Selasa, 01 April 2014

Sepenggal Cerita Kita

            Aku tidak menyangka, rasanya akan serapuh ini, saat Bian memutuskan untuk menunda rencana pernikahan kami, yang hanya tinggal menghitung bulan saja. Entah apa yang ada di fikiran Bian, saat beberapa hari yang lalu dia bilang ingin “break” dulu, dari hubungan kami yang sudah melewati tahun keempat ini.
            “Tapi, kenapa Bian?” sekuat tenaga aku menahan airmataku agar tidak jatuh.
            “Aku belum siap…” Bian berulang kali menghidari kontak mata denganku saat kami berbicara. Bian sibuk mengaduk minuman. Bian sibuk membaca menu. Bian sibuk dengan ponselnya.
Ah, aku benci situasi ini!
            “Kenapa baru sekarang kamu bilang belum siap? Disaat semua persiapan pernikahan kita sudah berjalan 60 persen.” Aku kembali menahan amarahku agar tidak meledak.
Kami sedang berada di de Opera At The Bay Bali, sebuah tempat yang luar biasa indah. Rasanya tidak pantas aku harus berteriak-teriak ditengah suasana yang sebenarnya menyenangkan, diantara makanan dan minuman lezat yang tersaji di meja kami.
“Jauh-jauh aku datang dari Jogja ke Bali untuk membicarakan pernikahan kita, dan….”  
Mataku mulai menerawang jauh, menatap langit sore Bali yang menakjubkan.
“Aku kan sudah bilang Delia, kamu tidak perlu ambil cuti untuk menyusulku ke Bali. Bulan depan aku yang akan pulang ke Jogja.”
“Tapi, telfon tempo hari, yang mengatakan kalau kamu ingin menunda pernikahan kita, tentu saja membuatku ingin segera bertemu kamu di Bali!”
Bian diam. 
“Apa ada yang lain Bian?” Jantungku berdegup kencang. “Kamu sedang jatuh cinta dengan seseorang?”
“Tidak, Delia.”
“Kamu yakin?” debaran dihatiku semakin menguat. Aku takut Bian menjawab, iya!
Bian menunduk, menatap gelas minumannya yang tinggal tersisa setengah.
“Bian, looked me!” amarahku mulai tak terbendung. “Bian!”
“Tidak Delia. Aku setia. Aku tidak jatuh cinta dengan wanita lain. Hanya kamu.”
Bian menatapku dalam.
“Kamu berubah Bian.” Airmataku perlahan jatuh.
Please Delia, jangan menangis…” Bian mengenggam tanganku. Masih hangat! Ya, aku masih merasakan… his still my Bian! Mungkin aku yang salah, mungkin memang Bian tidak berubah.
Bian menghapus airmatku dengan tangannya. Tangannya masih lembut saat menyentuh pipiku. Ah, rasanya malu juga, kalau ada pengunjung de Opera At The Bay Bali memergoki aku sedang menangis.
Dadaku masih terasa sesak. Tapi, kelembutan sikap Bian membuat aku percaya bahwa dia setia.
“Jangan seperti ini Bian….” Suaraku mulai melemah.
Bian tersenyum sambil menatapku lama. Senyuman Bian tidak pernah berubah, tetap saja memberikan kesejukan dihatiku.
“Ice creamnya di makan Delia, keburu mencair nanti.” Bian menyuapkan ice cream kemulutku. Ah, romantis sekali suasana ini. Like this!
“Sudah Brian, malu! Aku bisa makan sendiri kok.” Aku merebut sendok ice cream dari tangan Bian.
Aku mulai menikmati ice cream dengan buah pisang yang rasanya memang luar biasa enak!
You’re still my Delia.”
And, you’re still my Bian.”
Kami tertawa bersama.
