AWAN DI ATAS TAMAN
Setiap aku sedih, aku selalu datang ke taman bermain ini. Aku
tahu, sekarang aku sudah besar, umurku sudah 17 tahun. Aku tahu, aku bukan anak
kecil lagi yang bisa bermain ayunan sepuasnya, atau sekedar berlari-lari
mengelilingi taman bermain ini, seperti yang selalu aku lakukan saat kecil
dulu. Entah mengapa saat berada di taman ini aku selalu merasa tentram, dan
kesedihanku langsung menghilang. Bisa duduk-duduk santai di bawah pohon
rindang, tempat favoritku saat berada di taman ini, membuatku merasa damai.
Seperti Minggu sore ini, aku mengunjungi taman bermain yang tak bernama itu.
Aku menamai taman bermain ini dengan nama “Taman Awan”, karena aku suka sekali
melihat awan dari bawah pohon rindang di taman bermain ini. Bisa menatap awan
yang berjalan berarakan membentuk berbagai macam bentuk yang lucu dan indah, membuatku
bahagia.
Saat
ini aku sedang sedih. Karin, sahabatku, entah mengapa akhir-akhir ini seperti
menghindarku. Dan yang paling parah adalah kegalauanku karena Raja! Yup! Si
Raja, cowok pujaanku itu. Menginggat Raja, membuat jantungku tiba-tiba berdegup
kencang. Ah, kenapa aku selalu merasakan getaran indah setiap kali
hatiku menyebutkan nama Raja? Kenapa selalu ada deguban kencang saat teringat
pada Raja? Apakah aku sedang jatuh cinta pada tetangga baruku itu? Cowok yang
tinggal di sebelah rumah yang membuat hariku penuh warna.
Entah
sejak kapan aku naksir Raja, mungkin sejak pertama kali aku melihatnya. Aku
inggat, sore itu aku sedang menyiram tanaman di halaman depan rumah saat sebuah
truk berhenti di rumah sebelah yang kosong, setelah pemilik sebelumnya berhasil
menjual rumah tersebut beberapa bulan yang lalu. Saat itu aku tidak terlalu
memperhatikan orang-orang yang sibuk memindahkan barang-barang dari truk menuju
ke dalam rumah. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang saat melihat cowok itu!
Aku suka melihat cowok yang sedang berjalan menuju ke dalam rumah bersama
anjingnya. Melihat wajahnya yang lucu dengan pipi chubby-nya,
melihat gayanya yang cuek, membuatku hatiku meleleh. Aku merasakan
pipiku menghangat saat cowok itu melihat sekilas ke arahku.
Aku
tahu, seharusnya saat cowok itu melihat ke arahku, aku memberikan senyuman
kepadanya, tapi aku tidak melakukan itu. Aku tahu, seharusnya aku menyapa
tetangga baru yang sudah menggetarkan hatiku itu, namun aku tidak melakukannya.
Waktu itu aku malah pura-pura cuek, dan tetap sok sibuk menyiram
tanaman, padahal aku ingin sekali memberikan senyuman terbaikku. Aku hanya bisa
menyesal saat akhirnya cowok itu masuk kedalam rumah dan aku gagal berkenalan
dengannya.
Sampai akhirnya sekitar seminggu yang lalu aku melihat
cowok lucu itu di jalan, saat aku sedang berjalan menuju rumah sepulang dari
les Bahasa Inggris. Setelah berhari-hari aku tidak melihat dia, sejak pindahan
rumah itu, akhirnya sore itu aku melihat dia sedang berjalan kaki berkeliling
komplek bersama anjingnya. Namun lagi-lagi aku melewatkan kesempatan untuk
sekedar memberikan senyumku kepadanya. Saat kami berpapasan, aku malah
pura-pura sibuk melihat ke arah lain. Bukannya berusaha untuk melakukan kontak
mata dengan dia, aku justru menghindari tatapan cowok lucu itu saat dia
melihatku. Stupid me! Kesempatan emas terbuang lagi!
Aku akhirnya tahu kalau cowok lucu itu bernama Raja dari
Bapak Sapta, satpam di komplek perumahan kami. Sejak sore itu, hampir setiap
hari Raja melewati rumahku untuk berjalan-jalan berkeliling komplek bersama
anjingnya. Aku tahu, seharusnya aku menyapa Raja saat dia melintas di depan
rumahku, namun aku selalu saja melewatkan kesempatan baik itu. Aku tahu,
seharusnya aku menyiram tanaman saat Raja lewat, namun sebaliknya, aku justru
mulai menyiram tanaman setelah Raja berlalu. Aku tahu aku bodoh, karena selalu
saja melewatkan kesempatan untuk menyapa Raja. Namun aku yakin, suatu hari
nanti aku pasti bisa berkenalan dengannya. Raja, wait for me!
Aku
menghela nafas panjang dan kembali menatap awan. Wajah Raja tergambar jelas
diantara awan yang sedang berjalan beriringan di atas langit yang cerah. Kenapa
fikiranku tidak bisa sedetikpun lepas dari Raja? Uh!
*
“Maaf
Sifa, aku tidak pernah bermaksud menghindari kamu.” Aku sedang berbicara dengan
Karin, sahabatku. Kami sedang duduk berdua di bawah pohon rindang di taman
awan.
“Aku
minta maaf kalau aku punya salah sama kamu Rin, tapi jangan menghindariku
seperti ini.” Air mata Karin tiba-tiba jatuh. “Karin, kamu kenapa?” Aku jadi
sedikit panik saat melihat Karin menangis.
“Kamu ga salah apa-apa Sifa…”
“Maaf
Karin, aku tidak bermaksud membuat kamu menangis…”
Karin mengambil tissue yang aku sodorkan
kepadanya dan menghapus air matanya.
