Kamis, 06 Maret 2014

DIARY UNTUK AWAN - #Percikan


Aku memandangi diary berwarna biru dengan sampul Minnie Mouse yang diberikan Nona kepadaku, saat siang tadi aku menunggu bus di halte depan sekolah. Dengan jantung berdebar aku mulai membaca halaman per halaman diary biru berisi puisi-puisi yang ditulis Nona. Perfect! Aku suka sepuluh puisi indah itu! Aku akan sangat berterimakasih pada Nona, atas apa yang sudah dia lakukan pada diary biru ini.
          “Haloo…” suara Nona diujung telepon terdengar renyah.
          “NONA!!!”
          “Sttttt… ini sudah malam Sekar, jangan teriak-teriak…”
          “Ops! Maaf…” aku menurunkan volume suaraku. “Aku sudah baca diary birunya.”
          “Gimana? Kamu suka?”
          “Suka banget! Makasih ya…”
          “Sama-sama Sekar.”
          “Sesuai janjiku, besok aku traktir steak kesukaan kamu, boleh pesen ice cream juga, boleh sama kentang goreng juga, boleh…”
          “Stooopp!! Jangan bikin aku pengen makan steak sekarang juga!”
          Aku tertawa cekikikan.
          “Sampai bertemu besok ya……”
          “Oke deh… makasih ya Sekar.”
          “Sama-sama. Bye!”
          Aku memandangi kembali diary biru itu. Senyumku semakin mengembang saat wajah Awan mulai terbayang. Entah sejak kapan aku mulai jatuh hati dengan Awan, mungkin sejak aku sering mengobrol dengan Awan. Awan yang baik, Awan yang menyenangkan, Awan yang cute.  
Diary berwarna biru itu membawa sejuta harapan didalam hatiku.

*
          Aku tidak tahu mengapa akhir-akhir ini Nona sering menghindariku. Setelah kami makan steak bersama beberapa hari yang lalu, Nona mulai bersikap aneh. Saat kami bertemu di kantin, dia pura-pura tidak melihatku. Saat kami berpapasan di halaman sekolah, Nona tidak membalas senyumku, padahal jelas-jelas kami saling bertatapan. Aku tidak tahu mengapa Nona bisa berubah sikap seperti itu. Semoga hari ini aku menemukan jawabannya.
          “Nona… tunggu!” aku langsung berteriak memanggil Nona, saat dia baru saja keluar kelas. Nona memandang sekilas kearahku, lalu buru-buru berjalan menjauhiku.
“NONA!” teriakanku semakin kencang. Aku tidak peduli dengan teman-teman sekelas Nona yang mulai memandangiku.
          Nona berhenti, berbalik badan, dan kami berdiri berhadapan.
          “Ada apa Sekar?”
          “Akhirnya kamu mau bicara denganku! Aku telpon ga diangkat, aku sms ga dibalas, setiap kali kita bertemu kamu seperti menghindariku. Seharusnya aku yang bertanya sama kamu, ada apa Nona?”
          “Tidak ada apa-apa.”
          “Bohong! Kalau tidak apa-apa kenapa kamu menghindariku?”
          “Kamu yang bohong!” Nona menatapku tajam.
          “Aku? Bohong?”
          “Memberikan puisi pada Awan melalui diary biru itu adalah sebuah kebohongan Sekar.”
          “Aku belum memberikannya pada Awan. Kamu benar, jika aku memberikan puisi itu pada Awan, aku sudah melakukan kebohongan.
          Nona diam. Matanya mulai berkaca-kaca.
          “Maafkan aku Sekar, tapi aku harus jujur sama kamu.”
          “Ada apa Nona?”
          “Puisi itu… puisi yang kamu minta untuk diberikan pada Awan.”
          “Aku belum menyerahkannya Nona. Buku diary biru itu masih aku simpan di laci meja belajar. Aku sadar, aku tidak ingin membohongi Awan dengan puisi-puisi itu. Meskipun aku telah bohong pada Awan saat aku bilang kalau aku suka menulis puisi, hanya karena Awan suka puisi. Aku hanya ingin membuat Awan jatuh hati denganku karena puisi. Namun aku tahu, tidak seharusnya aku melakukan itu.”
          “Aku minta maaf Sekar...”
“Kamu ga salah apa-apa Nona, aku yang salah karena sudah berbohong pada Awan.”
“Puisi itu memang aku buat untuk Awan.”  Aku mengerutkan dahi. “Aku jatuh cinta pada Awan.” Jantungku berdegup kencang. “Aku minta maaf Sekar….” Nona membalikkan badannya dan berlalu meninggalkanku.
Aku masih membeku. Selama ini aku curhat dengan Nona tentang rasa suka yang kumiliki untuk Awan. Dan baru saja Nona mengaku jatuh cinta pada Awan. Ah, kenapa jadi begini? ***


