HADIRMU
Kebiasaan
akhir-akhir ini, begitu membuka mata, aku langsung mengecek ponsel untuk
melihat Instagram, Twitter, dan Facebook. Aku melakukan kebiasaan tersebut sejak
mengidolakan dia, seseorang yang membuatku terpesona.
“Woiii! Ngelamun aja nih anak.”
Tepukan keras di pundak kiri membuatku tersentak.
“Bisa ga sih ga bikin kaget.”
“Dari tadi bengong melulu. Tuh,
batagor sampai dilalerin.”
Aku melirik piring di depanku.
“Ih, dusta kamu.”
Rinta tertawa terbahak.
“Ngelamunin apa sih?”
“Ga ada.”
Tuhan! Jantungku berdegup sangat
kencang saat aku melihat sosok itu. Seseorang yang sedang memasuki kantin
sekolah membuatku berdebar. Ah, iya, aku harus tetap stay cool, jangan sampai Rinta melihat perubahan sikapku yang
mendadak gelisah.
“Eh, sumpah ya diantara mereka aku
paling males sama dia.” Rinta berbisik pelan.
“Kamu lagi ngomongin apa sih?”
“Apalagi kalau bukan band kebanggaan
sekolah kita.”
“Udara Pagi?”
“Yoa!
Sumpah, malesin banget drumernya.”
Aku menelan ludah.
“Memang kenapa?”
“Cowok belagu gitu!”
“Masa
sih?”
“Mas
Didot vokalisnya kan asli ramah banget. Mas Rio bassisnya baik bener. Mas
Candra keyboard sama Mas Dika yang main gitar, juga ramah. Kecuali yang itu
tuh!”
Mata
kami bertemu. Saat tanpa sengaja aku melihat ke arahnya, dan dia juga sedang
melihat ke arahku. Wajahku memanas.
“Memangnya Mas Oka kenapa?”
“Ga asyiklah!”
“Hanya perasaan kamu aja kali…”
“Udah ah ga usah dibahas. Males!”
“Yeee bukannya kamu yang bahas
duluan ya!”
“Iya juga sih.”
Kami lalu tertawa bersama.
Aku ingin membantah semua ucapan
Rinta tentang Oka. Menurutku Oka sangat keren. Permainan drumnya bagus, gayanya
seru, dan sikapnya yang cool membuat
aku berdebar setiap kali melihat aksinya di atas panggung sekolah. Menurutku
Oka itu tidak belagu, mungkin dia hanya lebih pendiam dibanding teman-temannya
yang lain di Udara Pagi. Ah, tapi sudahlah. Aku tidak ingin Rinta tahu kalau
aku mengidolakan Oka. Biarlah rasa ini aku simpan sendiri dulu.
*
“Apa benar ya yang dibilang Sari
tadi…”
“Tentang?”
“Kamu dan Mas Oka ngobrol berdua.”
Wajahku memanas.
“Ih, kok wajah kamu merah semua gitu
siiihhh…”
“Apaan sih!”
“Sari katanya ngeliat kamu sama Mas
Oka lagi ngobrol bareng di Perpustakaan Kota. Eh, Sarinya aku suruh tanya
sendiri sama kamu malah minta tolong ke aku buat nanya ke kamu.”
“Hmmm…”
“Ayo ngaku!”
“Hari Minggu kemarin tanpa sengaja
aku ketemu Mas Oka di Perpustakaan Kota, terus aku nyapa dia. Lalu kami
mengobrol.”
“Ngobrolin apa?”
“Ih, kepo!”
“Gitu ya sama sahabat sendiri ga mau
cerita…. Sejak pakai seragam putih biru kita udah temenan looh.”
“Ya ngobrolin tentang buku, namanya
juga ketemu di Perpus.”
“Ga nyangka kalau Mas Oka ke
Perpustakaan.”
“Begitulah adanya.”
“Terus… terus…”
“Udah, gitu aja.”
“Baiklah.”
Hah, baru juga mengobrol tidak
sampai 5 menit dengan Oka, sudah dikepoin
begini. Ah, iya, aku kan sedang mengobrol dengan selebritis sekolah! Hahaha!
