Rabu, 27 Juni 2018

#AStoryAbout - CLBK



C L B K
(Cinta Lama Bersemi Kembali)

“Buat apa jadian kalau ujung-ujungnya hanya untuk membuat cemburu mantan trus akhirnya mereka balikan!” Jantungku berdegup cepat.
         “Jangan berprangka buruk dulu ...” Laras, sahabatku, menepuk bahuku dengan lembut, mencoba menenangkan.
          “Ini fakta Laras! Kenyataan yang harus aku hadapi!”
          Airmataku pecah.
          “Yang sabar Dena…”
          Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan Laras.
*
          Aku menelusuri ruang perpustakaan dengan seksama, meskipun hanya pulpen, tapi aku tidak rela harus kehilangan benda kesayangan itu. Pulpen dengan merk yang dijual bahkan di warung-warung kelontong itu memang bisa aku dapatkan dengan mudah gantinya, namun “kenangan” dibalik pulpen itu yang tidak akan pernah tergantikan.
          Bruk!
          Sial. Aku menabrak seseorang!
          “Eh, maaf ya…” Aku menegakkan kepalan yang sedari tadi tertunduk mencari benda “keramat” di lantai.
          Jantungku berdegup.
          Arsen Ariesto!
          “Ngapain sih nunduk-nunduk gitu…”
      “Eh… ini Mas… hmm…” Duh! Kenapa harus terbata-bata didepan lelaki ini sih!
          “Apa?”
          “Aku lagi cari pulpen…”
          “Pulpen? Ya ampun kirain cari harta karun.”
          “Ya pulpen itu harta karunku…”
          “Hah?”
        “Eh, hehehe… ya pokoknya begitu deh…. pulpen itu penting buat aku.”
          Kamu juga penting buat aku Arsen…
          Hatiku berbisik lirih.
          “Nanti aku bantu cari deh… ciri-cirinya bagaimana?”
         “Pulpen biru, pulpen biasa sih Mas… yang jelas ada stiker strawberry-nya…”
          “Siplah!”
          “Makasih Mas Arsen…”
       “Sama-sama Dena… eh, kok bisa kamu bilang tuh pulpen harta karun?”
“Itu… hadiah…”
“Hadiah dari lomba tujuhbelasan?”
“Nah! Itu tahu…”
“Hah? Seriusan? Padahal aku cuman asal…”
“Beneran Mas… lomba tujuhbelasan…”
“Ah, bohong banget…”
“Serius! Perjuangnnya itu looh… ya, meskipun ga juara satu, tapi lomba jalan pakai bakiak itu sesuatu!”
“Wah, keren!”
“Pastilah!”
“Eh, iya, ada info magang copywriter, sudah tahu?”
          “Hah? Masa Mas? Belum tahu aku…”
          “Nanti aku sms ya infonya…”
          “Oke Mas, terimakasih….”
          Bye Dena…”
          Aku membalas lambaian tangan Arsen dengan hati berbunga-bunga.
Ah, dunia memang indah kalau sedang jatuh cinta.
       Apa benar aku sedang jatuh cinta dengan kakak angkatanku itu? Ya, aku memang suka dengan Arsen, apalagi sejak kami satu kelompok saat semester pendek tahun lalu, rasa sukaku semakin bertambah saja. Aku dan Arsen sama-sama mengulang mata kuliah Dasar-Dasar Fotografi, salah satu mata kuliah jurusan Ilmu Komunikasi di kampus kami tercinta.
         Jujur, aku terserang wabah “jatuh cinta pada pandangan pertama” pada Arsen. Senyum Arsen yang aku lihat kala itu, saat pertama kalinya aku melihat dia di Perpustakaan, langsung menggetarkan hatiku. Waktu itu Arsen sedang tersenyum kepada petugas Perpustakaan, dan tanpa sengaja mataku melihatnya.
          Sejak saat itu hatiku berdebar saat bertemu dengan Arsen di kantin, di parkiran motor, atau saat kami berpapasan di lorong kelas. Namun bibirku selalu beku saat ingin melemparkan senyum untuk Arsen. Yang ada aku hanya terdiam saat bertatapan dengan Arsen. Namun, semester pendek merubah segalanya!
