Kamis, 25 Juli 2019

#AStoryAbout - Tetangga Baru




            Aku mengamati truk besar dari balik jendela kamar. Barang-barang yang diangkut truk itu sepertinya akan mengisi rumah kosong yang berada di sebelah kiri rumahku. Sudah sekitar 6 bulanan ini rumah berpagar hijau itu kosong karena pemilik lama pindah ke Kalimantan. Kabar yang beredar kalau rumah berlantai 2 itu sudah laku terjual, sepertinya bukan sekedar gosip belaka.
            Woiii!!! Malamun aja!” Mbak Sari sudah berdiri di samping meja belajar.
            “Apaan sih, ganggu aja!”
            “Meja belajar kamu ini kayanya perlu dipindah deh biar konsen belajar, bukannya malah celingak-celinguk dari balik jendela, lihat sana-sini.”
            Lho, justru semangat belajarku semakin membara saat melihat birunya langit, memandangi orang yang sedang berjalan, me…”
            “Cukup… cukup… puisinya cukup ya!”
            “Mbak, itu tetangga baru kita siapa ya?”
            “Hah? Tetangga? Mana?” Mbak Sari ikutan mengintip dari jendela.
            Ih, ikutan ngintip juga! Tadi protes soal jendela dan meja belajarku…”
            “Akhirnya rumah sebelah ga kosong lagi, serem juga kalau terlalu lama kosong gitu… ntar kalau…”
            Stop! Aku ga mau denger cerita serem!”
            Mbak Sari keluar kamar sambil cekikikan.
*
            Sudah beberapa hari ini, sejak tetangga depan rumah itu pindah, aku sedikit terganggu dengan suara musik yang disetel dengan volume cukup kencang dari lantai 2, terutama saat malam hari.
            “Selamat siang... apa saya bisa… ”
            “Sari?”
            “Mia?”
            Hah? Kenapa Mbak Sari malah peluk-pelukan dengan seseorang yang membukakan pintu, saat siang ini kami datang untuk “protes” ke tetangga baru. Well, lebih tepatnya, aku yang memaksa Mbak Sari untuk menemaniku datang ke rumah tetangga baru itu. Setelah menolak keras, akhirnya dia mau juga menemaniku. Mungkin Mbak Sari juga mulai sedikit terganggu dengan “volume kencang” itu. Papa dan Mama mencoba menahanku untuk protes ke tetangga baru, tapi kesabaranku sepertinya sudah habis!
            “Tidak disangka bertemu kamu Sari.”
            “Eh, iya, hmm… ternyata kita tetanggaan. Rumahku yang di samping itu.” Mbak Sari menunjuk rumah kami. “Eh, ini kenalin ini adikku… Vio.”
            Aku dan teman Mbak Sari yang bernama Mia itu saling berjabat tangan.
            “Mari masuk…”
            “Eh… ini… hmmm…. Kapan-kapan saja deh kami main lagi ke sini. Kebetulan tadi aku sama Vio lagi ngejar tukang bubur ayam, terus mampir. Ini, Vio pengen kenalan sama tetangga baru katanya…” Aku langsung melotot pada Mbak Sari, yang entah kenapa raut wajahnya berubah jadi aneh gitu. Entah panik, entah apa, aku tidak paham.
            “Begini Mbak Mia… sebelumnya…”
            “Ayo Vio, ntar tukang bubur ayamnya keburu jauh…” Mbak Sari menarik tanganku kuat-kuat. “Bye Mia!”
            Bye! Sampai ketemu lagi ya… Sari, Vio…”
            Mbak Sari berjalan cepat sambil terus menarik tanganku kuat-kuat.
            “Mbak! Apa-apaan sih! Sakit nih tanganku. Eh, kita kan mau protes, kenapa malah begini!”
            “Ah, kenapa juga harus Mia!” Akhirnya Mbak Sari melepaskan genggaman tangannya.
            “Kenapa sih emangnya?”
            “Aku dulu merebut Bagas dari Mia.”
            “Mas Bagas yang mantan pacar Mbak beberapa tahun silam itu, yang pas awal-awal SMA kan?” Mbak Sari mengangguk pelan. “Mas Bagas itu pacarnya Mbak Mia lalu…”
            “Gebetan! Mereka belum jadian.”
So? Kalau baru gebetan sih…”
“Tapi semua anak-anak kelas paduan suara tahu kalau Mia itu naksir berat sama Bagas, tapi malah jadiannya sama aku. Ah, bete!”
            “Tapi kan kejadiannya sudah lama, lagian Mbak Sari kan sudah putus sama Mas Bagas.”
            “Mia itu cinta mati sama Bagas…”
            “Ya kan itu dulu… Mungkin saja Mbak Mia sekarang sudah punya pacar.”
“Tapi aku tetap merasa bersalah pada Mia jika inggat kejadian itu.”
“Ya, terus, kalau sudah begini, aku ga boleh protes?”
            “Tau ah!”
            Mbak Sari berjalan lemas menuju rumah. Aku jadi tidak tega melihatnya.
Ah, tapi protes must go on! Someday.***

