C L B K
(Cinta Lama Bersemi Kembali)
“Buat
apa jadian kalau ujung-ujungnya hanya untuk membuat cemburu mantan trus akhirnya
mereka balikan!” Jantungku berdegup cepat.
“Jangan berprangka buruk dulu ...”
Laras, sahabatku, menepuk bahuku dengan lembut, mencoba menenangkan.
“Ini fakta Laras! Kenyataan yang harus
aku hadapi!”
Airmataku pecah.
“Yang sabar Dena…”
Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan
Laras.
*
Aku menelusuri ruang perpustakaan dengan
seksama, meskipun hanya pulpen, tapi aku tidak rela harus kehilangan benda
kesayangan itu. Pulpen dengan merk yang dijual bahkan di warung-warung
kelontong itu memang bisa aku dapatkan dengan mudah gantinya, namun “kenangan”
dibalik pulpen itu yang tidak akan pernah tergantikan.
Bruk!
Sial. Aku menabrak seseorang!
“Eh, maaf ya…” Aku menegakkan kepalan
yang sedari tadi tertunduk mencari benda “keramat” di lantai.
Jantungku berdegup.
Arsen Ariesto!
“Ngapain sih nunduk-nunduk gitu…”
“Eh… ini Mas… hmm…” Duh! Kenapa harus terbata-bata didepan lelaki ini sih!
“Apa?”
“Aku lagi cari pulpen…”
“Pulpen? Ya ampun kirain cari harta
karun.”
“Ya pulpen itu harta karunku…”
“Hah?”
“Eh, hehehe… ya pokoknya begitu deh….
pulpen itu penting buat aku.”
Kamu
juga penting buat aku Arsen…
Hatiku berbisik lirih.
“Nanti aku bantu cari deh… ciri-cirinya
bagaimana?”
“Pulpen biru, pulpen biasa sih Mas…
yang jelas ada stiker strawberry-nya…”
“Siplah!”
“Makasih Mas Arsen…”
“Sama-sama Dena… eh, kok bisa kamu
bilang tuh pulpen harta karun?”
“Itu…
hadiah…”
“Hadiah
dari lomba tujuhbelasan?”
“Nah!
Itu tahu…”
“Hah?
Seriusan? Padahal aku cuman asal…”
“Beneran
Mas… lomba tujuhbelasan…”
“Ah,
bohong banget…”
“Serius!
Perjuangnnya itu looh… ya, meskipun
ga juara satu, tapi lomba jalan pakai bakiak itu sesuatu!”
“Wah,
keren!”
“Pastilah!”
“Eh,
iya, ada info magang copywriter, sudah tahu?”
“Hah? Masa Mas? Belum tahu aku…”
“Nanti aku sms ya infonya…”
“Oke Mas, terimakasih….”
“Bye
Dena…”
Aku membalas lambaian tangan Arsen
dengan hati berbunga-bunga.
Ah,
dunia memang indah kalau sedang jatuh cinta.
Apa benar aku sedang jatuh cinta
dengan kakak angkatanku itu? Ya, aku memang suka dengan Arsen, apalagi sejak
kami satu kelompok saat semester pendek tahun lalu, rasa sukaku semakin
bertambah saja. Aku dan Arsen sama-sama mengulang mata kuliah Dasar-Dasar Fotografi,
salah satu mata kuliah jurusan Ilmu Komunikasi di kampus kami tercinta.
Jujur, aku terserang wabah “jatuh
cinta pada pandangan pertama” pada Arsen. Senyum Arsen yang aku lihat kala itu,
saat pertama kalinya aku melihat dia di Perpustakaan, langsung menggetarkan
hatiku. Waktu itu Arsen sedang tersenyum kepada petugas Perpustakaan, dan tanpa
sengaja mataku melihatnya.
Sejak saat itu hatiku berdebar saat
bertemu dengan Arsen di kantin, di parkiran motor, atau saat kami berpapasan di
lorong kelas. Namun bibirku selalu beku saat ingin melemparkan senyum untuk
Arsen. Yang ada aku hanya terdiam saat bertatapan dengan Arsen. Namun, semester
pendek merubah segalanya!
