Rabu, 06 Februari 2019

Cerpen - Gara Gara Coklat



GARA-GARA COKLAT

Aku diam-diam masuk ke dalam rumah saat pulang sekolah siang ini. Setelah memastikan Ibu sedang berada di dapur, dan adikku bermain di halaman belakang, aku langsung melesat masuk ke dalam kamar.
Senyumku mengembang saat membuka tas sekolah. Diantara buku-buku dan alat tulis di dalam tas, ada sesuatu di dalam tas plastik berwarna hijau yang membuatku tidak sabar untuk membukanya.
            Suara tiba-tiba langkah Ibu yang berjalan di depan kamar, membuatku mengurungkan niat untuk mengambil sesuatu dari dalam dalam tas hijau itu.
            Pintu kamarku diketuk.
            “Tasya…” Terdengar suara Ibu dari balik pintu.
            “Ya Bu…”
            Ibu membuka pintu kamar yang memang tidak terkunci.
            “Kamu sudah pulang sekolah?”
            “Sudah Bu…”
            “Kok Ibu tidak tahu kamu sudah pulang, tadi tidak salam ya saat masuk rumah?”
            “Hehe… Iya Bu, lupa.” Maaf Ibu, aku berbohong, padahal aku memang sengaja tidak mengucapkan salam seperti biasanya saat aku tiba di rumah. Aku kan memang tidak ingin Ibu ataupun Wawan, adikku tahu kalau aku sudah pulang.
            “Ya sudah, ganti baju sekolah kamu, terus makan ya. Ibu sudah siapkan makan siang.”
            “Iya Bu…”
            Ibu menutup pintu kamar, dan aku kembali membuka tas sekolah. Aku mengambil tas plastik warna hijau perlahan supaya tidak menimbulkan suara berisik, jaga-jaga kalau Ibu masih berdiri di depan pintu kamarku.
            Senyumku kembali mengembang saat membuka tas plastik hijau. Coklat batangan berjumlah dua batang porsi jumbo siap untuk aku santap hari ini!
Ah, senangnya!
*
            Ibu sudah sering bilang kalau aku tidak boleh banyak makan coklat, kata Ibu gigiku bisa sakit. Namun siapa yang bisa menahan godaan untuk menyantap makanan lezat itu? Aku memang sengaja menyisihkan uang jajanku untuk membeli coklat batangan di minimarket dekat sekolah, karena aku suka sekali dengan coklat itu.
            “Kamu mau mampir ke minimarket lagi?” Siang ini, seperti biasa, aku pulang sekolah bersama Sari, teman satu kelas yang rumahnya satu komplek dengan rumahku. Jarak antara sekolah dan rumah memang tidak terlalu jauh, aku hanya membutuhkan waktu sekitar 10 sampai 15 menit dengan berjalan kaki.
            “Iya. Kamu mau menemaniku ke minimarket, atau mau langsung pulang Sari?”
            “Aku temani kamu ya…”
            “Asyik… Terimakasih Sari…”
            “Sama-sama Tasya… Aku juga ingin membeli sesuatu di minimarket.”
            “Beli apa? Coklat juga?”
            “Bukan… aku tidak terlalu suka coklat.”
            “Coklat kan enak.”
            “Iya, memang enak, tapi aku pernah sakit gigi karena kebanyakan makan coklat, dan rasanya sakit sekali…”
            “Ah, masa?”
            “Iya… sakit gigi itu rasanya tidak enak!”
            “Eh, sudah sampai minimarket, ayo kita masuk ke dalam Sari.”
            “Ayo.”
            Aku dan Sari masuk ke minimarket. Sari bilang dia akan membeli roti isi keju.
*
            Selesai mengerjakan tugas matematika, aku teringat coklat batangan yang aku beli siang tadi di minimarket. Sekarang saatnya menikmati makanan kesuakaanku!
            Baru akan mengeluarkan coklat dari tas plastik warna hijau, pintu kamarku diketuk.
            Aku buru-buru memasukkan coklat di laci meja belajar.