Jadi inggat “perjuangan” aku untuk
bisa menyapa Oka siang itu. Saat tanpa sengaja aku berpapasan dengannya
diantara rak buku Perpus. Sekuat tenaga aku mengusir segala rasa grogi, salah
tingkah, dan memupuk sebanyak mungkin rasa percaya diri. Obrolan tentang Udara
Pagi, yang mana aku bilang kalau aku suka saat melihat mereka manggung, mendapat
respon yang baik dari Oka. Lalu obrolan tentang buku di menit-menit terakhir
pembicaraan kami bagiku sungguh menyenangkan. Aku senang akhirnya bisa
mengobrol dengan idolaku meski hanya sesaat.
*
“Hey, kamu!” Aku mengangkat kepalaku,
mengalihkan pandangan dari buku pelajaran ke arah orang yang berdiri di depan
mejaku.
Oka!
Aku
mulai mengatur nafas.
“Rajin banget ya ke Perpuskot.”
“Hehehe…. Ini lagi ngerjain PR Mas.”
“PR itu dikerjain di rumah, namanya
juga pekerjaan rumah.” Oka tersenyum jahil.
“Sekali-kali ngerjainnya di Perpuskot Mas. Secara tinggal nyebrang doang.”
“Rumah kamu deket sini?”
“Iya. Mas Oka sendiri ngapain
malem-malem gini ke Perpuskot?”
“Ih, mau tahu aja!”
Aku tertawa.
“Lagi nyari buku tentang film.”
“Film Mas?”
“Iya. Ceritanya kan Udara Pagi mau
bikin film dokumenter. Looh kok aku jadi bocorin ke kamu ya.”
Aku tertawa.
“Harusnya ini kan masih
dirahasiakan.”
“Tenang Mas, saya bisa jaga rahasia
kok.”
“Hahaha!”
“Wah,
bakal keren pasti filmnya.”
“Thanks,
kami memang keren.”
“Iya deh, percaya….”
“Hahaha! Jadi, aku lagi mau
baca-baca tentang film-film dokumenter. Anak-anak nunjuk aku untuk bikin
konsep filmnya, sebelum nantinya cari sutradara untuk film kami.”
“Oh….”
“Berhubung aku masih belajar banget tentang film dokumenter jadi ya butuh banget referensi buku-bukunya.”
“Berhubung aku masih belajar banget tentang film dokumenter jadi ya butuh banget referensi buku-bukunya.”
“Open
recruitment buat kru ga Mas?”
“Kru untuk?”
“Ya saat pembuatan film dokumenter
nanti. Kru di tim konsumsi juga boleh Mas.”
“Memangnya kamu mau daftar?”
“Kalau memang dibuka pendaftarannya.”
“Oke.
Kamu diterima.”
“Lho belum juga seleksi.”
“Udah, pakai seleksi alam.”
“Ini seriusan Mas?”
“Ya seriuslah Vella.” Demi apa Oka
masih inggat namaku!
“Wah, asyik.”
“Ntar kalau sudah mulai deket-deket
pembuatan filmnya, aku kabarin ya.”
“Makasih Mas.”
“Sama-sama. Eh… hmm… kalau misalnya
dimulai dalam waktu dekat ini gimana?”
“Apanya Mas?”
“Kamu bantuin Udara Pagi mau gak?
Kita kan udah mulai diundang ke acara-acara pensi sekolah lain nih, kita juga
udah mau rekaman di studio untuk bikin single buat dikirimin ke ajang musik di
radio. Nah, kita butuh tambahan personil buat jadi kru. Tenang, bukan kru
angkat-angkat alat band kok.”
“Wah, seru Mas.”
“Nanti kamu bisa bantu di bagian
catat-catat jadwal. Eh, ini juga kalau kamu ga keberatan. Ya tapi kami belum
bisa kasih kamu gaji, tapi bisalah feenya
buat jajan, nonton di bioskop.”
“Yang terpenting bisa dapat
pengalaman Mas.”
“Jadi kamu mau terima gak?”
“Ini seriusan Mas?”
“Memang aku tampak bercanda?”
“Hehehe, engga sih. Baik Mas, aku
terima tawaran Mas Oka.”
“Wah, makasih!”
“Sama-sama.”
“Kalau
gitu besok sore kita kumpul di kedai depan sekolah ya buat ngobrolin ini bareng
teman-teman yang lain.”
“Siap Mas.”
“Ya sudah, kamu terusin kerjain PR,
aku lihat-lihat buku dulu.”
“Iya Mas.”
Demi apa, aku akan menjadi bagian dari
team Udara Pagi! Ah, ini menyenangkan sekali! Setidaknya aku akan lebih sering bertemu
dengan Oka.
Let’s rock the world with Oka! ***