Kamis, 12 November 2020

#AStoryAbout - Kardi, Ningsih, Dan Malioboro (Cerpen)

 

KARDI, NINGSIH, DAN MALIOBORO

 

Kardi, pemuda sederhana yang tinggal di daerah Kasongan, Bantul mengendarai motor bebeknya menuju Malioboro. Sudah satu tahun belakangan ini Kardi bekerja sebagai pegawai di sebuah toko mebel yang terletak kawasan Malioboro, pusat keramaian di kota Jogjakarta yang memiliki slogan “Jogjakarta Berhati Nyaman”. Pukul 07.30 pagi Kardi sudah siap berangkat menuju tempat kerjanya.

Kardi mengendarai motor dengan santai sambil sesekali menyapa tetangganya yang kebanyakan bekerja di toko-toko kerajinan gerabah yang berada di daerah Kasongan. Kardi merasa bahagia bisa bekerja di Malioboro, menjadi pegawai toko di pusat perbelanjaan Malioboro memang cita-cita Kardi setelah lulus SMA. Dan Kardi merasa bersyukur bisa diterima kerja di toko mebel yang memang sudah menjadi incarannya begitu dia menamatkan pendidikan SMAnya. Dengan menempuh perjalanan sekitar 30-45 menit dari Kasongan menuju Malioboro, Kardi selalu bersemangat mengendarai motor bebek klasik peninggalan Bapaknya.

          “Mas Kardi…” suara merdu seorang perempuan menyapa Kardi saat dia melewati salah satu toko gerabah. Kardi menghentikan motornya, dan tersenyum senang saat melihat gadis berbaju kuning yang sedang menatap Kardi dengan malu-malu.

          “Selamat pagi Ningsih.”

          “Pagi. Mas Kardi mau berangkat kerja?”

          “Iya Ning…”

          “Ini untuk Mas Kardi.” Ningsih, gadis manis berkulit sawo matang dengan rambut kuncir kuda, yang juga merupakan tetangga Kardi mengulungkan tas plastik berwarna putih pada Kardi.

          “Apa ini Ning?” Kardi menerima plastik putih dari tangan Ningsih.

          “Nasi gudegnya Mbok Jum, yang diujung jalan itu Mas.”

          “Buat aku?”

          “Iya, itu buat Mas Kardi, sebungkus nasi gudeg suwiran ayam, lengkap dengan kerecek, areh, dan tolo.”

          “Wah enak! Kamu kok repot-repot sih Ning.”

          “Engga repot kok Mas.” Wajah Ning semakin tersipu saat Kardi menatap lekat-lekat gadis yang selalu membuatnya berdebar.

          Matur nuwun ya Ning…makasih.”

          “Sama-sama Mas…eh, Mas aku kerja dulu ya.”

          “Iya Ning, kalau begitu aku berangkat ya Ning.”

          “Hati-hati Mas.”

          “Iya.”

          Lambaian tangan Kardi yang menjadi tanda perpisahan disambut hangat oleh Ning. Senyuman Ning dengan lesung pipitnya membuat Kardi semakin bersemangat melewati hari. Sebentar lagi aku akan menyatakan cinta Ning, tunggu ya Ning, aku mengumpulkan keberanian dulu untuk bilang cinta sama kamu. Dada Kardi berdebar-debar saat kata-kata cinta terus saja berulang didalam hatinya. Kardi tidak sabar menunggu waktu itu tiba, waktu untuk menyatakan cinta pada pujaan hatinya.

          Ah, jatuh cinta memang indah!

*

          Kardi tidak bisa berhenti tersenyum dihari ini. Wajah manis Ning yang selalu terbayang membuat Kardi semakin bersemangat menjalani pekerjaannya di hari ini. Toko mebel tempat Kardi bekerja buka dari pukul 09.00-21.00, dan kebetulan hari ini Kardi masuk pagi dari jam 09.00-15.00. Kalau masuk siang Kardi mulai bekerja pukul 15.00-21.00.

          “Kardi, dari tadi kau senyum-senyum terus…rupanya temanku ini sedang bahagia.” Ucok, teman karib Kardi yang berasal dari Medan sepertinya menangkap gelagat Kardi yang sedang jatuh cinta.

          “Ah Mas Ucok tahu saja kalau saya sedang bahagia.” Ucok dan Kardi sedang istirahat untuk makan siang. Mereka berdua berada di warung angkringan berada tidak jauh dari tempat kerja.

          “Kau tidak makan nasi kucing oseng tempe?” Ucok sedikit heran saat Kardi hanya memesan segelas es teh, tanpa memesan menu favorit mereka berdua jika sedang makan siang bersama di angkringan.

          “Aku sudah bawa bekal Mas Ucok, ini…” Kardi mengeluarkan bungkusan daun dari dalam tas plastik putih.

          “Nasi gudeg dari Ningsih ya?”

          “Mas Ucok tahu saja.” wajah Kardi seketika memerah menahan malu.

          “Rupanya kau memang benar-benar sedang jatuh cinta dengan gadis bernama Ningsih itu ya.” Ucok semakin gencar menggoda Kardi yang sedang tersipu malu.

          “Aduh aku jadi malu.”

          “Sudahlah Kardi, buruan saja kau nyatakan cinta pada si Ningsih itu!” Ucok semakin provokatif.

          “Iya Mas, sebentar lagi aku juga akan menyatakan cinta pada Ning.”

          “Kapan? Jangan ditunda-tunda, nanti keburu Ning kau itu diambil orang.”

          “Siap Mas Ucok!”

          “Jangan hanya bilang siap-siap, haduh kau ini harus gerak cepat Kardi! Kau bilang Ningsih itu manis, senyum lesung pipitnya bikin kau tak bisa tidur kan?” Kardi mengangguk mantap. “Ya sudah Kardi, segera saja kau nyatakan cinta.”

          “Lusa aku akan menyatakan cinta pada Ning.”

