GARA-GARA COKLAT
Aku
diam-diam masuk ke dalam rumah saat pulang sekolah siang ini. Setelah
memastikan Ibu sedang berada di dapur, dan adikku bermain di halaman belakang,
aku langsung melesat masuk ke dalam kamar.
Senyumku
mengembang saat membuka tas sekolah. Diantara buku-buku dan alat tulis di dalam
tas, ada sesuatu di dalam tas plastik berwarna hijau yang membuatku tidak sabar
untuk membukanya.
Suara tiba-tiba langkah Ibu yang
berjalan di depan kamar, membuatku mengurungkan niat untuk mengambil sesuatu
dari dalam dalam tas hijau itu.
Pintu kamarku diketuk.
“Tasya…” Terdengar suara Ibu dari
balik pintu.
“Ya Bu…”
Ibu membuka pintu kamar yang memang
tidak terkunci.
“Kamu sudah pulang sekolah?”
“Sudah Bu…”
“Kok Ibu tidak tahu kamu sudah
pulang, tadi tidak salam ya saat masuk rumah?”
“Hehe… Iya Bu, lupa.” Maaf Ibu, aku
berbohong, padahal aku memang sengaja tidak mengucapkan salam seperti biasanya
saat aku tiba di rumah. Aku kan memang tidak ingin Ibu ataupun Wawan, adikku
tahu kalau aku sudah pulang.
“Ya sudah, ganti baju sekolah kamu,
terus makan ya. Ibu sudah siapkan makan siang.”
“Iya Bu…”
Ibu menutup pintu kamar, dan aku
kembali membuka tas sekolah. Aku mengambil tas plastik warna hijau perlahan
supaya tidak menimbulkan suara berisik, jaga-jaga kalau Ibu masih berdiri di
depan pintu kamarku.
Senyumku kembali mengembang saat
membuka tas plastik hijau. Coklat batangan berjumlah dua batang porsi jumbo
siap untuk aku santap hari ini!
Ah,
senangnya!
*
Ibu sudah sering bilang kalau aku
tidak boleh banyak makan coklat, kata Ibu gigiku bisa sakit. Namun siapa yang
bisa menahan godaan untuk menyantap makanan lezat itu? Aku memang sengaja
menyisihkan uang jajanku untuk membeli coklat batangan di minimarket dekat
sekolah, karena aku suka sekali dengan coklat itu.
“Kamu mau mampir ke minimarket
lagi?” Siang ini, seperti biasa, aku pulang sekolah bersama Sari, teman satu
kelas yang rumahnya satu komplek dengan rumahku. Jarak antara sekolah dan rumah
memang tidak terlalu jauh, aku hanya membutuhkan waktu sekitar 10 sampai 15
menit dengan berjalan kaki.
“Iya. Kamu mau menemaniku ke
minimarket, atau mau langsung pulang Sari?”
“Aku temani kamu ya…”
“Asyik… Terimakasih Sari…”
“Sama-sama Tasya… Aku juga ingin
membeli sesuatu di minimarket.”
“Beli apa? Coklat juga?”
“Bukan… aku tidak terlalu suka
coklat.”
“Coklat kan enak.”
“Iya, memang enak, tapi aku pernah
sakit gigi karena kebanyakan makan coklat, dan rasanya sakit sekali…”
“Ah, masa?”
“Iya… sakit gigi itu rasanya tidak
enak!”
“Eh, sudah sampai minimarket, ayo
kita masuk ke dalam Sari.”
“Ayo.”
Aku dan Sari masuk ke minimarket.
Sari bilang dia akan membeli roti isi keju.
*
Selesai mengerjakan tugas
matematika, aku teringat coklat batangan yang aku beli siang tadi di
minimarket. Sekarang saatnya menikmati makanan kesuakaanku!
Baru akan mengeluarkan coklat dari
tas plastik warna hijau, pintu kamarku diketuk.
Aku buru-buru memasukkan coklat di
laci meja belajar.
