Senin, 03 Agustus 2020

PUJAAN HATI BERNAMA REZA - #AStoryAbout

 

PUJAAN HATI BERNAMA REZA

 

            Gerimis masih turun saat aku keluar kelas menuju gerbang sekolah. Reza! Jantungku berdegup kencang saat melihat sosok cowok berkacamata dengan sweater birunya, lewat didepanku. Ya Tuhan, mengapa sampai sekarang aku selalu dibuat beku saat berhadapan dengan Reza? Padahal aku ingin sekali menyapa kakak kelasku itu! Ah, aku benci diriku! Aku selalu membiarkan Reza berlalu begitu saja, disaat aku ingin sekali memanggil namanya. Ya, sudahlah! Mungkin lain waktu aku bisa menyapa Reza, tentunya setelah berhasil mengumpulkan keberanian dan tekad baja.

            Woiii!!” suara cempreng Mira langsung mengalihkan pandanganku saat menatap punggung Reza yang semakin lama semakin terlihat menjauh.

            “Bisa ga kalau ga ngangetin!” aku langsung pasang tampak jutek.

            Busyet, nih anak nyolot banget, abis kesambar apa sih? Santai dunk Key…”

            “Kalau mau santai ya di pantai sono!”

            “Ya ampun Keyla, kamu kenapa sih? Kalau marah-marah begini ntar cantiknya hilang…”

            “Aku cantik ya?”

            “Nah, mulai nih anak….” Tawaku akhirnya pecah saat melihat tampang manyun Mira. “Kenapa Key? Kok marah-marah begini?”

            “Gak ada apa-apa kok Mir….”

            Ciyuss?”

Swear!”

“Yakin gak ada apa-apa?”

            Hmmmm…..Reza….”

            “Aha! sudah kuduga!” Mira melotot, dan aku nyengir kuda. “Wajah Reza itu tergambar sangat jelas di dalam fikiranmu.”

            “Sok tahu! Emangnya kamu bisa baca fikiranku?”

            “Lha, cenayang begini kok dilawan!”

            “Cenayang itu yang ditarik ulur, terus terbang-terbang di langit itu kan?”

            “Itu layang-layang dodol!” aku ngakak sambil menahan sakit perut melihat wajah Mira yang cemberut. “Udah, ga usah ketawa-ketawa gitu! Balik ke Reza….gimana..gimana..kapan kamu akan menyapa dia?” tawaku terhenti seketika saat mendengar nama Reza disebut-sebut.

            “Sampai aku siap melakukannya….”

            “Kapan Key? Keburu Reza lulus….”

            “Secepatnya!”

            “Janji Key?” aku mengacungkan dua jari tanganku membentuk huruf V.

            “Janji!”

Yuksss ke halte sekarang….”

            Yuksss…”

            Aku dan Mira berlari-lari kecil menuju halte bus, sebelum gerimis berubah menjadi hujan.

 

Aku menatap bungkusan berwarna merah di atas meja belajar. Entah sudah berapa lama bungkusan merah itu berada di meja belajarku, mungkin sudah berbulan-bulan yang lalu. Didalam bungkusan itu ada jam dinding dengan gambar Mancashter United, club bola kesukaan Reza. Kado berbungkus merah itu sebenarnya ingin aku berikan pada Reza, saat ulang tahunnya bulan depan, namun aku belum tahu, apakah aku punya keberanian untuk memberikan kado tersebut.

Hatiku mulai gelisah, mungkin Mira benar, aku tidak boleh melewatkan kesempatan demi kesempatan begitu saja! Kalau saat kelulusan tiba, dan aku belum juga berani menyapa Reza, sia-sialah semua. Baik, aku akan membulatkan tekad untuk menyapa Reza besok! Apapun yang terjadi, aku akan tetap maju terus pantang mundur!

Jantungku kembali berdegup kencang saat teringat Reza.

 

“Doakan aku ya Mira.”

            “Pasti Key! Kuncinya, tenang.”

            “Sip!” Mira menepuk bahuku pelan sesaat sebelum aku melangkah meninggalkannya.

            Aku berjalan menuju arah Reza, yang aku lihat sedang berdiri di depan papan majalah dinding sekolah. Tekadku sudah sangat bulat, sebulat telur ayam, pokoknya hari ini aku akan menyapa dan berjuang untuk bisa berkenalan dengan cowok pujaan hatiku itu.

            Omigoddddd!!! Aku sudah berdiri dibelakang Reza! Ayo Keyla, kamu pasti bisa!

            “Kak Reza….” Suaraku sedikit terbata saat memanggil nama Reza.

            Reza membalikkan badannya, dan menatapku. Sumpah! Jantungku hampir copot!

            “Iya….” Reza menatapku bingung.

            “Aku Keyla…” spontan aku mengulurkan tanganku. Ah, syukurlah, Reza menyambut uluran tanganku. Senangnya bisa bersalaman dengan Reza! Hatiku langsung berbunga-bunga. “Maaf Kak, kalau menggangu….”

            “Ah, engga kok.” Reza tersenyum, dan jantungku kembali berdegup luar biasa kencang saat melihat senyum Reza. “Ada yang bisa aku bantu Keyla?”