          “Bagus!” Ucok mengacungkan kedua jempol tangannya. “Aku dukung kau!”

          “Doakan ya Mas Ucok, semoga saja Ning mau menerima cintaku.”

          “Ya pasti diterimalah, Ning kan selalu perhatian sama kau.”

          “Amin!”

          “Sudahlah, buruan kau makan nasi gudeg dari Ning yang bertaburkan cinta itu.”

          “Ah Mas Ucok bisa saja….”

          “Aku juga sudah lapar kali ini! Kusikat saja dua nasi kucing yang satu oseng tempe, yang satu sambal teri, tambah sate kerang, mendoan, dan tahu susur.” Dengan sigap Ucok mencomot makanan yang sudah diincarnya itu. “Melihat kau yang berbunga-bunga seperti ini, membuat nafsu makanku bertambah.” Kardi tertawa cekikikan. “Apalagi kalau sudah ketemu wedang tape buatan Bu Saniyem yang tiada tandingannya ini!” Ucok menerima segelas wedang tape hangat yang diserahkan Bu Saniyem, ibu-ibu pemilik warung angkringan.

          “Mari makan Mas Ucok.”

          “Mari-mari…ah melihat kau yang sedang jatuh cinta seperti ini aku jadi teringat dengan istriku dirumah, tiba-tiba kangen kali aku sama dia!”

Kardi dan Ucok tertawa bersama.

          Kardi merasa beruntung memiliki teman karib di tempat kerjanya. Meskipun umur Ucok jauh lebih tua dari Kardi namun Kardi merasa cocok berteman dengan Ucok. Meskipun mereka berdua berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, Kardi orang Jawa yang asli Jogja, sedangkan Ucok orang Medan totok, namun perbedaan itu tidak menjadi penghalang mereka untuk bersahabat. Meskipun karakter Ucok “keras”, namun Kardi selalu merasa senang mendengar nasihat-nasihat yang selalu diberikan Ucok saat Kardi sedang membutuhkan solusi dari masalah-masalahnya, baik masalah pekerjaan, cinta, dan keluarga.

          Kardi, pemuda berusia 19 tahun merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Kakak pertama Kardi sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di Sleman. Murni, kakak perempuan Kardi membantu suaminya mengelola perkebunan salak pondoh milik mertua Murni. Kakak kedua Kardi, Bambang bekerja di toko oleh-oleh khas Jogja yaitu bakpia di daerah Pathuk. Sedangkan adik Kardi, si bungsu Sari, masih SMP. Bapak Kardi sudah meninggal 2 tahun yang lalu, sedangkan Ibu Kardi sudah bertahun-tahun bekerja di toko batik di daerah Dongkelan. Dengan bekerja sebagai pegawai toko mebel di Malioboro, Kardi bahagia karena dia merasa sudah tidak lagi membenani Ibunya, karena memiliki penghasilan sendiri. Kardi juga mulai menabung untuk masa depannya, Kardi punya impian membangun rumah tangga bersama Ningsih, pujaan hatinya.

*

 

          Hari Minggu yang ditunggupun tiba. Kardi dan Ningsih libur kerja, mereka berdua janjian untuk pergi bersama. Setelah Kardi menjemput Ningsih, berpamitan kepada kedua orangtua dan kakak perempuan Ningsih, merekapun memulai perjalanan. Hari ini Kardi sudah membulatkan tekad untuk menyatakan cinta pada Ningsih.

          “Kita mau jalan-jalan kemana Mas Kardi?” Ningsih yang hari ini terlihat cantik dengan rok batik merahnya, bertanya pada Kardi saat mereka sudah berboncengan di atas motor kesayangan Kardi.

          “Aku mau mengajak kamu keliling Jogja Ning.”

          “Ke Malioboro juga kan?” Kardi mengangguk. “Ningsih tahu Mas Kardi sudah bosan ke Malioboro, soalnya setiap hari Mas Kardi kan ke Malioboro untuk bekerja.”

          “Aku ga pernah bosan Ning, aku suka selalu suka Malioboro!” Ningsih tertawa. “Ini serius Ning, aku suka sekali dengan Malioboro, dan aku merasa bersyukur bisa bekerja di tempat yang aku suka.”

          “Iya Mas, Ningsih juga tahu kalau Mas Kardi itu cita-citanya pengen bekerja di Malioboro.”

          “Ga tau ya Ning, Malioboro itu seperti magnet. Meskipun saat liburan selalu macet, tapi aku itu suka sekali melihat becak berseliweran, andong yang bertebaran dimana-mana, mengamati berjubel manusia yang datang mengunjungi Malioboro, rasanya aku tidak akan pernah bosan dengan Malioboro.”

          “Ning juga suka Malioboro, meskipun Ning jarang sekali berkunjung ke Malioboro.”

          “Nah, sudah sampai nih!”

          “Ini Taman Sari Mas?”

          “Iya….kita jalan-jalan dulu ke Taman Sari ya Ning, melihat pemandian putri-putri Keraton di zaman dulu. Aku dengar dari Mas Ucok, setelah dipugar Taman Sari jadi lebih indah.”

          Kardi dan Ningsih lalu berjalan-jalan di Taman Sari yang eksotik. Mereka berdua tampak takjub melihat tempat bersejarah yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan itu. Setelah puas berjalan-jalan di Taman Sari, Kardi lalu mengajak Ning ke Alun-Alun Utara, mereka berjalan-jalan di depan Keraton Jogja. Kebetulan di Alun-Alun Utara sedang ada Sekatenan, pasar malam yang diadakan setahun sekali. Meskipun Sekatenan belum dibuka secara resmi, namun aura khas pasar malam sudah terasa. Di sore yang cerah Kardi mengajak Ning naik komedi putar di Sekaten, mereka berdua larut dalam suasana pasar malam lengkap dengan musik campur sari yang disetel kencang di Sekaten.