# My PERCIKAN, MAJALAH GADIS NO. 02 ● XL ● 14-23 Januari 2014



Sabtu, 15 Februari 2014

Februari, Abu, Dan Sabtu Sore

Hiiii Februari!! Bulan yang penuh cinta ;) cieeeeeee.....
Alhamdulillah meskipun Jogja tercinta dilanda hujan abu karena letusan gunung Kelud tanggal 14 Februari kemarin, namun semua baik.
Meskipun debu bertebaran, dan harus pakai masker kemana-mana, tapi tetap semangat selalu menjalani semua. Yeahh!! :)
Yang dirindukan 2 hari ini adalah gemericik air keran ;( kemarin air baru bisa nyala jam 19.00'an gituu huwaaaaaa...... Yeah, yang penting bisa mandi, cuci-cuci, meskipun sedikit ga cihuuy karena stok air ga cucok.
Well, saya belum berani ber-hangout bersama Horuku menelusuri jalanan Jogja yang berdebu ini :( semoga soon bisa kembali beraktivitas di jalanan Jogja tercinta, amin! *full doa*
Melihat kondisi beberapa jalan yang dipantau via twitter, jalanan memang masih berdebu, dan jarak pandang belum bisa jauh. Ah, semoga hujan segera mengguyur Jogja. I miss rain!!! :)
Selamat weekend semua, tetap jaga kesehatan ditengah cuaca yang kurang membahagiakan ini. Tetap semangaattt meskipun harus berkutat dengan abu in around us :)
Have a nice afternoon.

Senin, 08 Juli 2013

BERAWAL DI LANTAI EMPAT - #Percikan




          Aku memandangi gedung bertingkat di depanku, setelah memarkirkan motor kesayanganku. Membayangkan akan menaiki gedung tersebut sampai lantai 4 tanpa lift, dan hanya menggunakan tangga biasa sebenarnya malas sekali. Namun, keinginan kuatku untuk mendalami bahasa Perancis membuat aku mulai menaiki satu persatu lantai.
Hup! Akhirnya sampai di lantai EMPAT!
          “Sisil!!” dengan nafas yang masih terengah-enggah aku memanggil temanku yang sedang berdiri didepan kelas, teman baruku di tempat kursus bahasa Perancis.
          “Halooo Tyas…” Di samping Sisil berdiri seorang cowok yang baru pertama kali aku lihat setelah 4 kali mengikuti kursus. Cowok itu tersenyum kepadaku, akupun membalas senyumnya. Hmmm…manis! Yup! Tampak  lesung pipitnya saat dia tersenyum.
          “Kenalin ini Rizal, anak baru.”
          Aku dan Rizal saling berjabat tangan sambil memperkenalkan nama kami masing-masing.
          “Aku telat masuk. Seharusnya aku masuk bareng kalian, namun karena ada kegiatan lain di sekolah, aku baru bisa masuk di pertemuan keempat ini.”
          “Belum banyak ketinggalan pelajaran kok Zal…”
          “Semoga Tyas…” Rizal kembali memamerkan senyum manis dan lesung pipit yang langsung membuatku terpesona. Ah, apakah ini namanya cinta pada pandangan pertama?
          “Eh masuk kelas yuks…” aku berjalan di samping Sisil, sedangkan Rizal berada di belakang kami saat masuk kelas.
*