            Aku membuka pintu kamar, ternyata Wawan adikku yang masih duduk di Taman Kanak-kanak.
            “Ada apa Wawan?”
            “Wawan mau pinjam pensil Kak Tasya.”
            “Oh, sebentar ya, Kakak ambilkan.”
            “Iya Kak.”
            Aku membuka laci meja belajar dan tanpa sengaja tas plastik hijau berisi coklat ikut ketarik dan jatuh ke lantai.
            “Apa itu Kak?”
            “Ah, bukan apa-apa…”
            Wawan mendekat kemudian berdiri disampingku yang sedang mengambil plastik hijau di lantai.
            “Apa itu Kak?” Wawan menunjuk tas plastik ditanganku.
            “Sudah Kakak bilang bukan apa-apa.”
            “Kakak kok marah-marah…” Wawan cemberut.
            “Kakak engga marah… jadi pinjam pensil tidak?”
            “Jadi…”
            Aku mengambil pensil dari dalam laci meja belajar dan menyerahkannya pada Wawan.
            “Kak itu apa?” Wawan masih juga bertanya isi plastik hijau yang masih berada ditanganku.
            “Sudah Kakak bilang tidak apa-apa Wawan… sudah sana, Kakak mau meneruskan belajar.”
            “Iya Kak…”
            Wawan berlalu dan menutup pintu kamarku.
            Saatnya melahap coklat!
*
            Aku membuka mata. Kenapa gigiku terasa ngilu?
            “Ibu…. Ibu…” aku berlari keluar kamar berteriak memanggil Ibu.
            “Ada apa Tasya?” Ibu keluar dari dapur tergesa menuju ke arahku.
            “Gigi Tasya sakit sekali…” Aku memegang pipi kiriku.
            “Kamu sakit gigi Tasya?”
            Aku meringis menahan sakit di gigiku yang terasa ngilu.
            “Ya ampun itu kok ada tikus keluar dari kamar kamu sambil membawa bungkusan apa itu?”
            Aku melihat tikus yang berlari menuju ke arah ruang tamu.
            “Itu… coklat Tasya…”
            “Coklat? Kamu makan coklat?”
            “Iya Bu…” Aku tertunduk, tidak berani menatap Ibu.
            “Jadi coklat yang menyebabkan kamu sakit gigi Tasya…”
            Aku mengangguk lemah.
            “Kamu gosok gigi tidak semalam sebelum tidur?”
            Aku menggeleng.
            “Nah, itu… sudah makan coklat, tidak gosok gigi lagi…”
            Ibu membelai rambutku.
            “Maafkan Tasya Bu…”
            “Ibu tidak melarang kamu makan coklat Tasya, asalkan tidak keseringan,dan jangan lupa mengosok gigi jika akan tidur.”
            “Iya Bu… Tasya menyesal sudah banyak makan coklat beberapa hari ini.”
            “Iya Tasya…”
            “Tasya juga menyesal telah membuang sisa coklat sembarangan di bawah kolong tempat tidur, sehingga menyebabkan tikus masuk ke dalam kamar dan berkeliaran di rumah…”
            “Iya Tasya tidak apa-apa…” Ibu memegang kedua pipiku.
            “Maafkan Tasya ya Ibu…”
            “Iya Tasya.”
            Aku menangis di pelukan Ibu.
            “Sudah jangan menangis, nanti kita ke dokter gigi ya, sekarang kamu berkumur air hangat dicampur garam dulu ya… supaya ngilu gigi kamu berkurang.”
            “Iya Bu…”
            “Hari ini kamu tidak usah masuk sekolah dulu ya, biar Ibu tuliskan surat izin.”
            “Iya Bu…Terimakasih.”
            “Iya Tasya…”
            Benar kata Sari, sakit gigi itu tidak enak rasanya. Aku janji tidak akan makan coklat banyak-banyak lagi, dan tidak menaruh coklat sisa di sembarang tempat lagi. Aku juga akan rajin mengosok gigi, dan yang terpenting aku akan berbagi coklat dengan Wawan, adik kesayanganku. ***