Hatiku berbunga saat tahu Arsen masuk
di kelas yang sama denganku, dan kebahagian itu semakin menjadi saat kami satu
kelompok. Tugas fotografi yang diberikan dosen untuk hunting lokasi di beberapa tempat, mendekatkan aku dengan Arsen.
Memang, di kelompok kami terdiri dari 5 orang, namun hanya aku dan Arsen yang
benar-benar antusias memotret.
Kami, aku dan Arsen, memiliki objek
favorit saat memotret, yaitu alam. Kami bisa ngobrol seru tentang sunset, langit biru, dan semua keindahan
di muka bumi ini. Karena seringnya kami mengobrol dan bertukar cerita, aku semakin
jatuh hati pada Arsen.
Sayang, semester pendek harus
berakhir, dan kami mulai jarang bertemu. Arsen mulai sibuk mengerjakan skripsi,
dan aku juga disibukkan dengan jadwal kuliah yang padat. Namun komunikasi yang
terjalin diantara kami tetap berjalan baik. Arsen sering membagi info tentang
fotografi, dan tentu saja aku akan menanggapi dengan antusias pesan-pesan yang
dikirimkannya via ponsel.
Arsen, you’re rock my world!
*
“Bukannya Arsen sudah punya pacar?”
tanya Laras saat baru saja aku selesai curhat tentang perasaanku pada Arsen.
“I
know…”
“Dena, sudahlah… jangan jatuh cinta
sama pacar orang… ribet!”
“Jatuh cinta itu bisa pada siapa saja
Laras, ga ada yang bisa menccegah harus jatuh cinta sama cowok yang sudah punya
pacar kan?”
“Jangan kejadian lagi deh…”
“Apa?”
“Heloooo…
kita sudah sobatan sejak masih pakai seragam putih biru, ntar patah hati lagi…”
“Ya ampun… itu sih beda…”
“Beda apaan… naksir sama cowok sekelas
yang jelas-jelas pacarnya juga sekelas sama kamu juga… bisa ya….”
“Heran deh… kenapa kita harus di SMA
yang sama, kuliah juga di tempat yang sama, ngambil jurusan yang sama, sayang
saja kita cuman sekelas waktu SMP.”
“Ga usah mengalihkan pembicaraan…”
“Apa? Siapa?”
“Arsen ga ada bedanya sama Nugie…”
“Bedalah! Nugie itu cinta masa SMA,
Arsen… cinta masa kini…”
“Ya kan sama-sama jatuh cinta sama
cowok yang sudah punya pacar…”
“Hmmm…
Iya juga sih…”
“Dasar Dena!”
“Terus aku harus gimana?”
“Lupakan Arsen, jatuh cintalah pada
laki-laki yang belum punya pacar!”
“Tapi Arsen berarti buat aku Laras.”
“Duit juga berarti untuk kebutuhan shoping kita!”
“Dasar matre!”
“Yuks
ah, balik, acara infotaiment keburu tayang nih…”
“Dasar infotaiment freak!”
“Sirik ajah!”
Aku dan Laras beranjak meninggalkan
taman kota, tempat kami biasa menghabiskan sore dengan mengobrol sambil
menikmati sepiring batagor, atau jajanan lain yang tersedia, sambil memandangi
indahnya langit sore.
*
Sepulang dari magang di Jakarta selama
satu bulan di sebuah perusahaan iklan, aku kembali ke Yogya dengan perasaan
bangga. Mengisi libur semester dengan menimba ilmu di Ibukota, dan mendapatkan
pengalaman berharga di dunia kerja, membuatku semakin bersemangat untuk segera
lulus kuliah. Kalau bukan karena Arsen yang memberikan informasi seputar magang
copywriter itu, aku pasti hanya akan menghabiskan waktu liburan dengan
jalan-jalan, atau bengong di rumah.
Sore ini aku janjian dengan Arsen di
sebuah coffe shop. Aku ingin mentraktir Arsen untuk mengucapkan terimakasih.
“Hai!” Arsen sudah berdiri dihadapanku
sambil melemparkan senyum mautnya yang selalu saja berhasil membuatku beku.
“Hai Mas… silahkan duduk…”
“Thanks…”
Kami duduk berhadapan.
Jantungku berdegup semakin kencang.