            “Engga ada Kak, aku hanya ingin berkenalan dengan Kak Reza.” Ops! Dodol! Apa yang aku katakan? Kenapa aku bisa keceplosan begini? Bodoh! Seharusnya aku kan bisa kasih alasan yang lebih keren! Kenapa malah terlalu jujur begini? Aih! Aku merasakan pipiku yang mulai menghangat, mungkin wajahku sekarang sudah semerah tomat. Sumpah, aku malu!

            Reza tertawa.

            “Senang berkenalan dengan kamu Keyla.”

            “Sama-sama Kak Reza…” KABURRR! “Kalau begitu aku permisi Kak, mau ke perpus.”

            Ok.”

Aku langsung balik badan. Dari kejauhan aku melihat Mira yang sedang tersenyum senang saat melihatku. Dengan debaran yang masih tersisa, aku berlari kecil menuju perpustakaan. Ah, akhirnya aku bisa menyapa Reza, bahkan berjabat tangan dengannya! Sumpah, aku bahagia banget! Rasanya itu seperti habis ketemu Justin Bieber trus dinyanyiin “Baby…baby..baby…oh…Kyaaaaaaa!!!!

Thanks God!

Sejak saat aku berkenalan dengan Reza di depan papan mading, sekarang kami selalu bertegur sapa saat berpapasan. Seperti hari ini, tanpa sengaja kami bertemu di kantin saat aku dan Mira sedang asyik menyantap bakso, jadilah kami mengobrol bersama.

“Kak Reza suka bola?” aku mencoba mengkroscek informasi yang aku dapatkan dari kepoin instragram Reza, apakah Mancaster United memang benar-benar club sepak bola favoritnya.

Yup! Aku penggemar berat Mancater United!” Yes! Dugaanku benar adanya! Ah, rasanya tidak sia-sia aku menyiapkan kado jam dinding dengan lambang club bola kesukaan Reza itu.

“Selain suka bola, Kak Reza suka pertandingan olah raga apalagi?” Mira yang sedari tadi hanya mendengarkan aku dan Reza mengobrol, akhirnya buka suara.

“Bulu tangkis!”

“Wah, kebetulan, si Mira ini jago bermain bulu tangkis lho Kak!”

“Oh ya?”

“Ah…engga jago-jago amat kok Kak…”

“Bohong! Mira itu selalu keluar jadi juara kalau ada perlombaan bulu tangkis, di acara tujuh belasan di komplek perumahannya.”

“Si Keyla mulai lebay nih.”

“Eh, ngomongin fakta malah dibilang lebay, please deh!”

“Tapi ga selalu juara juga kali…”

“Nah, itu piala berjejer di kamar, masih ga mau ngaku juga kalau juara.”

“Lha, kalian berdua kok malah berantem ini….” Aku dan Mira saling bertatapan lalu tertawa secara bersamaan.

“Maaf Kak Reza….”

“Ah, biasa Key, kalau sobatan itu juga kadang-kadang berantem juga kan?”

“100 buat Kak Reza…” Reza tertawa. “Jadi, selain suka sepak bola Kak Reza juga suka bulu tangkis?”

“Iya Key...suka lihat pertandingannya, tapi jarang main sepak bola maupun bulu tangkis.” Aku dan Mira kompakan manggut-manggut. “Kalau kamu sukanya apa Key?”

“Makan bakso, ngemil coklat plus ice cream…” Aih, kenapa aku bisa bicara sejujur ini! harusnya kan aku bisa jaga imej sedikit! Meskipun badanku yang ‘chubby’ ini jelas-jelas menunjukkan kecintaanku pada makanan, tapi kan seharusnya aku bisa sedikit mengontrol ucapanku tentang makanan! Ah, sudahlah…..

“Kadang-kadang Keyla juga menjadi lawanku saat bertanding bulu tangkis Kak.” Ucapan Mira bagaikan angin sejuk ditelingaku. Sumpah, saat ini aku ingin memeluk Mira dan mengucapkan terimakasih karena dia sudah sedikit ‘menyelamatkan’ku dari Reza.

“Tapi aku belum sejago Mira….”

“Kalau sering latihan lama-lama juga jago kok Key.”

“100 lagi untuk Kak Reza!!! Jadi, point yang sudah terkumpul jumlahnya jadi 200.” Reza tertawa.

“Kamu lucu…” Reza menatapku. Dan, entah darimana datangnya rasa salah tingkah itu. Tatapan Reza membuat jantungku berdegup sangat kencang. Ya Tuhan, semoga Reza tidak melihat rona merah di pipiku yang aku prediksi sudah muncul!

Thanks God! Bel tanda masuk yang berbunyi menyelamatkanku!

“Aku ke kelas dulu ya, kapan-kapan kita mengobrol lagi. Oh iya, kalau pada bertanding bulu tangkis, aku ikutan dunk.”

“Siap! Nanti kami bilang ke Kak Reza.” Mira yang menjawab, sedangkan aku masih terpaku. Sumpah, tatapan Reza membiusku.

Reza melambaikan tangan, aku mencoba melemparkan senyum terbaikku sambil membalas lambaian tangan Reza.

“Eh! Nih anak malah bengong! Ayo ke kelas.” Suara cempreng Mira kembali membawaku ke dunia nyata, bukan di dunia awang-awang lagi. “Ya ampun, nih anak malah makin bengong kaya sapi ompong….helloooo!!! Keyla!!”

