Kamis, 12 November 2020

#AStoryAbout - Kardi, Ningsih, Dan Malioboro (Cerpen)

 

KARDI, NINGSIH, DAN MALIOBORO

 

Kardi, pemuda sederhana yang tinggal di daerah Kasongan, Bantul mengendarai motor bebeknya menuju Malioboro. Sudah satu tahun belakangan ini Kardi bekerja sebagai pegawai di sebuah toko mebel yang terletak kawasan Malioboro, pusat keramaian di kota Jogjakarta yang memiliki slogan “Jogjakarta Berhati Nyaman”. Pukul 07.30 pagi Kardi sudah siap berangkat menuju tempat kerjanya.

Kardi mengendarai motor dengan santai sambil sesekali menyapa tetangganya yang kebanyakan bekerja di toko-toko kerajinan gerabah yang berada di daerah Kasongan. Kardi merasa bahagia bisa bekerja di Malioboro, menjadi pegawai toko di pusat perbelanjaan Malioboro memang cita-cita Kardi setelah lulus SMA. Dan Kardi merasa bersyukur bisa diterima kerja di toko mebel yang memang sudah menjadi incarannya begitu dia menamatkan pendidikan SMAnya. Dengan menempuh perjalanan sekitar 30-45 menit dari Kasongan menuju Malioboro, Kardi selalu bersemangat mengendarai motor bebek klasik peninggalan Bapaknya.

          “Mas Kardi…” suara merdu seorang perempuan menyapa Kardi saat dia melewati salah satu toko gerabah. Kardi menghentikan motornya, dan tersenyum senang saat melihat gadis berbaju kuning yang sedang menatap Kardi dengan malu-malu.

          “Selamat pagi Ningsih.”

          “Pagi. Mas Kardi mau berangkat kerja?”

          “Iya Ning…”

          “Ini untuk Mas Kardi.” Ningsih, gadis manis berkulit sawo matang dengan rambut kuncir kuda, yang juga merupakan tetangga Kardi mengulungkan tas plastik berwarna putih pada Kardi.

          “Apa ini Ning?” Kardi menerima plastik putih dari tangan Ningsih.

          “Nasi gudegnya Mbok Jum, yang diujung jalan itu Mas.”

          “Buat aku?”

          “Iya, itu buat Mas Kardi, sebungkus nasi gudeg suwiran ayam, lengkap dengan kerecek, areh, dan tolo.”

          “Wah enak! Kamu kok repot-repot sih Ning.”

          “Engga repot kok Mas.” Wajah Ning semakin tersipu saat Kardi menatap lekat-lekat gadis yang selalu membuatnya berdebar.

          Matur nuwun ya Ning…makasih.”

          “Sama-sama Mas…eh, Mas aku kerja dulu ya.”

          “Iya Ning, kalau begitu aku berangkat ya Ning.”

          “Hati-hati Mas.”

          “Iya.”

          Lambaian tangan Kardi yang menjadi tanda perpisahan disambut hangat oleh Ning. Senyuman Ning dengan lesung pipitnya membuat Kardi semakin bersemangat melewati hari. Sebentar lagi aku akan menyatakan cinta Ning, tunggu ya Ning, aku mengumpulkan keberanian dulu untuk bilang cinta sama kamu. Dada Kardi berdebar-debar saat kata-kata cinta terus saja berulang didalam hatinya. Kardi tidak sabar menunggu waktu itu tiba, waktu untuk menyatakan cinta pada pujaan hatinya.

          Ah, jatuh cinta memang indah!

*

          Kardi tidak bisa berhenti tersenyum dihari ini. Wajah manis Ning yang selalu terbayang membuat Kardi semakin bersemangat menjalani pekerjaannya di hari ini. Toko mebel tempat Kardi bekerja buka dari pukul 09.00-21.00, dan kebetulan hari ini Kardi masuk pagi dari jam 09.00-15.00. Kalau masuk siang Kardi mulai bekerja pukul 15.00-21.00.

