Aku memandangi gedung
bertingkat di depanku, setelah memarkirkan motor kesayanganku. Membayangkan
akan menaiki gedung tersebut sampai lantai 4 tanpa lift, dan hanya menggunakan
tangga biasa sebenarnya malas sekali. Namun, keinginan kuatku untuk mendalami
bahasa Perancis membuat aku mulai menaiki satu persatu lantai.
Hup!
Akhirnya sampai di lantai EMPAT!
“Sisil!!” dengan nafas yang
masih terengah-enggah aku memanggil temanku yang sedang berdiri didepan kelas,
teman baruku di tempat kursus bahasa Perancis.
“Halooo Tyas…” Di samping
Sisil berdiri seorang cowok yang baru pertama kali aku lihat setelah 4 kali
mengikuti kursus. Cowok itu tersenyum kepadaku, akupun membalas senyumnya. Hmmm…manis! Yup! Tampak lesung pipitnya saat dia tersenyum.
“Kenalin ini Rizal, anak
baru.”
Aku dan Rizal saling
berjabat tangan sambil memperkenalkan nama kami masing-masing.
“Aku telat masuk.
Seharusnya aku masuk bareng kalian, namun karena ada kegiatan lain di sekolah,
aku baru bisa masuk di pertemuan keempat ini.”
“Belum banyak ketinggalan
pelajaran kok Zal…”
“Semoga Tyas…” Rizal
kembali memamerkan senyum manis dan lesung pipit yang langsung membuatku
terpesona. Ah, apakah ini namanya cinta pada pandangan pertama?
“Eh masuk kelas yuks…” aku
berjalan di samping Sisil, sedangkan Rizal berada di belakang kami saat masuk
kelas.
*
Aku mulai menunggu
saat-saat kursus bahasa Perancis tiba. Hari Selasa dan Jumat sore adalah hari yang
selalu aku nantikan. Semangatku jadi dobel, antara pengin belajar bahasa
Perancis dan ketemu Rizal. Aku berencana melakukan pedekate padanya. Aku merasa cocok dengannya. Aku senang bisa
menghabiskan waktu mengobrol dengan Rizal sebelum masuk kelas. Dengan Rizal,
aku bisa membicarakan apa saja, tentang musik, film, dan hal-hal menyenangkan
lainnya. Aku yakin Rizal belum punya pacar. Sore ini aku sudah tidak sabar
meneruskan obrolan kami beberapa hari yang lalu tentang film.
“Tyas!” Rizal duduk didepan
kelas saat aku baru tiba dilantai 4.
“Hai Zal!” dengan sigap aku
berjalan menghampiri Rizal lalu duduk disampingnya.
“Ini buat kamu…” Rizal
mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Aku menerima beberapa majalah yang
diberikan Rizal kepadaku.
“Apa ini Zal?”
“Majalah film.”
“Wah makasih Zal.”
“Sama-sama.”
Kami mulai mengobrol.
Sebuah sms masuk ke
ponselku. Sebuah pesan dari Sisil. “Tyas,
sepertinya naksir Rizal!”
Jantungku mulai berdegup tak karuan.
“Tyas…oiii…Tyas!”
“Oh… e… hmm… iya, Zal…”
“Serius amat baca smsnya…hayooo
dari siapa?”
“Eh...ini… dari Sisil.”
“Sisil?” Eh, kenapa wajah
Rizal seketika bersemu merah saat menyebut nama Sisil?
“Sisil nggak masuk kan, hari ini?”
“Masa? Sisil nggak bilang
kalau dia ga masuk.”
“Waktu tadi siang aku mengantar
Sisil pulang, dia bilang kalau sore ini nggak masuk.”
“Kamu nganterin Sisil
pulang?” aku melihat lagi rona merah di wajah Rizal. Oh tidak! Rizal dan Sisil ternyata
saling suka! Nyaliku untuk melakukan pedekate
dengan Rizal seketika menciut. Asmaraku berawal di lantai empat, dan sepertinya
akan berakhir pula di lantai empat.
“Iya, siang tadi aku
menjemput Sisil ke sekolahnya, lalu mengantar dia pulang.” Rizal tersipu malu.
Ow, ow. Rizal. Gue. End!
“Tyas, aku pengin ngajakin kamu diskusi
film, nih! Mau nggak nanti habis kursus?”
Aku memandangi Rizal. Oh, aku terlalu
jauh membayangkan. Ternyata Rizal dan aku belum end. Dia memang naksir Sisil. Tapi dia masih teman yang
menyenangkan.
Aku mengangguk mantap. Siap-siap
menikmati obrolan sore nanti dengan Rizal. Hmm, ini berarti kemungkinan untuk pedekate masih ada, kan? ***
# My Percikan, MAJALAH
GADIS No. 15 ● XL ● 31 Mei-10 Juni 2013