          Aku mulai menunggu saat-saat kursus bahasa Perancis tiba. Hari Selasa dan Jumat sore adalah hari yang selalu aku nantikan. Semangatku jadi dobel, antara pengin belajar bahasa Perancis dan ketemu Rizal. Aku berencana melakukan pedekate padanya. Aku merasa cocok dengannya. Aku senang bisa menghabiskan waktu mengobrol dengan Rizal sebelum masuk kelas. Dengan Rizal, aku bisa membicarakan apa saja, tentang musik, film, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Aku yakin Rizal belum punya pacar. Sore ini aku sudah tidak sabar meneruskan obrolan kami beberapa hari yang lalu tentang film.
          “Tyas!” Rizal duduk didepan kelas saat aku baru tiba dilantai 4.
          “Hai Zal!” dengan sigap aku berjalan menghampiri Rizal lalu duduk disampingnya.
          “Ini buat kamu…” Rizal mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Aku menerima beberapa majalah yang diberikan Rizal kepadaku.
          “Apa ini Zal?”
          “Majalah film.”
          “Wah makasih Zal.”
          “Sama-sama.”
          Kami mulai mengobrol.
          Sebuah sms masuk ke ponselku. Sebuah pesan dari Sisil. “Tyas, sepertinya naksir Rizal!
Jantungku mulai berdegup tak karuan.
          “Tyas…oiii…Tyas!”
          “Oh… e… hmm… iya, Zal…”
          “Serius amat baca smsnya…hayooo dari siapa?”
          “Eh...ini… dari Sisil.”
          “Sisil?” Eh, kenapa wajah Rizal seketika bersemu merah saat menyebut nama Sisil?
“Sisil nggak masuk kan, hari ini?”
          “Masa? Sisil nggak bilang kalau dia ga masuk.”
          “Waktu tadi siang aku mengantar Sisil pulang, dia bilang kalau sore ini nggak masuk.”
          “Kamu nganterin Sisil pulang?” aku melihat lagi rona merah di wajah Rizal. Oh tidak! Rizal dan Sisil ternyata saling suka! Nyaliku untuk melakukan pedekate dengan Rizal seketika menciut. Asmaraku berawal di lantai empat, dan sepertinya akan berakhir pula di lantai empat.
          “Iya, siang tadi aku menjemput Sisil ke sekolahnya, lalu mengantar dia pulang.” Rizal tersipu malu.
Ow, ow. Rizal. Gue. End!
“Tyas, aku pengin ngajakin kamu diskusi film, nih! Mau nggak nanti habis kursus?”
Aku memandangi Rizal. Oh, aku terlalu jauh membayangkan. Ternyata Rizal dan aku belum end. Dia memang naksir Sisil. Tapi dia masih teman yang menyenangkan.
Aku mengangguk mantap. Siap-siap menikmati obrolan sore nanti dengan Rizal. Hmm, ini berarti kemungkinan untuk pedekate masih ada, kan? ***


# My Percikan, MAJALAH GADIS No. 15 ● XL ● 31 Mei-10 Juni 2013

Minggu, 28 April 2013

MOVIE DAY 2013 @LA LIGHTS INDIE MOVIE

-->
          Penyelenggaraan LA Lights Indie Movie tahun ini memang terasa berbeda dengan penyelenggaraan pada tahun 2011 lalu, saat untuk pertama kalinya saya mengikuti acara ini. Dua tahun lalu, saya “terdampar” di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta untuk mengikuti workshop, menonton pemutaran film pendek, sekaligus bertemu dengan orang-orang yang memiliki dedikasi dibidang perfilman. Meskipun sinopsis cerita film saya tidak lolos, namun saya tetap merasa senang mengikuti workshop LA Indie Movie, dapet ilmu, dapet teman baru! :)