“Iya..iya, aku denger!”

“Eh busyet nih anak malah nyolot.”

“Udah ga usah ribut deh!”

“Eh, kok malah marah-marah begini nih, harusnya kamu tuh happy berat karena bisa mengobrol sama Reza, si pujaan hati.”

Lebay!” aku berjalan cepat menuju kelas.

Woiiii…Keylaaaa…tunggu! Eh, busyet, maksudnya apa ini aku ditinggal-tinggal begini.” Aku terus berjalan tanpa menunggu Mira yang masih berada dibelakangku. “Eh, mentang-mentang lagi jatuh cinta trus jadi aneh nih anak!”

Stttttttt!!! Bisa ga sih kalau ga berisik!”

Cieeeeee…Reza nih yeeee…”

Shut up!”

Mira tertawa terbahak-bahak, sedangkan aku hanya bisa cemberut.

 

Hari Minggu pagi yang cerah aku dan Mira menunggu Reza di lapangan bulu tangkis yang terletak di komplek perumahan Mira. Pagi ini, kami janjian untuk bermain bulu tangkis bersama. Meskipun akan berolah raga, namun aku sengaja tampil special di hari ini. Dengan menggunakan t-shirt warna pink, aku berharap Reza membaca “sinyal” yang ingin aku tunjukkan padanya. Semoga Reza tahu, warna pink melambangkan rasa jatuh cinta, dan aku memang sedang jatuh cinta dengan Reza!

Seminggu lagi ulang tahun Reza, dan aku sudah tidak sabar untuk menyerahkan kado special yang sudah aku persiapkan berbulan-bulan yang lalu itu. Semoga acara “pedekate” hari ini berjalan dengan lancar!

Cieeeee….cantik bener hari ini, pink gitu looh!” Mira sedari tadi terus menggodaku dengan tampang jahilnya yang menyebalkan itu.

“Makasih….tapi kayanya kamu udah bilang berkali-kali deh kalau aku cantik. Sekali lagi kamu bilang aku cantik, nih raket kayanya bakal melayang deh.”

“Ya ampun, nih anak sadis amat!” Aku melotot. “Hmmmm…semoga saja Reza akan datang bersama Varell, si cowok cute itu!”

Ngarep!”

“Eh, boleh dunk aku berharap Reza akan membawa Varell untuk bermain bulutangkis bersama kita. Kan bisa ganda campuran tuh, kamu ama Reza melawan aku sama Varell.” Mira senyum-senyum ceria.

“Mentang-mentang Reza se-gank ama Varell, bukan berarti dia akan menggajak gebetan kamu itu.”

Please Keyla, kalau lagi bahagia itu dibagi-bagi kenapa? Masa kamu pedekate sama Reza, aku ga boleh pedekate sama Varell.”

“Iya deh, aku doakan Reza akan datang bersama Varell, bukan temen se-gank’nya yang lain.”

“Amin….”

“Reza mana sih? kok belum datang-datang….”

“Sabar kali! Ini masih ada waktu 10 menit dari waktu janjian. Kamu sih ngajakin datang lebih awal.”

“Ya jangan sampai Reza menunggu kan?”

“Tapi ga datang setengah jam lebih awal juga kali!” Tawaku langsung pecah saat melihat wajah manyun Mira.

“Itu Reza!” teriakan cempreng Mira membuatku buru-buru merapikan rambut, dan kembali menyakinkan penampilanku sudah terlihat sempurna! Aku harus bisa memberikan kesan yang baik di acara pedekate ini!

Aku membalikkan badan untuk menyambut Reza dengan senyum terbaikku.

Tunggu! Siapa cewek yang ada disamping Reza itu? Seharusnya kan Reza datang bersama Varell, Bayu, Miko, atau temen se-gank’nya yang lain, tapi kenapa Reza tidak datang bersama mereka? Jantungku mulai berdegup tak karuan.

“Selamat pagi….” Sapaan hangat Reza tidak juga meredakan debaran yang semakin menguat.

“Pagi Kak…” Mira yang menjawab, sedangkan aku hanya bisa melemparkan senyum.

“Aku belum terlambat kan?” Aku dan Mira kompakan menggeleng. “Nah, ini teman yang akan menemaniku bermain bulutangkis bersama kalian.” Cewek berambut lurus sebahu itu tersenyum bergantian denganku dan Mira. Aku membalas setengah hati senyum cewek itu. Perasaanku mulai tidak enak. “Kenalkan, dia Claudia, teman istimewaku….” Deg! Sumpah, kali ini jantungku serasa berhenti berdetak.

Aku dan Mira bergantian bersalaman dengan Claudia.

“Teman istimewa, maksudnya pacar Kak?”

“Iya Mira, Claudia ini pacar aku.” Sumpah, aku ingin pingsan! “Kami baru jadian sebulan yang lalu….” Cerahnya matahari pagi langsung tertutup kabut didalam hatiku. Rencana “pedekate” gagal total!!!

“Main bulu tangkisnya bisa kita mulai sekarang?”

“Siap!!!!!!”

“Wah, Keyla bersemangat sekali!”

Aku tertawa, tapi dalam hati menangis.

“Pastinya!” Semangat? Helooooo!!! Aku sedang patah hati Reza! Mira menatapku dengan tatapan yang tidak aku mengerti. “Aku baik-baik saja Mira.” Aku berbisik pelan ditelinga Mira.