          Setelah puas naik komedi putar dan berkeliling Sekaten, Kardipun memenuhi janjinya untuk mengajak Ning ke Malioboro. Sebelum berjalan-jalan di Malioboro, Kardi mengajak Ning makan malam di angkringan Bu Saniyem, di dekat toko mebel tempat Kardi bekerja yang memang buka dari pagi hingga tengah malam. Setelah melahap nasi kucing, tahu bacem, ceker goreng, dan wedang tape, Kardipun mengajak Ning jalan-jalan di Malioboro. Mereka berdua menikmati indahnya pemandangan di Malioboro dengan toko-toko yang berjejer.

          “Capek Ning?”

          “Capek tapi senang Mas.”

          “Kalau kamu capek kita istirahat dulu yuk.”

          “Iya Mas.”

          Kardi dan Ning duduk-duduk didepan Istana Negara yang berhadapan dengan Benteng Vanderburg. Ditempat ini banyak komunitas yang berkumpul didepan Istana Negara, ada komunitas sepeda, juga komunitas seni lainnya, serta para pengamen jalanan yang melantunkan lagu-lagu masa kini. Suasana Malam di depan Istana Negara semakin romatis dengan lampu-lampu “khas Jogja” yang bertebaran disetiap sudut Malioboro.

          “Mas itu titik Nol Kilometer ya?” Ning menunjuk perempatan yang menghubungkan Alun-Alun Utara dan Malioboro.

          “Iya Ning, yang biasa buat demo-demo itu.” Ning mengangguk-angguk. Musisi jalanan yang berada tidak jauh dari tempat Kardi dan Ning duduk, menyanyikan lagi “Jogjakarta” yang dipopulerkan oleh Kla Project. “Ning, ada yang ingin aku sampaikan sama kamu.” Jantung Kardi mulai berdegup kencang. Ini saatnya! Tekad Kardi untuk menyatakan cinta pada Ning semakin kuat.

          “Ada apa Mas Kardi?”

          “Ning, kita sudah lama berteman, dan aku merasa bahagia saat bersama kamu.” Meskipun lampu jalanan sedikit redup, namun Kardi bisa melihat dengan jelas rona wajah Ning yang memerah.

          “Terimakasih Mas.” Ning menunduk malu.

          “Ning, sebenarnya aku sudah lama ingin menyatakan ini sama kamu, tapi baru hari ini aku berani bilang Ning….”

          “Ada apa Mas Kardi?” Meskipun berusaha kerasa menutupi rasa gugupnya saat mata Ning menatap menatap Kardi, namun Kardi bisa merasakan debaran jantung Ning.

          “Ning, aku cinta kamu.” Lega! Akhirnya kata itu bisa keluar dari mulutku! Wajah Ning semakin bersemu, senyuman Ning dengan lesung pipitnya membuat Kardi semakin berdebar.

          “Ning juga cinta sama Mas Kardi….”

          “Apa Ning, aku ga dengar kamu ngomong apa…” Kardi bohong! Sebenarnya Kardi sudah mendengar ucapan Ning. “Bisa ga ngomongnya lebih keras lagi?”

          “Ningsih cinta Mas Kardi!!!” Ning sedikit berteriak.

          “Oh, makasih ya…” Ning tertawa. “Jadi kita sama-sama saling mencintai?”

          “Iya.”

          “Kalau begitu mulai hari ini kita pacaran?”

          “Setuju.”

          Mereka berdua lalu berjabat tangan.

          “Pulang yuk Ning, sudah malam…”

          “Iya Mas…”

          Mereka berdua bergandengan tangan menuju toko mebel tempat Kardi bekerja untuk mengambil motor. Hari ini menjadi hari yang indah untuk Kardi dan Ningsih, Malioboro menjadi saksi terpautnya cinta diantara mereka berdua.***

 

 

Catatan : Cerita Pendek ini pernah diikutsertakan untuk sebuah lomba menulis, namun tidak menang. Beberapa bagian tulisan ini sudah diedit.

 

 

 

 

 


Senin, 07 September 2020

A Day

Halo September, bulan favorit! :)

Hey, My birthday today, hahaha! 

Alhamdulillah masih diberi umur sama Allah SWT. Semoga di umur yang keberapa ini bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi, Aamiin. 

Well, ini adalah ulang tahun kelima saya tanpa Ibu, dan ulang tahun pertama tanpa Ayah di sisi. Sedih? YA PASTILAH, namun saya tahu, ini jalan yang diberikan Allah kepada saya, yang mana saya harus menjalaninya. Yang pasti saya bersyukur masih dikelilingi orang-orang yang sayang kepada saya. Alhamdulillah ❤

Jika ulang tahun tiba seperti ini teringgat Ibu memasak nasi kuning lengkap dengan lauk pauk, atau membuat gudangan. I miss that! Teringgat Ayah membelikan ayam goreng utuh satu kardus untuk dinikmati bersama :) Terimakasih Ibu dan Ayah telah memberikan kenangan dalam hidup saya, kenangan yang akan terus berada di dalam memori inggatan saya. I LOVE YOU ❤❤

Dulu, saat ulang tahun tiba, berasa gimanaaaa gitu ya, bahagia sekali menunggu waktu tersebut, tapi sekarang ya biasa saja gitu ya, hahaha! Merasa yang... eh, umur guweh nambah lagi nih, OMG! :D berasa menolak tua gitu looh, hahaha! Wooyyy bersyukur wooyyy, sudah dikasih umur sama Tuhan, rights! :)

Melewati hari ulang tahun memang memiiliki sensasi tersendiri ya. Kadang mikir, di umur yang bertambah ini, apa saja ya yang sudah saya lakukan? Jadi semacam refleksi ke diri sendiri gitulah. Hufff... what a birthday?! :) 

Semoga semua yang baik-baik akan hadir di hari-hari ke depan, Aamiin.

Happy Monday.

