Aku memandangi diary berwarna biru dengan sampul Minnie Mouse yang diberikan Nona
kepadaku, saat siang tadi aku menunggu bus di halte depan sekolah. Dengan jantung
berdebar aku mulai membaca halaman per halaman diary biru berisi puisi-puisi yang ditulis Nona. Perfect! Aku suka sepuluh puisi indah
itu! Aku akan sangat berterimakasih pada Nona, atas apa yang sudah dia lakukan
pada diary biru ini.
“Haloo…” suara Nona diujung
telepon terdengar renyah.
“NONA!!!”
“Sttttt… ini sudah malam Sekar, jangan teriak-teriak…”
“Ops! Maaf…” aku menurunkan volume suaraku. “Aku sudah baca diary birunya.”
“Gimana? Kamu suka?”
“Suka banget! Makasih ya…”
“Sama-sama Sekar.”
“Sesuai janjiku, besok aku
traktir steak kesukaan kamu, boleh
pesen ice cream juga, boleh sama
kentang goreng juga, boleh…”
“Stooopp!! Jangan bikin aku pengen makan steak sekarang juga!”
Aku tertawa cekikikan.
“Sampai bertemu besok ya……”
“Oke deh… makasih ya
Sekar.”
“Sama-sama. Bye!”
Aku memandangi kembali diary biru itu. Senyumku semakin
mengembang saat wajah Awan mulai terbayang. Entah sejak kapan aku mulai jatuh
hati dengan Awan, mungkin sejak aku sering mengobrol dengan Awan. Awan yang
baik, Awan yang menyenangkan, Awan yang cute.
Diary berwarna biru itu membawa sejuta
harapan didalam hatiku.
*
Aku tidak tahu mengapa akhir-akhir
ini Nona sering menghindariku. Setelah kami makan steak bersama beberapa hari yang lalu, Nona mulai bersikap aneh.
Saat kami bertemu di kantin, dia pura-pura tidak melihatku. Saat kami
berpapasan di halaman sekolah, Nona tidak membalas senyumku, padahal jelas-jelas
kami saling bertatapan. Aku tidak tahu mengapa Nona bisa berubah sikap seperti
itu. Semoga hari ini aku menemukan jawabannya.
“Nona… tunggu!” aku
langsung berteriak memanggil Nona, saat dia baru saja keluar kelas. Nona
memandang sekilas kearahku, lalu buru-buru berjalan menjauhiku.
“NONA!” teriakanku semakin kencang.
Aku tidak peduli dengan teman-teman sekelas Nona yang mulai memandangiku.
Nona berhenti, berbalik
badan, dan kami berdiri berhadapan.
“Ada apa Sekar?”
“Akhirnya kamu mau bicara
denganku! Aku telpon ga diangkat, aku sms ga dibalas, setiap kali kita bertemu
kamu seperti menghindariku. Seharusnya aku yang bertanya sama kamu, ada apa
Nona?”
“Tidak ada apa-apa.”
“Bohong! Kalau tidak
apa-apa kenapa kamu menghindariku?”
“Kamu yang bohong!” Nona
menatapku tajam.
“Aku? Bohong?”
“Memberikan puisi pada Awan
melalui diary biru itu adalah sebuah
kebohongan Sekar.”
“Aku belum memberikannya
pada Awan. Kamu benar, jika aku memberikan puisi itu pada Awan, aku sudah
melakukan kebohongan.
Nona diam. Matanya mulai
berkaca-kaca.
“Maafkan aku Sekar, tapi
aku harus jujur sama kamu.”
“Ada apa Nona?”
“Puisi itu… puisi yang kamu
minta untuk diberikan pada Awan.”
“Aku belum menyerahkannya
Nona. Buku diary biru itu masih aku
simpan di laci meja belajar. Aku sadar, aku tidak ingin membohongi Awan dengan
puisi-puisi itu. Meskipun aku telah bohong pada Awan saat aku bilang kalau aku
suka menulis puisi, hanya karena Awan suka puisi. Aku hanya ingin membuat Awan
jatuh hati denganku karena puisi. Namun aku tahu, tidak seharusnya aku
melakukan itu.”
“Aku minta maaf Sekar...”
“Kamu ga salah apa-apa Nona, aku yang
salah karena sudah berbohong pada Awan.”
“Puisi itu memang aku buat untuk
Awan.” Aku mengerutkan dahi. “Aku jatuh
cinta pada Awan.” Jantungku berdegup kencang. “Aku minta maaf Sekar….” Nona
membalikkan badannya dan berlalu meninggalkanku.
Aku masih membeku. Selama ini aku curhat dengan Nona tentang rasa suka yang
kumiliki untuk Awan. Dan baru saja Nona mengaku jatuh cinta pada Awan. Ah,
kenapa jadi begini? ***
# My PERCIKAN, MAJALAH GADIS NO. 02 ● XL ● 14-23 Januari 2014