Kamis, 05 Maret 2020

A Story About - Hadirmu



HADIRMU

Kebiasaan akhir-akhir ini, begitu membuka mata, aku langsung mengecek ponsel untuk melihat Instagram, Twitter, dan Facebook. Aku melakukan kebiasaan tersebut sejak mengidolakan dia, seseorang yang membuatku terpesona.
            “Woiii! Ngelamun aja nih anak.” Tepukan keras di pundak kiri membuatku tersentak.
            “Bisa ga sih ga bikin kaget.”
            “Dari tadi bengong melulu. Tuh, batagor sampai dilalerin.”
            Aku melirik piring di depanku.
            “Ih, dusta kamu.”
            Rinta tertawa terbahak.
            “Ngelamunin apa sih?”
            “Ga ada.”
            Tuhan! Jantungku berdegup sangat kencang saat aku melihat sosok itu. Seseorang yang sedang memasuki kantin sekolah membuatku berdebar. Ah, iya, aku harus tetap stay cool, jangan sampai Rinta melihat perubahan sikapku yang mendadak gelisah.
            “Eh, sumpah ya diantara mereka aku paling males sama dia.” Rinta berbisik pelan.
            “Kamu lagi ngomongin apa sih?”
            “Apalagi kalau bukan band kebanggaan sekolah kita.”
            “Udara Pagi?”
            Yoa! Sumpah, malesin banget drumernya.”
            Aku menelan ludah.
            “Memang kenapa?”
            “Cowok belagu gitu!”
“Masa sih?”
“Mas Didot vokalisnya kan asli ramah banget. Mas Rio bassisnya baik bener. Mas Candra keyboard sama Mas Dika yang main gitar, juga ramah. Kecuali yang itu tuh!”
Mata kami bertemu. Saat tanpa sengaja aku melihat ke arahnya, dan dia juga sedang melihat ke arahku. Wajahku memanas.
            “Memangnya Mas Oka kenapa?”
            “Ga asyiklah!”
            “Hanya perasaan kamu aja kali…”
            “Udah ah ga usah dibahas. Males!”
            “Yeee bukannya kamu yang bahas duluan ya!”
            “Iya juga sih.”
            Kami lalu tertawa bersama.
         Aku ingin membantah semua ucapan Rinta tentang Oka. Menurutku Oka sangat keren. Permainan drumnya bagus, gayanya seru, dan sikapnya yang cool membuat aku berdebar setiap kali melihat aksinya di atas panggung sekolah. Menurutku Oka itu tidak belagu, mungkin dia hanya lebih pendiam dibanding teman-temannya yang lain di Udara Pagi. Ah, tapi sudahlah. Aku tidak ingin Rinta tahu kalau aku mengidolakan Oka. Biarlah rasa ini aku simpan sendiri dulu.
*
            “Apa benar ya yang dibilang Sari tadi…”
            “Tentang?”
            “Kamu dan Mas Oka ngobrol berdua.”
            Wajahku memanas.
            “Ih, kok wajah kamu merah semua gitu siiihhh…”
            “Apaan sih!”
           “Sari katanya ngeliat kamu sama Mas Oka lagi ngobrol bareng di Perpustakaan Kota. Eh, Sarinya aku suruh tanya sendiri sama kamu malah minta tolong ke aku buat nanya ke kamu.”
            “Hmmm…”
            “Ayo ngaku!”
            “Hari Minggu kemarin tanpa sengaja aku ketemu Mas Oka di Perpustakaan Kota, terus aku nyapa dia. Lalu kami mengobrol.”
            “Ngobrolin apa?”
            “Ih, kepo!”
            “Gitu ya sama sahabat sendiri ga mau cerita…. Sejak pakai seragam putih biru kita udah temenan looh.”
            “Ya ngobrolin tentang buku, namanya juga ketemu di Perpus.”
            “Ga nyangka kalau Mas Oka ke Perpustakaan.”
            “Begitulah adanya.”
            “Terus… terus…”
            “Udah, gitu aja.”
            “Baiklah.”
            Hah, baru juga mengobrol tidak sampai 5 menit dengan Oka, sudah dikepoin begini. Ah, iya, aku kan sedang mengobrol dengan selebritis sekolah! Hahaha!
            Jadi inggat “perjuangan” aku untuk bisa menyapa Oka siang itu. Saat tanpa sengaja aku berpapasan dengannya diantara rak buku Perpus. Sekuat tenaga aku mengusir segala rasa grogi, salah tingkah, dan memupuk sebanyak mungkin rasa percaya diri. Obrolan tentang Udara Pagi, yang mana aku bilang kalau aku suka saat melihat mereka manggung, mendapat respon yang baik dari Oka. Lalu obrolan tentang buku di menit-menit terakhir pembicaraan kami bagiku sungguh menyenangkan. Aku senang akhirnya bisa mengobrol dengan idolaku meski hanya sesaat.
