“Jadi
aku yang harus mengantar pesanan kue-kue itu ke rumah Tante Mira?” emosiku langsung
naik saat Mbak Rini, kakak perempuanku, baru selesai berbicara denganku. “Kenapa
bukan Mbak Rini atau Ibu saja yang mengantar kue-kue itu?”
“Hari Minggu besok Ibu harus menemani Ayah datang ke acara
kondangan, sedangkan Mbak ada acara reuni SMP.”
“Jadi benaran harus aku yang mengantar kue-kue itu?”
“Dengan sangat terpaksa, ya, memang harus kamu yang
mengantar. Pleaseeee….” melihat wajah
Mbak Rini yang memelas, aku jadi tidak tega juga. “Mbak tahu kamu pernah naksir
berat sama Rico…”
“Heloooo!! Is so last year, Mbak!” amarahku mulai
datang.
“Yakin?”
“Sangat yakin!”
“Oke! Kalau
begitu besok kamu antar kue itu ke rumah Tante Mira…deal?”
Hmmmm….apakah aku
siap bertemu dengan Rico lagi setelah berbulan-bulan kami tidak berjumpa? Lebih
tepatnya : aku memang menghindarinya. Aku masih menyimpan rasa kecewa saat mengetahui
Rico akhirnya jadian dengan teman sekolahnya itu. Di saat aku sedang melakukan pedekate dengan Rico dan menurutku kami
berpotensi untuk jadian, ternyata Rico malah memilih cewek lain.
*
Jantungku berdebar saat tiba di rumah Rico. Meskipun telah
mempersiapkan mental baja untuk bertemu dengan Rico lagi namun tetap saja rasa
gugup masih menyelimutiku.
Pintu pagar dibuka setelah aku memencet bel, dan wajah itu
muncul…Rico!
“Dila…” Rico tampak terkejut saat melihatku.
“Hai Co, apa kabar?” aku berusaha bersikap santai didepan
Rico padahal debaran dihatiku semakin menguat.
“Kabar baik, kamu apa kabar Dila?”
“Aku juga baik. Co, aku mengantar kue pesanan Mama kamu.”
Aku menyerahkan kardus berisi kue bolu kukus pandan.
“Terimakasih…”
“Sama-sama.”
Eh,
kok ada yang aneh? kenapa perasaanku jadi lega begini, ya? Setelah sekian lama
tidak bertemu dengan Rico dan menyimpan rasa kecewa yang dalam, kenapa hari ini
aku merasa semua akan baik-baik saja? Dan aku senang bisa bertemu dengan Rico
lagi.
“Bye Rico…”
“Bye…” Saat aku akan membalikkan badan,
disaat itulah aku ingin lari….King!! Anjing kesayangan Rico muncul. Ini dia yang
ingin selalu aku hindari saat berada dirumah Rico. Saat dulu aku sering main
kerumah Rico untuk meminjam koleksi komiknya, aku pasti meminta Rico untuk
dijauhkan dari anjing kesayangannya itu. Sumpah, sejak kecil aku takut anjing!
“Co, aku pulanggggg!!” setengah berlari aku meninggalkan
halaman rumah Rico.
“Kamu masih takut sama King?”
“Iyaaaaaaa!!!!” Oh tidak, sepertinya King mulai mengejarku.
“Dila,
tunggu…” samar-samar aku mendengar teriakan Rico. Saat aku menengok kebelakang aku
melihat Rico yang sedang mengendalikan King untuk tidak mengejarku. “Bolehkah
aku mengajak Sarah kerumah kamu? Aku ingin memperkenalkan Sarah dengan kamu dan
Mbak Rini.”
“Ajak Sarah ke rumah asal jangan bawa King!!!”
“Siap!! Thanks
Dila!”
“Yuhuuu….”
Dalam “pelarian”ku menuju rumah karena lolongan King yang
semakin menjadi, fikiranku mulai terbuka.
Mungkin
sudah saatnya menghentikan “permusuhan” dengan Rico dan menutup lembaran cerita
cinta bersama Rico. Gagal menjadi pacar Rico setelah melakukan pedekate bukan berarti harus menutup
akses pertemanan, kan? ***
# My “Percikan”, Majalah
GADIS no. 26 XXXIX, 02 Oktober- 11 Oktober 2012