Kamis, 11 Juli 2019

#AStoryAbout - Novel Untuk Kawa



NOVEL UNTUK KAWA

“Ya ampun Septi, mau berapa toko buku lagi yang akan kita datangi? Seharian muter-muter keliling kota hanya untuk mencari sebuah novel jadul, yang sepertinya sudah tidak beredar lagi di pasaran.” Dena, sahabatku ngomel-ngomel saat kami keluar dari toko buku. Ini adalah toko buku keempat yang sudah kami datangi sepanjang pagi hingga siang ini.
            “Yang sabar ya Dena, aku juga capek nih, tapi aku harus, kudu, dan wajib dapetin novel itu! Pokoknya aku harus bisa persembahkan buku itu untuk Kawa!”
            “Iya deh yang baru jadian. Apa-apa Kawa, apa-apa Kawa!” Aku tertawa melihat Dena yang tamban manyun. “Berarti kita akan hunting ke toko buku yang lain lagi untuk ngedapetin novel yang dicari Kawa-mu itu?”
Aku mengangguk mantap.
“Ya Tuhan, kalau bukan karena kamu, aku engga akan pernah mau roadshow dari satu toko buku ke toko buku yang lain.”
            “Dena, kamu memang sahabat terbaikku!” aku merangkul sahabatku.
Dena nyengir.
Kami lalu melangkah keluar toko buku untuk menuju toko buku selanjutnya. Dalam listku, masih ada empat toko buku lagi yang musti kami kunjungi. Aku yakin, masih ada toko buku yang menjual novel yang dicari oleh Kawa.
*
            Dua hari lalu, saat aku, dan Kawa mengobrol di teras rumah sambil menikmati semilir angin sore, Kawa cerita kalau dia sedang mencari sebuah buku, sebuah novel yang terbit sekitar 5-7 tahun silam. Kawa sudah berusaha mencari novel tersebut di toko buku, namun tidak juga menemukannya. Kawa pernah membaca novel tersebut di Perpustakaan Kota, karena cerita di novel itu sangat bagus menurut Kawa, maka Kawa ingin sekali memiliki novel tersebut. Sebagai pacar yang baik, penuh perhatian, dan rasa sayangku yang besar untuk Kawa, tentu  aku ingin membantu Kawa untuk mendapatkan novel favoritnya itu.
*

            “Apa ini?” Kawa menerima bingkisan yang sudah aku bungkus rapi dengan kertas kado berwarna abu-abu, warna favorit Kawa.
            “Ada deh…”
            “Senyum kamu misterius sekali Septi, aku jadi penasaran…” Aku tertawa. “Boleh aku buka sekarang?”
            “Boleh!”
Kawa membuka bungkusan dengan hati-hati. Kawa tahu aku pasti bakal ngomel kalau dia membuka bungkusan itu dengan asal. Aku, si miss perfect, yang paling tidak suka dengan ketidakrapian! Ah, Kawa memang pacar yang pengertian.
            “Buku?”
            “Iya, itu buku…sebuah novel untuk kamu, Kawa…”
            “Novel? Coba aku lihat siapa pengarangnya….” Kawa memperhatikan dengan seksama buku yang ada digenggamannya. “Ini…kamu yang bikin?” Kawa menatapku kebingungan.
            “Iya, itu novel yang aku persembahkan untuk kamu…” wajahku memanas, tersipu malu. Mungkin saat ini pipiku sudah semerah tomat. “Cetakannya cuman dua.”
“Seriusan?”
Aku mengangguk mantap.
“Satu untuk kamu, dan yang satu lagi untuk aku.”
“Wow!”
“Jadi, aku ditemani Dena datang ke beberapa toko buku, namun kami tidak menemukan buku yang kamu cari…”
            “Novelnya Rizky Hartanto yang Mentari Dan Rembulan?” Aku mengannguk pelan. “Septi, aku kan sudah mencari buku itu, jadi kamu tidak usah repot-repot mencarinya juga.”
            “Aku tahu, tapi aku memang ingin mencari novel itu untuk kamu…” Kawa mengenggam tanganku sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang selalu aku rindukan. “Karena novelnya Rizky ga ada, ya aku bikin novel sendiri aja….”
“Keren!”
“Hmmmm… sebenarnya cerita di novel ini mulai aku tulis saat aku mulai suka sama kamu…” Wajahku kembali menghangat. Tangan Kawa semakin erat mengenggam tanganku.
            “Kawa Dan Senja. Aku suka judul novelnya!”
“Yay!”
“Makasih Septi.” Kawa menatapku dengan tatapan lembut meneduhkan. Tatapan yang membuatku jatuh hati padanya.
            “Semoga kamu suka sama novel aku ya…”
            “Pasti! Aku kan selalu suka tulisan kamu di buletin sekolah. Mana mungkin aku tidak suka dengan novel limited edition ini! Sebuah novel untuk seorang kekasih. Oh, so sweeettttttt….. ”
            Noraaaakkkk!!!”
            Kawa tertawa.
            Ah, aku bahagia! ***
             

Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...