Kamis, 12 Oktober 2017

Pertemuan Di Taman - #AStoryAbout


PERTEMUAN DI TAMAN

“Makanya bergaul, biar cepat bertemu dengan jodoh.” Kata-kata yang selalu kudengar setiap kali bertemu dengan Rita, sahabatku sejak SMA. Rita sudah menikah beberapa tahun setelah kelulusan sekolah. Suaminya yang pengusaha pupuk sudah memberikan 2 orang anak yang lucu-lucu.
          “Aku kan anak gaul, meski ga sekaliber selebritis sih, yang semua orang bakal nengok kalau aku lewat di depan mereka.”
          “Gaul apaan! Orang kok kerjaannya cuman ngendon dirumah.”
       “Sebagai penulis kan memang lebih banyak menghabiskan waktu dirumah. Bertapa, cari ide, cari inspirasi, ngetik… tapi, sesekali aku juga nulis di luar rumah kok. Di perpustakaan, di taman, di cafe juga…”
“Percuma nongkrong di cafe kalau cuman menatap layar laptop. Lirik kanan-kirilah jugalah, cuci mata!”
“Hmmm...”
“Kita kan sudah temenan sejak bertahun-tahun silam ya, kok ya kamu tuh betah banget sih masih sendiri terus sampai sekarang.”
“Hmmm…”
“Kamu itu kalau dibilangin selalu begini, hmmm… hmmm… hmmm… basi!”
          “Sudah ah, ngobrolin yang lain saja.”
          “Fariza sudah mau masuk TK, Alif juga sudah naik kelas 4.”
          “Terus?”
          “Terus, kapan kamu nikah!”
          Aku menggaruk kepala yang tidak gatal.
*
          “Aku kan sudah bilang, ga mau dijodoh-jodohin!” Aku langsung sewot saat Tiwi mulai pasang aksi mengabsen teman laki-laki yang belum menikah di kantornya, di sebuah bank swasta.
          “Kenalan dulu ya. Kali aja ada yang cocok, terus pacaran, terus menikah.”
          “Ini sudah zaman Rihanna, bukan zaman Siti Nurbaya!”
          “Nah, kamu lupa! Ini buktinya!” Tiwi menepuk-nepuk dadanya. “Aku hasil dari perjodohan, dan selalu hidup bahagia bersama Mas Aryo.” Wajah Tiwi, teman akrabku sejak kuliah semester pertama itu selalu tampak bangga saat menyebut nama suaminya yang dosen.
          “Itu kan kamu. Kalau aku, tidak akan pernah mau dijodohin!”
“Keras kepala!”
“Bisa tidak ngobrolin hal lain selain soal JODOH!”
          “Tentu bisa! Terus, kapan kamu menikah?”
Please…”
“Ingget umur sayang! Tahun ini sudah 34.”
          “Ga usah diingetin juga sudah inggat. Bisa ngobrolin yang lain tidak?”
          “Ini…” Tiwi menunjukkan sesuatu di jari manisnya.
          “Wow! Ini cincin idaman kamu kan? Yang mahal itu kan?”
          “Ah, aku jadi malu.”
          “Akhirnya, Mas Aryo tercinta luluh juga.”
          “Pasti! Suami siapa dulu?”
Idih!”
“Bagus ya cincinnya.”
          “Banget!”
          “Eh, aku tunjukin foto-foto cowok jomblo di kantor ya.”