Kami bersiap untuk bermain bulu tangkis.

Semua harapan yang sudah aku bangun untuk Reza hancur sudah. Meskipun aku harus menelan kekecewaan yang dalam, namun aku tetap bahagia karena keinginanku untuk bisa berkenalan dengan Reza akhirnya terwujudkan. Meskipun impianku untuk menjadi pacar Reza harus terhempas, namun aku tetap harus kuat bukan? Bagaimanapun juga Reza akan tetap menjadi seseorang yang special untukku. Well, kado ulang tahun Reza akan aku pakai sendiri sajalah! Jam dinding itu sepertinya akan terlihat cantik jika dipajang di tembok kamarku. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

           

 

           


Jumat, 15 Mei 2020

Menuju Penghujung Ramadan

Alhamdulillah, masih bisa merasakan Ramadan, meskipun Ramadan kali ini bisa dibilang berbeda :)
Secara pribadi Ramadan 1441 H ini memang cukup berbeda bagi saya. Ramadan kali ini saya tidak lagi merayakannya bersama Ayah. Sebelum Ramadan tiba, Ayah saya berpulang dikarenakan penyakit jantung yang 2-3 tahun belakangan ini beliau rasakan. Meskipun sedih karena merasa ada yang "hilang", namun saya yakin Ayah sudah mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Allah SWT. Yang terpenting, Ayah sudah bertemu dengan Ibu di sana ❤
Akan merayakan Idul Fitri tanpa kehadiran Ibu dan Ayah memang bukan hal yang mudah, namun Ayah dan Ibu akan selalu ada di hati. 

Ramadan kali ini juga menjadi Ramadan yang berbeda karena wabah virus corona yang sedang melanda dunia, termasuk negara tercinta Indonesia. Di tengah Ramadan yang tanpa hiruk-pikuk seperti Ramadan yang sudah-sudah, namun tetap indah kok.

Ramadan ini cukup menyenangkan karena karya saya lolos! Yes, cerita yang saya kirimkan untuk Balada Cerita Ramadhan di Radio Prambors menang, dan dijadikan sandiwara radio, Alhamdulillah! Mendengar cerita yang ditulis diputar di radio rasanya sungguh membuat bahagia! Thanks Prambors! 

Hhmmm, sudah berapa lama ya tidak menjalani "kehidupan normal" karena pandemi ini? Hufff, sampai ga ingget lagi :O yang ingin dilakukan setelah semua ini berlalu, nonton bioskop! Rasanya udah pengen duduk santai di depan layar bioskop, menikmati film yang disuka, ah indahnya! Semoga corona ini cepat berlalu, dan keadaan kembali seperti dulu, Aamiin!

So, segala urusan tetap berjalan baik kan? Semoga! Keadaan memang "sedang berubah", namun ya tetap bersyukur dengan yang sudah terjadi. Alhamdulillah masih diberi sehat, diberi rezeki, ah, Alhamdulillah :)
Di tengah wabah corona ini saya tetap bersyukur masih bisa melanjutkan usaha warung makan Ayah. Meskipun saya belum terjun total ke dunia kuliner ini, hihihi. Memiliki asisten yang setia rasanya menjadi kunci penting dalam kelangsungan sebuah usaha. 

Oke, lets talk!

Ayah saya memiliki asisten yang cukup setia, sudah 30 tahunan beliau menjadi asisten Ayah di Warung. Jadi, sekarang, "kelangsungan warung" memang ada pada beliau sih, hehehe :) secara selama ini saya ga belajar dengan serius tentang resep masakan Ayah. Jadi ya beliau, Pak asisten'lah yang menjadi "full koki" di Warung. Saya mah bantu menyajikan dan mencicipi saja, hahahaha! Ya, as long as we can, we will do the best. Lalu, warung akan tetap berjalan sampai kapan? Well, till the end. Setiap cerita pasti ada akhir. Ga ada yang abadi kan ya di dunia ini? Yo' rights! :)

Banyak hal-hal yang terjadi di hari-hari yang silih berganti ini membuat saya semakin banyak belajar tentang hidup dan kehidupan. Menghadapi hal-hal yang sulit untuk dihadapi tentu menguras energi dalam diri, namun saya bersyukur masih memiliki Allah ❤

Ya, baiklah, selamat ngabuburit! Semoga puasanya terus berjalan dengan lancar dan baik ya, Aamiin.
Tetap semangat!!! Sungguh, ini sulit sekali, dengan adanya pandemi dan keadaan yang berbeda ini bikin suasana ga cihuy, namun ya semua tetap harus dilewati bukan?
Okelah, berbuka dengan yang manis ya, uhuy!

Bismillah...


