PERTEMUAN DI TAMAN
“Makanya
bergaul, biar cepat bertemu dengan jodoh.” Kata-kata yang selalu kudengar
setiap kali bertemu dengan Rita, sahabatku sejak SMA. Rita sudah menikah
beberapa tahun setelah kelulusan sekolah. Suaminya yang pengusaha pupuk sudah
memberikan 2 orang anak yang lucu-lucu.
“Aku kan anak gaul, meski ga sekaliber
selebritis sih, yang semua orang bakal nengok kalau aku lewat di depan mereka.”
“Gaul apaan! Orang kok kerjaannya cuman
ngendon dirumah.”
“Sebagai penulis kan memang lebih
banyak menghabiskan waktu dirumah. Bertapa, cari ide, cari inspirasi, ngetik… tapi,
sesekali aku juga nulis di luar rumah kok. Di perpustakaan, di taman, di cafe
juga…”
“Percuma
nongkrong di cafe kalau cuman menatap layar laptop. Lirik kanan-kirilah jugalah,
cuci mata!”
“Hmmm...”
“Kita
kan sudah temenan sejak bertahun-tahun silam ya, kok ya kamu tuh betah banget
sih masih sendiri terus sampai sekarang.”
“Hmmm…”
“Kamu
itu kalau dibilangin selalu begini, hmmm… hmmm… hmmm… basi!”
“Sudah ah, ngobrolin yang lain saja.”
“Fariza sudah mau masuk TK, Alif juga
sudah naik kelas 4.”
“Terus?”
“Terus, kapan kamu nikah!”
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal.
*
“Aku kan sudah bilang, ga mau
dijodoh-jodohin!” Aku langsung sewot saat Tiwi mulai pasang aksi mengabsen
teman laki-laki yang belum menikah di kantornya, di sebuah bank swasta.
“Kenalan dulu ya. Kali aja ada yang
cocok, terus pacaran, terus menikah.”
“Ini sudah zaman Rihanna, bukan zaman
Siti Nurbaya!”
“Nah, kamu lupa! Ini buktinya!” Tiwi
menepuk-nepuk dadanya. “Aku hasil dari perjodohan, dan selalu hidup bahagia
bersama Mas Aryo.” Wajah Tiwi, teman akrabku sejak kuliah semester pertama itu selalu
tampak bangga saat menyebut nama suaminya yang dosen.
“Itu kan kamu. Kalau aku, tidak akan
pernah mau dijodohin!”
“Keras
kepala!”
“Bisa
tidak ngobrolin hal lain selain soal JODOH!”
“Tentu bisa! Terus, kapan kamu menikah?”
“Please…”
“Ingget
umur sayang! Tahun ini sudah 34.”
“Ga usah diingetin juga sudah inggat.
Bisa ngobrolin yang lain tidak?”
“Ini…” Tiwi menunjukkan sesuatu di
jari manisnya.
“Wow! Ini cincin idaman kamu kan? Yang
mahal itu kan?”
“Ah, aku jadi malu.”
“Akhirnya, Mas Aryo tercinta luluh
juga.”
“Pasti! Suami siapa dulu?”
“Idih!”
“Bagus
ya cincinnya.”
“Banget!”
“Eh, aku tunjukin foto-foto cowok jomblo di kantor ya.”
“Ampun!!!”
Tawa Tiwi meledak.
*
“Aku akan menikah tahun depan!
Januari, yang tinggal 4 bulan lagi.”
“Yes!
Selamat Vonny. I’am happy for you!”
aku memeluk Vonny, tetangga sebelah rumah sekaligus sahabatku sejak masa
anak-anak.
“Makasih.”
“Acara lamaran semalam syahdu banget
ya. Suka!”
“Dimas ganteng banget ya pas semalam
pakai batik.”
“Yes!
Rasakan kamu anak band! Akhirnya ngelihat si drummer pakai baju resmi.”
Vonny tertawa. Ada sorot kebahagiaan
yang terus terpancar dari mata sahabat terbaikku itu.
“Padahal, Dimas itu pacar
tersingkatku.”
“Yes! Dalam waktu kurang dari setahun sejak
kalian pacaran, Dimas akhirnya melamar kamu.”
“Dimas
akan menjadi suamiku!” sorot kebahagiaan itu semakin terpancar saat melihat
wajah Vonny yang tampak berseri. Sumpah, aku iri!
“Sudah jodoh Vonny.”
“Terus, jodoh kamu mana?”
“Nah, kan, kepalaku mulai berputar-putar,
perutku mulai mual…”
“Dari dulu pendekatan terus, tapi ga
jadian-jadian.”
“Jahat!”
“Maaf…”
“Inginnya
ya langsung bertemu dengan seseorang yang tepat, lalu menikah.”
“Nah, temukan laki-laki itu!”
“Belum ketemu.”
“Kamu tidak mencarinya.”
“Jodoh akan datang dengan sendirinya.”