          “Ampun!!!”
          Tawa Tiwi meledak. 
*
          “Aku akan menikah tahun depan! Januari, yang tinggal 4 bulan lagi.”  
          “Yes! Selamat Vonny. I’am happy for you!” aku memeluk Vonny, tetangga sebelah rumah sekaligus sahabatku sejak masa anak-anak.
          “Makasih.”
          “Acara lamaran semalam syahdu banget ya. Suka!”  
          “Dimas ganteng banget ya pas semalam pakai batik.”
          “Yes! Rasakan kamu anak band! Akhirnya ngelihat si drummer pakai baju resmi.”
          Vonny tertawa. Ada sorot kebahagiaan yang terus terpancar dari mata sahabat terbaikku itu.
          “Padahal, Dimas itu pacar tersingkatku.”
Yes! Dalam waktu kurang dari setahun sejak kalian pacaran, Dimas akhirnya melamar kamu.”
“Dimas akan menjadi suamiku!” sorot kebahagiaan itu semakin terpancar saat melihat wajah Vonny yang tampak berseri. Sumpah, aku iri!
          “Sudah jodoh Vonny.”
          “Terus, jodoh kamu mana?”
          “Nah, kan, kepalaku mulai berputar-putar, perutku mulai mual…”
          “Dari dulu pendekatan terus, tapi ga jadian-jadian.”
          “Jahat!”
“Maaf…”
“Inginnya ya langsung bertemu dengan seseorang yang tepat, lalu menikah.”
          “Nah, temukan laki-laki itu!”
          “Belum ketemu.”
          “Kamu tidak mencarinya.”
          “Jodoh akan datang dengan sendirinya.”
          “Jodoh itu dicari!”
          “Sudah mencari! Tapi belum ketemu.”
          “Usahanya kurang kenceng! Masih terganjal masa lalu.”
          Aku diam.
          “Maaf…”
“Kamu kan tahu Vonny, bagaimana perihnya ketika kamu jatuh cinta setengah mati dengan seseorang, dan akhirnya orang itu menikah dengan orang lain.”
          “Waktu itu kamu tidak menunjukkan perasaan pada Rizal.”
“Apa dia tidak pernah sadar, kalau aku benar-benar sayang dia…” dadaku mulai bergemuruh. Ada luka yang belum sepenuhnya sembuh dari dalam hatiku.
“Bukan berarti kamu harus trauma untuk jatuh cinta lagi kan?”
          Tanpa terasa airmataku menetes.
          “Don’t cry!” mata Vonny terlihat mulai berkaca-kaca.
          “Sudah, tidak usah ikut-ikutan menangis. Yang cengeng kan aku.” Aku menghapus airmata yang mulai jatuh di pipi.
          “Aku sedih setiap kamu bicara tentang Rizal.”
          “Rizal sudah bahagia Vonny…”
Vonny memeluk pundakku.
“Lupakan Rizal! Dan move on!”
I will.”
*