“Gimana magangnya?”
“Seru banget! Makasih ya Mas Arsen…”
“Untuk?”
“Kalau bukan karena informasi dari Mas
Arsen, aku ga bakal deh menghabiskan liburan semesteran dengan sesuatu yang
berguna.”
“Masa?”
“Iya…”
Capucino latte dan black coffe
pesananku dan Arsen datang.
Setelah waiters berlalu selesai
mengantarkan pesanan, kamipun mulai berbincang lagi.
“Dena… ada yang ingin aku sampaikan…”
“Ada apa ya Mas?”
“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan
dengan kamu…”
“About?”
“Us…”
Jantungku kembali berdetak cepat.
“Maksudnya…”
“Apa kamu mau jadi pacarku?”
Tubuhku melayang ringan.
“Ini bukan mimpi kan?”
“Mimpi?”
“Tapi kan Mas Arsen sudah punya…”
“Kita sudah putus…”
“Mas Arsen sudah putus dengan Mbak
Mieke?”
Arsen mengganguk mantap.
“Saat kamu berada di Jakarta…”
“Ini nyata kan…”
Aku mencubit tanganku.
Sakit!
“Apa kamu mau Dena?”
Aku mengangguk pelan.
Arsen melempar senyuman sambil meraih
tanganku.
Dunia indah!
*
Hey,
Jakarta!
Disinilah
aku sekarang menghabiskan hari-hariku sekarang. Bergumul dengan hiruk-pikuk
metropolitan, dan menjadi bagian dari kehidupan Ibukota.
Hampir
dua tahun sudah aku meninggalkan kota yang paling aku cintai, Yogyakarta, untuk
mengadu nasib menjadi (true)
copywriter bukan lagi anak magang di perusahaan periklanan yang sama yang dulu
pernah aku datangi saat menghabiskan waktu liburan semester untuk magang. Aku
memang melamar posisi sebagai copywriter setelah lulus kuliah, dan tanpa
menunggu lama aku diterima.
Bukan
hal yang mudah meninggalkan orang-orang terkasih dan hijrah ke Jakarta.
Beruntung aku bisa kost di tempat yang jarak menuju kantor hanya ditempuh
dengan jalan kaki selama 15-20 menitan saja. Aku bersyukur keluarga mendukung
penuh keputusanku untuk bekerja di Jakarta. Laras juga sering bolak-balik
Yogya-Jakarta untuk mengurus usaha batik milik keluarganya.
Hanya
saja, aku masih merindukan dia!
Aku
menatap langit sore dari balik kaca kereta KRL yang membawaku mengelilingi
Jakarta. Pada saat weekend begini,
KRL tidak terlalu ramai, jadi aku bisa dengan leluasa keliling Jakarta, menikmati
kereta yang berhenti dari satu stasiun satu ke stasiun lainnya.
Ah,
iya, aku masih sering merindukan dia. Merindukan laki-laki yang seharusnya
tidak aku rindukan.
Pertemuan
terakhir dengan Arsen saat dia mengutarakan ingin putus denganku, masih saja
menyisakan perih di hati. Feelingku
benar, Arsen memang sengaja pacaran denganku hanya untuk membuat Mieke “panas”.
Menyakitkan! Padahal aku benar-benar sayang Arsen, aku cinta dia, tapi Arsen
hanya memanfaatkan perasaan yang aku miliki untuknya.
Aku
mendengar dari Laras, Arsen sudah menikah dengan Mieke. Aku sempat terpuruk saat
mengetahui semua itu. Namun perlahan aku bangkit. Tidak ada yang perlu
disesali, meskipun rasa sakit itu terkadang tiba-tiba datang.
Inilah
aku sekarang, Dena Septiasari yang baru! Tanpa patah hati!
I will be a great
copywriter!
Aku
tersenyum diam-diam, takut orang-orang di dalam gerbong menganggapku gila
karena senyum-senyum sendiri.
Aku
menegakkan dudukku saat kereta berhenti.
Jantungku
hampir berhenti berdetak.
Laki-laki
yang baru saja masuk kedalam kereta dari stasiun Kalibata menggetarkan hatiku.
Mata
kami saling menatap.
Why I must see you
againt,
Arsen.
***