           

Kamis, 11 Juli 2019

#AStoryAbout - Novel Untuk Kawa



NOVEL UNTUK KAWA

“Ya ampun Septi, mau berapa toko buku lagi yang akan kita datangi? Seharian muter-muter keliling kota hanya untuk mencari sebuah novel jadul, yang sepertinya sudah tidak beredar lagi di pasaran.” Dena, sahabatku ngomel-ngomel saat kami keluar dari toko buku. Ini adalah toko buku keempat yang sudah kami datangi sepanjang pagi hingga siang ini.
            “Yang sabar ya Dena, aku juga capek nih, tapi aku harus, kudu, dan wajib dapetin novel itu! Pokoknya aku harus bisa persembahkan buku itu untuk Kawa!”
            “Iya deh yang baru jadian. Apa-apa Kawa, apa-apa Kawa!” Aku tertawa melihat Dena yang tamban manyun. “Berarti kita akan hunting ke toko buku yang lain lagi untuk ngedapetin novel yang dicari Kawa-mu itu?”
Aku mengangguk mantap.
“Ya Tuhan, kalau bukan karena kamu, aku engga akan pernah mau roadshow dari satu toko buku ke toko buku yang lain.”
            “Dena, kamu memang sahabat terbaikku!” aku merangkul sahabatku.
Dena nyengir.
Kami lalu melangkah keluar toko buku untuk menuju toko buku selanjutnya. Dalam listku, masih ada empat toko buku lagi yang musti kami kunjungi. Aku yakin, masih ada toko buku yang menjual novel yang dicari oleh Kawa.
*
            Dua hari lalu, saat aku, dan Kawa mengobrol di teras rumah sambil menikmati semilir angin sore, Kawa cerita kalau dia sedang mencari sebuah buku, sebuah novel yang terbit sekitar 5-7 tahun silam. Kawa sudah berusaha mencari novel tersebut di toko buku, namun tidak juga menemukannya. Kawa pernah membaca novel tersebut di Perpustakaan Kota, karena cerita di novel itu sangat bagus menurut Kawa, maka Kawa ingin sekali memiliki novel tersebut. Sebagai pacar yang baik, penuh perhatian, dan rasa sayangku yang besar untuk Kawa, tentu  aku ingin membantu Kawa untuk mendapatkan novel favoritnya itu.
*