Tidak bisa kubayangkan apa yang akan terjadi, bila pernikahan kami benar-benar ditunda. Wajah kedua orangtua, keluarga, tetangga, sahabat, dan teman-temanku yang sangat antusias menyambut hari pernikahanku mulai terbayang. Aku tidak ingin mengecewakan mereka!
“Ada apa Bian?”
“Tidak ada apa-apa Delia….”
“Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa kamu berniat menunda pernikahan kita? Bukankah dua bulan yang lalu, kamu terlihat sangat siap saat melamarku?”
Bian tersenyum. Mungkin dia sedang teringat dengan acara lamaran beberapa waktu yang lalu. Pertemuan dari keluargaku dan keluarga Bian yang berlangsung dengan sangat baik. 
“Aku belum siap meninggalkan Bali.”
“Kamu tidak perlu meninggalkan Bali.”
“Kamu juga tidak akan meninggalkan Jogja kan?”
Kali ini aku yang diam. Lidahku kelu.
“Setahun belakangan ini, kita menjalani hubungan jarak jauh, dan itu cukup menyiksa Delia.”
“Kita sudah membahas ini berulang kali Bian…”
“Setelah menikah, aku ingin terus berada disamping kamu.”
“Aku juga Bian!”
“Tapi kita tahu, kamu akan tetap di Jogja, dan aku akan tetap berada di Bali.”
“Kita sudah membahas ini Bian….”
“Dan selalu tidak ada titik temunya bukan?”
“Tapi kita tidak perlu menunda pernikahan kan Bian?”
Bian diam.
“Kamu mau tambah ice creamnya?”
Aku mengangguk pelan.
Waiters yang datang ke meja kami mencatat pesanan, dengan sikap ramahnya yang menyenangkan. Sebenarnya, diantara kegalauan, kekalutan, dan suasana hati yang sedang tidak menentu, aku sangat menikmati tempat menyenangkan ini! de Opera At The Bay Bali!
“Indah sekali ya Bian disini.” Aku menatap langit Bali yang mulai gelap. Tanpa terasa malam akan segera tiba.
“Iya. Kamu suka Delia?”
I love this place!
“Pilihanku tidak salah kan?”
Aku menggeleng mantap.
“Baru sekali ke Bali, dan aku langsung jatuh cinta dengan tempat ini.”
“Seperti saat kamu melihatku untuk pertama kalinya, dan jatuh cinta?” Bian mulai jahil.
“Hah?” Aku pura-pura bodoh.
“Kamu bilang, kamu jatuh cinta saat melihat aku untuk pertama kalinya, saat kita bertemu di toko buku.” Aku tertawa terbahak-bahak saat teringat pertemuan pertama kami di sebuah toko buku. Mungkin terdengar sangat “sinetron”, tapi hari itu tangan kami mengambil buku yang sama di rak. Dan, aku langsung terpana melihat sosok lelaki disampingku, yang buru-buru minta maaf karena tidak sengaja menyentuh tanganku.
Lalu, kami mengobrol tentang buku. Bertukar nomer. Saling bertukar kabar. Ketemuan. Makan bersama. Nonton film. Sampai akhirnya pacaran.
“Kamu sendiri yang bilang… I falling in love with you from the first sight Bian!”
Ihhhhh!!!”  
Damb! Bian masih saja membuatku tersipu.
“Bian, jangan bercanda! Kita sedang membicarakan masa depan!”
“Ah, aku tidak sabar untuk segera menikah dengan kamu Delia.”
WHAT?! You lie to me Bian!”
No!”
“Kamu bilang ingin menunda pernikahan kita, dan sekarang kamu bilang ingin segera menikah dengan aku. Don’t play with me tembem!”
Hey! Don’t call me tembem!”
“Tembeemmmm!!!!”