Aku membuka pintu kamar, ternyata
Wawan adikku yang masih duduk di Taman Kanak-kanak.
“Ada apa Wawan?”
“Wawan mau pinjam pensil Kak Tasya.”
“Oh, sebentar ya, Kakak ambilkan.”
“Iya Kak.”
Aku membuka laci meja belajar dan
tanpa sengaja tas plastik hijau berisi coklat ikut ketarik dan jatuh ke lantai.
“Apa itu Kak?”
“Ah, bukan apa-apa…”
Wawan mendekat kemudian berdiri
disampingku yang sedang mengambil plastik hijau di lantai.
“Apa itu Kak?” Wawan menunjuk tas
plastik ditanganku.
“Sudah Kakak bilang bukan apa-apa.”
“Kakak kok marah-marah…” Wawan
cemberut.
“Kakak engga marah… jadi pinjam
pensil tidak?”
“Jadi…”
Aku mengambil pensil dari dalam laci
meja belajar dan menyerahkannya pada Wawan.
“Kak itu apa?” Wawan masih juga
bertanya isi plastik hijau yang masih berada ditanganku.
“Sudah Kakak bilang tidak apa-apa
Wawan… sudah sana, Kakak mau meneruskan belajar.”
“Iya Kak…”
Wawan berlalu dan menutup pintu
kamarku.
Saatnya melahap coklat!
*
Aku membuka mata. Kenapa gigiku
terasa ngilu?
“Ibu…. Ibu…” aku berlari keluar
kamar berteriak memanggil Ibu.
“Ada apa Tasya?” Ibu keluar dari
dapur tergesa menuju ke arahku.
“Gigi Tasya sakit sekali…” Aku
memegang pipi kiriku.
“Kamu sakit gigi Tasya?”
Aku meringis menahan sakit di gigiku
yang terasa ngilu.
“Ya ampun itu kok ada tikus keluar
dari kamar kamu sambil membawa bungkusan apa itu?”
Aku melihat tikus yang berlari
menuju ke arah ruang tamu.
“Itu… coklat Tasya…”
“Coklat? Kamu makan coklat?”
“Iya Bu…” Aku tertunduk, tidak
berani menatap Ibu.
“Jadi coklat yang menyebabkan kamu
sakit gigi Tasya…”
Aku mengangguk lemah.
“Kamu gosok gigi tidak semalam
sebelum tidur?”
Aku menggeleng.
“Nah, itu… sudah makan coklat, tidak
gosok gigi lagi…”
Ibu membelai rambutku.
“Maafkan Tasya Bu…”
“Ibu tidak melarang kamu makan
coklat Tasya, asalkan tidak keseringan,dan jangan lupa mengosok gigi jika akan
tidur.”
“Iya Bu… Tasya menyesal sudah banyak
makan coklat beberapa hari ini.”
“Iya Tasya…”
“Tasya juga menyesal telah membuang
sisa coklat sembarangan di bawah kolong tempat tidur, sehingga menyebabkan
tikus masuk ke dalam kamar dan berkeliaran di rumah…”
“Iya Tasya tidak apa-apa…” Ibu
memegang kedua pipiku.
“Maafkan Tasya ya Ibu…”
“Iya Tasya.”
Aku menangis di pelukan Ibu.
“Sudah jangan menangis, nanti kita
ke dokter gigi ya, sekarang kamu berkumur air hangat dicampur garam dulu ya…
supaya ngilu gigi kamu berkurang.”
“Iya Bu…”
“Hari ini kamu tidak usah masuk
sekolah dulu ya, biar Ibu tuliskan surat izin.”
“Iya Bu…Terimakasih.”
“Iya Tasya…”
Benar kata Sari, sakit gigi itu
tidak enak rasanya. Aku janji tidak akan makan coklat banyak-banyak lagi, dan
tidak menaruh coklat sisa di sembarang tempat lagi. Aku juga akan rajin mengosok
gigi, dan yang terpenting aku akan berbagi coklat dengan Wawan, adik
kesayanganku. ***