          Dan, tahun 2013 ini saya kembali mengikuti serangkaian acara LA Lights Indie Movie dengan tema “Movie Day 2013”. Saat mendapatkan email tentang serangkaian acara yang akan ada di Movie Day 2013, saya langsung berfikir, wah penyelenggaraan tahun ini beda! Lebih spesifik dan peserta bisa memilih kegiatan yang diikuti sesuai dengan keinginannya, sesuai dengan bidang yang disukai. Karena saya suka menulis, saya langsung memilih minat, challenge, dan workshop yang berhubungan dengan “dunia menulis”. Karena hanya boleh memilih 3 minat yang diinginkan, saya memutuskan untuk memilih Workshop Writer’s Lab, Zona Idea To Script Idea Dropbox dan Scriptdoctor Booth.
          Akhirnya hari yang ditunggu tiba! Tanggal 27 April 2013 saya menuju JNM (Jogja Nasional Museum) untuk mengikuti serangkaian acara Movie Day 2013. Begitu sampai di tekape, saya melihat banyak tenda-tenda dengan berbagai atribut. Awalnya saya sempat bertanya-tanya, apakah acara Zona Idea To Script akan dilaksanakan di outdoor? Karena tenda bertuliskan Idea Dropbox terdapat disalah satu tenda-tenda yang berjejer itu. Dan, memang benar, semua acara kecuali workshop di laksanakan di outdoor! Wow….
          Setelah mengumpulkan ide di dropbox yaitu ide cerita film yang sama dengan sinopsis cerita yang saya kumpulkan saat pendaftaran, saya mulai berkeliling. Tibalah saya di area pemutaran film pendek, yang tempatnya di pendopo. Saya lalu duduk manis dan mulai menyaksikan film-film pendek yang diputar di “bioskop pendopo” tersebut. Sambil menunggu workshop yang saya pilih dimulai, saya mulai menonton satu persatu film yang diputar dari televisi berukuran besar.
Berikut adalah daftar film pendek yang saya saksikan :
1.   Saving Complate Stranger
2.   KiAmat
3.   Penghabisan
4.   Sumber Bodong
5.   Coklat Love
6.   The Crazy Fellas
7.   Test IQ
8.   Jarak
Kedelapan film pendek yang diputar memiliki cerita yang menarik, dua antaranya yang menjadi favorit saya adalah “Coklat Love” dan “Test IQ”.
Akhirnya sesi workshop tiba. Saya mengantri bersama teman-teman yang lain yang akan mengikuti workshop Writer’s Lab. Setelah sabar menanti dan mengantri, akhirnya workshop dimulai! Dengan pembicara Bapak Jujur Prananto, peserta workshop diberikan ilmu tentang “menulis di dunia film”. Meskipun ruang workshop terasa panas, karena gedung memang tidak dilengkapi pendingin, dan cuaca diluar cukup menyengat, namun saya dan juga peserta yang lain tetap antusias mengikuti workshop. Selama kurang lebih satu setengah jam Bapak Jujur Prananto, penulis skenario film ternama, salah satu film fenomenalnya adalah “Ada Apa Dengan Cinta” memberikan materi menarik dan berisi. Workshop selesai, dan sesi Scriptdoctor booth kembali diisi oleh Bapak Jujur Prananto.
Movie Day 2013 cukup fun, meskipun harus berpanas-panas ria karena 80% acara diadakan dioutdoor. Bisa menyaksikan zona-zona lain yang tidak saya pilih, bisa mendengarkan live band performance, bisa bertemu dengan teman-teman baru, membuat Movie Day 2013 terasa menyenangkan. Meskipun (lagi-lagi) sinopsis cerita film saya tidak “lolos sensor” dan harus menelan kekecewaan (lagi), namun saya tetap senang karena bisa mendapatkan ilmu, tontonan, dan pengalaman baru.
Movie Day 2013 is my day! :)     
         

