Wohooo 2017 nih :) Alhamdulillah...
Well, tahun yang baru ini pastinya yang diinginkan semuanya manis, like arumanis, yang manisnya ga habis-habis :)
Syemangaattt!!
* lokasi photo : Sekaten, Desember 2016
Minggu, 08 Januari 2017
Dua Ribu Tujuh Belas
Kamis, 15 Desember 2016
Patah Hati Anya - #AStoryAbout
PATAH HATI ANYA
Aku melambaikan
tangan pada Anya saat menemukannya sedang duduk di bangku taman. Sore ini kami
memang janjian bertemu di Taman Kota, tempat favorit untuk melewatkan sore.
Dengan angin yang sepoi-sepoi, aneka jajanan lezat di depan taman, serta mengamati
orang-orang yang melakukan berbagai aktivitas sore, ah sungguh menyenangkan
berada di sini.
“Mau ice cream Mia?”
“Belum juga duduk
udah ditawarin ice cream aja nih. Oke,
strawberry rainbow...”
Anya segera berlalu
setelah aku selesai menjawab. Ah, kenapa Anya ini? Biasanya kami akan
duduk-duduk bersama dulu, kemudian bingung bersama akan memilih burger atau
batagor untuk jadi teman camilan selama mengobrol, lalu akan ditutup dengan
makan ice cream bersama, lalu…
“Ini.” Anya
menyerahkan cup ice cream rasa strawberry dengan taburan aneka meses
warna-warni.
“Anya, kamu baik-baik
saja?”
“Tidak…” air mata
Anya tiba-tiba jatuh di pipinya.
“Anya… Ya ampun, kamu
kenapa?”
Anya memelukku, erat.
“Bukan hal mudah
untuk bisa menerima semua ini Mia...” Sambil melepaskan pelukannya, Anya bicara
sesengukan.
“Ini…” aku
menyodorkan tissue yang aku ambil dari dalam tas. Anya menghapus air matanya,
namun tidak berapa lama air matanya jatuh lagi.
“Aku benci dia!”
“Siapa?”
“Aris.”
“Anya…”
“Bagaimana bisa dia
memutuskan untuk bersama dengan yang lain, sementara selama ini aku kurang apa
Mia…”
“Anya…”
“Iya, aku tahu, Aris
tidak pernah suka aku. Aku tahu, Aris hanya bersikap baik karena aku selalu
baik sama dia. Aku tahu itu Mia…”
Aku sedih melihat
Anya.
“Seharusnya aku tidak
berharap pada Aris kan Mia? Seperti yang pernah kamu bilang.”
Aku diam. Saat ini
aku tidak bisa bilang apa-apa, selain duduk di samping sahabatku.
“Aku tahu, ini pasti
akan kejadian. Tapi kenapa sakit banget Mia saat Aris benar-benar memilih yang
lain, bukan aku.”
Aku masih diam.
“Kamu boleh salahin
aku karena kebodohanku untuk tetap mempertahankan rasa ini untuk Aris,
sementara aku tahu, benar-benar tahu, Aris not
falling in love mith me!” air mata Anya yang sudah mulai mengering kembali
jatuh.
“Anya… Aku… Aku…” Ah,
kenapa aku kehabisan kata-kata begini?
“Mia, itu ice
creamnya cair. Buruan diabisin, udah aku traktir juga…”
“Hah? Ah, iya! Eh,
baru nyadar kalau kamu cuman beli ice cream buat aku, hahaha… Makasih ya.”
Anya tertawa. Ah,
sorot mata Anya yang sedih itu sungguh membuatku tergetar.
*
Aku ragu-ragu
memasuki restaurant pizza yang sudah di depan mata. Aku melihat Aris dari balik
kaca. Dia memang tidak melihatku saat tanpa sengaja mataku menangkap sosok Aris
yang sedang asyik mengobrol dengan seseorang yang duduk di depannya. Dan,
seseorang itu, Malika, sepupuku. Pagi tadi Malika menelpon dan mengundangku
untuk merayakan kegembiraannya karena sekarang sudah memiliki pacar. Tapi, apakah
Aris pacar Malika? Apa ini yang Anya bilang, Aris jatuh cinta dengan seseorang
yang baru saja dikenalnya saat bertemu dalam sebuah acara diskusi film, dan aku
tahu sekali, Malika cinta dunia film.
Ah, tapi kenapa harus Aris, Malika?
