Kamis, 28 September 2023

TEMPAT BERLABUH - Cerita Pendek

 

 

TEMPAT BERLABUH

 

Baru saja aku duduk dan menghela nafas panjang, Helen sudah ada di hadapanku.

“Kenapa?”

“Gak apa apa.”

Bete gitu.”

“Biasalah.”

“Diledekin kapan nikah lagi sama anak lantai bawah?”

“Nah sudah tahu pakai nanya!”

“Ga usah sewot dong.”

“Tadinya aku sih santai saja, tapi lama lama jengah juga. Lagian ngapain sih mereka tuh ngurusin hidup orang banget. Aku mau nikah kek, ga nikah kek, jadi perawan tua kek, apalah, inilah, ya itu urusanku.”

“Ya memang inginnya begitu, tapi ya ga bisa gitu juga nyatanya.”

“Heran banget! Sepenting itukah pertanyaan soal kapan nikah?”

“Ya nyatanya buat mereka penting.”

“Buat apa sih?”

“Tanya saja sama mereka.”

“Dih, ogah! Lucky you Helen, kamu tidak harus mendapakan pertanyaan seputar pernikahan.”

“Hahaha.”

“Udah ah mau balik kerja.”

“Semangat!”

Thanks Helen.”

Hei! Aku bukannya tidak ingin menikah, hanya saja belum bertemu dengan seseorang yang tepat saja. Pengalaman asmaraku memang tergolong sepi sih, lebih banyak jomblonya dibanding berduaannya. Ya, kali, mantan pacar cuman satu, itupun pacaran kurang dari setahun. Untuk perempuan kepala tiga pertengahan begini katanya sih cupu bener!

Padahal Papa, Mama, dan juga Mas Dewo, kakak laki-lakiku yang sudah berkeluarga, tidak pernah menuntutku untuk segera menikah. Lha, ini, kenapa teman teman kantor resenya minta ampun. Ya, memang, sebagian besar teman kerjaku di perusahaan Asuransi, tempat aku menghabiskan masa bekerja 2 tahun belakangan ini, sudah berkeluarga. Mungkin mereka risih melihat perempuan yang belum menikah di usia yang seharusnya sudah berkeluarga. Tau ah!

*

“Santi Nurmila, kenapa wajahmu murung begitu wahai kisanak? Es coklat dan burger ayam favorit sampai dianggurin gitu.”

“Berisik!”

“Cerita dong sama sahabat tersayangmu ini.”

Bete banget aku sama teman teman kantor tuh. Tanya melulu mana calonnya, kapan nikahnya, bla bla bla. Difikir aku ga galau setengah mati apa mikirin pasangan hidup.”

“Astaga, masih saja persoalan yang sama.”

“Ya memang begitu adanya. Lama lama aku resign juga dari kantor.”

“Eh jangan dong.”

“Kalau mobil dijual plus tabungan yang terkumpul, bisa nih kayanya buka toko aksesoris cantik idaman.”

“Yakin?”

“Yakinlah! Daripada aku stress setiap hari ketemu sama pertanyaan yang itu itu lagi, itu itu lagi.”

“Apa kita pacaran saja?”

“Fano Septanto, apa yang kamu katakan?”

“Lha, kita kan sama sama single, kamu ga punya pacar, aku juga ga punya pacar.”

“Hei, apa katamu, baru juga putus.”

“Putus resmi 2 bulan lalu, putus ga resmi ya sudah setahunanlah.”

“Bisa saja! Dasar bucin, digantung status masih aja cinta mati.”

“Itu dulu, sekarang sudah tidak lagi.”

“Yakin?”

“Yakin!”

“Apa karena dia sudah ada yang punya sekarang.”

“Ah, engga juga. Pada akhirnya aku hanya menyadari kebodohanku selama ini, terlalu memiliki perasaan yang dalam kepadanya.”

“Wuidih! Puitis sekali. Cocoklah buat lirik lagu.”

“Sial! Jadi gimana?”

“Gimana apanya?”

“Kita ini berteman kan sudah sejak kuliah, adalah 15 tahunan kita bersama.”

“Ya, terus?”

“Kurang mengenal apa lagi coba kita ini?”

“Iya juga sih. Tapi apa iya... maksudku... ah, ada ada saja kamu nih.”

“Banyak yang menyangka kita pacaran kan? Ya sudah, kita bikin prasangka mereka jadi nyata.”

“Hahaha!”

“Malah ketawa nih anak. Aku serius ini.”

“Lucu juga ya kalau kita beneran jadian.”

“Gimana, mau mulai hari ini kita pacaran?”

Senyumku mengembang. ***

 

 

 

Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...