            “Apa ini?” Kawa menerima bingkisan yang sudah aku bungkus rapi dengan kertas kado berwarna abu-abu, warna favorit Kawa.
            “Ada deh…”
            “Senyum kamu misterius sekali Septi, aku jadi penasaran…” Aku tertawa. “Boleh aku buka sekarang?”
            “Boleh!”
Kawa membuka bungkusan dengan hati-hati. Kawa tahu aku pasti bakal ngomel kalau dia membuka bungkusan itu dengan asal. Aku, si miss perfect, yang paling tidak suka dengan ketidakrapian! Ah, Kawa memang pacar yang pengertian.
            “Buku?”
            “Iya, itu buku…sebuah novel untuk kamu, Kawa…”
            “Novel? Coba aku lihat siapa pengarangnya….” Kawa memperhatikan dengan seksama buku yang ada digenggamannya. “Ini…kamu yang bikin?” Kawa menatapku kebingungan.
            “Iya, itu novel yang aku persembahkan untuk kamu…” wajahku memanas, tersipu malu. Mungkin saat ini pipiku sudah semerah tomat. “Cetakannya cuman dua.”
“Seriusan?”
Aku mengangguk mantap.
“Satu untuk kamu, dan yang satu lagi untuk aku.”
“Wow!”
“Jadi, aku ditemani Dena datang ke beberapa toko buku, namun kami tidak menemukan buku yang kamu cari…”
            “Novelnya Rizky Hartanto yang Mentari Dan Rembulan?” Aku mengannguk pelan. “Septi, aku kan sudah mencari buku itu, jadi kamu tidak usah repot-repot mencarinya juga.”
            “Aku tahu, tapi aku memang ingin mencari novel itu untuk kamu…” Kawa mengenggam tanganku sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang selalu aku rindukan. “Karena novelnya Rizky ga ada, ya aku bikin novel sendiri aja….”
“Keren!”
“Hmmmm… sebenarnya cerita di novel ini mulai aku tulis saat aku mulai suka sama kamu…” Wajahku kembali menghangat. Tangan Kawa semakin erat mengenggam tanganku.
            “Kawa Dan Senja. Aku suka judul novelnya!”
“Yay!”
“Makasih Septi.” Kawa menatapku dengan tatapan lembut meneduhkan. Tatapan yang membuatku jatuh hati padanya.
            “Semoga kamu suka sama novel aku ya…”
            “Pasti! Aku kan selalu suka tulisan kamu di buletin sekolah. Mana mungkin aku tidak suka dengan novel limited edition ini! Sebuah novel untuk seorang kekasih. Oh, so sweeettttttt….. ”
            Noraaaakkkk!!!”
            Kawa tertawa.
            Ah, aku bahagia! ***
             

