Sabtu, 12 Juli 2014

KEKASIH TIAN - #Percikan



    “Putus?” aku menatap Tian yang duduk disampingku.  
          “Iya Fe, semalam Nina bilang ingin putus.” Wajah Tian terlihat lesu, ada sorot kesedihan dimatanya.
          “Kalian berantem?” Tian menggeleng. “Lalu?”
          “Nina… hmm… Nina…”
          “Nina kenapa?”
          “Dia tidak ingin kita berteman Fe…”
          “Maksud kamu?”
          “Kalau kita masih bertemu dan berteman, Nina mau putus.”
          “What? Tapi Nina kan tahu kita sudah berteman sejak SD. Nina kan tahu kalau kita sudah sobatan sejak kecil!” Aku bingung. Dadaku mulai terasa sesak.
          “Iya Fe, Nina tahu semua itu…”
          “Kalian sudah pacaran hampir 2 tahun, dan selama ini Nina tidak pernah keberatan dengan pertemanan kita kan?”
          “Iya Fe. Aku juga bingung, kenapa Nina bersikap aneh seperti ini.”
          Aku mengambil nafas panjang. Menatap Tian, yang tampak bingung. Sungguh kasihan sahabatku. Aku harus memutuskan sesuatu.
          “Baiklah Tian, aku akan menjauh dari kamu...”
          “Jangan seperti ini Fe….”
          “Kamu akan melakukan apa saja agar Nina tetap bersama kamu kan?” Tian mengangguk pelan. “Ya sudah, kita nggak usah ketemuan lagi Tian.”
Aku berdiri, mengambil sepeda, dan buru-buru mengayuhnya, meninggalkan Tian yang masih duduk di bangku taman komplek perumahan tempat kami tinggal.
Tian tidak memanggil namaku, tidak juga mencegahku untuk tidak pergi, atau menyusulku dengan motor sekuter hitamnya. Apa  artinya Tian setuju dengan keputusanku? Ah, hatiku mulai terasa perih!
Aku sudah mengambil keputusan. Aku berusaha keras menahan air mata agar tidak jatuh. 
***
          Setelah kejadian di taman itu, aku dan Tian sama-sama menghindar untuk saling ngobrol. Kami hanya saling melambaikan tangan dan senyum saat berpapasan di sekolah. Sms hanya terjadi ketika ada yang urgent, seperti saat papanya opname atau saat mama butuh sesuatu dan aku tahu Tian tahu jawabnya. Orangtuaku dan orangtua Tian masih berhubungan baik, tetapi kami, anak-anaknya sungguh-sungguh sudah menjaga jarak. Dan Nina, aku tak peduli dengan dia. Aku bersyukur kami nggak satu sekolah.
***
Aku membalas senyuman dan lambaian tangan Tian.
Take care Tian. I love you!” teriakan Nina membuyarkan konsentrasiku saat sedang memandangi punggung Tian yang semakin terlihat samar.
Nina menghapus airmata yang terus jatuh dipipinya.
“Aku tidak ingin Tian pergi…. aku… aku… aku tidak sanggup kehilangan dia…”
“Tian harus menyusul keluarganya ke London, dan melanjutkan sekolah disana.” 
“Aku tahu Fe… tapi di London kan banyak cewek-cewek cantik… ”
So?
“Apa Tian akan setia Fe?”
“Aku tidak tahu.”
“Kamu kan sahabat Tian.”
“Lebih tepatnya, mantan sahabat.”
Nina diam.
“Aku sudah berhenti bersahabat dengan Tian, sejak 5 bulan lalu. Kemarin dia menelpon dan memintaku datang ke bandara. Sebagai kekasih Tian, seharusnya kamu yang lebih tahu tentang kesetiaan Tian.”
Nina masih diam.
“Aku pulang Nina.”
“Iya Fe.”
Aku berlalu meninggalkan Nina yang masih berdiri membeku di depan pintu boarding. Tadi saat berpamitan, Tian berbisik pelan, meminta aku mau menemani Nina, kalau pacarnya kesepian. Aku hanya pamer senyum. Setelah memintaku menjauhi Tian, kini aku diminta menemani dia? Haha. Permintaan tolol. Pastinya tak akan aku lakukan. ***

# My PERCIKAN @  Majalah Gadis No. 18 • XLI • 1-10 Juli 2014



Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...