Minggu, 30 Januari 2022

SEBUAH HARAP - Cerita Pendek


SEBUAH HARAP

 

          “Hari Sabtu ini ada acara kemana?” Diko membuka pembicaraan saat kami duduk duduk di taman sekolah.

          “Nanya ke siapa?” Arie menjawab Diko.

          “Ya nanya ke kalian semua.”

          “Pacaran saya.”

          “Ah, ralat, kecuali kamu Ri.” Arie tertawa.

          “Aku mau nemenin Mama, Papa, ke rumah Om, ada rapat keluarga acara persiapan pernikahan anaknya.” Vira buka suara.

          Busyet sepupu kamu sudah mau nikah aja Vir!”

          “Kakak sepupuku itu 15 tahun lebih tua dari aku.”

          “Oalah. Kirain masih sekolah juga.”

          “Ya enggalah!”

          “Eh, santai, ga usah nyolot!”

          “Dih!”

          “Tolong ya ga usah pakai acara berantem nih kalian berdua.”

          “Lha, dia yang mulai duluan Ko.”

          “Lho kok jadi nyalahin aku.”

          “Stttt!!!”

Aku tertawa melihat Arie vs Vira yang jarang akur.

“Kalau kamu ada acara apa Ta?”

          Jantungku berdegup.

          “Di rumah aja Ko.”

          “Septa, sekali kali kalau weekend itu jalan kemana kek. Main kek, apa kek.”

          “Vir, suka suka dialah.”

          “Eh, aku tuh ngomong sama Septa ya, bukan sama kamu Arie.”

“Ya kalau Septa ini memang lebih suka di rumah emang kenapa?”

“Ya engga apa apa sih. Ya emang sih Septa ini anak yang hobi bener bantuin Bundanya.”

          “Ya baguslah bantu bantu di rumah. Daripada kamu…”

          “Apa?!”

          Peace!”

          “Kalau ga hunting foto bareng kita, ga bakal deh Septa keluar rumah pas weekend.”

          “Hehehe…”

          “Kalau Sabtu besok kita nonton film gimana Ta?” Jantungku berdegup lagi.

          “Aku dukung kamu Ko! Ajakin ini si Septa jalan.”

          “Kali ini aku setuju sama Vira.”

          “Hih! Aku ga minta persetujuan kamu ya.”

          Please…”

          Guys, ini lagi ngomong sama Septa ya, jadi tolonglah ga usah pakai acara ribut ribut dulu.”

          Oke Diko. Ayo Septa dijawab itu pertanyaan Diko.”

          “Iya Vir. Oke, kita nonton Ko.”

          “Siplah.”

*

          Rasanya masih tidak percaya hari Sabtu nanti aku akan menonton film bersama Diko. Aku suka Diko. Diko adalah tipe cowok idamanku. Aku dan Diko yang berbeda kelas dipertemukan karena hobi memotret. Arie dan Vira teman sekelasku yang awalnya mengajakku untuk hunting foto, karena mereka tahu aku suka memotret. Jadilah kami berempat, dan 12 orang teman lainnya dari kelas yang berbeda, tergabung dalam club foto sekolah ala ala.

*

          Diko menjemputku di Sabtu sore ini. Setelah berpamitan dengan Bunda dan Ayah, kami menuju ke bioskop untuk menonton sebuah film pahlawan super hero Indonesia. Aku senang sekali bisa pergi berboncengan dengan Diko seperti ini.

*

          Hatiku masih berbunga jika menginggat yang terjadi di hari Sabtu lalu bersama Diko. Setelah acara menonton film selesai, Diko mengajakku mengobrol di sebuah coffe shop. Aku dan Diko berbagi cerita, lebih banyak membahas soal memotret tentunya. Ah, obrolan apapun akan terasa menyenangkan jika mengobrol bersama seseorang yang kita suka.

          Thanks ya Septa. Aku akan traktir kamu!” Diko menghampiri saat aku, Arie, dan Vira, sedang duduk duduk di taman sekolah, tempat favorit.

          “Lho kok cuman Septa yang ditraktir. Aku dan Vira engga nih?”

          Sorry guys, ini khusus untuk Septa saja.”

          “Ah teganya!” Vira langsung manyun.

          “Makasih Diko. Tapi ini dalam rangka apa ya traktirannya?”

          “Karena kamu sudah membantuku kembali kepada Citra.”

          Jantungku berdegup mendengar nama mantan pacar Diko yang tetangga satu komplek rumahnya itu.

          “Eh, gimana, gimana?”

          “Jadi, waktu aku dan Septa nonton kemarin, kan aku posting di IG story tuh.”

          “Iya aku lihat. Kamu juga mention Septa kan?”

          “Betul sekali Vir. Nah, rupanya Citra lihat dan dia…”

          “Dia cemburu, terus dia minta balikan lagi sama kamu.”

          “Kira kira begitu Arie…”

          “Wah, selamat Diko! Ya dasarnya kalian berdua memang masih ada rasa kan ya? Bucin bucin.”

“Ah, Vira!”

“Septa, kamu harus minta traktiran yang mahal ke Diko!”

“Setuju Vir!”

“Dih, apaan sih setuju setuju aja.”

          Guys…”

          Vira dan Arie kompakan menutup mulut mereka dengan tangan.

          “Sekali lagi aku mengucapkan terimakasih untuk kamu Septa, teman baikku. So, pizza size big, steak premium, kopi hits? Apapun Septa.”

          Wait, best friend? Oh, hatiku, yang kuat kamu. ***


Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...