         Hatiku berbunga saat tahu Arsen masuk di kelas yang sama denganku, dan kebahagian itu semakin menjadi saat kami satu kelompok. Tugas fotografi yang diberikan dosen untuk hunting lokasi di beberapa tempat, mendekatkan aku dengan Arsen. Memang, di kelompok kami terdiri dari 5 orang, namun hanya aku dan Arsen yang benar-benar antusias memotret.
        Kami, aku dan Arsen, memiliki objek favorit saat memotret, yaitu alam. Kami bisa ngobrol seru tentang sunset, langit biru, dan semua keindahan di muka bumi ini. Karena seringnya kami mengobrol dan bertukar cerita, aku semakin jatuh hati pada Arsen.
      Sayang, semester pendek harus berakhir, dan kami mulai jarang bertemu. Arsen mulai sibuk mengerjakan skripsi, dan aku juga disibukkan dengan jadwal kuliah yang padat. Namun komunikasi yang terjalin diantara kami tetap berjalan baik. Arsen sering membagi info tentang fotografi, dan tentu saja aku akan menanggapi dengan antusias pesan-pesan yang dikirimkannya via ponsel.
            Arsen, you’re rock my world!
*
          “Bukannya Arsen sudah punya pacar?” tanya Laras saat baru saja aku selesai curhat tentang perasaanku pada Arsen.
          I know…”
          “Dena, sudahlah… jangan jatuh cinta sama pacar orang… ribet!”
        “Jatuh cinta itu bisa pada siapa saja Laras, ga ada yang bisa menccegah harus jatuh cinta sama cowok yang sudah punya pacar kan?”
          “Jangan kejadian lagi deh…”
          “Apa?”
          Heloooo… kita sudah sobatan sejak masih pakai seragam putih biru, ntar patah hati lagi…”
          “Ya ampun… itu sih beda…”
          “Beda apaan… naksir sama cowok sekelas yang jelas-jelas pacarnya juga sekelas sama kamu juga… bisa ya….”
          “Heran deh… kenapa kita harus di SMA yang sama, kuliah juga di tempat yang sama, ngambil jurusan yang sama, sayang saja kita cuman sekelas waktu SMP.”
          “Ga usah mengalihkan pembicaraan…”
          “Apa? Siapa?”
          “Arsen ga ada bedanya sama Nugie…”
          “Bedalah! Nugie itu cinta masa SMA, Arsen… cinta masa kini…”
       “Ya kan sama-sama jatuh cinta sama cowok yang sudah punya pacar…”
          Hmmm… Iya juga sih…”
          “Dasar Dena!”
          “Terus aku harus gimana?”
       “Lupakan Arsen, jatuh cintalah pada laki-laki yang belum punya pacar!”
          “Tapi Arsen berarti buat aku Laras.”
          “Duit juga berarti untuk kebutuhan shoping kita!”
          “Dasar matre!”
          Yuks ah, balik, acara infotaiment keburu tayang nih…”
          “Dasar infotaiment freak!”
          “Sirik ajah!”
          Aku dan Laras beranjak meninggalkan taman kota, tempat kami biasa menghabiskan sore dengan mengobrol sambil menikmati sepiring batagor, atau jajanan lain yang tersedia, sambil memandangi indahnya langit sore.
*
      Sepulang dari magang di Jakarta selama satu bulan di sebuah perusahaan iklan, aku kembali ke Yogya dengan perasaan bangga. Mengisi libur semester dengan menimba ilmu di Ibukota, dan mendapatkan pengalaman berharga di dunia kerja, membuatku semakin bersemangat untuk segera lulus kuliah. Kalau bukan karena Arsen yang memberikan informasi seputar magang copywriter itu, aku pasti hanya akan menghabiskan waktu liburan dengan jalan-jalan, atau bengong di rumah.
          Sore ini aku janjian dengan Arsen di sebuah coffe shop. Aku ingin mentraktir Arsen untuk mengucapkan terimakasih.
         “Hai!” Arsen sudah berdiri dihadapanku sambil melemparkan senyum mautnya yang selalu saja berhasil membuatku beku.
          “Hai Mas… silahkan duduk…”
          Thanks…”
          Kami duduk berhadapan.
          Jantungku berdegup semakin kencang.
          “Gimana magangnya?”
          “Seru banget! Makasih ya Mas Arsen…”