> Cerpen ini pernah dikirimkan di Majalah Bobo, namun tidak dimuat






Jumat, 25 Januari 2019

My January

Aloha! Suasana mendung semi gerimis gini, corat-coret blog sajalah, hehe...
Well, Alhamdulillah, rasanya senang sekali bisa merampungkan tulisan fiksi, dan mengirimkannya ke penerbit :D semoga nanti akan mendapatkan kabar baik selanjutnya dari Gramedia Pustaka Utama ya, amin. Saat mendapatkan respon email balasan atas naskah yang dikirimkan ke GPU, rasanya senang :) Sudah sejak lama ingin mengirimkan naskah ke GPU, dan baru bisa diwujudkan sekarang, yay! 
Naskah 100+ lembar, tulisan naskah panjang pertama yang sedang saya perjuangkan ini, tentu membutuhkan ide dan inspirasi dalam menulisnya. So, terimakasih inspirasi, sudah menorehkan lembaran lembaran cerita ❤❤❤
Bismillah...
Ah, iya, mau cerita-cerita juga tentang film yang kemarin saya tonton di bioskop, yaitu Orang Kaya Baru. Film pertama yang saya tonton di tahun 2019 ini, yay! Film yang dibintangi oleh aktris dan aktor yang jago dalam berakting ini memang kece parah! Gokil!!! Filmnya itu lucu, sweet, dan apa ya... baguslah hehehe... 
Jalan cerita filmnya yang mengalir dengan baik memang tidak diragukan lagi sih kalau penulisnya seorang Joko Anwar, hahaha! Idolaaaak!!! :D buktikan sendiri deh kalau filmnya memang bagus dengan menontonnya di bioskop :)
Baiklah, semoga akhir pekannya menyenangkan ya :) Hujan yang mulai menderas sore-sore begini, enak kali ya minum minuman hangat plus ngemil, hahahaha.... naik, naik deh tuh timbangan :p
Happy Friday!

Senin, 10 Desember 2018

Masih Tentang Film

Happy Monday!
Hah, ngobrolin film lagi ah...
Hmmm... Mau cerita-cerita tentang JAFF yang diselenggarakan beberapa waktu lalu ah :) 
Seperti biasa, dalam beberapa tahun terakhir ini saya tidak melewatkan acara JAFF. Meskipun tidak menonton semua film yang diputar di JAFF, bahkan hanya beberapa film saja, namun tetap senang bisa menjadi bagian dari penonton film JAFF.
Tahun ini saya menonton dua film yaitu film Sultan Agung dan Love is A Bird. Satu film incaran yang tidak berhasil ditonton adalah film Ave Maryam. Sedih juga pas ga kebagian tiket ots film itu. Pas datang ke Empire, antrian sudah membludak! Yah, semoga nanti mendapat kesempatan untuk menonton film Ave Maryam ya :)
Ada satu lagi acara yang saya ikuti di JAFF yaitu Public Lecture "Classic Asian Film". Senang bisa mengikuti acara tersebut, karena pengetahuan tentang film kembali bertambah. Sempat juga menonton pamerannya JAFF di Jogja National Museum. 
Datang ke acara film memang bikin greget ya, apalagi kalau ada hal-hal menarik yang bisa kita dapatkan dalam acara tersebut. As JAFF ini misalnya. Film Love is A Bird, tayang perdana di JAFF, dan senang bisa mendapatkan kesempatan menonton film dengan setting kota Jogja itu :) 
Sedangkan film Sultan Agung sudah pernah ditayangkan di bioskop, namun belum sempat menonton, dan senang bisa mendapatkan kesempatan menonton film tersebut di JAFF.
Masih soal film nih... Semalam menonton acara FFI di televisi, dan senang sekali idola akuh, Nicolas Saputra keluar sebagai pemenang kategori pemeran pendukung pria terbaik di film Aruna Dan Lidahnya. Wohoooooo!!!  
Yah menonton film itu memang menyenangkan :) kaya kalau ketemu kamu gitulah... menyenangkan *eeaaaaaa ;p
Baiklaaah... Selamat menonton film favorit! :)