          “Kardi, dari tadi kau senyum-senyum terus…rupanya temanku ini sedang bahagia.” Ucok, teman karib Kardi yang berasal dari Medan sepertinya menangkap gelagat Kardi yang sedang jatuh cinta.

          “Ah Mas Ucok tahu saja kalau saya sedang bahagia.” Ucok dan Kardi sedang istirahat untuk makan siang. Mereka berdua berada di warung angkringan berada tidak jauh dari tempat kerja.

          “Kau tidak makan nasi kucing oseng tempe?” Ucok sedikit heran saat Kardi hanya memesan segelas es teh, tanpa memesan menu favorit mereka berdua jika sedang makan siang bersama di angkringan.

          “Aku sudah bawa bekal Mas Ucok, ini…” Kardi mengeluarkan bungkusan daun dari dalam tas plastik putih.

          “Nasi gudeg dari Ningsih ya?”

          “Mas Ucok tahu saja.” wajah Kardi seketika memerah menahan malu.

          “Rupanya kau memang benar-benar sedang jatuh cinta dengan gadis bernama Ningsih itu ya.” Ucok semakin gencar menggoda Kardi yang sedang tersipu malu.

          “Aduh aku jadi malu.”

          “Sudahlah Kardi, buruan saja kau nyatakan cinta pada si Ningsih itu!” Ucok semakin provokatif.

          “Iya Mas, sebentar lagi aku juga akan menyatakan cinta pada Ning.”

          “Kapan? Jangan ditunda-tunda, nanti keburu Ning kau itu diambil orang.”

          “Siap Mas Ucok!”

          “Jangan hanya bilang siap-siap, haduh kau ini harus gerak cepat Kardi! Kau bilang Ningsih itu manis, senyum lesung pipitnya bikin kau tak bisa tidur kan?” Kardi mengangguk mantap. “Ya sudah Kardi, segera saja kau nyatakan cinta.”

          “Lusa aku akan menyatakan cinta pada Ning.”

          “Bagus!” Ucok mengacungkan kedua jempol tangannya. “Aku dukung kau!”

          “Doakan ya Mas Ucok, semoga saja Ning mau menerima cintaku.”

          “Ya pasti diterimalah, Ning kan selalu perhatian sama kau.”

          “Amin!”

          “Sudahlah, buruan kau makan nasi gudeg dari Ning yang bertaburkan cinta itu.”

          “Ah Mas Ucok bisa saja….”

          “Aku juga sudah lapar kali ini! Kusikat saja dua nasi kucing yang satu oseng tempe, yang satu sambal teri, tambah sate kerang, mendoan, dan tahu susur.” Dengan sigap Ucok mencomot makanan yang sudah diincarnya itu. “Melihat kau yang berbunga-bunga seperti ini, membuat nafsu makanku bertambah.” Kardi tertawa cekikikan. “Apalagi kalau sudah ketemu wedang tape buatan Bu Saniyem yang tiada tandingannya ini!” Ucok menerima segelas wedang tape hangat yang diserahkan Bu Saniyem, ibu-ibu pemilik warung angkringan.

          “Mari makan Mas Ucok.”

          “Mari-mari…ah melihat kau yang sedang jatuh cinta seperti ini aku jadi teringat dengan istriku dirumah, tiba-tiba kangen kali aku sama dia!”

Kardi dan Ucok tertawa bersama.

          Kardi merasa beruntung memiliki teman karib di tempat kerjanya. Meskipun umur Ucok jauh lebih tua dari Kardi namun Kardi merasa cocok berteman dengan Ucok. Meskipun mereka berdua berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, Kardi orang Jawa yang asli Jogja, sedangkan Ucok orang Medan totok, namun perbedaan itu tidak menjadi penghalang mereka untuk bersahabat. Meskipun karakter Ucok “keras”, namun Kardi selalu merasa senang mendengar nasihat-nasihat yang selalu diberikan Ucok saat Kardi sedang membutuhkan solusi dari masalah-masalahnya, baik masalah pekerjaan, cinta, dan keluarga.