Senin, 03 Agustus 2020

PUJAAN HATI BERNAMA REZA - #AStoryAbout

 

PUJAAN HATI BERNAMA REZA

 

            Gerimis masih turun saat aku keluar kelas menuju gerbang sekolah. Reza! Jantungku berdegup kencang saat melihat sosok cowok berkacamata dengan sweater birunya, lewat didepanku. Ya Tuhan, mengapa sampai sekarang aku selalu dibuat beku saat berhadapan dengan Reza? Padahal aku ingin sekali menyapa kakak kelasku itu! Ah, aku benci diriku! Aku selalu membiarkan Reza berlalu begitu saja, disaat aku ingin sekali memanggil namanya. Ya, sudahlah! Mungkin lain waktu aku bisa menyapa Reza, tentunya setelah berhasil mengumpulkan keberanian dan tekad baja.

            Woiii!!” suara cempreng Mira langsung mengalihkan pandanganku saat menatap punggung Reza yang semakin lama semakin terlihat menjauh.

            “Bisa ga kalau ga ngangetin!” aku langsung pasang tampak jutek.

            Busyet, nih anak nyolot banget, abis kesambar apa sih? Santai dunk Key…”

            “Kalau mau santai ya di pantai sono!”

            “Ya ampun Keyla, kamu kenapa sih? Kalau marah-marah begini ntar cantiknya hilang…”

            “Aku cantik ya?”

            “Nah, mulai nih anak….” Tawaku akhirnya pecah saat melihat tampang manyun Mira. “Kenapa Key? Kok marah-marah begini?”

            “Gak ada apa-apa kok Mir….”

            Ciyuss?”

Swear!”

“Yakin gak ada apa-apa?”

            Hmmmm…..Reza….”

            “Aha! sudah kuduga!” Mira melotot, dan aku nyengir kuda. “Wajah Reza itu tergambar sangat jelas di dalam fikiranmu.”

            “Sok tahu! Emangnya kamu bisa baca fikiranku?”

            “Lha, cenayang begini kok dilawan!”

            “Cenayang itu yang ditarik ulur, terus terbang-terbang di langit itu kan?”

            “Itu layang-layang dodol!” aku ngakak sambil menahan sakit perut melihat wajah Mira yang cemberut. “Udah, ga usah ketawa-ketawa gitu! Balik ke Reza….gimana..gimana..kapan kamu akan menyapa dia?” tawaku terhenti seketika saat mendengar nama Reza disebut-sebut.

            “Sampai aku siap melakukannya….”

            “Kapan Key? Keburu Reza lulus….”

            “Secepatnya!”

            “Janji Key?” aku mengacungkan dua jari tanganku membentuk huruf V.

            “Janji!”

Yuksss ke halte sekarang….”

            Yuksss…”

            Aku dan Mira berlari-lari kecil menuju halte bus, sebelum gerimis berubah menjadi hujan.

 

Aku menatap bungkusan berwarna merah di atas meja belajar. Entah sudah berapa lama bungkusan merah itu berada di meja belajarku, mungkin sudah berbulan-bulan yang lalu. Didalam bungkusan itu ada jam dinding dengan gambar Mancashter United, club bola kesukaan Reza. Kado berbungkus merah itu sebenarnya ingin aku berikan pada Reza, saat ulang tahunnya bulan depan, namun aku belum tahu, apakah aku punya keberanian untuk memberikan kado tersebut.

Hatiku mulai gelisah, mungkin Mira benar, aku tidak boleh melewatkan kesempatan demi kesempatan begitu saja! Kalau saat kelulusan tiba, dan aku belum juga berani menyapa Reza, sia-sialah semua. Baik, aku akan membulatkan tekad untuk menyapa Reza besok! Apapun yang terjadi, aku akan tetap maju terus pantang mundur!

Jantungku kembali berdegup kencang saat teringat Reza.

 

“Doakan aku ya Mira.”

            “Pasti Key! Kuncinya, tenang.”

            “Sip!” Mira menepuk bahuku pelan sesaat sebelum aku melangkah meninggalkannya.

            Aku berjalan menuju arah Reza, yang aku lihat sedang berdiri di depan papan majalah dinding sekolah. Tekadku sudah sangat bulat, sebulat telur ayam, pokoknya hari ini aku akan menyapa dan berjuang untuk bisa berkenalan dengan cowok pujaan hatiku itu.

            Omigoddddd!!! Aku sudah berdiri dibelakang Reza! Ayo Keyla, kamu pasti bisa!

            “Kak Reza….” Suaraku sedikit terbata saat memanggil nama Reza.

            Reza membalikkan badannya, dan menatapku. Sumpah! Jantungku hampir copot!

            “Iya….” Reza menatapku bingung.

            “Aku Keyla…” spontan aku mengulurkan tanganku. Ah, syukurlah, Reza menyambut uluran tanganku. Senangnya bisa bersalaman dengan Reza! Hatiku langsung berbunga-bunga. “Maaf Kak, kalau menggangu….”

            “Ah, engga kok.” Reza tersenyum, dan jantungku kembali berdegup luar biasa kencang saat melihat senyum Reza. “Ada yang bisa aku bantu Keyla?”

            “Engga ada Kak, aku hanya ingin berkenalan dengan Kak Reza.” Ops! Dodol! Apa yang aku katakan? Kenapa aku bisa keceplosan begini? Bodoh! Seharusnya aku kan bisa kasih alasan yang lebih keren! Kenapa malah terlalu jujur begini? Aih! Aku merasakan pipiku yang mulai menghangat, mungkin wajahku sekarang sudah semerah tomat. Sumpah, aku malu!

            Reza tertawa.

            “Senang berkenalan dengan kamu Keyla.”

            “Sama-sama Kak Reza…” KABURRR! “Kalau begitu aku permisi Kak, mau ke perpus.”

            Ok.”