Jumat, 28 Desember 2012

SALE - #Percikan


                    “Jangan lupa besok kita hunting looh…siapkan fisik dan mental untuk shopping, hehehe…” Lela begitu semangat memprovokator Indri, Tanya, dan Rani. Walaupun terik matahari begitu menyengat hingga ke ubun-ubun Lela tetap menggebu.
          “Siap, Boss…” ketiga sahabatnya nggak kalah semangatnya.
          “Nah itu bus aku udah datang, duluan yah sampai ketemu besok di mal, inggat jam 11 ting! Jangan sampai telat ya gurls…” Lela siap-siap naik bus yang akan membawa menuju rumahnya.
          “Sip…ati-ati ya, La….sampai ketemu besok…” ketiga sahabatnya kompak menjawab.
          Byeeeee….”
          Uh rasanya sudah nggak sabar menunggu hari Minggu besok. Lela dan teman seganknya sudah sejak dua minggu yang lalu merencanakan untuk menghabiskan hari Minggunya dengan belanja di mal favorit setelah Senin-Sabtu berkutat dengan rutinitas sekolah. Apalagi ada sale besar-besaran di mal yang oke itu. Uang jajan dua minggu ditambah tabungan celengan di rumah pasti akan memuaskan hasrat belanjaku. Rasanya cukup untuk membeli T-shirt keren dan sepatu flat shoes imut, batin Lela.
          Keesokan harinya.
          Dengan dandanan yang super keren Lela sudah siap untuk berburu barang-barang lucu seperti yang suah dia bayangkan. Mereka janjian untuk langsung bertemu di mal.
          Perjalanan cukup 20 menit dengan busway, dan Lela sudah di mal tepat jam 11 kurang 5 menit. Lela langsung menuju tempat janjian. Ternyata, ketiga temannya sudah menanti.
          “La, kita ke bagian baju dulu yuks, aku udah ga sabar ingin memborong.” Bujuk Rani dengan semangat.
          “Wkeeee..” yang lain menjawab kompak dan langsung menuju stan baju.
          “Wow sale 70%...!!” Indri langsung histeris melihat tulisan sale 70% yang di gantung besar-besaran di depan stan baju. Dengan kalap mereka langsung memilih baju.
          “Gimana ada yang oke? Aku dapet tiga nih murah-murah pula,” Kata Rani setelah beberapa waktu memilih baju.
          “Iya aku juga dapet dua, uhuyyy…” Tanya dan Indri nggak mau kalah.
          “Ehm…sebenarnya ada baju yang aku suka tapi size-nya nggak ada yang pas…” keluh Lela manyun.
          “Makanya kalo punya badan jangan gede-gede dong. Kan susah cari bajunya…”
          “Indri please deh jangan mulai meledekku…”
          “Hehehe…maaf-maaf…yuk, kita coba cari-cari lagi. Siapa tau ada yang pas buat kamu.”
          “Yukz…”
          Mereka kembali berburu. Memang ada beberapa potong baju yang bersize XL sesuai dengan badan Lela yang lebih besar di banding ketiga sahabatnya, tapi model baju ibu-ibu. Uh mana mungkin? Tanpa putus asa mereka tetap semangat mencari T-shirt yang oke untuk Lela, tapi tetap saja tak ada satu pun baju yang pas. Giliran modelnya bagus, ukurannya nggak cukup. Uh, serba salah.
          “Sudahlah aku menyerah…” Lela langsung lemas.
          “Jangan sedih, La, kita lihat-lihat sepatu yuk. Siapa tahu ada flat shoes yang oke….” Teman-temannya berusaha menghibur.
          “Baiklah…” Dengan semangat yang masih tersisa Lela menuju stan sepatu diikuti teman-temannya.
          Setelah mengubek-ubek stan sepatu selama lebih dari satu jam, lagi-lagi Lela harus kecewa. Ada sepatu oke, tapi nggak pas dikaki. Uhh!
          “Aku tak dapat apa-apa neh, sebel!” Lela suntuk berat.
          “Jangan sedih, La. Kita coba cari lagi, yuk,” hibur Indri.
          “Sudahlah kita pulang saja, aku capek nih…” Lela sudah putus asa.
          “Beneran nggak apa-apa La, kalau kita pulang?” Tanya juga udah kelihatan lelah.
          “Iya…”
          Akhirnya mereka berempat menghentikan acara belanja dan turun ke lantai dasar untuk pulang. Lela sirik berat melihat ketiga temannya mendapatkan barang yang diinginkan. Sedangkan dia sebagai “provokator” malah harus pulang dengan tangan kosong. Merasa sia-sia sampai mengorbankan celengan.
          Wait…!” tiba-tiba Lela berhenti mendadak. “Itu optik juga lagi diskon, ya? Ke sana yuk…” Lela kembali bersemangat melihat optik kacamata yang cukup terkenal juga menggelar diskon. Ah, siapa tahu disini dapet!
          “Eh, ini kacamata yang aku incar. Didiskon 50%!” Lela setengah histeris saat menatap sebuah kacamata berbingkai unik di etalase. Ketiga temannya ikut girang.
          Setelah cek mata, Lela langsung membeli kacamata impiannya yang ternyata cocok banget di pakai pada wajahnya.
          “Akhirnya aku juga belanja tapi belanja kacamata, hehehe….” Lela kembali ceria karena dia memang sudah ingin ganti model paling baru yang dia lihat dari majalah.
          “Iya, La, nggak sia-sia kan sampai buka celengan segala….” Ledek Indri.
          “Pastinya….” Balas Lela tersenyum. “Well, kalo soal baju atau sepatu kapan-kapan bisa cari lagi. Sepertinya aku juga belom terlalu butuh, masih ada baju dan sepatu yang bisa dipakai. Lagian kacamata lebih penting dan aku bangga mampu beli kacamata pakai uang sendiri tanpa minta ke ayah dan ibu…”
          “Siiip….” Timpal yang lain ikut senang.
          Dengan langkah riang Lela meninggalkan mal untuk pulang.
          Besok sore kacamata pesanan sudah jadi dan aku pasti akan terlihat cantik pakai kacamata itu hehehe, batinnya.
          Mungkin belum waktunya menghamburkan uang untuk belanja karena ada kebutuhan lain yang lebih penting. Yaitu kaca mata keren yang akan menghiasi penampilanku di hari-hari kedepan. Pasti Rangga gebetan di kelas sebelah akan lebih sering curi-curi pandang melihatku. Lela senyum-senyum sendiri membayangkan penampilannya besok lusa. ***
@ My “Percikan”, Majalah Gadis No : 21. XXXVI. 31 Juli-10 Agustus 2009


# Catatan kecil :
          Percikan dengan judul “SALE” diatas merupakan Percikan pertama saya yang di muat di majalah Gadis. Sedikit flash back nih, saat itu saya bahagia sekali melihat tulisan saya akhirnya terpampang di majalah remaja yang hip ini! *sombong* hihihihi :O #Thanks Bibik Ida :)
Keep writing!
Have a nice Friday everyone.
Lope…lopeeeee :D
         



         

Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...