          Aku menghirup udara sore dalam-dalam. Rasa lelah setelah berkutat dengan pekerjaan sedikit hilang saat menatap indahnya langit senja. Namun, saat teringat dengan kejadian semalam, dadaku mulai terasa sedikit sesak. Saat makan malam, Bapak tiba-tiba bertanya kenapa aku belum juga memiliki kekasih. Aku cukup terkejut mendapat “serangan mendadak” dari Bapak. Selama ini Bapak jarang sekali membahas hal-hal yang menyangkut masalah pribadi seperti itu. Ibu juga kompakan dengan Bapak, mulai bertanya-tanya tentang teman laki-laki yang belum menikah, yang kemungkinan bisa menjadi calon suamiku.
Aku tahu, memang tidak mudah menjadi orangtua yang hidup bermasyarakat, dan harus menghadapi kenyataan anak perempuannya yang sudah kepala 3 belum menikah. Apalagi teman-teman terdekatku yang juga akrab dengan Bapak dan Ibu satu persatu mulai berumahtangga. Entah sampai kapan aku bisa terus bertahan seperti ini? Lari dari kenyataan dibalik rutinitas pekerjaan, dan selalu berhasil menghindar dari orang-orang yang menyoroti statusku sebagai perempuan single.
Kepalaku mulai pusing!
          “Ini kosong Mbak?” aku tersentak saat melihat sesorang yang sedang menunjuk bangku disebelahku.
          “Eh… iya, kosong Mas.” Hampir saja aku melempar buku ke arah laki-laki yang sedang tersenyum sambil bersiap duduk disampingku.
          Hey, kenapa jantungku berdegup saat melihat senyuman itu?
          “Sedang membaca buku atau sedang melamun? Kelihatannya kaget sekali waktu saya ajak bicara.”
          “Baca buku sambil melamun.”
          Laki-laki dengan kemeja putih lengan pendek, jins hitam, dan berambut cepak itu tertawa.
          “Anda lucu Mbak… Fella.”
          “Anda tahu nama saya?”
          Laki-laki itu menunjuk pin didadaku.
“Oh… iya…” Aku menepuk pelan keningku.
“Anda bekerja di Vloip? Cafe yang terkenal dengan aneka minuman tehnya yang enak itu?”
          Aku mengangguk mantap.
          “Beberapa kali saya datang ke Vloip, tapi tidak pernah bertemu dengan anda.”
          “Saya pekerja lepas di Vloip. Kalau pas ada event saja.”
          “Oh. Ada event apa dalam waktu dekat ini?”
“Launcing buku Bagas Febrianto.”
“Penulis novel Kemana Kau Pergi.”
“Betul sekali. Silahkan datang hari Sabtu nanti Mas…”
          “Ale.” Laki-laki dengan senyum indah itu mengulurkan tangannya.
          “Fella saja, tanpa Mbak.” Aku menyambut uluran tangan laki-laki itu dengan jantung yang kembali berdegup.  
          “Oke… Vloip itu tempat yang menyenangkan. Saya biasa kumpul di sana sama teman-teman kantor.”
“Ditunggu kedatangannya Mas Ale. Sabtu, jam 19.00. Ajakin teman-temannya ya…”
“Siap! Panggil Ale saja ya, tanpa Mas.”
Aku tertawa. Ale ikut tertawa.
Hey, kenapa aku merasa sangat bahagia? Sebuah rasa yang sudah lama hilang dari dalam diriku.   
Apakah Ale… Whops!  ***
   