Sabtu, 06 Juli 2019

Penonton Film #1

Ngomongin film ah, di malam minggu yang mendayu ini, wohooo!
Well, mulai dari Parasite...
Gaung film Parasite memang sudah menggema sejak bulan Juni lalu kalau ga salah, tapi baru kesampaian nonton beberapa hari lalu. Dan, memang, ini film gokil parah! Rasanya ga ada jeda buat ambil nafas pas nonton film ini. Dari awal sampai ending, adegan demi adegan terasa sayang sekali untuk dilewatkan. Sungguh, film Parasite ini kece parah! 
Sekalinya nonton film korea versi layar lebar langsung terpana sama Parasite. Selama ini kan ya nonton Korea'an itu ya Drakor di tv :) 
Sayang, saat saya mau menonton hanya tinggal 1 bioskop saja yang memutar film ini. Ya mungkin kalau menonton di awal, ada banyak bioskop yang menayangkan ya... tapi memang ga rugi bener sih dibelain ke bioskop yang di ujung sana *ya, kan, CGV JWalk jauh ya bok* kalau pada akhirnya beneran gembira bisa nonton Parasite. 
Dengan mengusung genre dark comedy *begitu yang saya baca di salah satu artikel berita online di Twitter* Parasite memang menyuguhkan cerita yang... ah, keren pisan atulah! Akting aktor dan aktrisnya juga kece badai! 
Kehidupan keluarga miskin dan keluarga kaya yang diangkat menjadi cerita di Parasite memang berasa yang... wow, takjub akutuh! Kehidupan orang kaya itu memang menyilaukan! Haha!
Next, Hit&Run,
Film action-comedy yang satu ini memang sayang kalau dilewatkan begitu saja. Joe Taslim yang selama ini kita lihat di film laga, dengan ketegangan dan keseriusan, nyatanya di film ini Joe bisa lucu juga :) lagu "Taman Safari" jadi salah satu magnet juga sih di film ini, asoi geboy hula-hula deh :) Tatjana Saphira cocok bener jadi penyanyi dangut nan lebay. Asyik bangetlah nonton film ini. Komedinya dapet, action-nya juga dapet. 
Lalu ada, Ghost Writer,
Menonton akting Tajtana Saphira lagi dengan peran yang berbeda. Film dengan genre horor-comedy ini memang sayang juga untuk dilewatkan. Selama ini saya takut bener nonton film horor, kalaupun akhirnya nonton di tv, ya pasti sedia bantal buat nutup muka, hehehe... ya meskipun Ghost Writer ini horor dengan unsur komedi, tetep aja tutup muka pakai tas pas hantunya muncul di layar bioskop, haha! 
Yang bikin girang itu ya ada Dave Mahenra juga di film ini, secara memang idola sih :) 
Film ini bercerita tentang hantu yang menjadi "ghost writer" untuk seorang penulis novel. Ya, kalau selama ini istilah ghost writer di dunia penulisan itu ya kaya penulis bayangan begitu, di film ini ghost writer-nya beneran ghost dong :) Secara saya suka nulis, dan punya cita-cita untuk menelurkan novel suatu hari nanti, *Aamiin ya Allah* film ini menyenangkan.
Terus, Si Doel 2,
Nah, kalau film yang satu ini memang sangat familiar ya :) kisah cinta segitiga antara Doel-Sarah-Zaenab memang selalu menarik untuk diikuti. Kirain bakal nemu ending di film Doel 2 ini, ternyataahh belum ending, hohoho... Ah, iya, terimakasih untuk teman yang mentraktir menonton film ini :)
Yah, kita tunggu sajalah bagaimana nanti ending ceritanya, entah Sarah atau Zaenab yang akan dipilih Bang Doel, pastilah itu yang terbaik *uhuk* Ya, namanya juga cinta, pasti ada pengorbanan *uhuk lagi* 
Baik, sebenarnya masih banyak film yang beredar di bioskop, namun ya film-film yang saya tonton ya yang saya tulis diatas tadi. Selera masing-masing orang kan berbeda ya dalam menonton film. Film apapun yang ditonton, pastikan kita memang suka dengan film tersebut. Baik dari genre filmnya, aktor filmnya, segi ceritanya, ah, dari segi apapunlah ya, yang penting suka! 
Lebih sering-seringlah menonton film dalam negri. Sudah banyak film Indonesia yang bagus-bagus kok.  
Bulan Agustus nanti, nungguin banget ini film Gundala, wohoooo!!! 
Okelah, selamat bermalam panjang bagi yang merayakan...
Happy Saturday! 