Waiters datang mengantarkan ice cream dengan rasa yang luar biasa dasyat itu, seorang perempuan muda yang manis itu, ikut tertawa saat melihat Bian berusaha menutup mulutku dengan tangannya karena aku terus memangilnya tembem.
Bian benci dipanggil tembem!
Waiters yang aku yakini adalah seorang gadis Bali asli itu, berlalu dari meja kami dengan senyum yang memikat.
“Jadi, apa maksud semua ini Bian? Kamu hanya ingin aku datang ke Bali.”
Bian tertawa.
“Kamu malu punya calon istri yang norak seperti aku. Umur 28 baru menginjakkan kaki di pulau Dewata.”
“Dikit….” Aku mencubit lengan Bian.
“Sakit!”
Bodo! Biar saja aku dibilang ga gaul karena baru pertama kali datang ke Bali, saat usiaku hampir 30 tahun. Ah, tapi Bali benar-benar memukau! Om Ardi dan Tante Yanti sudah berkali-kali memaksaku ke Bali. Akhirnyaaaa… sekarang aku benar-benar menghirup udara Bali! Menyenangkan!”
“Siapa suruh melewatkan tawaran teman baik Bapak dan Ibu, untuk menginap ke rumah mereka?”
“Hahaha… setiap Om Ardi dan Tante Yanti datang ke Jogja, mereka selalu ngotot menyuruhku mengunjungi rumah meraka di Ubud. Bapak senang sekali saat kemaren Om Ardi menelpon dan bilang aku sudah sampai Bali.”
 “Siapa suruh baru datang ke Bali sekarang? Nunggu aku sampai satu tahun, baru kamu mau datang ke Bali Delia? Nyebelin!”
Cieee… gitu aja ngambek! Dasar manja! Pakai acara mau mundurin pernikahan kita. Bilang saja, kamu kangen, terus pengen aku tengokin.”
Hmmm… aku cuma ga mau punya calon istri yang rada kuper.”
Hey!”
Bian meringis kesakitan saat aku mencubit lengannya berkali-kali.
“Kalau kita sudah menikah, apa kamu mau tinggal di Bali bersamaku?”
“Bian…. Jangan mulai…”
Kami mulai terdiam lagi. 
Aku kembali sibuk menikmati ice cream. Bian pun sibuk dengan ponselnya.
“Aku tidak bisa memutuskan sekarang Bian. Pekerjaanku di Jogja sedang padat-padatnya, keluargaku…. Aku belum siap untuk berpisah dengan semua itu.”
“Aku tahu Delia, tapi aku akan menjadi suami kamu. Dan kita bisa tinggal bersama di Bali.”
“Bian…”
“Maaf, Delia….”
“Apa kamu akan tetap menunda hari pernikahan kita?”
Bian kembali diam.
Situasi yang sama kembali terulang.
Aku dengan ice cream. Bian dengan ponselnya.
“Kita akan tetap menikah sesuai dengan tanggal yang sudah ditentukan.”
Sesak didadaku tiba-tiba menghilang.
Aku memeluk Bian.
“Terimakasih tembem….”
Don’t call me tembem!” aku tertawa dan mencubit kedua pipi Bian.
“Jadi, kita akan tetap menikah kan?”
“Iya.”
“Asyiikkk…”
“Kita akan jalani semuanya Delia. Menikah. Setelah itu, mungkin kamu yang akan tinggal di Bali, atau aku yang akan pulang ke Jogja. Atau, kita tetap long distance relationship. Meskipun aku tidak menyukai hubungan jarak jauh seperti ini.”
“Iya, Bian.”
“Semoga dilancarkan semuanya ya Delia.”
“Amin.”
Bian mengenggam tanganku erat.
Hatiku diliputi kehangatan.
Matahari mulai terbenam, dan Bali semakin menawan.
***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness : Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered! (dengan tulisan The Bay Bali yang di link ke website : www.thebaybali.com)