Kamis, 05 Maret 2020

A Story About - Hadirmu



HADIRMU

Kebiasaan akhir-akhir ini, begitu membuka mata, aku langsung mengecek ponsel untuk melihat Instagram, Twitter, dan Facebook. Aku melakukan kebiasaan tersebut sejak mengidolakan dia, seseorang yang membuatku terpesona.
            “Woiii! Ngelamun aja nih anak.” Tepukan keras di pundak kiri membuatku tersentak.
            “Bisa ga sih ga bikin kaget.”
            “Dari tadi bengong melulu. Tuh, batagor sampai dilalerin.”
            Aku melirik piring di depanku.
            “Ih, dusta kamu.”
            Rinta tertawa terbahak.
            “Ngelamunin apa sih?”
            “Ga ada.”
            Tuhan! Jantungku berdegup sangat kencang saat aku melihat sosok itu. Seseorang yang sedang memasuki kantin sekolah membuatku berdebar. Ah, iya, aku harus tetap stay cool, jangan sampai Rinta melihat perubahan sikapku yang mendadak gelisah.
            “Eh, sumpah ya diantara mereka aku paling males sama dia.” Rinta berbisik pelan.
            “Kamu lagi ngomongin apa sih?”
            “Apalagi kalau bukan band kebanggaan sekolah kita.”
            “Udara Pagi?”
            Yoa! Sumpah, malesin banget drumernya.”
            Aku menelan ludah.
            “Memang kenapa?”
            “Cowok belagu gitu!”
“Masa sih?”
“Mas Didot vokalisnya kan asli ramah banget. Mas Rio bassisnya baik bener. Mas Candra keyboard sama Mas Dika yang main gitar, juga ramah. Kecuali yang itu tuh!”
Mata kami bertemu. Saat tanpa sengaja aku melihat ke arahnya, dan dia juga sedang melihat ke arahku. Wajahku memanas.
            “Memangnya Mas Oka kenapa?”
            “Ga asyiklah!”
            “Hanya perasaan kamu aja kali…”
            “Udah ah ga usah dibahas. Males!”
            “Yeee bukannya kamu yang bahas duluan ya!”
            “Iya juga sih.”
            Kami lalu tertawa bersama.
         Aku ingin membantah semua ucapan Rinta tentang Oka. Menurutku Oka sangat keren. Permainan drumnya bagus, gayanya seru, dan sikapnya yang cool membuat aku berdebar setiap kali melihat aksinya di atas panggung sekolah. Menurutku Oka itu tidak belagu, mungkin dia hanya lebih pendiam dibanding teman-temannya yang lain di Udara Pagi. Ah, tapi sudahlah. Aku tidak ingin Rinta tahu kalau aku mengidolakan Oka. Biarlah rasa ini aku simpan sendiri dulu.
*
            “Apa benar ya yang dibilang Sari tadi…”
            “Tentang?”
            “Kamu dan Mas Oka ngobrol berdua.”
            Wajahku memanas.
            “Ih, kok wajah kamu merah semua gitu siiihhh…”
            “Apaan sih!”
           “Sari katanya ngeliat kamu sama Mas Oka lagi ngobrol bareng di Perpustakaan Kota. Eh, Sarinya aku suruh tanya sendiri sama kamu malah minta tolong ke aku buat nanya ke kamu.”
            “Hmmm…”
            “Ayo ngaku!”
            “Hari Minggu kemarin tanpa sengaja aku ketemu Mas Oka di Perpustakaan Kota, terus aku nyapa dia. Lalu kami mengobrol.”
            “Ngobrolin apa?”
            “Ih, kepo!”
            “Gitu ya sama sahabat sendiri ga mau cerita…. Sejak pakai seragam putih biru kita udah temenan looh.”
            “Ya ngobrolin tentang buku, namanya juga ketemu di Perpus.”
            “Ga nyangka kalau Mas Oka ke Perpustakaan.”
            “Begitulah adanya.”
            “Terus… terus…”
            “Udah, gitu aja.”
            “Baiklah.”
            Hah, baru juga mengobrol tidak sampai 5 menit dengan Oka, sudah dikepoin begini. Ah, iya, aku kan sedang mengobrol dengan selebritis sekolah! Hahaha!
            Jadi inggat “perjuangan” aku untuk bisa menyapa Oka siang itu. Saat tanpa sengaja aku berpapasan dengannya diantara rak buku Perpus. Sekuat tenaga aku mengusir segala rasa grogi, salah tingkah, dan memupuk sebanyak mungkin rasa percaya diri. Obrolan tentang Udara Pagi, yang mana aku bilang kalau aku suka saat melihat mereka manggung, mendapat respon yang baik dari Oka. Lalu obrolan tentang buku di menit-menit terakhir pembicaraan kami bagiku sungguh menyenangkan. Aku senang akhirnya bisa mengobrol dengan idolaku meski hanya sesaat.
*
            “Hey, kamu!” Aku mengangkat kepalaku, mengalihkan pandangan dari buku pelajaran ke arah orang yang berdiri di depan mejaku.
            Oka!
Aku mulai mengatur nafas.
            “Rajin banget ya ke Perpuskot.”
            “Hehehe…. Ini lagi ngerjain PR Mas.”
           “PR itu dikerjain di rumah, namanya juga pekerjaan rumah.” Oka tersenyum jahil.
            “Sekali-kali ngerjainnya di Perpuskot Mas. Secara tinggal nyebrang doang.”
            “Rumah kamu deket sini?”
            “Iya. Mas Oka sendiri ngapain malem-malem gini ke Perpuskot?”
            “Ih, mau tahu aja!”
            Aku tertawa.
            “Lagi nyari buku tentang film.”
            “Film Mas?”
            “Iya. Ceritanya kan Udara Pagi mau bikin film dokumenter. Looh kok aku jadi bocorin ke kamu ya.”
            Aku tertawa.
            “Harusnya ini kan masih dirahasiakan.”
            “Tenang Mas, saya bisa jaga rahasia kok.”
“Hahaha!”
“Wah, bakal keren pasti filmnya.”
            Thanks, kami memang keren.”
            “Iya deh, percaya….”
            “Hahaha! Jadi, aku lagi mau baca-baca tentang film-film dokumenter. Anak-anak nunjuk aku untuk bikin konsep filmnya, sebelum nantinya cari sutradara untuk film kami.”
            “Oh….”
            “Berhubung aku masih belajar banget tentang film dokumenter jadi ya butuh banget referensi buku-bukunya.”
            Open recruitment buat kru ga Mas?”
            “Kru untuk?”
            “Ya saat pembuatan film dokumenter nanti. Kru di tim konsumsi juga boleh Mas.”
            “Memangnya kamu mau daftar?”
            “Kalau memang dibuka pendaftarannya.”
            Oke. Kamu diterima.”
            “Lho belum juga seleksi.”
            “Udah, pakai seleksi alam.”
            “Ini seriusan Mas?”
            “Ya seriuslah Vella.” Demi apa Oka masih inggat namaku!
            “Wah, asyik.”
            “Ntar kalau sudah mulai deket-deket pembuatan filmnya, aku kabarin ya.”
            “Makasih Mas.”
            “Sama-sama. Eh… hmm… kalau misalnya dimulai dalam waktu dekat ini gimana?”
            “Apanya Mas?”
            “Kamu bantuin Udara Pagi mau gak? Kita kan udah mulai diundang ke acara-acara pensi sekolah lain nih, kita juga udah mau rekaman di studio untuk bikin single buat dikirimin ke ajang musik di radio. Nah, kita butuh tambahan personil buat jadi kru. Tenang, bukan kru angkat-angkat alat band kok.”
            “Wah, seru Mas.”
        “Nanti kamu bisa bantu di bagian catat-catat jadwal. Eh, ini juga kalau kamu ga keberatan. Ya tapi kami belum bisa kasih kamu gaji, tapi bisalah feenya buat jajan, nonton di bioskop.”
            “Yang terpenting bisa dapat pengalaman Mas.”
            “Jadi kamu mau terima gak?”
            “Ini seriusan Mas?”
            “Memang aku tampak bercanda?”
            “Hehehe, engga sih. Baik Mas, aku terima tawaran Mas Oka.”
            “Wah, makasih!”
            “Sama-sama.”
“Kalau gitu besok sore kita kumpul di kedai depan sekolah ya buat ngobrolin ini bareng teman-teman yang lain.”
            “Siap Mas.”
            “Ya sudah, kamu terusin kerjain PR, aku lihat-lihat buku dulu.”
            “Iya Mas.”
            Demi apa, aku akan menjadi bagian dari team Udara Pagi! Ah, ini menyenangkan sekali! Setidaknya aku akan lebih sering bertemu dengan Oka.
Let’s rock the world with Oka! ***   