Rabu, 06 Februari 2019

Cerpen - Gara Gara Coklat



GARA-GARA COKLAT

Aku diam-diam masuk ke dalam rumah saat pulang sekolah siang ini. Setelah memastikan Ibu sedang berada di dapur, dan adikku bermain di halaman belakang, aku langsung melesat masuk ke dalam kamar.
Senyumku mengembang saat membuka tas sekolah. Diantara buku-buku dan alat tulis di dalam tas, ada sesuatu di dalam tas plastik berwarna hijau yang membuatku tidak sabar untuk membukanya.
            Suara tiba-tiba langkah Ibu yang berjalan di depan kamar, membuatku mengurungkan niat untuk mengambil sesuatu dari dalam dalam tas hijau itu.
            Pintu kamarku diketuk.
            “Tasya…” Terdengar suara Ibu dari balik pintu.
            “Ya Bu…”
            Ibu membuka pintu kamar yang memang tidak terkunci.
            “Kamu sudah pulang sekolah?”
            “Sudah Bu…”
            “Kok Ibu tidak tahu kamu sudah pulang, tadi tidak salam ya saat masuk rumah?”
            “Hehe… Iya Bu, lupa.” Maaf Ibu, aku berbohong, padahal aku memang sengaja tidak mengucapkan salam seperti biasanya saat aku tiba di rumah. Aku kan memang tidak ingin Ibu ataupun Wawan, adikku tahu kalau aku sudah pulang.
            “Ya sudah, ganti baju sekolah kamu, terus makan ya. Ibu sudah siapkan makan siang.”
            “Iya Bu…”
            Ibu menutup pintu kamar, dan aku kembali membuka tas sekolah. Aku mengambil tas plastik warna hijau perlahan supaya tidak menimbulkan suara berisik, jaga-jaga kalau Ibu masih berdiri di depan pintu kamarku.
            Senyumku kembali mengembang saat membuka tas plastik hijau. Coklat batangan berjumlah dua batang porsi jumbo siap untuk aku santap hari ini!
Ah, senangnya!
*
            Ibu sudah sering bilang kalau aku tidak boleh banyak makan coklat, kata Ibu gigiku bisa sakit. Namun siapa yang bisa menahan godaan untuk menyantap makanan lezat itu? Aku memang sengaja menyisihkan uang jajanku untuk membeli coklat batangan di minimarket dekat sekolah, karena aku suka sekali dengan coklat itu.
            “Kamu mau mampir ke minimarket lagi?” Siang ini, seperti biasa, aku pulang sekolah bersama Sari, teman satu kelas yang rumahnya satu komplek dengan rumahku. Jarak antara sekolah dan rumah memang tidak terlalu jauh, aku hanya membutuhkan waktu sekitar 10 sampai 15 menit dengan berjalan kaki.
            “Iya. Kamu mau menemaniku ke minimarket, atau mau langsung pulang Sari?”
            “Aku temani kamu ya…”
            “Asyik… Terimakasih Sari…”
            “Sama-sama Tasya… Aku juga ingin membeli sesuatu di minimarket.”
            “Beli apa? Coklat juga?”
            “Bukan… aku tidak terlalu suka coklat.”
            “Coklat kan enak.”
            “Iya, memang enak, tapi aku pernah sakit gigi karena kebanyakan makan coklat, dan rasanya sakit sekali…”
            “Ah, masa?”
            “Iya… sakit gigi itu rasanya tidak enak!”
            “Eh, sudah sampai minimarket, ayo kita masuk ke dalam Sari.”
            “Ayo.”
            Aku dan Sari masuk ke minimarket. Sari bilang dia akan membeli roti isi keju.
*
            Selesai mengerjakan tugas matematika, aku teringat coklat batangan yang aku beli siang tadi di minimarket. Sekarang saatnya menikmati makanan kesuakaanku!
            Baru akan mengeluarkan coklat dari tas plastik warna hijau, pintu kamarku diketuk.
            Aku buru-buru memasukkan coklat di laci meja belajar.