          Kardi, pemuda berusia 19 tahun merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Kakak pertama Kardi sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di Sleman. Murni, kakak perempuan Kardi membantu suaminya mengelola perkebunan salak pondoh milik mertua Murni. Kakak kedua Kardi, Bambang bekerja di toko oleh-oleh khas Jogja yaitu bakpia di daerah Pathuk. Sedangkan adik Kardi, si bungsu Sari, masih SMP. Bapak Kardi sudah meninggal 2 tahun yang lalu, sedangkan Ibu Kardi sudah bertahun-tahun bekerja di toko batik di daerah Dongkelan. Dengan bekerja sebagai pegawai toko mebel di Malioboro, Kardi bahagia karena dia merasa sudah tidak lagi membenani Ibunya, karena memiliki penghasilan sendiri. Kardi juga mulai menabung untuk masa depannya, Kardi punya impian membangun rumah tangga bersama Ningsih, pujaan hatinya.

*

 

          Hari Minggu yang ditunggupun tiba. Kardi dan Ningsih libur kerja, mereka berdua janjian untuk pergi bersama. Setelah Kardi menjemput Ningsih, berpamitan kepada kedua orangtua dan kakak perempuan Ningsih, merekapun memulai perjalanan. Hari ini Kardi sudah membulatkan tekad untuk menyatakan cinta pada Ningsih.

          “Kita mau jalan-jalan kemana Mas Kardi?” Ningsih yang hari ini terlihat cantik dengan rok batik merahnya, bertanya pada Kardi saat mereka sudah berboncengan di atas motor kesayangan Kardi.

          “Aku mau mengajak kamu keliling Jogja Ning.”

          “Ke Malioboro juga kan?” Kardi mengangguk. “Ningsih tahu Mas Kardi sudah bosan ke Malioboro, soalnya setiap hari Mas Kardi kan ke Malioboro untuk bekerja.”

          “Aku ga pernah bosan Ning, aku suka selalu suka Malioboro!” Ningsih tertawa. “Ini serius Ning, aku suka sekali dengan Malioboro, dan aku merasa bersyukur bisa bekerja di tempat yang aku suka.”

          “Iya Mas, Ningsih juga tahu kalau Mas Kardi itu cita-citanya pengen bekerja di Malioboro.”

          “Ga tau ya Ning, Malioboro itu seperti magnet. Meskipun saat liburan selalu macet, tapi aku itu suka sekali melihat becak berseliweran, andong yang bertebaran dimana-mana, mengamati berjubel manusia yang datang mengunjungi Malioboro, rasanya aku tidak akan pernah bosan dengan Malioboro.”

          “Ning juga suka Malioboro, meskipun Ning jarang sekali berkunjung ke Malioboro.”

          “Nah, sudah sampai nih!”

          “Ini Taman Sari Mas?”

          “Iya….kita jalan-jalan dulu ke Taman Sari ya Ning, melihat pemandian putri-putri Keraton di zaman dulu. Aku dengar dari Mas Ucok, setelah dipugar Taman Sari jadi lebih indah.”

          Kardi dan Ningsih lalu berjalan-jalan di Taman Sari yang eksotik. Mereka berdua tampak takjub melihat tempat bersejarah yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan itu. Setelah puas berjalan-jalan di Taman Sari, Kardi lalu mengajak Ning ke Alun-Alun Utara, mereka berjalan-jalan di depan Keraton Jogja. Kebetulan di Alun-Alun Utara sedang ada Sekatenan, pasar malam yang diadakan setahun sekali. Meskipun Sekatenan belum dibuka secara resmi, namun aura khas pasar malam sudah terasa. Di sore yang cerah Kardi mengajak Ning naik komedi putar di Sekaten, mereka berdua larut dalam suasana pasar malam lengkap dengan musik campur sari yang disetel kencang di Sekaten.

