“Putus?” aku
menatap Tian yang duduk disampingku.
“Iya Fe, semalam Nina bilang ingin
putus.” Wajah Tian terlihat lesu, ada sorot kesedihan dimatanya.
“Kalian berantem?” Tian menggeleng.
“Lalu?”
“Nina… hmm… Nina…”
“Nina kenapa?”
“Dia tidak ingin kita berteman Fe…”
“Maksud kamu?”
“Kalau kita masih bertemu dan berteman,
Nina mau putus.”
“What?
Tapi Nina kan tahu kita sudah berteman sejak SD. Nina kan tahu kalau kita sudah
sobatan sejak kecil!” Aku bingung. Dadaku mulai terasa sesak.
“Iya Fe, Nina tahu semua itu…”
“Kalian sudah pacaran hampir 2 tahun,
dan selama ini Nina tidak pernah keberatan dengan pertemanan kita kan?”
“Iya Fe. Aku juga bingung, kenapa Nina
bersikap aneh seperti ini.”
Aku mengambil nafas panjang. Menatap Tian,
yang tampak bingung. Sungguh kasihan sahabatku. Aku harus memutuskan sesuatu.
“Baiklah Tian, aku akan menjauh dari
kamu...”
“Jangan seperti ini Fe….”
“Kamu akan melakukan apa saja agar
Nina tetap bersama kamu kan?” Tian mengangguk pelan. “Ya sudah, kita nggak usah
ketemuan lagi Tian.”
Aku berdiri,
mengambil sepeda, dan buru-buru mengayuhnya, meninggalkan Tian yang masih duduk
di bangku taman komplek perumahan tempat kami tinggal.
Tian tidak memanggil
namaku, tidak juga mencegahku untuk tidak pergi, atau menyusulku dengan motor
sekuter hitamnya. Apa artinya Tian
setuju dengan keputusanku? Ah, hatiku mulai terasa perih!
Aku sudah
mengambil keputusan. Aku berusaha keras menahan air mata agar tidak jatuh.
***
Setelah kejadian di taman itu, aku dan
Tian sama-sama menghindar untuk saling ngobrol. Kami hanya saling melambaikan
tangan dan senyum saat berpapasan di sekolah. Sms hanya terjadi ketika ada yang
urgent, seperti saat papanya opname
atau saat mama butuh sesuatu dan aku tahu Tian tahu jawabnya. Orangtuaku dan
orangtua Tian masih berhubungan baik, tetapi kami, anak-anaknya sungguh-sungguh
sudah menjaga jarak. Dan Nina, aku tak peduli dengan dia. Aku bersyukur kami
nggak satu sekolah.
***
Aku membalas
senyuman dan lambaian tangan Tian.
“Take care Tian. I love you!” teriakan Nina membuyarkan konsentrasiku saat sedang
memandangi punggung Tian yang semakin terlihat samar.
Nina menghapus
airmata yang terus jatuh dipipinya.
“Aku tidak ingin
Tian pergi…. aku… aku… aku tidak sanggup kehilangan dia…”
“Tian harus
menyusul keluarganya ke London, dan melanjutkan sekolah disana.”
“Aku tahu Fe…
tapi di London kan banyak cewek-cewek cantik… ”
“So?”
“Apa Tian akan
setia Fe?”
“Aku tidak tahu.”
“Kamu kan
sahabat Tian.”
“Lebih tepatnya,
mantan sahabat.”
Nina diam.
“Aku sudah berhenti
bersahabat dengan Tian, sejak 5 bulan lalu. Kemarin dia menelpon dan memintaku
datang ke bandara. Sebagai kekasih Tian, seharusnya kamu yang lebih tahu
tentang kesetiaan Tian.”
Nina masih diam.
“Aku pulang
Nina.”
“Iya Fe.”
Aku berlalu
meninggalkan Nina yang masih berdiri membeku di depan pintu boarding. Tadi saat berpamitan, Tian
berbisik pelan, meminta aku mau menemani Nina, kalau pacarnya kesepian. Aku hanya
pamer senyum. Setelah memintaku menjauhi Tian, kini aku diminta menemani dia? Haha.
Permintaan tolol. Pastinya tak akan aku lakukan. ***
# My PERCIKAN @ Majalah Gadis No. 18 • XLI • 1-10 Juli 2014