 * Cerpen ini pernah dikirimkan ke Majalah Femina, namun mendapatkan email balasan tidak dimuat.









Sabtu, 23 September 2017

Hari Ini

Kemana kaki akan melangkah pada hari ini? Menuju ke sebuah tempat yang membuat hati bahagia, meskipun hanya tempat yang sederhana saja, taman di sekitar misalnya. Seru!
Atau, mau jalan-jalan ke Mal, piknik ke luar kota, ke bioskop, nonton teater, ke pameran seni... Well, kemanapun tujuan pada Sabtu ini, pastinya akan menggembirakan hari.
Mau sendirian aja, bersama keluarga, berdua sama pasangan, kumpul sama sahabat, beramai-ramai dengan teman, pastikan agenda kamu menyenangkan hari ini. 
Happy Saturday!

Minggu, 08 Januari 2017

Dua Ribu Tujuh Belas

Wohooo 2017 nih :) Alhamdulillah...
Well, tahun yang baru ini pastinya yang diinginkan semuanya manis, like arumanis, yang manisnya ga habis-habis :)
Syemangaattt!!
* lokasi photo : Sekaten, Desember 2016

Kamis, 15 Desember 2016

Patah Hati Anya - #AStoryAbout


PATAH HATI ANYA


Aku melambaikan tangan pada Anya saat menemukannya sedang duduk di bangku taman. Sore ini kami memang janjian bertemu di Taman Kota, tempat favorit untuk melewatkan sore. Dengan angin yang sepoi-sepoi, aneka jajanan lezat di depan taman, serta mengamati orang-orang yang melakukan berbagai aktivitas sore, ah sungguh menyenangkan berada di sini.
“Mau ice cream Mia?”
“Belum juga duduk udah ditawarin ice cream aja nih. Oke, strawberry rainbow...”
Anya segera berlalu setelah aku selesai menjawab. Ah, kenapa Anya ini? Biasanya kami akan duduk-duduk bersama dulu, kemudian bingung bersama akan memilih burger atau batagor untuk jadi teman camilan selama mengobrol, lalu akan ditutup dengan makan ice cream bersama, lalu…
“Ini.” Anya menyerahkan cup ice cream rasa strawberry dengan taburan aneka meses warna-warni.
“Anya, kamu baik-baik saja?”
“Tidak…” air mata Anya tiba-tiba jatuh di pipinya.
“Anya… Ya ampun, kamu kenapa?”
Anya memelukku, erat.
“Bukan hal mudah untuk bisa menerima semua ini Mia...” Sambil melepaskan pelukannya, Anya bicara sesengukan.
“Ini…” aku menyodorkan tissue yang aku ambil dari dalam tas. Anya menghapus air matanya, namun tidak berapa lama air matanya jatuh lagi.
“Aku benci dia!”
“Siapa?”
“Aris.”
“Anya…”
“Bagaimana bisa dia memutuskan untuk bersama dengan yang lain, sementara selama ini aku kurang apa Mia…”
“Anya…”
“Iya, aku tahu, Aris tidak pernah suka aku. Aku tahu, Aris hanya bersikap baik karena aku selalu baik sama dia. Aku tahu itu Mia…”
Aku sedih melihat Anya.
“Seharusnya aku tidak berharap pada Aris kan Mia? Seperti yang pernah kamu bilang.”
Aku diam. Saat ini aku tidak bisa bilang apa-apa, selain duduk di samping sahabatku.
“Aku tahu, ini pasti akan kejadian. Tapi kenapa sakit banget Mia saat Aris benar-benar memilih yang lain, bukan aku.”
Aku masih diam.
“Kamu boleh salahin aku karena kebodohanku untuk tetap mempertahankan rasa ini untuk Aris, sementara aku tahu, benar-benar tahu, Aris not falling in love mith me!” air mata Anya yang sudah mulai mengering kembali jatuh.
“Anya… Aku… Aku…” Ah, kenapa aku kehabisan kata-kata begini?
“Mia, itu ice creamnya cair. Buruan diabisin, udah aku traktir juga…”
“Hah? Ah, iya! Eh, baru nyadar kalau kamu cuman beli ice cream buat aku, hahaha… Makasih ya.”
Anya tertawa. Ah, sorot mata Anya yang sedih itu sungguh membuatku tergetar.
*
Aku ragu-ragu memasuki restaurant pizza yang sudah di depan mata. Aku melihat Aris dari balik kaca. Dia memang tidak melihatku saat tanpa sengaja mataku menangkap sosok Aris yang sedang asyik mengobrol dengan seseorang yang duduk di depannya. Dan, seseorang itu, Malika, sepupuku. Pagi tadi Malika menelpon dan mengundangku untuk merayakan kegembiraannya karena sekarang sudah memiliki pacar. Tapi, apakah Aris pacar Malika? Apa ini yang Anya bilang, Aris jatuh cinta dengan seseorang yang baru saja dikenalnya saat bertemu dalam sebuah acara diskusi film, dan aku tahu sekali, Malika cinta dunia film.
Ah, tapi kenapa harus Aris, Malika?
Langkahku terasa sangat berat saat memasuki restaurant.***  


Note :
Cerita Percikan ini pernah dikirim di Majalah Gadis (2016), namun tidak dimuat.