           


Jumat, 24 Januari 2020

Obrolan Film

Eh, udah weekend aja nih :)
Ngobrolin film ah... 
Januari ini bioskop digempur sama film-film kece, baik film dari dalam dan luar negri. So, gimana-gimana, sudah punya rencana untuk ke bioskop? Let's go! :D
Diantara film-film yang sedang tayang nih, saya sudah menonton beberapa, yaitu... Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI), Bad Boys For Life, dan Akhir Kisah Cinta Si Doel.
Okelah, diobrolin satu-satu kali yaaa...
> Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI),
Keinginan kuat untuk menonton film ini karena ada Rio Dewanto hahaha! Dan, as always, akting Rio ini memang kece sih :) berperan sebagai anak sulung as Mas Angkasa, Rio so niceee...
NKCTHI bercerita tentang sebuah keluarga dengan persoalannya. Kisah tentang Bapak yang terlihat "kejam", Ibu dengan "kediamannya", lalu anak sulung Mas Angkasa, anak tengah Aurora, dan si bungsu Awan. Konflik yang terjadi dalam sebuah keluarga memang menarik untuk dijadikan cerita, apalagi ada "rahasia" yang terungkap pada akhirnya. 
Film yang udah tembuh 2 juta + penonton ini memang seru untuk dinikmati. Nangis juga nonton film ini huhu...
> Bad Boys For Life
Seneng kalau film Bad Boys ditayangin di tv. Jujur saja, Bad Boys versi jadul, ga pernah nonton di bioskop! Dibela-belain tidur malem kalau ada film Bad Boys di tv, haha. 
Nah, pas nonton trailer Bad Boys For Life di bioskop, langsung dalam hati, "guweh harus nonton!" 
Ya sudah, jadilah saya menonton Bad Boys For Life yang dibintangi Will Smith dan Martin Lawrence itu. Duo seru, kocak, dan asyik ini memang ga ada matinya. Meskipun sekarang mereka sudah "berumur", tapi aktingnya tetep jago. Untuk urusan action film ini dapet, urusan kocaknya juga dapet, ah, pokoknya asyik cihuy seru bin hura-hura'lah menonton film ini. 
> Akhir Kisah Cinta Si Doel (AKCSD)
Nah, kalau film ini memang ditunggu sih, penasaran banget siapa yang akhirnya dipilih Bang Doel :)
Cukup emosional sih nonton AKCSD, secara ini kan ending dari penantian 27 tahun kisah Doel-Sarah-Zaenab. Sedih juga endingnya ga sesuai dengan harapankuh hahahaha! :O but it's oke-lah, setidaknya Doel bersama dengan seseorang *eeeaaa*
Yang seru sih Bang Mandra ya, akhirnya doi (hampir) happy ending karena ketemu lagi sama Munaroh, sang pujaan hati, uhuuyyyy ;)
Yang mengikuti film Doel di seri satu, dua, tentunya harus ditutup dengan yang ketiga ini. Hufffffff, akhirnya!
Bwaiklaahh, selamat berakhir pekan...
Happy Fridayzz!