Langkahku terasa
sangat berat saat memasuki restaurant.***
Note :
Cerita Percikan ini
pernah dikirim di Majalah Gadis (2016), namun tidak dimuat.
Rabu, 31 Agustus 2016
Laki Laki Itu - #AStoryAbout
LAKI LAKI ITU
Setiap
hari Senin siang, antara pukul 12.00-13.00, laki-laki itu selalu datang ke Vleap,
cafe tempat aku bekerja sebagai kasir. Dia akan memesan menu yang sama, segelas
hot tea, sandwitch tuna, dan salad
buah. Laki-laki tampan dengan hidung mancung dan bentuk badan yang proposional
itu selalu datang sendiri. Dia akan duduk menghadap jendela, membelakangi aku
yang duduk di meja kasir. Jujur, aku suka dia sejak dia datang pertama kali di
Vleap beberapa bulan yang lalu. Iya, aku suka dengan laki-laki yang selalu
memakai kemeja rapi dipadu celana jins, dan sepatu sportnya yang kadang
berwarna merah, biru, atau kuning.
Sebenarnya aku ingin mengobrol
sebentar dengan dia di luar urusan “transaksi menu”. Aku ingin menanyakan,
siapa namanya. Kenapa dia selalu datang di hari Senin. Kenapa dia selalu
memesan menu yang sama. Apa pekerjaannya. Dan lain-lain. Ah, seandainya aku
benar-benar bisa melakukan semua itu, bukan hanya dipendam di dalam hati saja.
Yang sampai sekarang bisa aku lakukan saat bertemu dengan laki-laki itu, hanya berusaha
memberikan senyum terbaikku, dan mengucapkan terimakasih saat dia selesai membayar.
Setiap hari Senin aku sengaja mengambil shift
pagi, tentu saja agar aku bisa bertemu dengan laki-laki itu, laki-laki yang
memberikan debaran indah di hatiku.
*
Dia datang! Ya, aku melihat laki-laki
itu membuka pintu Vleap, dan bersiap menuju meja favoritnya. Sayang, meja itu
sudah ditempati. Akhirnya, laki-laki itu memilih meja yang berada tepat di depanku.
Bisa dibayangkan, jantungku semakin berdegup kencang saat laki-laki itu duduk
menghadap ke arahku. Ah, kenapa dia tidak memilih duduk di kursi yang
membelakangi aku saja, sehingga kami tidak harus berhadapan seperti ini!
Aku mulai curi-curi pandang ke arah
laki-laki itu, tentu saja aku melakukannya secara diam-diam, saat laki-laki itu
sedang asyik dengan ponselnya, atau saat pandangan laki-laki itu tidak tertuju
di meja kasir. Siang ini, laki-laki itu terlihat sangat segar dengan kemeja
abu-abu, jins biru, dan sepatu sportnya yang juga berwarna biru.
“Toilet dimana ya?”
“Eh…
Iya… maaf, apa?” aku langsung gugup saat laki-laki itu berdiri didepan meja
kasir dan bicara denganku diluar urusan “transaksi menu”.
“Toilet?”
“Oh,
itu, disana.” Setengah mati aku berusaha untuk tetap bersikap tenang, padahal
jantungku sedang berdebar hebat saat menatap laki-laki itu.
“Oh… ternyata disana, tidak kelihatan.”
“Iya Mas, pot besar dengan pohon palem
itu memang sedikit menutupi pintu toilet.”
“Oh iya… pohonnya!” laki-laki menunjuk
pot sambil tertawa. Ah, dia memang menawan! “Sudah sering kesini tapi belum pernah
tahu dimana toiletnya…”
“Anda kan hanya datang setiap Senin
saja…” Apa yang baru saja aku katakan!
Kenapa aku harus terlihat sangat memperhatikan dia! Bodoh!
Aku
mulai merasakan wajahku yang mulai memanas saat laki-laki itu tersenyum dan
berlalu menuju toilet.
*
Senin
ini aku memang berdandan lebih istimewa. Mengoleskan maskara lebih banyak,
memulas blush on sedikit lebih tebal,
dan mengganti warna lipstick peachku
dengan warna orange. Aku sengaja memakai bandana warna hitam, dan membiarkan
rambut ikalku tergerai, tidak diikat seperti biasanya. Sebelum berangkat kerja
aku terus bercermin, hanya untuk memastikan apakan dandananku sudah sempurna.