Rabu, 31 Agustus 2016

Laki Laki Itu - #AStoryAbout



LAKI LAKI ITU

Setiap hari Senin siang, antara pukul 12.00-13.00, laki-laki itu selalu datang ke Vleap, cafe tempat aku bekerja sebagai kasir. Dia akan memesan menu yang sama, segelas hot tea, sandwitch tuna, dan salad buah. Laki-laki tampan dengan hidung mancung dan bentuk badan yang proposional itu selalu datang sendiri. Dia akan duduk menghadap jendela, membelakangi aku yang duduk di meja kasir. Jujur, aku suka dia sejak dia datang pertama kali di Vleap beberapa bulan yang lalu. Iya, aku suka dengan laki-laki yang selalu memakai kemeja rapi dipadu celana jins, dan sepatu sportnya yang kadang berwarna merah, biru, atau kuning.
          Sebenarnya aku ingin mengobrol sebentar dengan dia di luar urusan “transaksi menu”. Aku ingin menanyakan, siapa namanya. Kenapa dia selalu datang di hari Senin. Kenapa dia selalu memesan menu yang sama. Apa pekerjaannya. Dan lain-lain. Ah, seandainya aku benar-benar bisa melakukan semua itu, bukan hanya dipendam di dalam hati saja. Yang sampai sekarang bisa aku lakukan saat bertemu dengan laki-laki itu, hanya berusaha memberikan senyum terbaikku, dan mengucapkan terimakasih saat dia selesai membayar. Setiap hari Senin aku sengaja mengambil shift pagi, tentu saja agar aku bisa bertemu dengan laki-laki itu, laki-laki yang memberikan debaran indah di hatiku.
*
          Dia datang! Ya, aku melihat laki-laki itu membuka pintu Vleap, dan bersiap menuju meja favoritnya. Sayang, meja itu sudah ditempati. Akhirnya, laki-laki itu memilih meja yang berada tepat di depanku. Bisa dibayangkan, jantungku semakin berdegup kencang saat laki-laki itu duduk menghadap ke arahku. Ah, kenapa dia tidak memilih duduk di kursi yang membelakangi aku saja, sehingga kami tidak harus berhadapan seperti ini!  
          Aku mulai curi-curi pandang ke arah laki-laki itu, tentu saja aku melakukannya secara diam-diam, saat laki-laki itu sedang asyik dengan ponselnya, atau saat pandangan laki-laki itu tidak tertuju di meja kasir. Siang ini, laki-laki itu terlihat sangat segar dengan kemeja abu-abu, jins biru, dan sepatu sportnya yang juga berwarna biru.  
          “Toilet dimana ya?”    
“Eh… Iya… maaf, apa?” aku langsung gugup saat laki-laki itu berdiri didepan meja kasir dan bicara denganku diluar urusan “transaksi menu”.
“Toilet?”
“Oh, itu, disana.” Setengah mati aku berusaha untuk tetap bersikap tenang, padahal jantungku sedang berdebar hebat saat menatap laki-laki itu.
          “Oh… ternyata disana, tidak kelihatan.”
          “Iya Mas, pot besar dengan pohon palem itu memang sedikit menutupi pintu toilet.”
          “Oh iya… pohonnya!” laki-laki menunjuk pot sambil tertawa. Ah, dia memang menawan! “Sudah sering kesini tapi belum pernah tahu dimana toiletnya…”
          “Anda kan hanya datang setiap Senin saja…” Apa yang baru saja aku katakan! Kenapa aku harus terlihat sangat memperhatikan dia! Bodoh!
Aku mulai merasakan wajahku yang mulai memanas saat laki-laki itu tersenyum dan berlalu menuju toilet.
*