          “Untuk?”
      “Kalau bukan karena informasi dari Mas Arsen, aku ga bakal deh menghabiskan liburan semesteran dengan sesuatu yang berguna.”
          “Masa?”
          “Iya…”
          Capucino latte dan black coffe pesananku dan Arsen datang.
          Setelah waiters berlalu selesai mengantarkan pesanan, kamipun mulai berbincang lagi.
          “Dena… ada yang ingin aku sampaikan…”
          “Ada apa ya Mas?”
          “Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kamu…”
          About?”
          Us…”
          Jantungku kembali berdetak cepat.
          “Maksudnya…”
          “Apa kamu mau jadi pacarku?”
          Tubuhku melayang ringan.
          “Ini bukan mimpi kan?”
          “Mimpi?”
          “Tapi kan Mas Arsen sudah punya…”
          “Kita sudah putus…”
          “Mas Arsen sudah putus dengan Mbak Mieke?”
          Arsen mengganguk mantap.
          “Saat kamu berada di Jakarta…”
          “Ini nyata kan…”
          Aku mencubit tanganku.
          Sakit!
          “Apa kamu mau Dena?”
          Aku mengangguk pelan.
          Arsen melempar senyuman sambil meraih tanganku.
          Dunia indah!
*
          Hey, Jakarta!
Disinilah aku sekarang menghabiskan hari-hariku sekarang. Bergumul dengan hiruk-pikuk metropolitan, dan menjadi bagian dari kehidupan Ibukota.
Hampir dua tahun sudah aku meninggalkan kota yang paling aku cintai, Yogyakarta, untuk mengadu nasib menjadi (true) copywriter bukan lagi anak magang di perusahaan periklanan yang sama yang dulu pernah aku datangi saat menghabiskan waktu liburan semester untuk magang. Aku memang melamar posisi sebagai copywriter setelah lulus kuliah, dan tanpa menunggu lama aku diterima.
Bukan hal yang mudah meninggalkan orang-orang terkasih dan hijrah ke Jakarta. Beruntung aku bisa kost di tempat yang jarak menuju kantor hanya ditempuh dengan jalan kaki selama 15-20 menitan saja. Aku bersyukur keluarga mendukung penuh keputusanku untuk bekerja di Jakarta. Laras juga sering bolak-balik Yogya-Jakarta untuk mengurus usaha batik milik keluarganya.
Hanya saja, aku masih merindukan dia!
Aku menatap langit sore dari balik kaca kereta KRL yang membawaku mengelilingi Jakarta. Pada saat weekend begini, KRL tidak terlalu ramai, jadi aku bisa dengan leluasa keliling Jakarta, menikmati kereta yang berhenti dari satu stasiun satu ke stasiun lainnya.
Ah, iya, aku masih sering merindukan dia. Merindukan laki-laki yang seharusnya tidak aku rindukan.
Pertemuan terakhir dengan Arsen saat dia mengutarakan ingin putus denganku, masih saja menyisakan perih di hati. Feelingku benar, Arsen memang sengaja pacaran denganku hanya untuk membuat Mieke “panas”. Menyakitkan! Padahal aku benar-benar sayang Arsen, aku cinta dia, tapi Arsen hanya memanfaatkan perasaan yang aku miliki untuknya.
Aku mendengar dari Laras, Arsen sudah menikah dengan Mieke. Aku sempat terpuruk saat mengetahui semua itu. Namun perlahan aku bangkit. Tidak ada yang perlu disesali, meskipun rasa sakit itu terkadang tiba-tiba datang.
Inilah aku sekarang, Dena Septiasari yang baru! Tanpa patah hati!
I will be a great copywriter!
Aku tersenyum diam-diam, takut orang-orang di dalam gerbong menganggapku gila karena senyum-senyum sendiri. 
Aku menegakkan dudukku saat kereta berhenti.
Jantungku hampir berhenti berdetak.
Laki-laki yang baru saja masuk kedalam kereta dari stasiun Kalibata menggetarkan hatiku.
Mata kami saling menatap.
Why I must see you againt,
Arsen. ***

           


Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...