Apakah bedakku terlalu tebal. Apakah baju seragam kasirku yang berwarna krem
ini membuat kecantikanku berkurang. Apakah ini, apakah itu… Ah, jatuh cinta
memang membingungkan! Rasanya ingin selalu terlihat cantik di depan orang yang
kita suka. Eh, tunggu… jatuh cinta? Apa benar aku sedang jatuh cinta? Yang
pasti, aku ingin terlihat istimewa dihadapan laki-laki yang datang setiap hari
Senin itu.
Awalnya
aku merasa tidak nyaman saat teman-teman kerjaku mulai menggoda. Ya, mereka
menyadari perubahanku! Tapi lama-lama aku tidak terlalu peduli saat mereka
bilang aku berubah layaknya akan kondangan nikahan! Dasar usil! Yang jelas, aku
merasa cantik hari ini.
Dia
datang!
Jantungku
berdegup cepat saat laki-laki itu melambaikan tangannya ke arahku sambil
berjalan menuju meja favoritnya. Aku membalas lambaian tangannya dan berusaha
memberikan senyum terbaikku. Ah, kenapa meja di ujung yang menghadap ke jalan
raya itu kosong? Aku berharap dia akan duduk berhadapan denganku seperti Senin
lalu. Ya, sudahlah, melihat dia datang saja aku sudah bahagia. Senin ini
laki-laki itu memakai celana jins hitam, dengan kemeja putih lengan pendek,
dipadu sepatu sport warna kuning. Tampan!
Satu
jam berlalu, dan jantungku mulai berdegup lagi saat dia berjalan menuju meja
kasir. Semoga dia menyadari perubahanku. Semoga dia tahu, aku berdandan lebih
cantik untuk dia. Semoga…
“Sudah?”
“Ya!
Seperti biasa…” sungguh, aku tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia saat
laki-laki itu tersenyum dan mulai bicara denganku.
“Hot tea, sandwitch tuna, dan salad
buah…”
“Yes!”
“Kenapa
tidak pernah memesan yang lainnya Mas? Semua yang terpampang di menu kami
rasanya enak looh…” aku mencoba
mengulur pembicaraan, supaya bisa lebih lama mengobrol dengan laki-laki itu.
“Iya,
saya percaya. Siapa yang meragukan menu-menu lezat di Vleap.”
“Pasti!”
“Tapi
saya tidak akan mengganti menu, karena yang saya pesan adalah yang terbaik!”
“Baiklah…”
“Terimakasih…
Lea.” Laki-laki itu memanggil namaku saat menerima uang kembalian! Aku tahu,
laki-laki itu bukan cenayang yang tiba-tiba tahu namaku. Atau, laki-laki itu
sengaja bertanya pada teman-temanku di cafe siapa namaku. Pin oval berwarna
merah yang berada di dada kiri ini, sudah jelas-jelas menunjukkan namaku.
“Terimakasih
kembali… silahkan datang lagi hari Senin nanti…”
“Siap!
Bye Lea.”
“Selamat
jalan.”
Ah,
aku bahagia!
*
Alfan,
nama laki-laki itu. Iya, laki-laki yang selalu datang ke Vleap setiap Senin
siang itu. Alfan bekerja sebagai copywriter di salah satu perusahaan periklanan
yang cukup ternama di Yogya. Pada akhirnya aku menemukan jawaban demi jawaban
dari pertanyaan yang selama ini tersimpan di hati. Alfan datang setiap Senin setelah
dia selesai meeting dengan client yang kantornya tidak jauh dari
Vleap. Sekarang, aku tidak hanya bertemu dengan Alfan pada hari Senin saja. Aku
dan Alfan sering menghabiskan waktu di perpustakaan, menonton bioskop bersama,
atau hanya ngobrol santai di angkringan.
Aku
masih bekerja di Vleap, tapi bukan sebagai kasir lagi melainkan supervisor. Jam
kerjaku yang berubah dari pagi hingga malam selama 5 hari, membuat waktuku
untuk bertemu dengan Alfan lebih banyak di hari liburku yang 2 hari itu. Alfan
masih datang setiap hari Senin siang seperti biasanya, hanya saja aku tidak
selalu bisa bertemu dengannya, karena sekarang aku sudah punya “ruang kerja sendiri”
di Vleap. Meskipun jarang bertemu Alfan di hari Senin, namun semua itu tidak
jadi masalah, karena kami sudah sering bertemu, berbicara, dan menghabiskan
waktu bersama. Rasa sayang yang aku miliki untuk Alfan semakin hari semakin
besar saja.