Sabtu, 17 November 2018

Nonton Film

Hey, November... 
Siang-siang dengan terik matahari yang menyengat beberapa hari belakangan ini, setelah beberapa waktu lalu Jogja diguyur hujan, ya tetap terasa menggembirakan :) Alhamdulillah, hujan dan panas tetap disyukurin dunk ya :D
Corat-coret blog dulu... ngomongin film ah! Ya, kaya lagunya Sheila On 7 itu, Film Favorit, "... sama seperti di film favoritku, semua cara akan kucoba..." Ah, lagu yang keceh!
Suka film apa? Kalau saya sih suka drama, komedi... asal ga horor, atau film-film "berdarah" gitu deh, takuuutttt...hehehe...
Seriusan, waktu trailer film Suzzanna mulai beredar di sosial media, sok-sok an dunk nonton, dan asli, langsung kebawa sampai mimpi, hadewww :( Iya, dari dulu kalau nonton film horor itu hawanya ga asyik gitu, takut aja :( Jadilah, mau film horor dibintangi oleh bintang film kesukaan, terpaksa ga nonton deh...
Beberapa hari lalu saya nonton film "Hanum Rangga", secara ada si Rio Dewanto kesukaan di film itu hahahaha! Dan memang, Rio Dewanto yang berperan sebagai Rangga, bikin baper deh, ya Allah sisain satu untukku yang begitu *uhuk* :p ya, gimana ya, kalau punya pasangan like Rio Dewanto as Rangga, ya termehek-mehek pastilah hehehehe... udah cute, sayang istri, baik hati, sosok sempurna untuk pendamping hidup... hasyeeekkk! :D
Yang juga mencuri perhatian di film Hanum Rangga adalah sosok Sam, yang diperankan oleh Alex Abbad, kece bangeettt! Alex Abbad gokil! Bikin film lebih "hidup". Ya seru juga latar belakang filmnya yang berlokasi di New York. Secara belum pernah ke New York ya, jadi seru aja lihatnya hihihi... :O
Jadi pas nonton Hanum Rangga itu, pas hari perdana pemutaran film Suzzana di bioskop. Udah mau batal nonton karena antrian yang panjang, jadi gini nih yang ada di fikiran, kalau sampai jam yang ditentukan untuk pemutaran film masih antri, ya cabutsss.... Eh, syukurlah, antrinya yang kurang lebih 20 menitan, bisa "tembus". Terus pas selesai nonton film dunk... itu antrian di loket bioskop untuk film Suzzana masih aja ramai! Luar biasaaa!!! Film horor itu memang punya "magnet" ya :) Yang sanggar sih kalau nonton film horor sendirian, dan itu terjadi dunk pada seorang ibu-ibu gaol yang antri didepan saya, beliau nonton Suzzana sendirian! Paraaahh!!! Ya, kalau saya sih sering (banget) nonton film sendirian, tapi kalau film horor nonton sendirian, meskipun didalam gedung bioskop nanti juga banyak temannya, tapi tetep serem ga sih hehehe...
Nonton bioskop sendirian itu menyenangkan kok, kita jadi bisa berkonsentrasi penuh terhadap film yang memang benar-benar ingin kita tonton :) Nonton film bareng keluarga, teman, atau pasangan ga kalah seru juga :D
Film-film favorit yang beneran pengen kita tonton itu memberikan efek yang menyenangkan looh... Ya, film favorit itu kan bisa datang dari aspek apa saja ya, misalnya bintang film kesukaan, jenis genre film yang disuka, atau karena sutradara filmnya yang jadi kesukaan :) apapun itu, pastikan nonton film yang memang beneran pengen ditonton. Kan sayang, sudah mengeluarkan uang untuk nonton bioskop, terus ga suka sama filmnya, hikssss :((( Ya, kecuali dapet tiket gratisan, atau ditraktir nonton, haiyukslah, hahahaha! :p
So, sudah berencana nonton film apa? Film dalam negri banyak yang bagus looh, secara saya memang lebih sering nonton film Indonesia sih dibanding film luar :D
Tahun depan akan ada banyak film Indonesia yang siap untuk dinikmati. Wohoooo!!! InsyaAllah, rezeki buat nonton film favorit bakal ada aja ya, amin :) Akan ada Rio Dewanto lagi nih di film Gundala yang tayang tahun depan, hehehehe.... Meskipun bukan sebagai pemeran utama di film tersebut, at least ada Rio-nya lah :) 
Well, selamat menonton film favorit! Pasti langsung senyum-senyum sendiri pas keluar dari bioskop, hahahaha!
Happy Saturday :)

