OPS!
“Heran
deh, bisa suka banget sih sama tuh donut!” Aku langsung sewot saat melihat
Salsa yang sedang membuka kardus berisi 5 donut ukuran mini, saat kami sedang
makan di kantin saat istirahat sekolah.
“Sewot aja sih…”
“Ga
bosan apa setiap hari makan tuh donut?”
“Engga
dunk! Coba lihat… Ini looh ada yang rasa coklat, kacang
coklat, strawberry, lemon, dan greentea. Mau?” Salsa mencomot donut rasa lemon
dalam kardus lalu menyodorkan kepadaku.
“Enggak mau!”
“Enak tahu…”
“Aku ga suka donut!”
“Ih, rugi!”
“Biarin!”
“Donut
Mungil ini so yummy! Rasanya ga kalah
sama donut yang dijual di mal-mal. Senang sekali ketemu donut dengan harga
terjangkau tapi rasanya lezat.”
“Donut itu rasanya sama saja, manis banget, eneg.”
“Masa?! Nyam…nyam…nyam…”
“Jauhkan donut itu dari hadapanku!”
“Lebay deh kamu.”
“Jangan sampai selera makan soto hilang ya Salsa
gara-gara donut favoritmu itu!”
“Lihat deh Lulu, donut ini bentuknya mungil, sesuai
dengan namanya, Donut Mungil. Terus, bentuknya lucu kan… rasanya lezat… enaakkkk!”
Keisengan Salsa semakin menjadi dengan mendekatkan kardus donut tepat disamping
mangkuk sotoku.
“Salsa!” Aku langsung pasang tampang jutek yang disambut
gelak tawa Salsa yang menyebalkan itu.
*
Jantungku berdebar saat memasuki halaman rumah Putra.
Kami berlima, aku, Tyas, Bimo, Iqbal, dan Putra, akan bersama-sama mengerjakan
tugas fotografi.
Aku
suka Putra! Cowok kelas sebelah yang selalu terlihat cool dengan gaya cueknya itu. Tidak disangka ternyata aku dan Putra
mengambil kelas ekstrakulikuler yang sama di sekolah, yaitu kelas fotografi. Dan
aku bahagia sekali, untuk tugas kelompok kali ini, aku dan Putra ada di
kelompok yang sama.
Salsa
yang tahu kalau hari ini aku akan ke rumah Putra untuk menyelesaikan tugas,
sejak tadi tidak berhenti mengirim pesan untuk menanyakan situasi yang terjadi.
Dasar kepo! Aku memang cerita pada
Salsa kalau aku suka Putra. Karena Salsa mengambil ektrakulikuler Musik, jadi
ya dia tidak punya alasan untuk bisa ikut ke rumah Putra. Hehe!
“Nah, silahkan duduk. Lesehan ya teman-teman.” Putra
mempersilahkan kami duduk di teras rumahnya yang mirip pendopo.
“Siap bos!!!” Iqbal, teman sekelasku yang gokil mulai
‘pasang aksi’.
“Rumah kamu asyik sekali Putra, asri.” Jantungku berdebar
saat Putra tersenyum kepadaku.
“Makasih Lulu. Mama suka berkebun, dan inilah hasilnya.”
Putra menunjuk taman asri di depan pendopo.
“Thanks Putra
sudah mengundang kami ke rumah kamu, jadi kita tidak perlu repot-repot lagi
cari objek foto.” Bimo terlihat happy.
“Beneran nih kita ga perlu hunting lagi?”
“Rasanya kebun Mama kamu sudah menjadi objek yang tepat
Putra. Untuk tema alam kali ini, pendopo dan kebun Putra cocok untuk objek foto
kerja kelompok kita. Setuju kan teman-teman?”
“Setujuuu…” Kami kompak menjawab Tyas.
“Tyas, peganging Lulu kenceng-kenceng deh, biasanya dia
suka lari-lari terus nari-nari sendiri gitu kalau ngeliat taman. Yah, ga jauh
bedalah sama adegan di film-film India itu.”
“Makasih Iqbal!” Aku langsung sewot.
Tawa di pendopo Putra pecah mendengar lelucon Iqbal yang
sama sekali ga lucu itu. Eh, tapi aku senang melihat Putra tertawa. Hah!
Kamipun lalu bersiap-siap untuk mulai memotret.
“Eh, sebentar ya aku tinggal ke dalam dulu.” Putra lalu
masuk ke dalam.
Putra kembali ke pendopo dengan membawa minuman kemasan
botol dan kardus yang rasanya familiar.
Perasaanku mulai tidak enak.
“Ayo kita makan donut dulu sebelum mulai foto-foto. Ini
minumannya juga boleh dinikmati looh.”
Oh, no! Feelingku benar!
“Waaaa… Thanks
Putra! Ini donut paling happening
sejagad raya!” Iqbal terlihat girang.
“Setuju Iqbal, aku suka sekali Donut Mungil!” Tyas
menimpali Iqbal. Sedangkan Putra sudah mencomot donut rasa coklat sepertinya.
Putra, Iqbal, Bimo, dan Tyas mulai asyik menikmati donut.
“Lulu, kamu ga mau?” Tyas menyodorkan kardus donut ke hadapanku.
“Hmmm… ini… aku
lagi diet hehehe…”
“Kalau cuman makan satu donut buatan kakakku, berat badan
kamu ga akan naik Lulu.” Senyuman Putra membuatku jantungku berdebar lagi.
But, wait…
“Jadi, kakak kamu yang bikin Donut Mungil?”
“Iya Lu. Setiap hari, sebelum kakak berangkat ke kampus,
dia mengantar donut ke beberapa tempat, termasuk ke kantin sekolah kita.”
“Oh.” Aku lalu mengambil donut rasa greentea.
Baik,
aku harus makan donut bikinan kakak Putra. Harus! Ini demi usaha pedekate! ***