Aku tidak menyangka, rasanya akan
serapuh ini, saat Bian memutuskan untuk menunda rencana pernikahan kami, yang
hanya tinggal menghitung bulan saja. Entah apa yang ada di fikiran Bian, saat
beberapa hari yang lalu dia bilang ingin “break”
dulu, dari hubungan kami yang sudah melewati tahun keempat ini.
“Tapi, kenapa Bian?” sekuat tenaga aku
menahan airmataku agar tidak jatuh.
“Aku belum siap…” Bian berulang kali
menghidari kontak mata denganku saat kami berbicara. Bian sibuk mengaduk
minuman. Bian sibuk membaca menu. Bian sibuk dengan ponselnya.
Ah, aku benci situasi ini!
“Kenapa baru sekarang kamu bilang
belum siap? Disaat semua persiapan pernikahan kita sudah berjalan 60 persen.”
Aku kembali menahan amarahku agar tidak meledak.
Kami sedang berada di de Opera At
The Bay Bali, sebuah tempat yang luar biasa indah. Rasanya tidak pantas aku harus
berteriak-teriak ditengah suasana yang sebenarnya menyenangkan, diantara
makanan dan minuman lezat yang tersaji di meja kami.
“Jauh-jauh aku datang dari Jogja
ke Bali untuk membicarakan pernikahan kita, dan….”
Mataku mulai menerawang jauh,
menatap langit sore Bali yang menakjubkan.
“Aku kan sudah bilang Delia, kamu
tidak perlu ambil cuti untuk menyusulku ke Bali. Bulan depan aku yang akan
pulang ke Jogja.”
“Tapi, telfon tempo hari, yang
mengatakan kalau kamu ingin menunda pernikahan kita, tentu saja membuatku ingin
segera bertemu kamu di Bali!”
Bian diam.
“Apa ada yang lain Bian?”
Jantungku berdegup kencang. “Kamu sedang jatuh cinta dengan seseorang?”
“Tidak, Delia.”
“Kamu yakin?” debaran dihatiku
semakin menguat. Aku takut Bian menjawab, iya!
Bian menunduk, menatap gelas
minumannya yang tinggal tersisa setengah.
“Bian, looked me!” amarahku mulai tak terbendung. “Bian!”
“Tidak Delia. Aku setia. Aku
tidak jatuh cinta dengan wanita lain. Hanya kamu.”
Bian menatapku dalam.
“Kamu berubah Bian.” Airmataku
perlahan jatuh.
“Please Delia, jangan menangis…” Bian mengenggam tanganku. Masih
hangat! Ya, aku masih merasakan… his still
my Bian! Mungkin aku yang salah, mungkin memang Bian tidak berubah.
Bian menghapus airmatku dengan
tangannya. Tangannya masih lembut saat menyentuh pipiku. Ah, rasanya malu juga,
kalau ada pengunjung de Opera At The Bay Bali memergoki aku sedang menangis.
Dadaku masih terasa sesak. Tapi,
kelembutan sikap Bian membuat aku percaya bahwa dia setia.
“Jangan seperti ini Bian….”
Suaraku mulai melemah.
Bian tersenyum sambil menatapku
lama. Senyuman Bian tidak pernah berubah, tetap saja memberikan kesejukan dihatiku.
“Ice creamnya di makan Delia,
keburu mencair nanti.” Bian menyuapkan ice cream kemulutku. Ah, romantis sekali
suasana ini. Like this!
“Sudah Brian, malu! Aku bisa
makan sendiri kok.” Aku merebut sendok ice cream dari tangan Bian.
Aku mulai menikmati ice cream dengan
buah pisang yang rasanya memang luar biasa enak!
“You’re still my Delia.”
“And, you’re still my Bian.”
Kami tertawa bersama.