Kamis, 06 Maret 2014

DIARY UNTUK AWAN - #Percikan


Aku memandangi diary berwarna biru dengan sampul Minnie Mouse yang diberikan Nona kepadaku, saat siang tadi aku menunggu bus di halte depan sekolah. Dengan jantung berdebar aku mulai membaca halaman per halaman diary biru berisi puisi-puisi yang ditulis Nona. Perfect! Aku suka sepuluh puisi indah itu! Aku akan sangat berterimakasih pada Nona, atas apa yang sudah dia lakukan pada diary biru ini.
          “Haloo…” suara Nona diujung telepon terdengar renyah.
          “NONA!!!”
          “Sttttt… ini sudah malam Sekar, jangan teriak-teriak…”
          “Ops! Maaf…” aku menurunkan volume suaraku. “Aku sudah baca diary birunya.”
          “Gimana? Kamu suka?”
          “Suka banget! Makasih ya…”
          “Sama-sama Sekar.”
          “Sesuai janjiku, besok aku traktir steak kesukaan kamu, boleh pesen ice cream juga, boleh sama kentang goreng juga, boleh…”
          “Stooopp!! Jangan bikin aku pengen makan steak sekarang juga!”
          Aku tertawa cekikikan.
          “Sampai bertemu besok ya……”
          “Oke deh… makasih ya Sekar.”
          “Sama-sama. Bye!”
          Aku memandangi kembali diary biru itu. Senyumku semakin mengembang saat wajah Awan mulai terbayang. Entah sejak kapan aku mulai jatuh hati dengan Awan, mungkin sejak aku sering mengobrol dengan Awan. Awan yang baik, Awan yang menyenangkan, Awan yang cute.  
Diary berwarna biru itu membawa sejuta harapan didalam hatiku.

*
          Aku tidak tahu mengapa akhir-akhir ini Nona sering menghindariku. Setelah kami makan steak bersama beberapa hari yang lalu, Nona mulai bersikap aneh. Saat kami bertemu di kantin, dia pura-pura tidak melihatku. Saat kami berpapasan di halaman sekolah, Nona tidak membalas senyumku, padahal jelas-jelas kami saling bertatapan. Aku tidak tahu mengapa Nona bisa berubah sikap seperti itu. Semoga hari ini aku menemukan jawabannya.
          “Nona… tunggu!” aku langsung berteriak memanggil Nona, saat dia baru saja keluar kelas. Nona memandang sekilas kearahku, lalu buru-buru berjalan menjauhiku.
“NONA!” teriakanku semakin kencang. Aku tidak peduli dengan teman-teman sekelas Nona yang mulai memandangiku.
          Nona berhenti, berbalik badan, dan kami berdiri berhadapan.
          “Ada apa Sekar?”
          “Akhirnya kamu mau bicara denganku! Aku telpon ga diangkat, aku sms ga dibalas, setiap kali kita bertemu kamu seperti menghindariku. Seharusnya aku yang bertanya sama kamu, ada apa Nona?”
          “Tidak ada apa-apa.”
          “Bohong! Kalau tidak apa-apa kenapa kamu menghindariku?”
          “Kamu yang bohong!” Nona menatapku tajam.
          “Aku? Bohong?”
          “Memberikan puisi pada Awan melalui diary biru itu adalah sebuah kebohongan Sekar.”
          “Aku belum memberikannya pada Awan. Kamu benar, jika aku memberikan puisi itu pada Awan, aku sudah melakukan kebohongan.
          Nona diam. Matanya mulai berkaca-kaca.
          “Maafkan aku Sekar, tapi aku harus jujur sama kamu.”
          “Ada apa Nona?”
          “Puisi itu… puisi yang kamu minta untuk diberikan pada Awan.”
          “Aku belum menyerahkannya Nona. Buku diary biru itu masih aku simpan di laci meja belajar. Aku sadar, aku tidak ingin membohongi Awan dengan puisi-puisi itu. Meskipun aku telah bohong pada Awan saat aku bilang kalau aku suka menulis puisi, hanya karena Awan suka puisi. Aku hanya ingin membuat Awan jatuh hati denganku karena puisi. Namun aku tahu, tidak seharusnya aku melakukan itu.”
          “Aku minta maaf Sekar...”
“Kamu ga salah apa-apa Nona, aku yang salah karena sudah berbohong pada Awan.”
“Puisi itu memang aku buat untuk Awan.”  Aku mengerutkan dahi. “Aku jatuh cinta pada Awan.” Jantungku berdegup kencang. “Aku minta maaf Sekar….” Nona membalikkan badannya dan berlalu meninggalkanku.
Aku masih membeku. Selama ini aku curhat dengan Nona tentang rasa suka yang kumiliki untuk Awan. Dan baru saja Nona mengaku jatuh cinta pada Awan. Ah, kenapa jadi begini? ***