Selasa, 30 Oktober 2018

Jalani Hari

Whooppsss, sudah di penghujung Oktober aja nih, corat-coret blog dululah...
Well, mau ngomongin tentang menulis cerita ah... 
Nulis cerita buat saya adalah sesuatu yang menyenangkan, menggembirakan, dan mengasyikkan. Menulis cerita, seperti menulis cerpen, adalah kegiatan yang seru mengharu biru... Nantinya, cerpen tersebut akan dikirimkan pada sebuah kompetisi menulis, dikirimkan ke majalah, atau hanya disimpan saja di dalam file, tetap saja rasanya melekat di hati dan jiwa.
Jika sudah mengirimkan cerpen ke sebuah lomba, dan belum menang, rasanya memang sedih. Namun, terus menulis saat mendapatkan ide itu rasanya nagih banget! Mengirimkan cerpen ke Majalah, dan belum dimuat, memang bikin kecewa. Namun semangat untuk terus membuat karya itu membuat hari lebih indah. 
Tidak mudah memang ketika karya kita, sebuah usaha yang sudah dibuat dengan sepenuh hati, jiwa, dan raga, menjadi harapan kita untuk terus mengembangkan diri, pada akhirnya diacuhkan, diabaikan, dan ditolak. Kalau kata Neng Cita Citata mah, sakitnya tuh disini! Hohoho... Ya tapi itu tadi, kalau menulis sudah menjadi soulmate, rasanya tetap terasa menyenangkan bisa merangkai kata demi kata untuk menjadi sebuah cerita, sebuah karya.
Ide yang terus bertahan di kepala itu memang mengasyikkan jika dituangkan. Ya, misalnya, dalam urusan tulis menulis cerita itu. Ketika ide mengalir dengan deras, rasanya sayang untuk diabaikan begitu saja. 
Sekarang nih, rasanya girang banget saat mengetahui tulisan cerita yang saya buat sudah memasuki halaman 60+ kyaaaaaaa!!!! Ya, ceritanya lagi belajar bikin novel gitu... Ihiiiyyy :)
Pernah juga mencoba menulis naskah untuk film pendek, dan naskah drama, pada taraf belajar secara otodidak sih... meskipun belum dibuat jadi film pendek, atau naskah drama belum dipentaskan, namun rasanya tetap bahagia saja :) Tentu harapannya karya tersebut bisa dipertontonkan di khalayak ya... amin ya Allah :)
Ya, apapun kegiatan yang disuka, memang sebaiknya terus dilakukan, supaya tetap bahagia dalam menjalani hari. Seperti menulis nih misalnya... menulis diary juga seru looh :) kegiatan menulis diary sudah saya lakukan sejak Sekolah Dasar, dan sampai sekarang saya masih melakukan kegiatan tersebut! Hahahaha... Kalau suka memasak, merangkai bunga misalnya, ya lakukan saja. Sungguh, melakukan hal yang disuka itu membahagiakan kok.
Baiklah... selamat menikmati siang yang terik :)   

Jumat, 28 September 2018

Film Aruna Dan Lidahnya itu...


Pagi-pagi sudah corat coret blog aja nih hehehe… Gara-gara Nicolas Saputra nih, semangat corat-coret langsung membahana J
Why Nicolas Saputra? Karena film Aruna Dan Lidahnya, yang saya tonton kemarin. Yay!
Sejak tahu kalau Nicolas akan main di film Aruna Dan Lidahnya, langsung ga sabar pengen nonton filmnya. Dan, kemaren, saat hari pertama pemutarannya di bioskop, langsung nonton dunk… *eeaaaa
Film Aruna Dan Lidahnya itu sweet banget J saya pernah baca novelnya, tapi agak lupa-lupa inggat dengan ceritanya. Secara itu novel dulu pas baca dipinjemin sama teman, jadi ya ga sempet baca ulang pas mau nonton hehehe… Terus, pas kemarin nonton filmnya, langsung ingget sama ceritanya.
Aruna Dan Lidahnya bercerita tentang 4 tokoh utama dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda, tapi ada satu yang menyatukan mereka, yaitu makanan! Melihat film Aruna Dan Lidahnya, berasa lidah kita dimanjakan oleh makanan yang tersaji, meskipun ya hanya lewat layar bioskop, tapi berasa kita “ikut melahap” makanan yang tersaji itu. Beberapa makanan Nusantara tersaji di film ini. Yummy!
Cerita tentang cinta yang tersaji di film Aruna Dan Lidahnya itu manis banget digambarkannya. Dan yang menyenangkan itu, pada akhirnya masing-masing tokoh bisa bersama dengan orang yang disayang, yang memang mereka inginkan berada di sisi mereka, so sweet! Cerita persahabatan antara Bono dan Aruna yang diperankan oleh Nicolas Saputra dan Dian Sastro mengalir dengan baik. Well, mungkin ga harus yang ‘sahabat jadi cinta’ ya hahahahaha! Selain itu juga ada cerita lain tentang korupsi dari sebuah kasus besar yang pernah terjadi di Negri ini. Cerita yang campur-campur, dengan kemasan yang indah.
Nicolas Saputra di Aruna Dan Lidahnya berperan sebagai chef, dan itu kece banget! Suka, suka, suka :D jadi ngebayangin gimana kalau dimasakin sama Nico, wah ga bakal dimakan kali itu makanan, disimpen saja hihihi…
Hmmm…. Aruna dan Lidahnya film yang bagus, dengan setting beberapa daerah di Indonesia, seperti Surabaya, Madura, Singkawang, Pontianak, membuat kita berasa keliling Nusantara. Indonesia indah J
Baiklah, selamat menonton film ya, apapun genre film favorit, ya tonton. Rezeki buat nonton film mah insyaAllah ada aja ya J  yukslah, ke bioskop dan dukung film dalam negri J
Happy Friday!  