“Aku
ingin menjawab pertanyaan kamu Lea.” Di sore yang sejuk, aku dan Alfan duduk
berhadapan di sebuah coffeshop mungil di tengah kota Yogya. Coffeshop yang
hanya berisi 5 meja ini tampak lenggang. Hanya 2 meja yang terisi. Iringan
musik jazz mengiringi pembicaraan kami yang sudah berlangsung sekitar setengah
jam lalu.
“Pertanyaan
yang mana?”
“Sebelumnya,
apa kamu pernah kesini?” aku menggeleng. “Suka coffeshop ini Lea?”
“Suka.”
Aku memandangi dinding coffeshop dipenuhi poster-poster band.
“Tempat
ini…” mata Alfan menerawang. “Aku punya banyak kenangan disini.”
Aku
hanya diam. Entah mengapa perasaanku mulai tidak karuan. Aku tahu, mungkin saja
Alfan akan bercerita tentang sesuatu yang tidak aku suka.
“Aku
mengenal dia pertama kali disini…” Alfan menarik nafas dalam-dalam.
Dadaku
mulai sesak.
Aku
benci ini!
“Hanya
dalam waktu 2 minggu setelah perkenalan itu, kami menjalin hubungan yang lebih
dari sekedar teman biasa.”
“Apa
ini tentang mantan pacar Mas Alfan?” mulutku tidak tahan juga untuk tidak
berkomentar.
“Namanya
Nia.”
Alfan
kembali menarik nafas dalam-dalam.
“Kami
pacaran 3 tahun, dan sudah berencana untuk menikah. Tapi, dia pergi sebulan
sebelum pernikahan kami berlangsung…”
“Maaf….”
Aku mulai melihat luka di mata Alfan.
“Dia
pergi entah kemana... aku kehilangan jejak. Bahkan sampai sekarang aku tidak
tahu kabarnya… ini, Nia.” Alfan menunjukkan foto di layar ponselnya.
Tunggu!
Sepertinya aku pernah melihat perempuan berambut panjang sebahu di foto yang
ditunjukkan Alfan kepadaku… Ya, aku inggat! Perempuan bernama Nia itu tetangga
baruku. Dia pindah beberapa minggu yang lalu. Aku baru sekitar 2 atau 3 kali
bertemu dengannya, saat kami berpapasan di jalan komplek perumahan. Dari cerita
yang aku dapatkan dari Ibu, tetangga baru itu pindahan dari Australia. Dia tinggal
bersama suaminya yang orang Australia, dan seorang anak perempuan mereka yang
masih balita.
“Di
dalam segelas hot tea, sandwitch
tuna, dan salad buah di Vleap aku menemukan Nia, karena minuman dan makanan itu
kesukaannya.”
Kepalaku
mulai terasa berat.
“Sampai
detik ini aku masih sangat mencintainya…”
Dan,
hatiku pun terluka. ***
#
Cerpen ini pernah dikirimkan, namun tidak mendapatkan respon dari pihak
penerima cerpen.
Happy
Reading! J
Selasa, 19 Juli 2016
Mencoba berPuisi
DI JALAN INI
Jantungku berdegup setiap
kali melintasi jalan ini
Langkahku terasa
berat saat menapaki sepanjang jalan ini
Pandanganku terasa
samar, dengan air mata yang tertahan saat melihat lampu kota yang memancarkan
sinarnya
Aku berhenti melangkah,
mencoba untuk mengatur nafasku yang mulai tak beraturan
Rasa hampa mulai
menyelimuti
Rasa sepi langsung
menghampiri
Mata yang terasa
berat kupaksakan untuk tetap terjaga
Tiba-tiba aku merasa
sepi diantara orang-orang yang berlalu lalang di hadapanku
Selasa, 24 Mei 2016
Senin, 01 Juni 2015
I Love You Ibu
Siang menjelang sore bertemankan hujan yang baru saja turun…
Well, tidak mudah rasanya untuk corat-coret blog di hari ini.
Perasaan sedih masih saja datang setiap kali inggat Ibu. Ya, tentu saja tidak
mudah menerima kenyataan, bahwa seseorang yang sangat dicintai sudah tidak
berada lagi dalam hari-hari yang terlewati. Tentu saja tidak mudah menjalani
detik-detik yang berlalu tanpa bisa melihat lagi senyum, tawa Ibu. Sangat tidak
mudah rasanya tidak bisa lagi mengobrol, bercanda, bahkan “berantem” dengan
Ibu. Sungguh, saya merindukan semua itu!
