Selasa, 01 April 2014

Sepenggal Cerita Kita

            Aku tidak menyangka, rasanya akan serapuh ini, saat Bian memutuskan untuk menunda rencana pernikahan kami, yang hanya tinggal menghitung bulan saja. Entah apa yang ada di fikiran Bian, saat beberapa hari yang lalu dia bilang ingin “break” dulu, dari hubungan kami yang sudah melewati tahun keempat ini.
            “Tapi, kenapa Bian?” sekuat tenaga aku menahan airmataku agar tidak jatuh.
            “Aku belum siap…” Bian berulang kali menghidari kontak mata denganku saat kami berbicara. Bian sibuk mengaduk minuman. Bian sibuk membaca menu. Bian sibuk dengan ponselnya.
Ah, aku benci situasi ini!
            “Kenapa baru sekarang kamu bilang belum siap? Disaat semua persiapan pernikahan kita sudah berjalan 60 persen.” Aku kembali menahan amarahku agar tidak meledak.
Kami sedang berada di de Opera At The Bay Bali, sebuah tempat yang luar biasa indah. Rasanya tidak pantas aku harus berteriak-teriak ditengah suasana yang sebenarnya menyenangkan, diantara makanan dan minuman lezat yang tersaji di meja kami.
“Jauh-jauh aku datang dari Jogja ke Bali untuk membicarakan pernikahan kita, dan….”  
Mataku mulai menerawang jauh, menatap langit sore Bali yang menakjubkan.
“Aku kan sudah bilang Delia, kamu tidak perlu ambil cuti untuk menyusulku ke Bali. Bulan depan aku yang akan pulang ke Jogja.”
“Tapi, telfon tempo hari, yang mengatakan kalau kamu ingin menunda pernikahan kita, tentu saja membuatku ingin segera bertemu kamu di Bali!”
Bian diam. 
“Apa ada yang lain Bian?” Jantungku berdegup kencang. “Kamu sedang jatuh cinta dengan seseorang?”
“Tidak, Delia.”
“Kamu yakin?” debaran dihatiku semakin menguat. Aku takut Bian menjawab, iya!
Bian menunduk, menatap gelas minumannya yang tinggal tersisa setengah.
“Bian, looked me!” amarahku mulai tak terbendung. “Bian!”
“Tidak Delia. Aku setia. Aku tidak jatuh cinta dengan wanita lain. Hanya kamu.”
Bian menatapku dalam.
“Kamu berubah Bian.” Airmataku perlahan jatuh.
Please Delia, jangan menangis…” Bian mengenggam tanganku. Masih hangat! Ya, aku masih merasakan… his still my Bian! Mungkin aku yang salah, mungkin memang Bian tidak berubah.
Bian menghapus airmatku dengan tangannya. Tangannya masih lembut saat menyentuh pipiku. Ah, rasanya malu juga, kalau ada pengunjung de Opera At The Bay Bali memergoki aku sedang menangis.
Dadaku masih terasa sesak. Tapi, kelembutan sikap Bian membuat aku percaya bahwa dia setia.
“Jangan seperti ini Bian….” Suaraku mulai melemah.
Bian tersenyum sambil menatapku lama. Senyuman Bian tidak pernah berubah, tetap saja memberikan kesejukan dihatiku.
“Ice creamnya di makan Delia, keburu mencair nanti.” Bian menyuapkan ice cream kemulutku. Ah, romantis sekali suasana ini. Like this!
“Sudah Brian, malu! Aku bisa makan sendiri kok.” Aku merebut sendok ice cream dari tangan Bian.
Aku mulai menikmati ice cream dengan buah pisang yang rasanya memang luar biasa enak!
You’re still my Delia.”
And, you’re still my Bian.”
Kami tertawa bersama.
Tidak bisa kubayangkan apa yang akan terjadi, bila pernikahan kami benar-benar ditunda. Wajah kedua orangtua, keluarga, tetangga, sahabat, dan teman-temanku yang sangat antusias menyambut hari pernikahanku mulai terbayang. Aku tidak ingin mengecewakan mereka!
“Ada apa Bian?”
“Tidak ada apa-apa Delia….”
“Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa kamu berniat menunda pernikahan kita? Bukankah dua bulan yang lalu, kamu terlihat sangat siap saat melamarku?”
Bian tersenyum. Mungkin dia sedang teringat dengan acara lamaran beberapa waktu yang lalu. Pertemuan dari keluargaku dan keluarga Bian yang berlangsung dengan sangat baik. 
“Aku belum siap meninggalkan Bali.”
“Kamu tidak perlu meninggalkan Bali.”
“Kamu juga tidak akan meninggalkan Jogja kan?”
Kali ini aku yang diam. Lidahku kelu.
“Setahun belakangan ini, kita menjalani hubungan jarak jauh, dan itu cukup menyiksa Delia.”
“Kita sudah membahas ini berulang kali Bian…”
“Setelah menikah, aku ingin terus berada disamping kamu.”
“Aku juga Bian!”
“Tapi kita tahu, kamu akan tetap di Jogja, dan aku akan tetap berada di Bali.”
“Kita sudah membahas ini Bian….”
“Dan selalu tidak ada titik temunya bukan?”
“Tapi kita tidak perlu menunda pernikahan kan Bian?”
Bian diam.
“Kamu mau tambah ice creamnya?”
Aku mengangguk pelan.
Waiters yang datang ke meja kami mencatat pesanan, dengan sikap ramahnya yang menyenangkan. Sebenarnya, diantara kegalauan, kekalutan, dan suasana hati yang sedang tidak menentu, aku sangat menikmati tempat menyenangkan ini! de Opera At The Bay Bali!