Rabu, 19 September 2018

Film Crazy Rich Asians Itu...



Ngomongin film plus corat-coret blog ah :D
Yups, karena penasaran dengan film Crazy Rich Asians yang nge-hits itu, akhirnya kemarin memutuskan untuk menonton film fenomenal itu. Sudah sempat membaca beberapa lembar novelnya sih, pinjaman dari Tante hehehe… Awalnya niat banget baca, namun kok agak pe-er juga pas ngeliat novelnya yang “tebal” itu hihihi…  
Lalu, akhirnya novelnya diangkat menjadi film pada kemudian hari. Berhubung sudah punya sedikit gambaran, jadi ya bisa sedikit membayangkan filmnya pasti akan se”kece” itu dalam menggambarkan “rich peoples” itu. Dan, ternyata ya beneran terpukau sih dengan kehidupan horang-horang kayah yang ada di dalam film.
Memang, ceritanya “Cinderela” versi kekinian dengan balutan Asia, kalau menurut saya sih J cerita seorang wanita yang bukan dari kelas atas, yang dicintai oleh pria tampan dari kalangan high class. Dengan bumbu-bumbu cerita lain dari yang bukan tokoh utama, yang cukup bikin jalan cerita film jadi kuat. Hmmm… hampir samaan juga kali ya sama film Pretty Woman, yang pria kaya jatuh cinta dengan wanita biasa, cuman ya dengan jalan cerita yang beda.  
Bagi wanita (mungkin ga semuanya sih), mimpi untuk bersanding dengan pria tampan yang punya kehidupan mapan memang jadi idaman banget. Dan, cerita klasik seperti itu memang jadi tontonan yang bikin mehek-mehek, apalagi dengan bumbu-bumbu yang bikin cerita semakin ciamik. Ga dipungkiri, saya juga senang menikmati cerita yang seperti itu hahaha…
Nonton film Crazy Rich Asians itu rasanya termehek-mehek, dengan segala yang disajikan di film tersebut. Kisah romantis, lagu menyentuh, pemain film yang ganteng dan cantik, dan hal-hal yang berbau “rich” tadi. Meskipun mikir juga, ini bakal kejadian ga ya di dunia nyata? Well, bisa saja, bisa banget sih, I think, money can buy anything babeh! J
Kehidupan glamour yang ditampilkan di film Crazy Rich Asians memang ada dan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Menilik hastek di Twitter #CrazyRichSurabayan atau #CrazyRichKalimantan, seakan bikin menohok. Ampun deh, ternyata orang-orang kaya dengan kehidupan jetset itu nyatanya ada. Luar biasa! Memang, pada akhirnya meme juga muncul seperti #CrazyPoorAsians atau #CrazyRichBekasi, yang bikin tertawa ngakak saat baca, lalu miris, lha ini hawa-hawanya kaya bercermin, hahahaha…
Menonton film itu memang mengasyikkan, apalagi film-film yang memang kita ingin tonton, dengan genre yang disukai. Terkadang memang ada rasa kecewa ya kalau udah dengan ekspetasi tinggi, yakin banget bahwa film yang akan kita tonton itu bagus, namun ternyata saat menonton tidak sesuai dengan yang dibayangkan. Kalau untuk film Crazy Rich Asians sih… sesuai dengan ekspetasi sih J meskipun mikir, ini apa iya bakal kejadian di dunia guweh? Hahaha, ngarep (pakai banget)! :p
Baiklah… selamat menikmati film ya, karena nonton film favorit itu bikin bahagia kok J
Mari, lewati sore…
  

Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...