“Jodoh itu dicari!”
“Sudah mencari! Tapi belum ketemu.”
“Usahanya kurang kenceng! Masih
terganjal masa lalu.”
Aku diam.
“Maaf…”
“Kamu
kan tahu Vonny, bagaimana perihnya ketika kamu jatuh cinta setengah mati dengan
seseorang, dan akhirnya orang itu menikah dengan orang lain.”
“Waktu itu kamu tidak menunjukkan
perasaan pada Rizal.”
“Apa
dia tidak pernah sadar, kalau aku benar-benar sayang dia…” dadaku mulai
bergemuruh. Ada luka yang belum sepenuhnya sembuh dari dalam hatiku.
“Bukan
berarti kamu harus trauma untuk jatuh cinta lagi kan?”
Tanpa terasa airmataku menetes.
“Don’t
cry!” mata Vonny terlihat mulai berkaca-kaca.
“Sudah, tidak usah ikut-ikutan
menangis. Yang cengeng kan aku.” Aku menghapus airmata yang mulai jatuh di
pipi.
“Aku sedih setiap kamu bicara tentang
Rizal.”
“Rizal sudah bahagia Vonny…”
Vonny
memeluk pundakku.
“Lupakan
Rizal! Dan move on!”
“I will.”
*
Aku menghirup udara sore dalam-dalam.
Rasa lelah setelah berkutat dengan pekerjaan sedikit hilang saat menatap
indahnya langit senja. Namun, saat teringat dengan kejadian semalam, dadaku
mulai terasa sedikit sesak. Saat makan malam, Bapak tiba-tiba bertanya kenapa
aku belum juga memiliki kekasih. Aku cukup terkejut mendapat “serangan
mendadak” dari Bapak. Selama ini Bapak jarang sekali membahas hal-hal yang menyangkut
masalah pribadi seperti itu. Ibu juga kompakan dengan Bapak, mulai
bertanya-tanya tentang teman laki-laki yang belum menikah, yang kemungkinan
bisa menjadi calon suamiku.
Aku
tahu, memang tidak mudah menjadi orangtua yang hidup bermasyarakat, dan harus menghadapi
kenyataan anak perempuannya yang sudah kepala 3 belum menikah. Apalagi
teman-teman terdekatku yang juga akrab dengan Bapak dan Ibu satu persatu mulai
berumahtangga. Entah sampai kapan aku bisa terus bertahan seperti ini? Lari
dari kenyataan dibalik rutinitas pekerjaan, dan selalu berhasil menghindar dari
orang-orang yang menyoroti statusku sebagai perempuan single.
Kepalaku
mulai pusing!
“Ini kosong Mbak?” aku tersentak saat melihat
sesorang yang sedang menunjuk bangku disebelahku.
“Eh… iya, kosong Mas.” Hampir saja aku
melempar buku ke arah laki-laki yang sedang tersenyum sambil bersiap duduk
disampingku.
Hey,
kenapa jantungku berdegup saat melihat senyuman itu?
“Sedang membaca buku atau sedang
melamun? Kelihatannya kaget sekali waktu saya ajak bicara.”
“Baca buku sambil melamun.”
Laki-laki dengan kemeja putih lengan
pendek, jins hitam, dan berambut cepak itu tertawa.
“Anda lucu Mbak… Fella.”
“Anda tahu nama saya?”
Laki-laki itu menunjuk pin didadaku.
“Oh…
iya…” Aku menepuk pelan keningku.
“Anda
bekerja di Vloip? Cafe yang terkenal dengan aneka minuman tehnya yang enak itu?”
Aku mengangguk mantap.
“Beberapa kali saya datang ke Vloip, tapi
tidak pernah bertemu dengan anda.”
“Saya pekerja lepas di Vloip. Kalau
pas ada event saja.”
“Oh. Ada event apa dalam waktu dekat
ini?”
“Launcing
buku Bagas Febrianto.”
“Penulis
novel Kemana Kau Pergi.”
“Betul
sekali. Silahkan datang hari Sabtu nanti Mas…”
“Ale.” Laki-laki dengan senyum indah
itu mengulurkan tangannya.
“Fella saja, tanpa Mbak.” Aku
menyambut uluran tangan laki-laki itu dengan jantung yang kembali berdegup.
“Oke…
Vloip itu tempat yang menyenangkan. Saya biasa kumpul di sana sama teman-teman
kantor.”
“Ditunggu
kedatangannya Mas Ale. Sabtu, jam 19.00. Ajakin teman-temannya ya…”
“Siap!
Panggil Ale saja ya, tanpa Mas.”
Aku
tertawa. Ale ikut tertawa.
Hey, kenapa aku merasa sangat bahagia?
Sebuah rasa yang sudah lama hilang dari dalam diriku.
Apakah Ale… Whops! ***
* Cerpen ini pernah dikirimkan ke Majalah Femina, namun mendapatkan email balasan tidak dimuat.