Aku langsung balik badan. Dari kejauhan aku melihat Mira yang sedang tersenyum senang saat melihatku. Dengan debaran yang masih tersisa, aku berlari kecil menuju perpustakaan. Ah, akhirnya aku bisa menyapa Reza, bahkan berjabat tangan dengannya! Sumpah, aku bahagia banget! Rasanya itu seperti habis ketemu Justin Bieber trus dinyanyiin “Baby…baby..baby…oh…Kyaaaaaaa!!!!

Thanks God!

Sejak saat aku berkenalan dengan Reza di depan papan mading, sekarang kami selalu bertegur sapa saat berpapasan. Seperti hari ini, tanpa sengaja kami bertemu di kantin saat aku dan Mira sedang asyik menyantap bakso, jadilah kami mengobrol bersama.

“Kak Reza suka bola?” aku mencoba mengkroscek informasi yang aku dapatkan dari kepoin instragram Reza, apakah Mancaster United memang benar-benar club sepak bola favoritnya.

Yup! Aku penggemar berat Mancater United!” Yes! Dugaanku benar adanya! Ah, rasanya tidak sia-sia aku menyiapkan kado jam dinding dengan lambang club bola kesukaan Reza itu.

“Selain suka bola, Kak Reza suka pertandingan olah raga apalagi?” Mira yang sedari tadi hanya mendengarkan aku dan Reza mengobrol, akhirnya buka suara.

“Bulu tangkis!”

“Wah, kebetulan, si Mira ini jago bermain bulu tangkis lho Kak!”

“Oh ya?”

“Ah…engga jago-jago amat kok Kak…”

“Bohong! Mira itu selalu keluar jadi juara kalau ada perlombaan bulu tangkis, di acara tujuh belasan di komplek perumahannya.”

“Si Keyla mulai lebay nih.”

“Eh, ngomongin fakta malah dibilang lebay, please deh!”

“Tapi ga selalu juara juga kali…”

“Nah, itu piala berjejer di kamar, masih ga mau ngaku juga kalau juara.”

“Lha, kalian berdua kok malah berantem ini….” Aku dan Mira saling bertatapan lalu tertawa secara bersamaan.

“Maaf Kak Reza….”

“Ah, biasa Key, kalau sobatan itu juga kadang-kadang berantem juga kan?”

“100 buat Kak Reza…” Reza tertawa. “Jadi, selain suka sepak bola Kak Reza juga suka bulu tangkis?”

“Iya Key...suka lihat pertandingannya, tapi jarang main sepak bola maupun bulu tangkis.” Aku dan Mira kompakan manggut-manggut. “Kalau kamu sukanya apa Key?”

“Makan bakso, ngemil coklat plus ice cream…” Aih, kenapa aku bisa bicara sejujur ini! harusnya kan aku bisa jaga imej sedikit! Meskipun badanku yang ‘chubby’ ini jelas-jelas menunjukkan kecintaanku pada makanan, tapi kan seharusnya aku bisa sedikit mengontrol ucapanku tentang makanan! Ah, sudahlah…..

“Kadang-kadang Keyla juga menjadi lawanku saat bertanding bulu tangkis Kak.” Ucapan Mira bagaikan angin sejuk ditelingaku. Sumpah, saat ini aku ingin memeluk Mira dan mengucapkan terimakasih karena dia sudah sedikit ‘menyelamatkan’ku dari Reza.

“Tapi aku belum sejago Mira….”

“Kalau sering latihan lama-lama juga jago kok Key.”

“100 lagi untuk Kak Reza!!! Jadi, point yang sudah terkumpul jumlahnya jadi 200.” Reza tertawa.

“Kamu lucu…” Reza menatapku. Dan, entah darimana datangnya rasa salah tingkah itu. Tatapan Reza membuat jantungku berdegup sangat kencang. Ya Tuhan, semoga Reza tidak melihat rona merah di pipiku yang aku prediksi sudah muncul!

Thanks God! Bel tanda masuk yang berbunyi menyelamatkanku!

“Aku ke kelas dulu ya, kapan-kapan kita mengobrol lagi. Oh iya, kalau pada bertanding bulu tangkis, aku ikutan dunk.”

“Siap! Nanti kami bilang ke Kak Reza.” Mira yang menjawab, sedangkan aku masih terpaku. Sumpah, tatapan Reza membiusku.

Reza melambaikan tangan, aku mencoba melemparkan senyum terbaikku sambil membalas lambaian tangan Reza.

“Eh! Nih anak malah bengong! Ayo ke kelas.” Suara cempreng Mira kembali membawaku ke dunia nyata, bukan di dunia awang-awang lagi. “Ya ampun, nih anak malah makin bengong kaya sapi ompong….helloooo!!! Keyla!!”

“Iya..iya, aku denger!”

“Eh busyet nih anak malah nyolot.”

“Udah ga usah ribut deh!”

“Eh, kok malah marah-marah begini nih, harusnya kamu tuh happy berat karena bisa mengobrol sama Reza, si pujaan hati.”

Lebay!” aku berjalan cepat menuju kelas.

Woiiii…Keylaaaa…tunggu! Eh, busyet, maksudnya apa ini aku ditinggal-tinggal begini.” Aku terus berjalan tanpa menunggu Mira yang masih berada dibelakangku. “Eh, mentang-mentang lagi jatuh cinta trus jadi aneh nih anak!”

Stttttttt!!! Bisa ga sih kalau ga berisik!”

Cieeeeee…Reza nih yeeee…”

Shut up!”

Mira tertawa terbahak-bahak, sedangkan aku hanya bisa cemberut.

 

Hari Minggu pagi yang cerah aku dan Mira menunggu Reza di lapangan bulu tangkis yang terletak di komplek perumahan Mira. Pagi ini, kami janjian untuk bermain bulu tangkis bersama. Meskipun akan berolah raga, namun aku sengaja tampil special di hari ini. Dengan menggunakan t-shirt warna pink, aku berharap Reza membaca “sinyal” yang ingin aku tunjukkan padanya. Semoga Reza tahu, warna pink melambangkan rasa jatuh cinta, dan aku memang sedang jatuh cinta dengan Reza!

