Sabtu, 11 Februari 2012

PIGURA PINK DAN ALEX - #Percikan

 
            “Mbaaaak..ini aku duluan yang pilih…” aku merebut pigura lucu berwarna pink dari tangan Mbak Lely, kakakku, saat kami sedang berada di toko aksesoris.
            “Ihhh…kamu pilih yang lain saja, aku suka yang ini!” Mbak Lely merebut pigura dari tanganku.
            “Tapi Vina suka warna pink! Pleaseeee…” aku memasang tampang semelas mungkin didepan kakakku.
            “Mulai deh….ya sudah, ini ambil.” Mbak Lely menyerahkan pigura pink itu kepadaku.
            “Terimakasih kakakku tersayang….”
Mbak Lely cemberut.
“Itu, yang warna merah lucu juga…” aku menunjuk pigura lain yang dipajang di tembok.
            “Iya, yang merah memang lucu, tapi lucuan yang itu…” Mbak Lely menunjuk pigura pink yang aku bawa.
Ah, aku jadi merasa tidak enak dengan kakakku.
“Mana yang warna pink tinggal satu lagi…” Mbak Lely semakin manyun.
            “Mbak, maafin Echa ya, tapi pigura ini cocok untuk kado hari jadian Vina-Rico. Vina pasti senang dengan pigura pink imut ini, secara Vina punya koleksi foto yang berjibun. Lucu kan kalau foto Vina dan Rico dipajang di pigura ini.”
Mbak Lely menggangguk pelan.
            “Iya, Vina, si pecinta pink sahabat kamu itu, pasti akan merasa senang mendapatkan kado pigura lucu dari kamu.” Senyuman mulai mengembang di wajah Mbak Lely. Lega! “Ya sudah, piguranya buat Vina saja..”
            “Terimakasih Mbak…” aku memeluk Mbak Lely.
            “Udah ga usah pakai acara peluk-peluk segala.” Aku tertawa, dan melepaskan pelukanku.
*
            Undangan dari Vina, yang memintaku untuk datang di acara “pesta kecil-kecilan satu tahun hari jadian Vina-Rico” yang jatuh besok, membuatku bersemangat! Soalnya salah satu tamu istimewa acara besok malam adalah Alex, sepupu Rico yang cute itu. Cowok yang selalu membuat jantungku berdebar setiap menginggat senyum manisnya.
*

            Ponsel-ku berbunyi saat aku sedang berjalan menuju pintu keluar Salon langganan. Sore ini, sebelum datang di acara “Vina-Rico”, aku sengaja memperbaiki penampilan dengan memotong rambut di salon. Ehm, aku ingin membuat Alex terkesan malam ini.
            “Halooo Vina!!” aku menganggat telepon dari Vina dengan semangat membara. Membayangkan akan bertemu Alex membuatku bahagia, dan tidak ingin berhenti untuk tersenyum.
            “Echa….” Suara Vina terdengar lemah.
            “Vina…kamu kenapa?”
            “Acaranya batal, Cha! Rico mutusin aku…” terdengar suara isak tangis Vina.
            “Apa? Rico mutusin kamu di hari jadian kalian?”
            “Iya..Cha…” suara isak tangis Vina semakin menjadi.
“Tapi kenapa Vin?”
“Aku ga bisa cerita di telpon…sekarang kamu bisa ke rumah nggak, Cha? Aku butuh kamu Cha…aku sedih. Sedih banget…” masih terdengar suara isak tangis Vina.
“Iya Vin, aku ke sana sekarang!” aku menutup telpon dengan perasaan tidak karuan. Acara malam ini dibatalkan? Vina dan Rico putus? Aku tidak jadi bertemu dengan Alex? Lalu bagaimana dengan make over-ku hari ini? Padahal, aku melakukan semua ini demi Alex!
Ya, sudahlah! Mungkin belum waktunya aku bertemu lagi dengan Alex, atau mungkin memang tidak akan ada lagi pertemuan-pertemuan berikutnya dengan Alex, setelah Vina dan Rico putus! Mungkin memang sudah saatnya aku memotong rambut, agar penampilanku terlihat lebih fresh. Mungkin pigura pink itu memang seharusnya menjadi “milik” Mbak Lely. Aku mencoba menenangkan diri meski tak bisa menahan kecewa dan sedih karena batal bertemu dengan Alex.  
Kenyataan terkadang tidak seindah anggan dan harapan bukan? Lagipula, kesedihan yang dirasakan Vina rasanya jauh lebih berat daripada kesedihanku karena gagal bertemu Alex. Vina putus dengan Rico, di satu tahun hari jadi mereka! Wow, that’s hurt!  
Aku bergegas meninggalkan salon. Vina membutuhkan aku saat ini. ***

#my Percikan, Majalah Gadis no. 30 (11-21 November 2011)

Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...