Kamis, 05 April 2018

Ice Cream Di Musim Penghujan - #AStoryAbout




ICE CREAM DI MUSIM PENGHUJAN


“Suka ice cream ya?”
Aku menatap sekilas pada cowok yang baru saja duduk disampingku.
          “Kamu sering datang ke taman ini kan?”
        “Apa ada masalah?” aku mulai sedikit kesal dengan cowok berbaju kuning ini. Dengan enaknya dia menganggu kegiatan favoritku, melewatkan sore bersama choco fruit!
          “Tidak, ini tempat umum. Siapa saja boleh datang ke sini.”
          “Nah, itu tahu.”
          “Suka ice cream yang rasa apa?”
          Sumpah, aku mulai terganggu dengan cowok kepo yang entah siapa.
          “Pertanyaannya tidak harus dijawab kan?”
          Ah, kenapa novelnya tidak terbawa!
Aku mengacak-acak tas.
Ya ampun, kenapa aku bisa ceroboh tidak memasukkan novel ke dalam tas sih? Aku kan bisa terlihat sibuk dengan membaca novel, sehingga tidak perlu berbicara dengan cowok ini.
“Kamu mau satu cup ice cream choco fruit lagi?”
“Tidak, terimakasih.”
Busyet! Cowok ini ga ngerti juga kalau aku terganggu! Padahal aku sudah terlihat sangat sibuk dengan memainkan ponselku.
“Anggap saja bonus, karena kamu adalah pelanggan setia ice cream kami.”
Aku mengalihkan pandanganku dari layar ponsel menuju cowok yang sedang tersenyum kepadaku itu.
“Maksudnya?”
“Ice cream Warna-Warni adalah usaha yang kami bangun bersama.”
“Kami?”
“Ya. Aku dan sepupu-sepupuku.” Cowok itu menunjuk seorang laki-laki, dan dua orang perempuan yang sedang melayani pembeli.
“Aku tidak pernah melihat kamu sebelumnya.”
“Aku duduk di depan, di balik kemudi.”
“Oh…”
“Sebentar ya…”
Cowok itu berlalu. Beberapa menit kemudian dia sudah kembali ke bangku taman sambil membawa satu cup ice cream.
“Ini untuk kamu. Choco fruit.”
“Eh, ini beneran?”
“Iya!”
“Kalau kamu tahu rasa ice cream kesukaanku, kenapa tadi bertanya?”
Cowok itu tersenyum.
“Kok senyum?”
Bye!”
“Eh… terimakasih ya!”
Cowok itu melambaikan tangannya, dan berlalu.
*
    Taman tampak sepi, saat aku melangkah menuju bangku tempat aku biasa menghabiskan sore. Hanya tampak beberapa orang yang tetap berolahraga, atau sekedar jalan-jalan santai di tengah gerimis. Di bawah payung, mataku terus tertuju di jalan ujung taman. Kemana mobil VW Combi berwarna merah itu? Sudah satu bulan berlalu, aku tidak menemukannya. Apa karena Kobi Januar sedang berada di Jakarta? Mungkin!
Ya! Kalau saja aku tahu kalau cowok yang memberikan satu cup ice cream choco fruit itu seorang “bintang”, aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk lebih lama mengobrol dengannya sore itu. Aku melihat dia di televisi! Ya, aku melihat cowok yang ternyata bernama Kobi, terpilih menjadi salah satu finalis ajang pencarian bakat bernyanyi. Aku tidak menyangka, cowok berbaju kuning itu punya suara indah. Ah, semoga aku bisa bertemu lagi dengan Kobi bersama choco fruitnya saat musim penghujan berlalu. Di taman ini. ***



         
         

Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...