“Indah sekali ya Bian disini.” Aku menatap langit Bali yang mulai gelap. Tanpa terasa malam akan segera tiba.
“Iya. Kamu suka Delia?”
I love this place!
“Pilihanku tidak salah kan?”
Aku menggeleng mantap.
“Baru sekali ke Bali, dan aku langsung jatuh cinta dengan tempat ini.”
“Seperti saat kamu melihatku untuk pertama kalinya, dan jatuh cinta?” Bian mulai jahil.
“Hah?” Aku pura-pura bodoh.
“Kamu bilang, kamu jatuh cinta saat melihat aku untuk pertama kalinya, saat kita bertemu di toko buku.” Aku tertawa terbahak-bahak saat teringat pertemuan pertama kami di sebuah toko buku. Mungkin terdengar sangat “sinetron”, tapi hari itu tangan kami mengambil buku yang sama di rak. Dan, aku langsung terpana melihat sosok lelaki disampingku, yang buru-buru minta maaf karena tidak sengaja menyentuh tanganku.
Lalu, kami mengobrol tentang buku. Bertukar nomer. Saling bertukar kabar. Ketemuan. Makan bersama. Nonton film. Sampai akhirnya pacaran.
“Kamu sendiri yang bilang… I falling in love with you from the first sight Bian!”
Ihhhhh!!!”  
Damb! Bian masih saja membuatku tersipu.
“Bian, jangan bercanda! Kita sedang membicarakan masa depan!”
“Ah, aku tidak sabar untuk segera menikah dengan kamu Delia.”
WHAT?! You lie to me Bian!”
No!”
“Kamu bilang ingin menunda pernikahan kita, dan sekarang kamu bilang ingin segera menikah dengan aku. Don’t play with me tembem!”
Hey! Don’t call me tembem!”
“Tembeemmmm!!!!”
Waiters datang mengantarkan ice cream dengan rasa yang luar biasa dasyat itu, seorang perempuan muda yang manis itu, ikut tertawa saat melihat Bian berusaha menutup mulutku dengan tangannya karena aku terus memangilnya tembem.
Bian benci dipanggil tembem!
Waiters yang aku yakini adalah seorang gadis Bali asli itu, berlalu dari meja kami dengan senyum yang memikat.
“Jadi, apa maksud semua ini Bian? Kamu hanya ingin aku datang ke Bali.”
Bian tertawa.
“Kamu malu punya calon istri yang norak seperti aku. Umur 28 baru menginjakkan kaki di pulau Dewata.”
“Dikit….” Aku mencubit lengan Bian.
“Sakit!”
Bodo! Biar saja aku dibilang ga gaul karena baru pertama kali datang ke Bali, saat usiaku hampir 30 tahun. Ah, tapi Bali benar-benar memukau! Om Ardi dan Tante Yanti sudah berkali-kali memaksaku ke Bali. Akhirnyaaaa… sekarang aku benar-benar menghirup udara Bali! Menyenangkan!”
“Siapa suruh melewatkan tawaran teman baik Bapak dan Ibu, untuk menginap ke rumah mereka?”
“Hahaha… setiap Om Ardi dan Tante Yanti datang ke Jogja, mereka selalu ngotot menyuruhku mengunjungi rumah meraka di Ubud. Bapak senang sekali saat kemaren Om Ardi menelpon dan bilang aku sudah sampai Bali.”
 “Siapa suruh baru datang ke Bali sekarang? Nunggu aku sampai satu tahun, baru kamu mau datang ke Bali Delia? Nyebelin!”
Cieee… gitu aja ngambek! Dasar manja! Pakai acara mau mundurin pernikahan kita. Bilang saja, kamu kangen, terus pengen aku tengokin.”
Hmmm… aku cuma ga mau punya calon istri yang rada kuper.”
Hey!”
Bian meringis kesakitan saat aku mencubit lengannya berkali-kali.
“Kalau kita sudah menikah, apa kamu mau tinggal di Bali bersamaku?”
“Bian…. Jangan mulai…”
Kami mulai terdiam lagi. 
Aku kembali sibuk menikmati ice cream. Bian pun sibuk dengan ponselnya.
“Aku tidak bisa memutuskan sekarang Bian. Pekerjaanku di Jogja sedang padat-padatnya, keluargaku…. Aku belum siap untuk berpisah dengan semua itu.”
“Aku tahu Delia, tapi aku akan menjadi suami kamu. Dan kita bisa tinggal bersama di Bali.”
“Bian…”
“Maaf, Delia….”
“Apa kamu akan tetap menunda hari pernikahan kita?”
Bian kembali diam.
Situasi yang sama kembali terulang.
Aku dengan ice cream. Bian dengan ponselnya.
“Kita akan tetap menikah sesuai dengan tanggal yang sudah ditentukan.”
Sesak didadaku tiba-tiba menghilang.
Aku memeluk Bian.
“Terimakasih tembem….”
Don’t call me tembem!” aku tertawa dan mencubit kedua pipi Bian.
“Jadi, kita akan tetap menikah kan?”
“Iya.”
“Asyiikkk…”
“Kita akan jalani semuanya Delia. Menikah. Setelah itu, mungkin kamu yang akan tinggal di Bali, atau aku yang akan pulang ke Jogja. Atau, kita tetap long distance relationship. Meskipun aku tidak menyukai hubungan jarak jauh seperti ini.”
“Iya, Bian.”
“Semoga dilancarkan semuanya ya Delia.”
“Amin.”
Bian mengenggam tanganku erat.
Hatiku diliputi kehangatan.
Matahari mulai terbenam, dan Bali semakin menawan.
***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness : Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered! (dengan tulisan The Bay Bali yang di link ke website : www.thebaybali.com)


Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...