Seminggu lagi ulang tahun Reza, dan aku sudah tidak sabar untuk menyerahkan kado special yang sudah aku persiapkan berbulan-bulan yang lalu itu. Semoga acara “pedekate” hari ini berjalan dengan lancar!

Cieeeee….cantik bener hari ini, pink gitu looh!” Mira sedari tadi terus menggodaku dengan tampang jahilnya yang menyebalkan itu.

“Makasih….tapi kayanya kamu udah bilang berkali-kali deh kalau aku cantik. Sekali lagi kamu bilang aku cantik, nih raket kayanya bakal melayang deh.”

“Ya ampun, nih anak sadis amat!” Aku melotot. “Hmmmm…semoga saja Reza akan datang bersama Varell, si cowok cute itu!”

Ngarep!”

“Eh, boleh dunk aku berharap Reza akan membawa Varell untuk bermain bulutangkis bersama kita. Kan bisa ganda campuran tuh, kamu ama Reza melawan aku sama Varell.” Mira senyum-senyum ceria.

“Mentang-mentang Reza se-gank ama Varell, bukan berarti dia akan menggajak gebetan kamu itu.”

Please Keyla, kalau lagi bahagia itu dibagi-bagi kenapa? Masa kamu pedekate sama Reza, aku ga boleh pedekate sama Varell.”

“Iya deh, aku doakan Reza akan datang bersama Varell, bukan temen se-gank’nya yang lain.”

“Amin….”

“Reza mana sih? kok belum datang-datang….”

“Sabar kali! Ini masih ada waktu 10 menit dari waktu janjian. Kamu sih ngajakin datang lebih awal.”

“Ya jangan sampai Reza menunggu kan?”

“Tapi ga datang setengah jam lebih awal juga kali!” Tawaku langsung pecah saat melihat wajah manyun Mira.

“Itu Reza!” teriakan cempreng Mira membuatku buru-buru merapikan rambut, dan kembali menyakinkan penampilanku sudah terlihat sempurna! Aku harus bisa memberikan kesan yang baik di acara pedekate ini!

Aku membalikkan badan untuk menyambut Reza dengan senyum terbaikku.

Tunggu! Siapa cewek yang ada disamping Reza itu? Seharusnya kan Reza datang bersama Varell, Bayu, Miko, atau temen se-gank’nya yang lain, tapi kenapa Reza tidak datang bersama mereka? Jantungku mulai berdegup tak karuan.

“Selamat pagi….” Sapaan hangat Reza tidak juga meredakan debaran yang semakin menguat.

“Pagi Kak…” Mira yang menjawab, sedangkan aku hanya bisa melemparkan senyum.

“Aku belum terlambat kan?” Aku dan Mira kompakan menggeleng. “Nah, ini teman yang akan menemaniku bermain bulutangkis bersama kalian.” Cewek berambut lurus sebahu itu tersenyum bergantian denganku dan Mira. Aku membalas setengah hati senyum cewek itu. Perasaanku mulai tidak enak. “Kenalkan, dia Claudia, teman istimewaku….” Deg! Sumpah, kali ini jantungku serasa berhenti berdetak.

Aku dan Mira bergantian bersalaman dengan Claudia.

“Teman istimewa, maksudnya pacar Kak?”

“Iya Mira, Claudia ini pacar aku.” Sumpah, aku ingin pingsan! “Kami baru jadian sebulan yang lalu….” Cerahnya matahari pagi langsung tertutup kabut didalam hatiku. Rencana “pedekate” gagal total!!!

“Main bulu tangkisnya bisa kita mulai sekarang?”

“Siap!!!!!!”

“Wah, Keyla bersemangat sekali!”

Aku tertawa, tapi dalam hati menangis.

“Pastinya!” Semangat? Helooooo!!! Aku sedang patah hati Reza! Mira menatapku dengan tatapan yang tidak aku mengerti. “Aku baik-baik saja Mira.” Aku berbisik pelan ditelinga Mira.

Kami bersiap untuk bermain bulu tangkis.

Semua harapan yang sudah aku bangun untuk Reza hancur sudah. Meskipun aku harus menelan kekecewaan yang dalam, namun aku tetap bahagia karena keinginanku untuk bisa berkenalan dengan Reza akhirnya terwujudkan. Meskipun impianku untuk menjadi pacar Reza harus terhempas, namun aku tetap harus kuat bukan? Bagaimanapun juga Reza akan tetap menjadi seseorang yang special untukku. Well, kado ulang tahun Reza akan aku pakai sendiri sajalah! Jam dinding itu sepertinya akan terlihat cantik jika dipajang di tembok kamarku. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

           

 

           


Jumat, 15 Mei 2020

Menuju Penghujung Ramadan

Alhamdulillah, masih bisa merasakan Ramadan, meskipun Ramadan kali ini bisa dibilang berbeda :)
Secara pribadi Ramadan 1441 H ini memang cukup berbeda bagi saya. Ramadan kali ini saya tidak lagi merayakannya bersama Ayah. Sebelum Ramadan tiba, Ayah saya berpulang dikarenakan penyakit jantung yang 2-3 tahun belakangan ini beliau rasakan. Meskipun sedih karena merasa ada yang "hilang", namun saya yakin Ayah sudah mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Allah SWT. Yang terpenting, Ayah sudah bertemu dengan Ibu di sana ❤
Akan merayakan Idul Fitri tanpa kehadiran Ibu dan Ayah memang bukan hal yang mudah, namun Ayah dan Ibu akan selalu ada di hati. 