Senin ini aku memang berdandan lebih istimewa. Mengoleskan maskara lebih banyak, memulas blush on sedikit lebih tebal, dan mengganti warna lipstick peachku dengan warna orange. Aku sengaja memakai bandana warna hitam, dan membiarkan rambut ikalku tergerai, tidak diikat seperti biasanya. Sebelum berangkat kerja aku terus bercermin, hanya untuk memastikan apakan dandananku sudah sempurna. Apakah bedakku terlalu tebal. Apakah baju seragam kasirku yang berwarna krem ini membuat kecantikanku berkurang. Apakah ini, apakah itu… Ah, jatuh cinta memang membingungkan! Rasanya ingin selalu terlihat cantik di depan orang yang kita suka. Eh, tunggu… jatuh cinta? Apa benar aku sedang jatuh cinta? Yang pasti, aku ingin terlihat istimewa dihadapan laki-laki yang datang setiap hari Senin itu.
Awalnya aku merasa tidak nyaman saat teman-teman kerjaku mulai menggoda. Ya, mereka menyadari perubahanku! Tapi lama-lama aku tidak terlalu peduli saat mereka bilang aku berubah layaknya akan kondangan nikahan! Dasar usil! Yang jelas, aku merasa cantik hari ini.
Dia datang!
Jantungku berdegup cepat saat laki-laki itu melambaikan tangannya ke arahku sambil berjalan menuju meja favoritnya. Aku membalas lambaian tangannya dan berusaha memberikan senyum terbaikku. Ah, kenapa meja di ujung yang menghadap ke jalan raya itu kosong? Aku berharap dia akan duduk berhadapan denganku seperti Senin lalu. Ya, sudahlah, melihat dia datang saja aku sudah bahagia. Senin ini laki-laki itu memakai celana jins hitam, dengan kemeja putih lengan pendek, dipadu sepatu sport warna kuning. Tampan!
Satu jam berlalu, dan jantungku mulai berdegup lagi saat dia berjalan menuju meja kasir. Semoga dia menyadari perubahanku. Semoga dia tahu, aku berdandan lebih cantik untuk dia. Semoga…
“Sudah?”
“Ya! Seperti biasa…” sungguh, aku tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia saat laki-laki itu tersenyum dan mulai bicara denganku.
Hot tea, sandwitch tuna, dan salad buah…”
Yes!”
“Kenapa tidak pernah memesan yang lainnya Mas? Semua yang terpampang di menu kami rasanya enak looh…” aku mencoba mengulur pembicaraan, supaya bisa lebih lama mengobrol dengan laki-laki itu.
“Iya, saya percaya. Siapa yang meragukan menu-menu lezat di Vleap.”
“Pasti!”
“Tapi saya tidak akan mengganti menu, karena yang saya pesan adalah yang terbaik!”
“Baiklah…”
“Terimakasih… Lea.” Laki-laki itu memanggil namaku saat menerima uang kembalian! Aku tahu, laki-laki itu bukan cenayang yang tiba-tiba tahu namaku. Atau, laki-laki itu sengaja bertanya pada teman-temanku di cafe siapa namaku. Pin oval berwarna merah yang berada di dada kiri ini, sudah jelas-jelas menunjukkan namaku.
“Terimakasih kembali… silahkan datang lagi hari Senin nanti…”
“Siap! Bye Lea.”
“Selamat jalan.”
Ah, aku bahagia!
*
Alfan, nama laki-laki itu. Iya, laki-laki yang selalu datang ke Vleap setiap Senin siang itu. Alfan bekerja sebagai copywriter di salah satu perusahaan periklanan yang cukup ternama di Yogya. Pada akhirnya aku menemukan jawaban demi jawaban dari pertanyaan yang selama ini tersimpan di hati. Alfan datang setiap Senin setelah dia selesai meeting dengan client yang kantornya tidak jauh dari Vleap. Sekarang, aku tidak hanya bertemu dengan Alfan pada hari Senin saja. Aku dan Alfan sering menghabiskan waktu di perpustakaan, menonton bioskop bersama, atau hanya ngobrol santai di angkringan.  