            Aku membuka pintu kamar, ternyata Wawan adikku yang masih duduk di Taman Kanak-kanak.
            “Ada apa Wawan?”
            “Wawan mau pinjam pensil Kak Tasya.”
            “Oh, sebentar ya, Kakak ambilkan.”
            “Iya Kak.”
            Aku membuka laci meja belajar dan tanpa sengaja tas plastik hijau berisi coklat ikut ketarik dan jatuh ke lantai.
            “Apa itu Kak?”
            “Ah, bukan apa-apa…”
            Wawan mendekat kemudian berdiri disampingku yang sedang mengambil plastik hijau di lantai.
            “Apa itu Kak?” Wawan menunjuk tas plastik ditanganku.
            “Sudah Kakak bilang bukan apa-apa.”
            “Kakak kok marah-marah…” Wawan cemberut.
            “Kakak engga marah… jadi pinjam pensil tidak?”
            “Jadi…”
            Aku mengambil pensil dari dalam laci meja belajar dan menyerahkannya pada Wawan.
            “Kak itu apa?” Wawan masih juga bertanya isi plastik hijau yang masih berada ditanganku.
            “Sudah Kakak bilang tidak apa-apa Wawan… sudah sana, Kakak mau meneruskan belajar.”
            “Iya Kak…”
            Wawan berlalu dan menutup pintu kamarku.
            Saatnya melahap coklat!
*
            Aku membuka mata. Kenapa gigiku terasa ngilu?
            “Ibu…. Ibu…” aku berlari keluar kamar berteriak memanggil Ibu.
            “Ada apa Tasya?” Ibu keluar dari dapur tergesa menuju ke arahku.
            “Gigi Tasya sakit sekali…” Aku memegang pipi kiriku.
            “Kamu sakit gigi Tasya?”
            Aku meringis menahan sakit di gigiku yang terasa ngilu.
            “Ya ampun itu kok ada tikus keluar dari kamar kamu sambil membawa bungkusan apa itu?”
            Aku melihat tikus yang berlari menuju ke arah ruang tamu.
            “Itu… coklat Tasya…”
            “Coklat? Kamu makan coklat?”
            “Iya Bu…” Aku tertunduk, tidak berani menatap Ibu.
            “Jadi coklat yang menyebabkan kamu sakit gigi Tasya…”
            Aku mengangguk lemah.
            “Kamu gosok gigi tidak semalam sebelum tidur?”
            Aku menggeleng.
            “Nah, itu… sudah makan coklat, tidak gosok gigi lagi…”
            Ibu membelai rambutku.
            “Maafkan Tasya Bu…”
            “Ibu tidak melarang kamu makan coklat Tasya, asalkan tidak keseringan,dan jangan lupa mengosok gigi jika akan tidur.”
            “Iya Bu… Tasya menyesal sudah banyak makan coklat beberapa hari ini.”
            “Iya Tasya…”
            “Tasya juga menyesal telah membuang sisa coklat sembarangan di bawah kolong tempat tidur, sehingga menyebabkan tikus masuk ke dalam kamar dan berkeliaran di rumah…”
            “Iya Tasya tidak apa-apa…” Ibu memegang kedua pipiku.
            “Maafkan Tasya ya Ibu…”
            “Iya Tasya.”
            Aku menangis di pelukan Ibu.
            “Sudah jangan menangis, nanti kita ke dokter gigi ya, sekarang kamu berkumur air hangat dicampur garam dulu ya… supaya ngilu gigi kamu berkurang.”
            “Iya Bu…”
            “Hari ini kamu tidak usah masuk sekolah dulu ya, biar Ibu tuliskan surat izin.”
            “Iya Bu…Terimakasih.”
            “Iya Tasya…”
            Benar kata Sari, sakit gigi itu tidak enak rasanya. Aku janji tidak akan makan coklat banyak-banyak lagi, dan tidak menaruh coklat sisa di sembarang tempat lagi. Aku juga akan rajin mengosok gigi, dan yang terpenting aku akan berbagi coklat dengan Wawan, adik kesayanganku. ***