# My PERCIKAN, MAJALAH GADIS NO. 02 ● XL ● 14-23 Januari 2014



Sabtu, 15 Februari 2014

Februari, Abu, Dan Sabtu Sore

Hiiii Februari!! Bulan yang penuh cinta ;) cieeeeeee.....
Alhamdulillah meskipun Jogja tercinta dilanda hujan abu karena letusan gunung Kelud tanggal 14 Februari kemarin, namun semua baik.
Meskipun debu bertebaran, dan harus pakai masker kemana-mana, tapi tetap semangat selalu menjalani semua. Yeahh!! :)
Yang dirindukan 2 hari ini adalah gemericik air keran ;( kemarin air baru bisa nyala jam 19.00'an gituu huwaaaaaa...... Yeah, yang penting bisa mandi, cuci-cuci, meskipun sedikit ga cihuuy karena stok air ga cucok.
Well, saya belum berani ber-hangout bersama Horuku menelusuri jalanan Jogja yang berdebu ini :( semoga soon bisa kembali beraktivitas di jalanan Jogja tercinta, amin! *full doa*
Melihat kondisi beberapa jalan yang dipantau via twitter, jalanan memang masih berdebu, dan jarak pandang belum bisa jauh. Ah, semoga hujan segera mengguyur Jogja. I miss rain!!! :)
Selamat weekend semua, tetap jaga kesehatan ditengah cuaca yang kurang membahagiakan ini. Tetap semangaattt meskipun harus berkutat dengan abu in around us :)
Have a nice afternoon.

Senin, 08 Juli 2013

BERAWAL DI LANTAI EMPAT - #Percikan




          Aku memandangi gedung bertingkat di depanku, setelah memarkirkan motor kesayanganku. Membayangkan akan menaiki gedung tersebut sampai lantai 4 tanpa lift, dan hanya menggunakan tangga biasa sebenarnya malas sekali. Namun, keinginan kuatku untuk mendalami bahasa Perancis membuat aku mulai menaiki satu persatu lantai.
Hup! Akhirnya sampai di lantai EMPAT!
          “Sisil!!” dengan nafas yang masih terengah-enggah aku memanggil temanku yang sedang berdiri didepan kelas, teman baruku di tempat kursus bahasa Perancis.
          “Halooo Tyas…” Di samping Sisil berdiri seorang cowok yang baru pertama kali aku lihat setelah 4 kali mengikuti kursus. Cowok itu tersenyum kepadaku, akupun membalas senyumnya. Hmmm…manis! Yup! Tampak  lesung pipitnya saat dia tersenyum.
          “Kenalin ini Rizal, anak baru.”
          Aku dan Rizal saling berjabat tangan sambil memperkenalkan nama kami masing-masing.
          “Aku telat masuk. Seharusnya aku masuk bareng kalian, namun karena ada kegiatan lain di sekolah, aku baru bisa masuk di pertemuan keempat ini.”
          “Belum banyak ketinggalan pelajaran kok Zal…”
          “Semoga Tyas…” Rizal kembali memamerkan senyum manis dan lesung pipit yang langsung membuatku terpesona. Ah, apakah ini namanya cinta pada pandangan pertama?
          “Eh masuk kelas yuks…” aku berjalan di samping Sisil, sedangkan Rizal berada di belakang kami saat masuk kelas.
*