Namun saya tahu, Ibu sudah bahagia di sana, di sisi Allah SWT, amin J
Tanggal 23 Mei 2015 Ibu telah berpulang dengan tenang. Rasanya saya
masih tidak percaya bahwa Ibu sudah pergi untuk selamanya. Saya masih
berkomunikasi dengan Ibu beberapa jam sebelum Ibu pergi, meskipun hanya sepatah
dua patah kata. Tapi saya tahu, ini adalah jalan yang terbaik yang telah
diberikan Allah untuk Ibunda tersayang.
Ibu akan selalu berada di sini, didalam hati saya. Ibu akan selalu ada
dalam kenangan-kenangan indah yang terukir dalam memori ingatan saya.
Terimakasih Ibu. I love you Ibu J
Minggu, 26 April 2015
Ngomongin Idola @ Sunday
Heloo Sunday! Siang menjelang sore dengan cuaca yang lumayan panas. Kalau hujan turun itu sekarang hawanya rada dag-dig-dug... sedih, melihat banjir yang sedang melanda beberapa wilayah di Jogja. Semoga Jogja aman selalu. Amin.
Baik, mari mengobrol tentang... Idola! Hmmm... sampai saat ini Leonardo Di Caprio masih juara! hahaha :D doi itu kece banget pas main di film Romeo Juliet, dan sampai sekarang tuh film masih nempel aja di kepala. Dasyat! Kalau bicara tentang idola itu ya... banyak sih! Dan saya senang bisa bertemu langsung dengan idola-idola :)
Yeah, dari dulu saya nge'fans sama Joko Anwar, sejak dia jadi sutradara di film Janji Joni. Senang bisa bertemu langsung dengan dia, saat mengikuti sebuah workshop film. Glad! :D
Lalu siapa lagi ya? Yang belum ketemu langsung sama Rio Dewanto nih, semoga suatu hari nanti... *wish* sumpah, doi kece banget di film Filosofi Kopi, keren!
Saya rasa, Twitter itu cukup membantu untuk "bertemu" dengan idola hahaha! :) hidup Twitter!
Okeh, sapa lagi ya... Glenn Fredly dunk! Lagu-lagu yang dia bikin itu liriknya cetaarrrrr!!! Menusuk! Dan saya senang bisa bertemu Glenn saat SMA dulu di sebuah station radio, pas dia lagi mau wawancara gituh *jadulabis* :D pernah juga melihat performance'nya, KECEH!
Ah, kalau ngomongin idola itu banyaaak benerrr deh... Bapak tukang sampah yang setiap hari ngambil sampah di lingkungan tempat tinggal, jadi idola juga! Tanpanya... aku butiran debu *efek sampah belum diambil 2 hari* huks! :(((
Ya, begitulah... masing-masing orang pasti punya idola, yang bikin hidup lebih termotivasi gitu kalau buat saya mah :)
Ya, ngeliat film'nya Bang Joko Anwar, jadi mupeng pengen bikin film... amin! Semoga kejadian, at least bisa film pendek dululah *lalalalayeyeyeyeye* ;)
Baca novel-novelnya Mbak Alberthiene Endah, jadi pengen punya novel... *glek* amin! :D
Ngeliat Bapak tukang sampah yang maaf saya tidak tahu namanya, yang ambilin sampah tanpa lelah, jadi bikin lebih cinta lingkungan :)
Ya, begitulah...
Yes! Mari terus melewati hari-hari dengan semangat. Jika semangat sedang meredup, just take a break, lakukan sesuatu yang bikin semangat kembali menyala. Kalau saya mah... makan coklat... lalu ngemil, lalu ngemil lagi... *glek* eh, tapi minumnya air putih dunk! Yeah! :D
Baiklah,
Selamat menikmati Minggu.
Hidup Idola! :)
Langganan:
Postingan (Atom)
Melewati Waktu
Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...
-
Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...
-
Halo 2026! Alhamdulillah sudah memasuki tahun yang baru. Mudah-mudahan hal-hal baik datang di tahun ini, aamiin. Dan, tentu saja, bisa menon...
-
Ngomongin film ah, di malam minggu yang mendayu ini, wohooo! Well, mulai dari Parasite... Gaung film Parasite memang sudah menggema sej...