> Cerpen ini pernah dikirimkan di Majalah Bobo, namun tidak dimuat






Jumat, 25 Januari 2019

My January

Aloha! Suasana mendung semi gerimis gini, corat-coret blog sajalah, hehe...
Well, Alhamdulillah, rasanya senang sekali bisa merampungkan tulisan fiksi, dan mengirimkannya ke penerbit :D semoga nanti akan mendapatkan kabar baik selanjutnya dari Gramedia Pustaka Utama ya, amin. Saat mendapatkan respon email balasan atas naskah yang dikirimkan ke GPU, rasanya senang :) Sudah sejak lama ingin mengirimkan naskah ke GPU, dan baru bisa diwujudkan sekarang, yay! 
Naskah 100+ lembar, tulisan naskah panjang pertama yang sedang saya perjuangkan ini, tentu membutuhkan ide dan inspirasi dalam menulisnya. So, terimakasih inspirasi, sudah menorehkan lembaran lembaran cerita ❤❤❤
Bismillah...
Ah, iya, mau cerita-cerita juga tentang film yang kemarin saya tonton di bioskop, yaitu Orang Kaya Baru. Film pertama yang saya tonton di tahun 2019 ini, yay! Film yang dibintangi oleh aktris dan aktor yang jago dalam berakting ini memang kece parah! Gokil!!! Filmnya itu lucu, sweet, dan apa ya... baguslah hehehe... 
Jalan cerita filmnya yang mengalir dengan baik memang tidak diragukan lagi sih kalau penulisnya seorang Joko Anwar, hahaha! Idolaaaak!!! :D buktikan sendiri deh kalau filmnya memang bagus dengan menontonnya di bioskop :)
Baiklah, semoga akhir pekannya menyenangkan ya :) Hujan yang mulai menderas sore-sore begini, enak kali ya minum minuman hangat plus ngemil, hahahaha.... naik, naik deh tuh timbangan :p
Happy Friday!

Senin, 10 Desember 2018

Masih Tentang Film

Happy Monday!
Hah, ngobrolin film lagi ah...
Hmmm... Mau cerita-cerita tentang JAFF yang diselenggarakan beberapa waktu lalu ah :) 
Seperti biasa, dalam beberapa tahun terakhir ini saya tidak melewatkan acara JAFF. Meskipun tidak menonton semua film yang diputar di JAFF, bahkan hanya beberapa film saja, namun tetap senang bisa menjadi bagian dari penonton film JAFF.
Tahun ini saya menonton dua film yaitu film Sultan Agung dan Love is A Bird. Satu film incaran yang tidak berhasil ditonton adalah film Ave Maryam. Sedih juga pas ga kebagian tiket ots film itu. Pas datang ke Empire, antrian sudah membludak! Yah, semoga nanti mendapat kesempatan untuk menonton film Ave Maryam ya :)
Ada satu lagi acara yang saya ikuti di JAFF yaitu Public Lecture "Classic Asian Film". Senang bisa mengikuti acara tersebut, karena pengetahuan tentang film kembali bertambah. Sempat juga menonton pamerannya JAFF di Jogja National Museum. 
Datang ke acara film memang bikin greget ya, apalagi kalau ada hal-hal menarik yang bisa kita dapatkan dalam acara tersebut. As JAFF ini misalnya. Film Love is A Bird, tayang perdana di JAFF, dan senang bisa mendapatkan kesempatan menonton film dengan setting kota Jogja itu :) 
Sedangkan film Sultan Agung sudah pernah ditayangkan di bioskop, namun belum sempat menonton, dan senang bisa mendapatkan kesempatan menonton film tersebut di JAFF.
Masih soal film nih... Semalam menonton acara FFI di televisi, dan senang sekali idola akuh, Nicolas Saputra keluar sebagai pemenang kategori pemeran pendukung pria terbaik di film Aruna Dan Lidahnya. Wohoooooo!!!  
Yah menonton film itu memang menyenangkan :) kaya kalau ketemu kamu gitulah... menyenangkan *eeaaaaaa ;p
Baiklaaah... Selamat menonton film favorit! :)