Jumat, 10 Januari 2020

Abracadabra

Welcome 2020!
Mau ngobrolin film ah di awal tahun :)
Well, banyak film film seru yang sedang beredar di bioskop, dan film yang sudah saya tonton adalah Abracadabra. Film yang dibintangi oleh Reza Rahadian ini cukup menyenangkan. Abracadabra adalah film fantasi yang mengisahkan tentang dunia sulap yang bisa ditonton untuk semua umur. Jadi, si Reza Rahadian ini berperan sebagai Lukman, seorang pesulap dengan kotak sulapnya. Dari kotak sulap kayu inilah cerita dimulai. Petualangan yang dilalui Lukman menjadi tontonan yang seru. 
Well, akting seorang Reza Rahadian memang tidak diragukan lagi. Dan di film Abracadabra ini Reza memerankan tokoh Lukman dengan baik. Rasanya Reza ini memang bisa memerankan peran apa saja, hehe...   
Selain Reza Rahadian, banyak pemain film lainnya yang membuat film Abracadabra ini terasa lebih "hidup". Mulai dari Butet Kertarajasa, Lukman Sardi, Dewi Irawan, Jajang C Noer, Asmara Abigail, Imam Darto, hingga favorit saya, Yati Pesek. Banyak bertaburan bintang di film ini. 
Menonton film Abracadabra membuat kita dibawa ke tempat yang antah berantah, dengan nuansa alam yang indah. Gambar yang dihasilkan di film ini juga terasa berbeda, menyenangkan sekali untuk mata.
Kalau suka dengan film absurd, yang kadang mikir, ini ceritanya bagaimana sih sebenarnya, lalu baru nemu jawaban setelah menelaah, ya film Abracadabra ini bisa banget jadi rekomendasi untuk ditonton di bioskop. 
Hmmm kalau saja dengan hanya bilang "Abracadabra" bim salabim, terus tahun 2020 ini jadi seperti apa yang kita inginkan, wah pasti menyenangkan sekali ya, haha! Usaha woiii usaha!!! Hihihi... Iringin juga dengan doa pastinya :) 
Well, semoga apa yang menjadi keinginan di tahun ini bisa terwujudkan ya, aamiin. Selamat menikmati hari-hari yang berjalan ke depan nanti. Semangat!!!
Bismillah. ❤

   

Rabu, 04 Desember 2019

#AStoryAbout - Jatuh Cinta Lagi



JATUH CINTA LAGI

        Jatuh cinta lagi? Ah, apa bisa?
          “Wah, wah, ini anak malah bengong.”
          “Aku tuh lagi memikirkan omongan kamu.”
          “Omongan aku yang mana?”
          “Yang barusan ini, soal jatuh cinta…”
          “Nah, akhirnya bisa mikir juga nih anak.”
          Hey, memangnya selama ini aku ga mikir apa?”
   “Ampun Sania! Setiap hari melamun, mata bengkak, diajakin ngobrol ga nyambung...”
          “Ya kan lagi putus cinta…”
          Oke, fine!”
        “Kan butuh waktu buat sedih…”
        “Jadi, kamu siap jatuh cinta lagi?”
          Maybe…”
          “Helooo, wake up Sania! Bayu itu...”
          “Mungkin aku akan jatuh cinta lagi, dengan Bayu.”
          “Helooo!!!!”
          Aku tertawa ngakak, dan Mawar langsung cemberut.
*
          Bukan perkara mudah untuk bisa jatuh cinta lagi saat ini. Kata orang cinta pertama itu susah dilupakan, dan menurutku itu benar adanya. Menjalin cinta selama hampir 2 tahun bersama Bayu, dengan segala suka dan duka yang sudah dilewati, walau pada akhirnya harus putus setelah kami break satu bulan, sangatlah membekas di hati dan ingatan.
Di awal aku dan Bayu berpisah 2 bulan lalu, betapa repotnya harus mengompres mata yang bengkak dengan es batu saat akan berangkat ke sekolah, setelah semalaman menangis. Dan, sialnya, sahabatku Mawar selalu bisa "melihat" kesedihanku itu. Namun masa-masa sedih itu sedikit mulai memudar sekarang. Aku sudah jarang menangis, hanya terkadang rasa sedih datang saat berada di dalam angkot. Teringat dulu Bayu selalu mengantar dan menjemput sekolah dengan motor kesayangannya.  
*

