Sampai
detik ini aku masih sangat mencintainya…”
Dan,
hatiku pun terluka. ***
#
Cerpen ini pernah dikirimkan, namun tidak mendapatkan respon dari pihak
penerima cerpen.
Happy
Reading! J