Minggu, 08 September 2019

#AStoryAbout - OPS



OPS!


“Heran deh, bisa suka banget sih sama tuh donut!” Aku langsung sewot saat melihat Salsa yang sedang membuka kardus berisi 5 donut ukuran mini, saat kami sedang makan di kantin saat istirahat sekolah.
        “Sewot aja sih…”
“Ga bosan apa setiap hari makan tuh donut?”
“Engga dunk! Coba lihat… Ini looh ada yang rasa coklat, kacang coklat, strawberry, lemon, dan greentea. Mau?” Salsa mencomot donut rasa lemon dalam kardus lalu menyodorkan kepadaku.
         “Enggak mau!”
         “Enak tahu…”
         “Aku ga suka donut!”
         “Ih, rugi!”
 “Biarin!”
 “Donut Mungil ini so yummy! Rasanya ga kalah sama donut yang dijual di mal-mal. Senang sekali ketemu donut dengan harga terjangkau tapi rasanya lezat.”
         “Donut itu rasanya sama saja, manis banget, eneg.”
         “Masa?! Nyamnyamnyam…”  
         “Jauhkan donut itu dari hadapanku!”
         Lebay deh kamu.”
      “Jangan sampai selera makan soto hilang ya Salsa gara-gara donut favoritmu itu!”
      “Lihat deh Lulu, donut ini bentuknya mungil, sesuai dengan namanya, Donut Mungil. Terus, bentuknya lucu kan… rasanya lezat… enaakkkk!” Keisengan Salsa semakin menjadi dengan mendekatkan kardus donut tepat disamping mangkuk sotoku.
      “Salsa!” Aku langsung pasang tampang jutek yang disambut gelak tawa Salsa yang menyebalkan itu.

*

       Jantungku berdebar saat memasuki halaman rumah Putra. Kami berlima, aku, Tyas, Bimo, Iqbal, dan Putra, akan bersama-sama mengerjakan tugas fotografi.
  Aku suka Putra! Cowok kelas sebelah yang selalu terlihat cool dengan gaya cueknya itu. Tidak disangka ternyata aku dan Putra mengambil kelas ekstrakulikuler yang sama di sekolah, yaitu kelas fotografi. Dan aku bahagia sekali, untuk tugas kelompok kali ini, aku dan Putra ada di kelompok yang sama.  
   Salsa yang tahu kalau hari ini aku akan ke rumah Putra untuk menyelesaikan tugas, sejak tadi tidak berhenti mengirim pesan untuk menanyakan situasi yang terjadi. Dasar kepo! Aku memang cerita pada Salsa kalau aku suka Putra. Karena Salsa mengambil ektrakulikuler Musik, jadi ya dia tidak punya alasan untuk bisa ikut ke rumah Putra. Hehe!
      “Nah, silahkan duduk. Lesehan ya teman-teman.” Putra mempersilahkan kami duduk di teras rumahnya yang mirip pendopo.
         “Siap bos!!!” Iqbal, teman sekelasku yang gokil mulai ‘pasang aksi’.
            “Rumah kamu asyik sekali Putra, asri.” Jantungku berdebar saat Putra tersenyum kepadaku.
            “Makasih Lulu. Mama suka berkebun, dan inilah hasilnya.” Putra menunjuk taman asri di depan pendopo.
           Thanks Putra sudah mengundang kami ke rumah kamu, jadi kita tidak perlu repot-repot lagi cari objek foto.” Bimo terlihat happy.
            “Beneran nih kita ga perlu hunting lagi?”
         “Rasanya kebun Mama kamu sudah menjadi objek yang tepat Putra. Untuk tema alam kali ini, pendopo dan kebun Putra cocok untuk objek foto kerja kelompok kita. Setuju kan teman-teman?”
            “Setujuuu…” Kami kompak menjawab Tyas.
        “Tyas, peganging Lulu kenceng-kenceng deh, biasanya dia suka lari-lari terus nari-nari sendiri gitu kalau ngeliat taman. Yah, ga jauh bedalah sama adegan di film-film India itu.”
            “Makasih Iqbal!” Aku langsung sewot.   
            Tawa di pendopo Putra pecah mendengar lelucon Iqbal yang sama sekali ga lucu itu. Eh, tapi aku senang melihat Putra tertawa. Hah!
            Kamipun lalu bersiap-siap untuk mulai memotret.
          “Eh, sebentar ya aku tinggal ke dalam dulu.” Putra lalu masuk ke dalam.
      Putra kembali ke pendopo dengan membawa minuman kemasan botol dan kardus yang rasanya familiar. Perasaanku mulai tidak enak.
       “Ayo kita makan donut dulu sebelum mulai foto-foto. Ini minumannya juga boleh dinikmati looh.”
           Oh, no! Feelingku benar!
           “Waaaa… Thanks Putra! Ini donut paling happening sejagad raya!” Iqbal terlihat girang.
        “Setuju Iqbal, aku suka sekali Donut Mungil!” Tyas menimpali Iqbal. Sedangkan Putra sudah mencomot donut rasa coklat sepertinya.  
            Putra, Iqbal, Bimo, dan Tyas mulai asyik menikmati donut.
          “Lulu, kamu ga mau?” Tyas menyodorkan kardus donut ke hadapanku.
            Hmmm… ini… aku lagi diet hehehe…”
         “Kalau cuman makan satu donut buatan kakakku, berat badan kamu ga akan naik Lulu.” Senyuman Putra membuatku jantungku berdebar lagi.
            But, wait…
            “Jadi, kakak kamu yang bikin Donut Mungil?”
         “Iya Lu. Setiap hari, sebelum kakak berangkat ke kampus, dia mengantar donut ke beberapa tempat, termasuk ke kantin sekolah kita.”
            “Oh.” Aku lalu mengambil donut rasa greentea.
   Baik, aku harus makan donut bikinan kakak Putra. Harus! Ini demi usaha pedekate! ***    

           


Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...