          Aku mulai menunggu saat-saat kursus bahasa Perancis tiba. Hari Selasa dan Jumat sore adalah hari yang selalu aku nantikan. Semangatku jadi dobel, antara pengin belajar bahasa Perancis dan ketemu Rizal. Aku berencana melakukan pedekate padanya. Aku merasa cocok dengannya. Aku senang bisa menghabiskan waktu mengobrol dengan Rizal sebelum masuk kelas. Dengan Rizal, aku bisa membicarakan apa saja, tentang musik, film, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Aku yakin Rizal belum punya pacar. Sore ini aku sudah tidak sabar meneruskan obrolan kami beberapa hari yang lalu tentang film.
          “Tyas!” Rizal duduk didepan kelas saat aku baru tiba dilantai 4.
          “Hai Zal!” dengan sigap aku berjalan menghampiri Rizal lalu duduk disampingnya.
          “Ini buat kamu…” Rizal mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Aku menerima beberapa majalah yang diberikan Rizal kepadaku.
          “Apa ini Zal?”
          “Majalah film.”
          “Wah makasih Zal.”
          “Sama-sama.”
          Kami mulai mengobrol.
          Sebuah sms masuk ke ponselku. Sebuah pesan dari Sisil. “Tyas, sepertinya naksir Rizal!
Jantungku mulai berdegup tak karuan.
          “Tyas…oiii…Tyas!”
          “Oh… e… hmm… iya, Zal…”
          “Serius amat baca smsnya…hayooo dari siapa?”
          “Eh...ini… dari Sisil.”
          “Sisil?” Eh, kenapa wajah Rizal seketika bersemu merah saat menyebut nama Sisil?
“Sisil nggak masuk kan, hari ini?”
          “Masa? Sisil nggak bilang kalau dia ga masuk.”
          “Waktu tadi siang aku mengantar Sisil pulang, dia bilang kalau sore ini nggak masuk.”
          “Kamu nganterin Sisil pulang?” aku melihat lagi rona merah di wajah Rizal. Oh tidak! Rizal dan Sisil ternyata saling suka! Nyaliku untuk melakukan pedekate dengan Rizal seketika menciut. Asmaraku berawal di lantai empat, dan sepertinya akan berakhir pula di lantai empat.
          “Iya, siang tadi aku menjemput Sisil ke sekolahnya, lalu mengantar dia pulang.” Rizal tersipu malu.
Ow, ow. Rizal. Gue. End!
“Tyas, aku pengin ngajakin kamu diskusi film, nih! Mau nggak nanti habis kursus?”
Aku memandangi Rizal. Oh, aku terlalu jauh membayangkan. Ternyata Rizal dan aku belum end. Dia memang naksir Sisil. Tapi dia masih teman yang menyenangkan.
Aku mengangguk mantap. Siap-siap menikmati obrolan sore nanti dengan Rizal. Hmm, ini berarti kemungkinan untuk pedekate masih ada, kan? ***