          Aku dan Aryo menuruni anak tangga Perpustakaan Kota setelah kami selesai membaca buku dan menyelesaikan tugas ekstrakulikuler Fotografi. Sebenarnya tadi ada empat orang teman kami yang tergabung dalam kelompok fotografi dari beberapa kelas, tapi mereka sudah pulang duluan setelah tugas selesai dikerjakan.
          “Kita duduk-duduk dulu di situ yuk…” Aryo menunjuk bangku kayu di taman Perpustakaan.
          “Boleh…”
          Kami duduk bersebelahan.
          “Setelah lulus nanti kamu akan kuliah dimana Sania?”
          “Rencananya sih di Jakarta.”
          “Wow, Jakarta! Nice…”
          “Iya, aku memang punya cita-cita kuliah di salah satu Perguruan Tinggi di sana. Dan kebetulan banget ada Tante yang tinggal di Jakarta, jadi aku bisa menetap di rumah beliau kalau nanti diterima di Universitas tersebut.”
          “Oh.”
          “Kalau kamu mau kuliah dimana?”
          “Aku akan kuliah di Yogya saja.”
          “Yogya, kota kita tercinta.”
          “Betul!”
          Bayangan Bayu yang tiba-tiba melintas segera kutepis. Tidak, aku tidak sedang rindu Bayu!
          “Hmmm… Kamu pernah menjalani hubungan LDR Sania?”
          Long distance relationship? Belum.”
          “Kira-kira kamu sanggup tidak kalau menjalani LDR?”
          “Entahlah.”
          “Sejak kita ikut kelas fotografi, kita jadi lebih dekat ya Sania…”
          “Iya sih, padahal kelas kita sebelahan tapi dulu-dulu ga ketemu aja looh.”
          Aryo tertawa.
          “Sania, kalau nanti kamu kuliah di Jakarta, dan aku di Yogya, apa kita bisa…”
          “Bisa apa Aryo?”
          “Aku jatuh cinta dengan kamu Sania…”
          Jantungku berdebar. Bayangan Bayu kembali melintas. ***





























Rabu, 27 November 2019

Siang ke Sore

Corat-coret blog dululah di tengah terik yang membahana ini... Hujan memang sempat turun, tapi rupanya Matahari sedang enggan pergi :) Semoga di cuaca yang panas ini, hati tetep adem, yes!
Ngobrolin apa ya...
Film? Baik!
Setelah memedam rasa penasaran pada Film Perempuan Tanah Jahanam (PTJ), nonton juga dunk akhirnya! :D kalau diinggat-inggat, semoga ga salah inggat ya, PTJ ini adalah film horor pertama yang saya tonton di bioskop. Selama ini kalau nonton film horor ya yang udah tayang di TV komersil gitu... Jadi kan tingkat keseraman levelnya berkuranglah ya dengan diselingi iklan, plus kalau ketakutan bisa kabur dari depan tivi, haha!
Sempet mikir, kalau nonton film horor di bioskop tuh kan rugi bener ya kalau udah bayar tiket, nonton film ga cihuy, secara ketakutan. Tapi akhirnya ya berani juga nonton film Perempuan Tanah Jahanam, meskipun di beberapa adegan merem sih, hahaha! ;p
Karena terbiasa nonton bioskop sendiri, dengan tekad bulat membara akhirnya ya nonton film PTJ sendiri juga, tapi ya pas jam tayang yang siang dong ah! :D Friends yang memang pengen nonton, sudah pada nonton duluan, akhirnya ya nonton sendiri, dan ternyata SERUU! Hahaha! Semacam sedang berpetualang gitu nonton film horor sendiri di bioskop, hihi!
Gimana-gimana kalau melewatkan karya yang memang digemari itu rasanya kok sayang sekali. Ya kalau bukan karena seorang Joko Anwar sih enggalah nonton film horor di bioskop mah, hahaha! :O
Rasa penasaran pada akhirnya memang terbayarkan setelah nonton film PTJ. Dari segi cerita, sinematografi, ya as alwayslah ya kalau filmnya Bang Joko itu menurut saya bagus :) 
Sebagai penonton film memang rasanya seru kalau menonton genre film yang beragam. Kalau misalnya ga suka film horor, ya sesekali nonton film horor oke juga. Memang paling favorit itu jenis film drama sih kalau saya, tapi ya tetep asyik juga nonton film action, tetep seru juga nonton komedi. Marilah banyak-banyak menonton film :)
Next film yang pengen ditonton Day Sleepers.
Ngobrolin apa lagi yaaa...
Mie ayam? Nice ya :) mie ayam gerobak biru memang ga ada matinyah!
Kopi? Ga terlalu suka kopi, tapi kalau k(u)o pi(nang) aku dengan Bismillah, ya nice juga sih... tssssaaaahhhh!!! :p
Teh? Minuman favorit! Ngeteh itu kapan saja waktunya terasa menggembirakan. Mau minum teh pas pagi, siang, sore, malam, tetep asyik sih menurut saya. #TimTeh
Colkat? Paling paporit kalau ini sih... minuman coklat, coklat batangan, makanan yang berbau coklat, sangat menyenangkan, meskipun ya sekarang sedang mengurangi. Bukan kenapa-kenapa, gigi suka ngilu kalau kebanyakan coklat, huhuhu, sad! :(
Lalu... ngomongin kamyuh? Ah, sudahlah! 
Baiklaahhh... selamat menjalankan aktivitas di hari ini. 
Have a nice day :)



  

Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...