“Papa
dan Mamaku akhir-akhir ini sering bertengkar hebat Fa…. aku takut kalau mereka
akan berpisah…” Sorot mata Karin memancarkan kesedihan. “Sebenarnya sudah sejak
lama aku ingin curhat sama kamu tentang hal ini tapi…”
“Tidak
apa-apa Karin, terkadang memang ada cerita yang bisa kita bagi bersama sahabat,
tapi ada juga cerita-cerita yang memang ingin kita simpan sendiri.” Karin
mengangguk. “Maaf Karin, kesannya aku jadi memaksa kamu untuk menceritakan
masalah yang sebenarnya tidak ingin kamu bagi denganku…” Aku jadi merasa
bersalah pada Karin.
“Engga Sifa,
aku justru lega bisa berbagi sama kamu.”
“Aku
hanya bisa berdoa semoga semua akan baik-baik saja Rin.”
“Amin!
Terimakasih untuk doanya.”
“Sama-sama.”
“Eh si tetangga baru, gebetan kamu
itu gimana?” Karin kembali terlihat bersemangat saat bertanya soal Raja.
Aku mulai bercerita tentang Raja, cowok yang semakin hari
semakin membuatku penasaran. Karin tertawa ngakak waktu aku
bercerita tentang kekonyolanku, saat aku sering bolak-balik melewati rumah Raja
dan berharap Raja akan keluar rumah lalu menyapaku. Namun kenyataan yang aku
terima tidak sesuai dengan harapanku, Raja tidak pernah keluar rumah saat aku
lewat didepan rumahnya. Pernah suatu hari aku menyiram tanaman lebih lama dari
biasanya dan berharap Raja lewat didepan rumah, namun saat Raja benar-benar
lewat aku justru kabur masuk ke dalam rumah.
“Kayanya kamu benar-benar sedang jatuh cinta sama si Raja
deh…”
“Mungkin…. entahlah…”
“Cieeeee yang lagi naksir sama tetangga sebelah
rumah…” Aku hanya bisa tersipu malu saat Karin terus saja
menggodaku.
Ah, jatuh cinta memang menyebalkan!
*
Sudah lama aku tidak mengunjungi taman awan. Terakhir kali
aku datang ke taman awan saat aku dan Karin saling curhat, sambil
menatap awan di atas langit yang indah pada siang hari itu. Sekarang tidak ada
lagi sorot mata kesedihan yang tepancar dari Karin. Mama dan Papa Karin
sudah tidak pernah bertengkar lagi, mereka sudah kembali rukun. Aku turut
bahagia untuk Karin, sahabat terbaikku.
Aku bukannya tidak rindu untuk duduk-duduk di bawah pohon
sambil melihat awan yang berjalan berarakan di atas langit. Hanya saja aku
tidak sedang bersedih. Aku sudah bilang kan, aku hanya akan mendatangi taman
awan saat hatiku sedang diliputi kesedihan. Saat ini aku sedang
bahagia. Dan kebahagiaanku itu karena Raja. Aku tidak hanya berhasil
berkenalan dengan Raja, tapi sudah satu bulan belakangan ini
aku jadian dengan Raja!
Aku inggat, saat akhirnya aku bisa berkenalan dengan
Raja. Sore itu aku memang sudah membulatkan tekad untuk menyapa Raja. Saat
Raja lewat di depan rumahku bersama anjing kesayangannya, aku mengarahkan
selang air ke arahnya. Tentu saja aku sengaja melakukannya! Aku sempat khawatir
kalau taktikku tidak berhasil. Aku takut Raja justru marah karena aku
menyemprotkan selang air ke arahnya. Jantungku langsung berdegup kencang
saat melihat senyum Raja untuk pertama kalinya. Aku tidak ingin melewatkan
kesempatan emas ini. Aku buru-buru minta maaf kepada Raja, Rajapun memaafkan
aku.
Yes, taktikku berhasil!
Sejak saat itu kami jadi sering mengobrol. Aku berusaha
menyempatkan waktu untuk menemani Raja jalan jalan sore mengelilingi komplek
perumahan. Raja yang kocak dan lucu selalu berhasil membuatku tertawa dengan
lelucon-leluconnya. Raja benar-benar membuat hari-hariku dipenuhi dengan
keceriaan. Hidupku terasa lebih berwarna saat bersama Raja, dan aku selalu
merasa bahagia saat berada disampingnya.
Raja lalu mengutarakan perasaannya kepadaku, dia bilang
ingin jadi seseorang yang spesial untukku. Selama ini aku berfikir bahwa Raja
hanya menganggapku sebagai teman saja, karena aku tidak merasakan tanda-tanda
kalau Raja juga merasakan perasaan yang sama seperti yang aku rasakan. Sikap
Raja yang selalu tenang saat bersamaku, gayanya yang cuek didepanku,
dan obrolan kami yang mengalir ringan, membuatku berfikir, bahwa perasaanku
pada Raja hanya bertepuk sebelah tangan. Ternyata Raja juga merasakan apa yang
aku rasakan. Aku bahagia!
Aku masih suka memandangi awan, meskipun bukan di bawah
pohon rindang di taman awan itu. Sore ini aku dan Raja duduk-duduk santai di
teras rumahku. Aku makan ice cream rasa coklat kesukaanku dan
Raja menikmati minuman soda kesukaannya sambil mengobrol tentang apa saja.
Meskipun aku tidak sedang mengamati awan di taman awan, namun aku tetap
merasakan getaran indah saat melihat awan-awan yang berjalan berarakan di atas
langit. Aku bahagia bisa melihat awan bersama seseorang yang aku sayang. ***