- My "Percikan" @ Majalah Gadis, edisi No. 29 (2-11 November 2010) -
Minggu pagi yang cerah, aku menuju ke salah satu mal. Aku mau membeli novel terbarunya karya Ferro Prayoga. Dia adalah seorang pengarang muda yang punya cerita-cerita bagus nan dasyat. Menurut pendapatku, novel-novel Ferro punya cerita yang ringan tapi sarat makna. Sangat dekat dengan kehidupan anak muda.
Sebagai penggemar berat, aku mengikuti perkembangan terbaru Ferro Prayoga. Mulai dengan mengecek blog-nya setiap hari, jadi follower di Twiter-nya, berteman via facebook. Walaupun secara personal aku belum mengenal dia, tapi rasanya aku merasa sangat dekat dan mengenal Ferro lewat karya-karyanya yang indah itu.
Begitu memasuki toko buku aku langsung mendatangi rak bagian novel. Ah mana novelnya Ferro? Nah! Ini dia! Akhirnya ketemu juga. Aku membaca sekilas sinopsis ceritanya di halaman belakang. Novel keempat Ferro ini, bercerita tentang petualangan sekelompok anak muda yang sedang berlibur di kota Jogja. Dengan bumbu asmara yang melengkapi petualangan seru itu, membuat cerita terasa segar dan menggoda untuk segera dibaca. Aku mengamati lekat-lekat buku berjudul "Sejuta Rasa di Jogja" yang berada di genggaman tanganku.
"Bukunya bagus loh." Sebuah suara menyapaku.
Idih, siapa sih orang yang berada dibelakangku ini? Kok rese banget. Aku memalingkan wajahku ke arah suara tadi. Dan whaaat? Itu Ferro Prayoga! Seseorang yang sangat ingin aku temui, kini dia di depanku!
"Hai, kok malah bengong?" Ferro menatapku. Mungkin sekarang wajahku tak karuan. Perpaduan antara bingung, senang, grogi, ah.....pokoknya campur aduk deh!
"E...Mas Ferro, kan?" akhirnya aku bisa membuka mulut juga.
"Benar sekali."
"Aduh tidak menyangka bisa ketemu langsung sama Mas." Jantungku berdetak kencang.
"Mau beli buku ini, ya?" Ferro tersenyum manis sambil menunjuk novelnya.
"Iya."
"Makasih sudah mau membeli novel keempatku."
"Sama-sama. Aku punya semua novel Mas Ferro looh..."
"Oh iya? Wuihh senangnya. Tunggu...tunggu, kayaknya aku familiar sama kamu deh. Apakah kamu salah satu teman di akun Facebook-ku?"
"Iya Mas. Saya Clara." Dengan pede-nya aku mengulurkan tangan, untung Ferro mau menyambutnya. Aku sampai gemetaran. Jangan sampai pingsan Clara!
Lalu, kejutan datang lagi ketika Ferro mengajakku makan siang. Tak mungkin aku tolak! Ferro memilih salah satu resto Jepang di mal dan kami berhadapan, aku masih sering salting. Rasanya tidak percaya aku bisa makan siang dengan Ferro Prayoga!
Ternyata Ferro orang yang menyenangkan. Aku semakin larut dalam suasana akrab bersamanya. Sesekali Ferro menatapku lekat, membuat hatiku semakin tak karuan.
"Clara, aku boleh minta nomer telepon kamu?"
Aha! Ini yang aku tunggu-tunggu!
"Boleh Mas." Aku menyebutkan nomor ponsel-ku, Ferro mencatat di handphone-nya. Aouww!
"CLARA!!!"
Tunggu..tunggu, kenapa ada suara Mbak Sinta, kakak perempuanku? Suara nyaringnya nyaris membengkakkan telinga.
"Clara! Bangun! Sudah siang! Katanya mau ke toko buku sama kakak!" suaranya semakin menjadi.
"Clara, kamu mimpi apa sih" Sampai mengigau gitu. Ngomong sendiri, senyum-senyum sendiri." Aku membuka kedua mataku. Tak ada Ferro. Dan Mbak Sinta, sekarang nampak jelas di pelupuk mata. Wajah jutek-nya sungguh menganggu. Uh sebel.
"Malah bengong. Buruan mandi, terus kita ke toko buku."
"Aku kan sudah ke toko buku."
"Ke toko buku apaan? Kamu pasti mimpi."
"Mimpi?"
"Yoi! Ayooooo buruaaan mandi! Kalau sampai lima menit lagi kamu nggak keluar kamar, kakak nggak mau menemani kamu ke toko buku!" Mbak Sinta keluar kamarku sambil ngomel-ngomel.
Apa? Jadi ini hanya mimpi? Aku masih termangu di tempat tidur.
"Claraaa, buruaaan!"
"Iyaaa!" Secepat kilat aku turun dari tempat tidur. Langsung menuju kamar mandi dengan sebuah doa yang kuucapkan sepenuh hati. Semoga mimpiku bertemu Ferro di toko buku itu bukan hanya sekedar mimpi belaka. Amien! ***