NOVEL UNTUK KAWA
“Ya ampun Septi,
mau berapa toko buku lagi yang akan kita datangi? Seharian muter-muter keliling
kota hanya untuk mencari sebuah novel jadul, yang sepertinya sudah tidak
beredar lagi di pasaran.” Dena, sahabatku ngomel-ngomel saat kami keluar dari
toko buku. Ini adalah toko buku keempat yang sudah kami datangi sepanjang pagi hingga
siang ini.
“Yang
sabar ya Dena, aku juga capek nih, tapi aku harus, kudu, dan wajib dapetin
novel itu! Pokoknya aku harus bisa persembahkan buku itu untuk Kawa!”
“Iya
deh yang baru jadian. Apa-apa Kawa, apa-apa Kawa!” Aku tertawa melihat Dena
yang tamban manyun. “Berarti kita akan hunting
ke toko buku yang lain lagi untuk ngedapetin novel yang dicari Kawa-mu itu?”
Aku mengangguk
mantap.
“Ya Tuhan, kalau
bukan karena kamu, aku engga akan pernah mau roadshow dari satu toko buku ke toko buku yang lain.”
“Dena,
kamu memang sahabat terbaikku!” aku merangkul sahabatku.
Dena nyengir.
Kami lalu melangkah
keluar toko buku untuk menuju toko buku selanjutnya. Dalam listku, masih ada empat toko buku lagi yang musti kami kunjungi.
Aku yakin, masih ada toko buku yang menjual novel yang dicari
oleh Kawa.
*
Dua
hari lalu, saat aku, dan Kawa mengobrol di teras rumah sambil menikmati semilir
angin sore, Kawa cerita kalau dia sedang mencari sebuah buku, sebuah novel yang
terbit sekitar 5-7 tahun silam. Kawa sudah berusaha mencari novel tersebut di
toko buku, namun tidak juga menemukannya. Kawa pernah membaca novel tersebut di
Perpustakaan Kota, karena cerita di novel itu sangat bagus menurut Kawa, maka
Kawa ingin sekali memiliki novel tersebut. Sebagai pacar yang baik, penuh
perhatian, dan rasa sayangku yang besar untuk Kawa, tentu aku ingin membantu Kawa untuk mendapatkan
novel favoritnya itu.
*
“Apa
ini?” Kawa menerima bingkisan yang sudah aku bungkus rapi dengan kertas kado
berwarna abu-abu, warna favorit Kawa.
“Ada
deh…”
“Senyum
kamu misterius sekali Septi, aku jadi penasaran…” Aku tertawa. “Boleh aku buka
sekarang?”
“Boleh!”
Kawa membuka
bungkusan dengan hati-hati. Kawa tahu aku pasti bakal ngomel kalau dia membuka
bungkusan itu dengan asal. Aku, si miss
perfect, yang paling tidak suka dengan ketidakrapian! Ah, Kawa memang pacar
yang pengertian.
“Buku?”
“Iya,
itu buku…sebuah novel untuk kamu, Kawa…”
“Novel?
Coba aku lihat siapa pengarangnya….” Kawa memperhatikan dengan seksama buku
yang ada digenggamannya. “Ini…kamu yang bikin?” Kawa menatapku kebingungan.
“Iya,
itu novel yang aku persembahkan untuk kamu…” wajahku memanas, tersipu malu. Mungkin saat ini pipiku sudah semerah tomat. “Cetakannya cuman dua.”
“Seriusan?”
Aku mengangguk
mantap.
“Satu untuk
kamu, dan yang satu lagi untuk aku.”
“Wow!”
“Jadi, aku
ditemani Dena datang ke beberapa toko buku, namun kami tidak menemukan buku
yang kamu cari…”
“Novelnya
Rizky Hartanto yang Mentari Dan Rembulan?” Aku mengannguk pelan. “Septi, aku
kan sudah mencari buku itu, jadi kamu tidak usah repot-repot mencarinya juga.”
“Aku
tahu, tapi aku memang ingin mencari novel itu untuk kamu…” Kawa mengenggam
tanganku sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang selalu aku rindukan. “Karena
novelnya Rizky ga ada, ya aku bikin novel sendiri aja….”
“Keren!”
“Hmmmm… sebenarnya
cerita di novel ini mulai aku tulis saat aku mulai suka sama kamu…” Wajahku
kembali menghangat. Tangan Kawa semakin erat mengenggam tanganku.
“Kawa
Dan Senja. Aku suka judul novelnya!”
“Yay!”
“Makasih Septi.”
Kawa menatapku dengan tatapan lembut meneduhkan. Tatapan yang membuatku jatuh
hati padanya.
“Semoga
kamu suka sama novel aku ya…”
“Pasti!
Aku kan selalu suka tulisan kamu di buletin sekolah. Mana mungkin aku tidak
suka dengan novel limited edition
ini! Sebuah novel untuk seorang kekasih. Oh, so sweeettttttt….. ”
“Noraaaakkkk!!!”
Kawa
tertawa.
Ah,
aku bahagia! ***