ICE CREAM DI
MUSIM PENGHUJAN
“Suka ice cream
ya?”
Aku menatap sekilas
pada cowok yang baru saja duduk disampingku.
“Kamu sering datang ke taman ini kan?”
“Apa ada masalah?” aku mulai sedikit
kesal dengan cowok berbaju kuning ini. Dengan enaknya dia menganggu kegiatan favoritku,
melewatkan sore bersama choco fruit!
“Tidak, ini tempat umum. Siapa saja
boleh datang ke sini.”
“Nah, itu tahu.”
“Suka ice cream yang rasa apa?”
Sumpah, aku mulai terganggu dengan cowok
kepo yang entah siapa.
“Pertanyaannya tidak harus dijawab
kan?”
Ah, kenapa novelnya tidak terbawa!
Aku
mengacak-acak tas.
Ya ampun, kenapa aku bisa ceroboh tidak
memasukkan novel ke dalam tas sih? Aku kan bisa terlihat sibuk dengan membaca
novel, sehingga tidak perlu berbicara dengan cowok ini.
“Kamu mau satu
cup ice cream choco fruit lagi?”
“Tidak,
terimakasih.”
Busyet! Cowok ini ga ngerti juga kalau aku
terganggu! Padahal aku sudah terlihat sangat sibuk dengan memainkan ponselku.
“Anggap saja
bonus, karena kamu adalah pelanggan setia ice cream kami.”
Aku mengalihkan
pandanganku dari layar ponsel menuju cowok yang sedang tersenyum kepadaku itu.
“Maksudnya?”
“Ice cream Warna-Warni
adalah usaha yang kami bangun bersama.”
“Kami?”
“Ya. Aku dan
sepupu-sepupuku.” Cowok itu menunjuk seorang laki-laki, dan dua orang perempuan
yang sedang melayani pembeli.
“Aku tidak
pernah melihat kamu sebelumnya.”
“Aku duduk di
depan, di balik kemudi.”
“Oh…”
“Sebentar ya…”
Cowok itu
berlalu. Beberapa menit kemudian dia sudah kembali ke bangku taman sambil
membawa satu cup ice cream.
“Ini untuk kamu.
Choco fruit.”
“Eh, ini
beneran?”
“Iya!”
“Kalau kamu tahu
rasa ice cream kesukaanku, kenapa tadi bertanya?”
Cowok itu
tersenyum.
“Kok senyum?”
“Bye!”
“Eh… terimakasih
ya!”
Cowok itu
melambaikan tangannya, dan berlalu.
*
Taman tampak sepi, saat aku melangkah
menuju bangku tempat aku biasa menghabiskan sore. Hanya tampak beberapa orang
yang tetap berolahraga, atau sekedar jalan-jalan santai di tengah gerimis. Di bawah payung, mataku terus tertuju di
jalan ujung taman. Kemana mobil VW Combi berwarna merah itu? Sudah satu bulan berlalu, aku tidak menemukannya. Apa karena Kobi Januar sedang berada di Jakarta?
Mungkin!
Ya! Kalau saja
aku tahu kalau cowok yang memberikan satu cup ice cream choco fruit itu seorang
“bintang”, aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk lebih lama mengobrol
dengannya sore itu. Aku melihat dia di televisi! Ya, aku melihat cowok yang
ternyata bernama Kobi, terpilih menjadi salah satu finalis ajang pencarian bakat
bernyanyi. Aku tidak menyangka, cowok berbaju kuning itu punya suara indah. Ah,
semoga aku bisa bertemu lagi dengan Kobi bersama choco fruitnya saat musim
penghujan berlalu. Di taman ini. ***