"Miraaaaa, udah bobok, ya?"
"Ya ampun Rena, kamu ngapain sih telpon malam-malam begini? aku udah tidur, tauk!"
"Maafkaaan....tapi aku harus cerita sama kamu."
"Ya udah buruan cerita."
"Mir, aku barusan chatting sama Gatot."
"Bukannya hampir tiap malam kamu memang chatting sama gebetan masa SMP-mu itu?"
"Dengerin dulu dong, jangan langsung sewot gitu. Kamu tahu, si Gatot ngajakin aku ketemuan!"
"Akhirnyaaaaa..."
"Minggu siang besok, Gatot ngajakin aku ketemuan di Strawberry Cafe. Dia pengin ngobrol-ngobrol sama aku. Hmm, apa Gatot mau bilang kalau selama ini dia juga naksir aku, ya? Hehehe."
"Mulai deh, kumat penyakit ge-er-nya...Ren, aku ngantuk, nih. ceritanya disambung besok ajah, ya.."
"Iya deh. Maaf Mir, udah gangguin kamu, hehehe."
"Ah udah biasaaaaaa..."
"Good night Mir, habis ketemuan sama dia aku telpon kamu, ya!"
Aku menutup telepon dengan hati bahagia.
Senyumku kembali mengembang, menginggat Gatot, gebetan-ku semasa SMP. Setelah lulus SMP, aku kehilangan kontak dengannya. Lalu, dua minggu yang lalu, kami "ketemuan" di Facebook. Hampir setiap hari aku dan Gatot chatting. Kami biasanya chatting di malam hari, setelah aku selesai belajar. Setelah kami berpisah selama 2 tahun, pastinya aku tidak akan melewatkan kesempatan kedua ini.
***
"Hai Rena, apa kabar?" Gatot menjabat erat tanganku saat kami bertemu di Strawberry Cafe. Dia datang lebih dabulu daripada aku. Senyum Gatot tetap saja mempesona seperti dulu.
"Kabar baik, kamu apa kabar?"
"Aku juga baik. Duduk Ren."
"Makasih."
Aku dan Gatot mulai mengobrol. Kami mengenang masa-masa indah sewaktu SMP dulu. Sesekali aku dan Gatot tertawa lepas, saat membicarakan tingkah polah teman-teman SMP yang lucu.
"Ren, kamu jerawatan?" tiba-tiba Gatot memperhatikan wajahku dengan seksama. Aku mulai salah tingkah.
"Eh..ehm..eh..iya nih, akhir-akhir ini aku sering jerawatan." Aku menjawab dengan grogi.
"Aku dulu juga jerawatan, tepi setelah memakai cream penghilang jerawat ini, jerawatku langsung hilang. Lihat, sekarang wajahku bersih tanpa jerawat kan? Coba deh Ren, cream ini bagus untuk kulit wajah." Gatot tiba-tiba mengeluarkan botol berisi cream penghilang jerawat dari dalam tasnya.
"Ini produk kosmetik baru, tanpa efek samping. Kalau kamu yang beli, aku kasih diskon 30% deh. Secara sama teman sendiri, gituu looh. Hehehe. Cream ini khasiatnya oke banget."
"Kamu jualan obat jerawat?" aku bertanya dengan nada aneh saking kagetnya. Apa-apaan ini?
"Sebenarnya bukan aku, tapi kakak cewekku. Kalau aku berhasil menjual obat jerawat ini, aku dapet uang dari kakakku. Selain obat jerawat, aku punya produk lain. Ada cream pemutih wajah, cream pencerah wajah dan cream malam. Kalau kamu beli satu paket, dapet bonus bodylotion looh. Kamu juga bisa tawarin produk ini ke teman-teman kamu, nanti kamu dapet 10 % deh dari aku. Kan lumayan Na, bisa buat tambahan uang jajan. Gimana, Na? Tertarik?" Gatot mengeluarkan botol-botol lain, dari tas ranselnya.
"Jadi kamu ngajakin aku ketemu hari ini, hanya untuk nawarin dagangan?" aku tak bisa menyembunyikan suaraku yang sangat kecewa.
"Ya enggaklah, aku ketemu kamu kan ingin bernostalgia. Sekalian jualan juga sih, hehehe."
Aku tertunduk lemas. Ternyata semua tidak berjalan sesuai rencana.
Tapi, ya sudahlah... Siapa tahu obat jerawat yang dijual Gatot ini memang manjur. Aku kembali melanjutkan obrolan dengan Gatot. Tapi, kali ini kami bicara soal "bisnis". Meski dongkol, tapi aku senang, kok. Setidaknya gara-gara obat jerawat ini, aku bisa makin sering bertemu Gatot, kan? Mira pasti setuju. Hihi. ***
# my "Percikan" on Majalah GADIS no 20 (22 Juli-1 Agustus 2011)