          Setelah puas naik komedi putar dan berkeliling Sekaten, Kardipun memenuhi janjinya untuk mengajak Ning ke Malioboro. Sebelum berjalan-jalan di Malioboro, Kardi mengajak Ning makan malam di angkringan Bu Saniyem, di dekat toko mebel tempat Kardi bekerja yang memang buka dari pagi hingga tengah malam. Setelah melahap nasi kucing, tahu bacem, ceker goreng, dan wedang tape, Kardipun mengajak Ning jalan-jalan di Malioboro. Mereka berdua menikmati indahnya pemandangan di Malioboro dengan toko-toko yang berjejer.

          “Capek Ning?”

          “Capek tapi senang Mas.”

          “Kalau kamu capek kita istirahat dulu yuk.”

          “Iya Mas.”

          Kardi dan Ning duduk-duduk didepan Istana Negara yang berhadapan dengan Benteng Vanderburg. Ditempat ini banyak komunitas yang berkumpul didepan Istana Negara, ada komunitas sepeda, juga komunitas seni lainnya, serta para pengamen jalanan yang melantunkan lagu-lagu masa kini. Suasana Malam di depan Istana Negara semakin romatis dengan lampu-lampu “khas Jogja” yang bertebaran disetiap sudut Malioboro.

          “Mas itu titik Nol Kilometer ya?” Ning menunjuk perempatan yang menghubungkan Alun-Alun Utara dan Malioboro.

          “Iya Ning, yang biasa buat demo-demo itu.” Ning mengangguk-angguk. Musisi jalanan yang berada tidak jauh dari tempat Kardi dan Ning duduk, menyanyikan lagi “Jogjakarta” yang dipopulerkan oleh Kla Project. “Ning, ada yang ingin aku sampaikan sama kamu.” Jantung Kardi mulai berdegup kencang. Ini saatnya! Tekad Kardi untuk menyatakan cinta pada Ning semakin kuat.

          “Ada apa Mas Kardi?”

          “Ning, kita sudah lama berteman, dan aku merasa bahagia saat bersama kamu.” Meskipun lampu jalanan sedikit redup, namun Kardi bisa melihat dengan jelas rona wajah Ning yang memerah.

          “Terimakasih Mas.” Ning menunduk malu.

          “Ning, sebenarnya aku sudah lama ingin menyatakan ini sama kamu, tapi baru hari ini aku berani bilang Ning….”

          “Ada apa Mas Kardi?” Meskipun berusaha kerasa menutupi rasa gugupnya saat mata Ning menatap menatap Kardi, namun Kardi bisa merasakan debaran jantung Ning.

          “Ning, aku cinta kamu.” Lega! Akhirnya kata itu bisa keluar dari mulutku! Wajah Ning semakin bersemu, senyuman Ning dengan lesung pipitnya membuat Kardi semakin berdebar.

          “Ning juga cinta sama Mas Kardi….”

          “Apa Ning, aku ga dengar kamu ngomong apa…” Kardi bohong! Sebenarnya Kardi sudah mendengar ucapan Ning. “Bisa ga ngomongnya lebih keras lagi?”

          “Ningsih cinta Mas Kardi!!!” Ning sedikit berteriak.

          “Oh, makasih ya…” Ning tertawa. “Jadi kita sama-sama saling mencintai?”

          “Iya.”

          “Kalau begitu mulai hari ini kita pacaran?”

          “Setuju.”

          Mereka berdua lalu berjabat tangan.

          “Pulang yuk Ning, sudah malam…”

          “Iya Mas…”

          Mereka berdua bergandengan tangan menuju toko mebel tempat Kardi bekerja untuk mengambil motor. Hari ini menjadi hari yang indah untuk Kardi dan Ningsih, Malioboro menjadi saksi terpautnya cinta diantara mereka berdua.***

 

 

Catatan : Cerita Pendek ini pernah diikutsertakan untuk sebuah lomba menulis, namun tidak menang. Beberapa bagian tulisan ini sudah diedit.

 

 

 

 

 


Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...