Tidak bisa kubayangkan apa yang
akan terjadi, bila pernikahan kami benar-benar ditunda. Wajah kedua orangtua, keluarga,
tetangga, sahabat, dan teman-temanku yang sangat antusias menyambut hari
pernikahanku mulai terbayang. Aku tidak ingin mengecewakan mereka!
“Ada apa Bian?”
“Tidak ada apa-apa Delia….”
“Kalau memang tidak ada apa-apa,
kenapa kamu berniat menunda pernikahan kita? Bukankah dua bulan yang lalu, kamu
terlihat sangat siap saat melamarku?”
Bian tersenyum. Mungkin dia
sedang teringat dengan acara lamaran beberapa waktu yang lalu. Pertemuan dari
keluargaku dan keluarga Bian yang berlangsung dengan sangat baik.
“Aku belum siap meninggalkan
Bali.”
“Kamu tidak perlu meninggalkan
Bali.”
“Kamu juga tidak akan meninggalkan
Jogja kan?”
Kali ini aku yang diam. Lidahku
kelu.
“Setahun belakangan ini, kita
menjalani hubungan jarak jauh, dan itu cukup menyiksa Delia.”
“Kita sudah membahas ini berulang
kali Bian…”
“Setelah menikah, aku ingin terus
berada disamping kamu.”
“Aku juga Bian!”
“Tapi kita tahu, kamu akan tetap
di Jogja, dan aku akan tetap berada di Bali.”
“Kita sudah membahas ini Bian….”
“Dan selalu tidak ada titik
temunya bukan?”
“Tapi kita tidak perlu menunda
pernikahan kan Bian?”
Bian diam.
“Kamu mau tambah ice creamnya?”
Aku mengangguk pelan.
Waiters yang datang ke meja kami
mencatat pesanan, dengan sikap ramahnya yang menyenangkan. Sebenarnya, diantara
kegalauan, kekalutan, dan suasana hati yang sedang tidak menentu, aku sangat
menikmati tempat menyenangkan ini! de Opera At The Bay Bali!
“Indah sekali ya Bian disini.”
Aku menatap langit Bali yang mulai gelap. Tanpa terasa malam akan segera tiba.
“Iya. Kamu suka Delia?”
“I love this place!”
“Pilihanku tidak salah kan?”
Aku menggeleng mantap.
“Baru sekali ke Bali, dan aku langsung
jatuh cinta dengan tempat ini.”
“Seperti saat kamu melihatku
untuk pertama kalinya, dan jatuh cinta?” Bian mulai jahil.
“Hah?” Aku pura-pura bodoh.
“Kamu bilang, kamu jatuh cinta
saat melihat aku untuk pertama kalinya, saat kita bertemu di toko buku.” Aku
tertawa terbahak-bahak saat teringat pertemuan pertama kami di sebuah toko
buku. Mungkin terdengar sangat “sinetron”, tapi hari itu tangan kami mengambil
buku yang sama di rak. Dan, aku langsung terpana melihat sosok lelaki
disampingku, yang buru-buru minta maaf karena tidak sengaja menyentuh tanganku.
Lalu, kami mengobrol tentang
buku. Bertukar nomer. Saling bertukar kabar. Ketemuan. Makan bersama. Nonton
film. Sampai akhirnya pacaran.
“Kamu sendiri yang bilang… I falling in love with you from the first
sight Bian!”
“Ihhhhh!!!”
Damb! Bian masih saja membuatku
tersipu.
“Bian, jangan bercanda! Kita
sedang membicarakan masa depan!”
“Ah, aku tidak sabar untuk segera
menikah dengan kamu Delia.”
“WHAT?! You lie to me
Bian!”
“No!”
“Kamu bilang ingin menunda
pernikahan kita, dan sekarang kamu bilang ingin segera menikah dengan aku. Don’t play with me tembem!”
“Hey! Don’t call me tembem!”
“Tembeemmmm!!!!”
Waiters datang mengantarkan ice
cream dengan rasa yang luar biasa dasyat itu, seorang perempuan muda yang manis
itu, ikut tertawa saat melihat Bian berusaha menutup mulutku dengan tangannya
karena aku terus memangilnya tembem.