# My Percikan, MAJALAH GADIS No. 15 ● XL ● 31 Mei-10 Juni 2013

Minggu, 28 April 2013

MOVIE DAY 2013 @LA LIGHTS INDIE MOVIE

-->
          Penyelenggaraan LA Lights Indie Movie tahun ini memang terasa berbeda dengan penyelenggaraan pada tahun 2011 lalu, saat untuk pertama kalinya saya mengikuti acara ini. Dua tahun lalu, saya “terdampar” di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta untuk mengikuti workshop, menonton pemutaran film pendek, sekaligus bertemu dengan orang-orang yang memiliki dedikasi dibidang perfilman. Meskipun sinopsis cerita film saya tidak lolos, namun saya tetap merasa senang mengikuti workshop LA Indie Movie, dapet ilmu, dapet teman baru! :)
          Dan, tahun 2013 ini saya kembali mengikuti serangkaian acara LA Lights Indie Movie dengan tema “Movie Day 2013”. Saat mendapatkan email tentang serangkaian acara yang akan ada di Movie Day 2013, saya langsung berfikir, wah penyelenggaraan tahun ini beda! Lebih spesifik dan peserta bisa memilih kegiatan yang diikuti sesuai dengan keinginannya, sesuai dengan bidang yang disukai. Karena saya suka menulis, saya langsung memilih minat, challenge, dan workshop yang berhubungan dengan “dunia menulis”. Karena hanya boleh memilih 3 minat yang diinginkan, saya memutuskan untuk memilih Workshop Writer’s Lab, Zona Idea To Script Idea Dropbox dan Scriptdoctor Booth.
          Akhirnya hari yang ditunggu tiba! Tanggal 27 April 2013 saya menuju JNM (Jogja Nasional Museum) untuk mengikuti serangkaian acara Movie Day 2013. Begitu sampai di tekape, saya melihat banyak tenda-tenda dengan berbagai atribut. Awalnya saya sempat bertanya-tanya, apakah acara Zona Idea To Script akan dilaksanakan di outdoor? Karena tenda bertuliskan Idea Dropbox terdapat disalah satu tenda-tenda yang berjejer itu. Dan, memang benar, semua acara kecuali workshop di laksanakan di outdoor! Wow….
          Setelah mengumpulkan ide di dropbox yaitu ide cerita film yang sama dengan sinopsis cerita yang saya kumpulkan saat pendaftaran, saya mulai berkeliling. Tibalah saya di area pemutaran film pendek, yang tempatnya di pendopo. Saya lalu duduk manis dan mulai menyaksikan film-film pendek yang diputar di “bioskop pendopo” tersebut. Sambil menunggu workshop yang saya pilih dimulai, saya mulai menonton satu persatu film yang diputar dari televisi berukuran besar.
Berikut adalah daftar film pendek yang saya saksikan :
1.   Saving Complate Stranger
2.   KiAmat
3.   Penghabisan
4.   Sumber Bodong
5.   Coklat Love
6.   The Crazy Fellas
7.   Test IQ
8.   Jarak
Kedelapan film pendek yang diputar memiliki cerita yang menarik, dua antaranya yang menjadi favorit saya adalah “Coklat Love” dan “Test IQ”.
Akhirnya sesi workshop tiba. Saya mengantri bersama teman-teman yang lain yang akan mengikuti workshop Writer’s Lab. Setelah sabar menanti dan mengantri, akhirnya workshop dimulai! Dengan pembicara Bapak Jujur Prananto, peserta workshop diberikan ilmu tentang “menulis di dunia film”. Meskipun ruang workshop terasa panas, karena gedung memang tidak dilengkapi pendingin, dan cuaca diluar cukup menyengat, namun saya dan juga peserta yang lain tetap antusias mengikuti workshop. Selama kurang lebih satu setengah jam Bapak Jujur Prananto, penulis skenario film ternama, salah satu film fenomenalnya adalah “Ada Apa Dengan Cinta” memberikan materi menarik dan berisi. Workshop selesai, dan sesi Scriptdoctor booth kembali diisi oleh Bapak Jujur Prananto.
Movie Day 2013 cukup fun, meskipun harus berpanas-panas ria karena 80% acara diadakan dioutdoor. Bisa menyaksikan zona-zona lain yang tidak saya pilih, bisa mendengarkan live band performance, bisa bertemu dengan teman-teman baru, membuat Movie Day 2013 terasa menyenangkan. Meskipun (lagi-lagi) sinopsis cerita film saya tidak “lolos sensor” dan harus menelan kekecewaan (lagi), namun saya tetap senang karena bisa mendapatkan ilmu, tontonan, dan pengalaman baru.
Movie Day 2013 is my day! :)     
         

Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...