CEMBURU
“Oh, my, God! Jadi cewek itu yang lagi di-pedekate-in Galih? Ih, engga mungkin
banget deh! Ga mungkin Galih suka sama cewek itu!” begitu kami tiba di food
court dan duduk di salah satu meja, bukannya langsung memesan makanan, Ivon
malah ngomel-ngomel.
“Ga mungkin gimana?”
“Helooo
Lidia!!! Cewek itu kan ga tinggi, pakai kacamata, rambutnya ikal…”
“Maksudnya,
kenapa cewek itu tidak seperti kamu?”
“Galih bilang,
dia tuh ga suka sama cewek yang pakai kacamata, kesannya serius banget. Ih,
beneran deh, tuh cewek bukan tipe Galih banget!”
“Mungkin tipe
cewek Galih sudah berubah Ivon…”
“Tapi bukan sama cewek itu juga kan?”
“Ya kenapa sih? Cemburu ya?”
“Amit-amit cemburu! Aku sama Galih
sudah putus setahun yang lalu. Kami putus baik-baik! Hari gini masih cemburu
sama Galih, big no no deh!” aku cekikikan
melihat Ivon yang emosi.
“Terus gimana? Mau nyusulin Galih lagi
ke toko buku?”
“Ngapain! Kurang kerjaan amat!”
“Beneran ga mau turun ke lantai 2?
Tadi kan Galih baru saja masuk saat kita keluar, menurut perkiraanku Galih
masih ada disana sama… hmmmm… siapa nama cewek itu?”
“Tauk!”
“Lha, bukannya kata kamu Galih sering mention cewek itu di twitter.”
“Vera whoeverlah!”
“Cieeee
yang namanya hampir samaan, ada unsur V-V nya gituuuu…” aku semakin semangat menggoda Ivon yang wajahnya semakin
cemberut.
“Idih!”
“Sudah putus kok masih kepo aja sih.”
“Siapa yang kepo! Pas scroll TL tuh ada
Galih yang lagi mention-mentionan
sama si Vera-Vera itu!”
“Masa?”
“Kamu itu sahabatku bukan sih Lidia?”
“Musti ditanyakan lagi? Kita kan sudah
sohiban 5 tahun, sejak kamu pindah ke sebelah rumah.”
“Jadi, bisa tidak ngedukung aku?”
“Ngedukung kamu balikan sama Galih?”
“Ya ampun, siapa juga yang mau balikan
sama Galih? Ogah banget!”
“Kok masih cemburu aja lihat Galih
jalan sama cewek lain? Masih ngarep
bakal balikan kan?”
“Lidia! Kalau kamu masih seperti ini,
aku pulang!”
“Yah, ngambek…”
“Mereka itu udah jadian belum sih?”
“Ampun!!! Katanya ga mau ngebahas
Galih, eh masih dibahas aja. Aku pulang nih.”
“Iya, iya! No more Galih in my life!”
Tawaku pecah melihat Ivon yang semakin
bete.
*
Ivon masih melambaikan tangan dari
balik kaca, saat mobil Robert perlahan berlalu keluar komplek. Sore ini, Ivon akan
datang ke acara ulangtahun Galih di sebuah restaurant ternama yang terkenal
dengan konsep ‘Garden Party’nya.
Karena tidak mendapatkan undangan, aku tidak datang ke pesta ulangtahun Galih,
meskipun Ivon tetap ngotot memaksaku untuk datang.
Aku masih tidak
habis fikir, kenapa Ivon akhirnya mau menerima tawaran Robert untuk menemaninya
datang ke acara ulangtahun Galih. Bukankah Ivon tidak suka Robert yang setengah
mati mengejarnya? Ah, iya, aku lupa, orang kan bisa berubah. Kalau Galih bisa
suka dengan cewek yang bukan tipenya, begitu kata Ivon, mungkin saja Ivon juga
sudah berubah untuk bisa menerima perhatian Robert. Atau, jangan-jangan Ivon
hanya ingin membuat Galih cemburu? Karena menurutku, Ivon itu masih ingin
kembali pada Galih. Ah, entahlah! Urusan asmara memang rumit! Ya sudah, nikmati
saja masa jomblomu Lidia. ***
Note : Cerita
ini pernah dikirimkan untuk “Percikan” Majalah Gadis