Ramadan kali ini juga menjadi Ramadan yang berbeda karena wabah virus corona yang sedang melanda dunia, termasuk negara tercinta Indonesia. Di tengah Ramadan yang tanpa hiruk-pikuk seperti Ramadan yang sudah-sudah, namun tetap indah kok.

Ramadan ini cukup menyenangkan karena karya saya lolos! Yes, cerita yang saya kirimkan untuk Balada Cerita Ramadhan di Radio Prambors menang, dan dijadikan sandiwara radio, Alhamdulillah! Mendengar cerita yang ditulis diputar di radio rasanya sungguh membuat bahagia! Thanks Prambors! 

Hhmmm, sudah berapa lama ya tidak menjalani "kehidupan normal" karena pandemi ini? Hufff, sampai ga ingget lagi :O yang ingin dilakukan setelah semua ini berlalu, nonton bioskop! Rasanya udah pengen duduk santai di depan layar bioskop, menikmati film yang disuka, ah indahnya! Semoga corona ini cepat berlalu, dan keadaan kembali seperti dulu, Aamiin!

So, segala urusan tetap berjalan baik kan? Semoga! Keadaan memang "sedang berubah", namun ya tetap bersyukur dengan yang sudah terjadi. Alhamdulillah masih diberi sehat, diberi rezeki, ah, Alhamdulillah :)
Di tengah wabah corona ini saya tetap bersyukur masih bisa melanjutkan usaha warung makan Ayah. Meskipun saya belum terjun total ke dunia kuliner ini, hihihi. Memiliki asisten yang setia rasanya menjadi kunci penting dalam kelangsungan sebuah usaha. 

Oke, lets talk!

Ayah saya memiliki asisten yang cukup setia, sudah 30 tahunan beliau menjadi asisten Ayah di Warung. Jadi, sekarang, "kelangsungan warung" memang ada pada beliau sih, hehehe :) secara selama ini saya ga belajar dengan serius tentang resep masakan Ayah. Jadi ya beliau, Pak asisten'lah yang menjadi "full koki" di Warung. Saya mah bantu menyajikan dan mencicipi saja, hahahaha! Ya, as long as we can, we will do the best. Lalu, warung akan tetap berjalan sampai kapan? Well, till the end. Setiap cerita pasti ada akhir. Ga ada yang abadi kan ya di dunia ini? Yo' rights! :)

Banyak hal-hal yang terjadi di hari-hari yang silih berganti ini membuat saya semakin banyak belajar tentang hidup dan kehidupan. Menghadapi hal-hal yang sulit untuk dihadapi tentu menguras energi dalam diri, namun saya bersyukur masih memiliki Allah ❤

Ya, baiklah, selamat ngabuburit! Semoga puasanya terus berjalan dengan lancar dan baik ya, Aamiin.
Tetap semangat!!! Sungguh, ini sulit sekali, dengan adanya pandemi dan keadaan yang berbeda ini bikin suasana ga cihuy, namun ya semua tetap harus dilewati bukan?
Okelah, berbuka dengan yang manis ya, uhuy!

Bismillah...