Bian benci dipanggil tembem!
Waiters yang aku yakini adalah
seorang gadis Bali asli itu, berlalu dari meja kami dengan senyum yang memikat.
“Jadi, apa maksud semua ini Bian?
Kamu hanya ingin aku datang ke Bali.”
Bian tertawa.
“Kamu malu punya calon istri yang
norak seperti aku. Umur 28 baru menginjakkan kaki di pulau Dewata.”
“Dikit….” Aku mencubit lengan
Bian.
“Sakit!”
“Bodo! Biar saja aku dibilang ga
gaul karena baru pertama kali datang ke Bali, saat usiaku hampir 30 tahun.
Ah, tapi Bali benar-benar memukau! Om Ardi dan Tante Yanti sudah berkali-kali memaksaku
ke Bali. Akhirnyaaaa… sekarang aku
benar-benar menghirup udara Bali! Menyenangkan!”
“Siapa suruh melewatkan tawaran
teman baik Bapak dan Ibu, untuk menginap ke rumah mereka?”
“Hahaha… setiap Om Ardi dan Tante
Yanti datang ke Jogja, mereka selalu ngotot menyuruhku mengunjungi rumah meraka
di Ubud. Bapak senang sekali saat kemaren Om Ardi menelpon dan bilang aku sudah
sampai Bali.”
“Siapa suruh baru datang ke Bali sekarang? Nunggu
aku sampai satu tahun, baru kamu mau datang ke Bali Delia? Nyebelin!”
“Cieee… gitu aja ngambek! Dasar manja! Pakai acara
mau mundurin pernikahan kita. Bilang saja, kamu kangen, terus pengen aku
tengokin.”
“Hmmm… aku cuma ga mau
punya calon istri yang rada kuper.”
“Hey!”
Bian meringis kesakitan saat aku
mencubit lengannya berkali-kali.
“Kalau kita sudah menikah, apa
kamu mau tinggal di Bali bersamaku?”
“Bian…. Jangan mulai…”
Kami mulai terdiam lagi.
Aku kembali sibuk menikmati ice
cream. Bian pun sibuk dengan ponselnya.
“Aku tidak bisa memutuskan
sekarang Bian. Pekerjaanku di Jogja sedang padat-padatnya, keluargaku…. Aku
belum siap untuk berpisah dengan semua itu.”
“Aku tahu Delia, tapi aku akan
menjadi suami kamu. Dan kita bisa tinggal bersama di Bali.”
“Bian…”
“Maaf, Delia….”
“Apa kamu akan tetap menunda hari
pernikahan kita?”
Bian kembali diam.
Situasi yang sama kembali
terulang.
Aku dengan ice cream. Bian dengan
ponselnya.
“Kita akan tetap menikah sesuai
dengan tanggal yang sudah ditentukan.”
Sesak didadaku tiba-tiba menghilang.
Aku memeluk Bian.
“Terimakasih tembem….”
“Don’t call me tembem!” aku tertawa dan mencubit kedua pipi Bian.
“Jadi, kita akan tetap menikah
kan?”
“Iya.”
“Asyiikkk…”
“Kita akan jalani semuanya Delia.
Menikah. Setelah itu, mungkin kamu yang akan tinggal di Bali, atau aku yang
akan pulang ke Jogja. Atau, kita tetap long
distance relationship. Meskipun aku tidak menyukai hubungan jarak jauh
seperti ini.”
“Iya, Bian.”
“Semoga dilancarkan semuanya ya
Delia.”
“Amin.”
Bian mengenggam tanganku erat.
Hatiku diliputi kehangatan.
Matahari mulai terbenam, dan Bali
semakin menawan.
***
Blog post ini
dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness : Share your
happiness with The Bay Bali & Get discovered! (dengan tulisan The Bay Bali
yang di link ke website : www.thebaybali.com)