Aku masih bekerja di Vleap, tapi bukan sebagai kasir lagi melainkan supervisor. Jam kerjaku yang berubah dari pagi hingga malam selama 5 hari, membuat waktuku untuk bertemu dengan Alfan lebih banyak di hari liburku yang 2 hari itu. Alfan masih datang setiap hari Senin siang seperti biasanya, hanya saja aku tidak selalu bisa bertemu dengannya, karena sekarang aku sudah punya “ruang kerja sendiri” di Vleap. Meskipun jarang bertemu Alfan di hari Senin, namun semua itu tidak jadi masalah, karena kami sudah sering bertemu, berbicara, dan menghabiskan waktu bersama. Rasa sayang yang aku miliki untuk Alfan semakin hari semakin besar saja.
  “Aku ingin menjawab pertanyaan kamu Lea.” Di sore yang sejuk, aku dan Alfan duduk berhadapan di sebuah coffeshop mungil di tengah kota Yogya. Coffeshop yang hanya berisi 5 meja ini tampak lenggang. Hanya 2 meja yang terisi. Iringan musik jazz mengiringi pembicaraan kami yang sudah berlangsung sekitar setengah jam lalu.
“Pertanyaan yang mana?”
“Sebelumnya, apa kamu pernah kesini?” aku menggeleng. “Suka coffeshop ini Lea?”
“Suka.” Aku memandangi dinding coffeshop dipenuhi poster-poster band.
“Tempat ini…” mata Alfan menerawang. “Aku punya banyak kenangan disini.”
Aku hanya diam. Entah mengapa perasaanku mulai tidak karuan. Aku tahu, mungkin saja Alfan akan bercerita tentang sesuatu yang tidak aku suka.
“Aku mengenal dia pertama kali disini…” Alfan menarik nafas dalam-dalam.
Dadaku mulai sesak.
Aku benci ini!
“Hanya dalam waktu 2 minggu setelah perkenalan itu, kami menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman biasa.”
“Apa ini tentang mantan pacar Mas Alfan?” mulutku tidak tahan juga untuk tidak berkomentar.
“Namanya Nia.”
Alfan kembali menarik nafas dalam-dalam.
“Kami pacaran 3 tahun, dan sudah berencana untuk menikah. Tapi, dia pergi sebulan sebelum pernikahan kami berlangsung…”
“Maaf….” Aku mulai melihat luka di mata Alfan.
“Dia pergi entah kemana... aku kehilangan jejak. Bahkan sampai sekarang aku tidak tahu kabarnya… ini, Nia.” Alfan menunjukkan foto di layar ponselnya.
Tunggu! Sepertinya aku pernah melihat perempuan berambut panjang sebahu di foto yang ditunjukkan Alfan kepadaku… Ya, aku inggat! Perempuan bernama Nia itu tetangga baruku. Dia pindah beberapa minggu yang lalu. Aku baru sekitar 2 atau 3 kali bertemu dengannya, saat kami berpapasan di jalan komplek perumahan. Dari cerita yang aku dapatkan dari Ibu, tetangga baru itu pindahan dari Australia. Dia tinggal bersama suaminya yang orang Australia, dan seorang anak perempuan mereka yang masih balita.
“Di dalam segelas hot tea, sandwitch tuna, dan salad buah di Vleap aku menemukan Nia, karena minuman dan makanan itu kesukaannya.”
Kepalaku mulai terasa berat.
“Sampai detik ini aku masih sangat mencintainya…”
Dan, hatiku pun terluka. ***

# Cerpen ini pernah dikirimkan, namun tidak mendapatkan respon dari pihak penerima cerpen.
Happy Reading! J

           

          

Selasa, 19 Juli 2016

Mencoba berPuisi


DI JALAN INI

Jantungku berdegup setiap kali melintasi jalan ini
Langkahku terasa berat saat menapaki sepanjang jalan ini
Pandanganku terasa samar, dengan air mata yang tertahan saat melihat lampu kota yang memancarkan sinarnya
Aku berhenti melangkah, mencoba untuk mengatur nafasku yang mulai tak beraturan
Rasa hampa mulai menyelimuti
Rasa sepi langsung menghampiri
Mata yang terasa berat kupaksakan untuk tetap terjaga
Tiba-tiba aku merasa sepi diantara orang-orang yang berlalu lalang di hadapanku


Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...