Kamis, 05 Maret 2020

A Story About - Hadirmu



HADIRMU

Kebiasaan akhir-akhir ini, begitu membuka mata, aku langsung mengecek ponsel untuk melihat Instagram, Twitter, dan Facebook. Aku melakukan kebiasaan tersebut sejak mengidolakan dia, seseorang yang membuatku terpesona.
            “Woiii! Ngelamun aja nih anak.” Tepukan keras di pundak kiri membuatku tersentak.
            “Bisa ga sih ga bikin kaget.”
            “Dari tadi bengong melulu. Tuh, batagor sampai dilalerin.”
            Aku melirik piring di depanku.
            “Ih, dusta kamu.”
            Rinta tertawa terbahak.
            “Ngelamunin apa sih?”
            “Ga ada.”
            Tuhan! Jantungku berdegup sangat kencang saat aku melihat sosok itu. Seseorang yang sedang memasuki kantin sekolah membuatku berdebar. Ah, iya, aku harus tetap stay cool, jangan sampai Rinta melihat perubahan sikapku yang mendadak gelisah.
            “Eh, sumpah ya diantara mereka aku paling males sama dia.” Rinta berbisik pelan.
            “Kamu lagi ngomongin apa sih?”
            “Apalagi kalau bukan band kebanggaan sekolah kita.”
            “Udara Pagi?”
            Yoa! Sumpah, malesin banget drumernya.”
            Aku menelan ludah.
            “Memang kenapa?”
            “Cowok belagu gitu!”
“Masa sih?”
“Mas Didot vokalisnya kan asli ramah banget. Mas Rio bassisnya baik bener. Mas Candra keyboard sama Mas Dika yang main gitar, juga ramah. Kecuali yang itu tuh!”
Mata kami bertemu. Saat tanpa sengaja aku melihat ke arahnya, dan dia juga sedang melihat ke arahku. Wajahku memanas.
            “Memangnya Mas Oka kenapa?”
            “Ga asyiklah!”
            “Hanya perasaan kamu aja kali…”
            “Udah ah ga usah dibahas. Males!”
            “Yeee bukannya kamu yang bahas duluan ya!”
            “Iya juga sih.”
            Kami lalu tertawa bersama.
         Aku ingin membantah semua ucapan Rinta tentang Oka. Menurutku Oka sangat keren. Permainan drumnya bagus, gayanya seru, dan sikapnya yang cool membuat aku berdebar setiap kali melihat aksinya di atas panggung sekolah. Menurutku Oka itu tidak belagu, mungkin dia hanya lebih pendiam dibanding teman-temannya yang lain di Udara Pagi. Ah, tapi sudahlah. Aku tidak ingin Rinta tahu kalau aku mengidolakan Oka. Biarlah rasa ini aku simpan sendiri dulu.
*
            “Apa benar ya yang dibilang Sari tadi…”
            “Tentang?”
            “Kamu dan Mas Oka ngobrol berdua.”
            Wajahku memanas.
            “Ih, kok wajah kamu merah semua gitu siiihhh…”
            “Apaan sih!”
           “Sari katanya ngeliat kamu sama Mas Oka lagi ngobrol bareng di Perpustakaan Kota. Eh, Sarinya aku suruh tanya sendiri sama kamu malah minta tolong ke aku buat nanya ke kamu.”
            “Hmmm…”
            “Ayo ngaku!”
            “Hari Minggu kemarin tanpa sengaja aku ketemu Mas Oka di Perpustakaan Kota, terus aku nyapa dia. Lalu kami mengobrol.”
            “Ngobrolin apa?”
            “Ih, kepo!”
            “Gitu ya sama sahabat sendiri ga mau cerita…. Sejak pakai seragam putih biru kita udah temenan looh.”
            “Ya ngobrolin tentang buku, namanya juga ketemu di Perpus.”
            “Ga nyangka kalau Mas Oka ke Perpustakaan.”
            “Begitulah adanya.”
            “Terus… terus…”
            “Udah, gitu aja.”
            “Baiklah.”
            Hah, baru juga mengobrol tidak sampai 5 menit dengan Oka, sudah dikepoin begini. Ah, iya, aku kan sedang mengobrol dengan selebritis sekolah! Hahaha!
            Jadi inggat “perjuangan” aku untuk bisa menyapa Oka siang itu. Saat tanpa sengaja aku berpapasan dengannya diantara rak buku Perpus. Sekuat tenaga aku mengusir segala rasa grogi, salah tingkah, dan memupuk sebanyak mungkin rasa percaya diri. Obrolan tentang Udara Pagi, yang mana aku bilang kalau aku suka saat melihat mereka manggung, mendapat respon yang baik dari Oka. Lalu obrolan tentang buku di menit-menit terakhir pembicaraan kami bagiku sungguh menyenangkan. Aku senang akhirnya bisa mengobrol dengan idolaku meski hanya sesaat.
*
            “Hey, kamu!” Aku mengangkat kepalaku, mengalihkan pandangan dari buku pelajaran ke arah orang yang berdiri di depan mejaku.
            Oka!
Aku mulai mengatur nafas.
            “Rajin banget ya ke Perpuskot.”
            “Hehehe…. Ini lagi ngerjain PR Mas.”
           “PR itu dikerjain di rumah, namanya juga pekerjaan rumah.” Oka tersenyum jahil.
            “Sekali-kali ngerjainnya di Perpuskot Mas. Secara tinggal nyebrang doang.”
            “Rumah kamu deket sini?”
            “Iya. Mas Oka sendiri ngapain malem-malem gini ke Perpuskot?”
            “Ih, mau tahu aja!”
            Aku tertawa.
            “Lagi nyari buku tentang film.”
            “Film Mas?”
            “Iya. Ceritanya kan Udara Pagi mau bikin film dokumenter. Looh kok aku jadi bocorin ke kamu ya.”
            Aku tertawa.
            “Harusnya ini kan masih dirahasiakan.”
            “Tenang Mas, saya bisa jaga rahasia kok.”
“Hahaha!”
“Wah, bakal keren pasti filmnya.”
            Thanks, kami memang keren.”
            “Iya deh, percaya….”
            “Hahaha! Jadi, aku lagi mau baca-baca tentang film-film dokumenter. Anak-anak nunjuk aku untuk bikin konsep filmnya, sebelum nantinya cari sutradara untuk film kami.”
            “Oh….”
            “Berhubung aku masih belajar banget tentang film dokumenter jadi ya butuh banget referensi buku-bukunya.”
            Open recruitment buat kru ga Mas?”
            “Kru untuk?”
            “Ya saat pembuatan film dokumenter nanti. Kru di tim konsumsi juga boleh Mas.”
            “Memangnya kamu mau daftar?”
            “Kalau memang dibuka pendaftarannya.”
            Oke. Kamu diterima.”
            “Lho belum juga seleksi.”
            “Udah, pakai seleksi alam.”
            “Ini seriusan Mas?”
            “Ya seriuslah Vella.” Demi apa Oka masih inggat namaku!
            “Wah, asyik.”
            “Ntar kalau sudah mulai deket-deket pembuatan filmnya, aku kabarin ya.”
            “Makasih Mas.”
            “Sama-sama. Eh… hmm… kalau misalnya dimulai dalam waktu dekat ini gimana?”
            “Apanya Mas?”
            “Kamu bantuin Udara Pagi mau gak? Kita kan udah mulai diundang ke acara-acara pensi sekolah lain nih, kita juga udah mau rekaman di studio untuk bikin single buat dikirimin ke ajang musik di radio. Nah, kita butuh tambahan personil buat jadi kru. Tenang, bukan kru angkat-angkat alat band kok.”
            “Wah, seru Mas.”
        “Nanti kamu bisa bantu di bagian catat-catat jadwal. Eh, ini juga kalau kamu ga keberatan. Ya tapi kami belum bisa kasih kamu gaji, tapi bisalah feenya buat jajan, nonton di bioskop.”
            “Yang terpenting bisa dapat pengalaman Mas.”
            “Jadi kamu mau terima gak?”
            “Ini seriusan Mas?”
            “Memang aku tampak bercanda?”
            “Hehehe, engga sih. Baik Mas, aku terima tawaran Mas Oka.”
            “Wah, makasih!”
            “Sama-sama.”
“Kalau gitu besok sore kita kumpul di kedai depan sekolah ya buat ngobrolin ini bareng teman-teman yang lain.”
            “Siap Mas.”
            “Ya sudah, kamu terusin kerjain PR, aku lihat-lihat buku dulu.”
            “Iya Mas.”
            Demi apa, aku akan menjadi bagian dari team Udara Pagi! Ah, ini menyenangkan sekali! Setidaknya aku akan lebih sering bertemu dengan Oka.
Let’s rock the world with Oka! ***   


           


Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...