Sabtu, 17 November 2018

Nonton Film

Hey, November... 
Siang-siang dengan terik matahari yang menyengat beberapa hari belakangan ini, setelah beberapa waktu lalu Jogja diguyur hujan, ya tetap terasa menggembirakan :) Alhamdulillah, hujan dan panas tetap disyukurin dunk ya :D
Corat-coret blog dulu... ngomongin film ah! Ya, kaya lagunya Sheila On 7 itu, Film Favorit, "... sama seperti di film favoritku, semua cara akan kucoba..." Ah, lagu yang keceh!
Suka film apa? Kalau saya sih suka drama, komedi... asal ga horor, atau film-film "berdarah" gitu deh, takuuutttt...hehehe...
Seriusan, waktu trailer film Suzzanna mulai beredar di sosial media, sok-sok an dunk nonton, dan asli, langsung kebawa sampai mimpi, hadewww :( Iya, dari dulu kalau nonton film horor itu hawanya ga asyik gitu, takut aja :( Jadilah, mau film horor dibintangi oleh bintang film kesukaan, terpaksa ga nonton deh...
Beberapa hari lalu saya nonton film "Hanum Rangga", secara ada si Rio Dewanto kesukaan di film itu hahahaha! Dan memang, Rio Dewanto yang berperan sebagai Rangga, bikin baper deh, ya Allah sisain satu untukku yang begitu *uhuk* :p ya, gimana ya, kalau punya pasangan like Rio Dewanto as Rangga, ya termehek-mehek pastilah hehehehe... udah cute, sayang istri, baik hati, sosok sempurna untuk pendamping hidup... hasyeeekkk! :D
Yang juga mencuri perhatian di film Hanum Rangga adalah sosok Sam, yang diperankan oleh Alex Abbad, kece bangeettt! Alex Abbad gokil! Bikin film lebih "hidup". Ya seru juga latar belakang filmnya yang berlokasi di New York. Secara belum pernah ke New York ya, jadi seru aja lihatnya hihihi... :O
Jadi pas nonton Hanum Rangga itu, pas hari perdana pemutaran film Suzzana di bioskop. Udah mau batal nonton karena antrian yang panjang, jadi gini nih yang ada di fikiran, kalau sampai jam yang ditentukan untuk pemutaran film masih antri, ya cabutsss.... Eh, syukurlah, antrinya yang kurang lebih 20 menitan, bisa "tembus". Terus pas selesai nonton film dunk... itu antrian di loket bioskop untuk film Suzzana masih aja ramai! Luar biasaaa!!! Film horor itu memang punya "magnet" ya :) Yang sanggar sih kalau nonton film horor sendirian, dan itu terjadi dunk pada seorang ibu-ibu gaol yang antri didepan saya, beliau nonton Suzzana sendirian! Paraaahh!!! Ya, kalau saya sih sering (banget) nonton film sendirian, tapi kalau film horor nonton sendirian, meskipun didalam gedung bioskop nanti juga banyak temannya, tapi tetep serem ga sih hehehe...
Nonton bioskop sendirian itu menyenangkan kok, kita jadi bisa berkonsentrasi penuh terhadap film yang memang benar-benar ingin kita tonton :) Nonton film bareng keluarga, teman, atau pasangan ga kalah seru juga :D
Film-film favorit yang beneran pengen kita tonton itu memberikan efek yang menyenangkan looh... Ya, film favorit itu kan bisa datang dari aspek apa saja ya, misalnya bintang film kesukaan, jenis genre film yang disuka, atau karena sutradara filmnya yang jadi kesukaan :) apapun itu, pastikan nonton film yang memang beneran pengen ditonton. Kan sayang, sudah mengeluarkan uang untuk nonton bioskop, terus ga suka sama filmnya, hikssss :((( Ya, kecuali dapet tiket gratisan, atau ditraktir nonton, haiyukslah, hahahaha! :p
So, sudah berencana nonton film apa? Film dalam negri banyak yang bagus looh, secara saya memang lebih sering nonton film Indonesia sih dibanding film luar :D
Tahun depan akan ada banyak film Indonesia yang siap untuk dinikmati. Wohoooo!!! InsyaAllah, rezeki buat nonton film favorit bakal ada aja ya, amin :) Akan ada Rio Dewanto lagi nih di film Gundala yang tayang tahun depan, hehehehe.... Meskipun bukan sebagai pemeran utama di film tersebut, at least ada Rio-nya lah :) 
Well, selamat menonton film favorit! Pasti langsung senyum-senyum sendiri pas keluar dari bioskop, hahahaha!
Happy Saturday :)

Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...