*
            “Hey, kamu!” Aku mengangkat kepalaku, mengalihkan pandangan dari buku pelajaran ke arah orang yang berdiri di depan mejaku.
            Oka!
Aku mulai mengatur nafas.
            “Rajin banget ya ke Perpuskot.”
            “Hehehe…. Ini lagi ngerjain PR Mas.”
           “PR itu dikerjain di rumah, namanya juga pekerjaan rumah.” Oka tersenyum jahil.
            “Sekali-kali ngerjainnya di Perpuskot Mas. Secara tinggal nyebrang doang.”
            “Rumah kamu deket sini?”
            “Iya. Mas Oka sendiri ngapain malem-malem gini ke Perpuskot?”
            “Ih, mau tahu aja!”
            Aku tertawa.
            “Lagi nyari buku tentang film.”
            “Film Mas?”
            “Iya. Ceritanya kan Udara Pagi mau bikin film dokumenter. Looh kok aku jadi bocorin ke kamu ya.”
            Aku tertawa.
            “Harusnya ini kan masih dirahasiakan.”
            “Tenang Mas, saya bisa jaga rahasia kok.”
“Hahaha!”
“Wah, bakal keren pasti filmnya.”
            Thanks, kami memang keren.”
            “Iya deh, percaya….”
            “Hahaha! Jadi, aku lagi mau baca-baca tentang film-film dokumenter. Anak-anak nunjuk aku untuk bikin konsep filmnya, sebelum nantinya cari sutradara untuk film kami.”
            “Oh….”
            “Berhubung aku masih belajar banget tentang film dokumenter jadi ya butuh banget referensi buku-bukunya.”
            Open recruitment buat kru ga Mas?”
            “Kru untuk?”
            “Ya saat pembuatan film dokumenter nanti. Kru di tim konsumsi juga boleh Mas.”
            “Memangnya kamu mau daftar?”
            “Kalau memang dibuka pendaftarannya.”
            Oke. Kamu diterima.”
            “Lho belum juga seleksi.”
            “Udah, pakai seleksi alam.”
            “Ini seriusan Mas?”
            “Ya seriuslah Vella.” Demi apa Oka masih inggat namaku!
            “Wah, asyik.”
            “Ntar kalau sudah mulai deket-deket pembuatan filmnya, aku kabarin ya.”
            “Makasih Mas.”
            “Sama-sama. Eh… hmm… kalau misalnya dimulai dalam waktu dekat ini gimana?”
            “Apanya Mas?”
            “Kamu bantuin Udara Pagi mau gak? Kita kan udah mulai diundang ke acara-acara pensi sekolah lain nih, kita juga udah mau rekaman di studio untuk bikin single buat dikirimin ke ajang musik di radio. Nah, kita butuh tambahan personil buat jadi kru. Tenang, bukan kru angkat-angkat alat band kok.”
            “Wah, seru Mas.”
        “Nanti kamu bisa bantu di bagian catat-catat jadwal. Eh, ini juga kalau kamu ga keberatan. Ya tapi kami belum bisa kasih kamu gaji, tapi bisalah feenya buat jajan, nonton di bioskop.”
            “Yang terpenting bisa dapat pengalaman Mas.”
            “Jadi kamu mau terima gak?”
            “Ini seriusan Mas?”
            “Memang aku tampak bercanda?”
            “Hehehe, engga sih. Baik Mas, aku terima tawaran Mas Oka.”
            “Wah, makasih!”
            “Sama-sama.”
“Kalau gitu besok sore kita kumpul di kedai depan sekolah ya buat ngobrolin ini bareng teman-teman yang lain.”
            “Siap Mas.”
            “Ya sudah, kamu terusin kerjain PR, aku lihat-lihat buku dulu.”
            “Iya Mas.”
            Demi apa, aku akan menjadi bagian dari team Udara Pagi! Ah, ini menyenangkan sekali! Setidaknya aku akan lebih sering bertemu dengan Oka.
Let’s rock the world with Oka! ***   


           


Jumat, 24 Januari 2020

Obrolan Film

Eh, udah weekend aja nih :)
Ngobrolin film ah... 
Januari ini bioskop digempur sama film-film kece, baik film dari dalam dan luar negri. So, gimana-gimana, sudah punya rencana untuk ke bioskop? Let's go! :D
Diantara film-film yang sedang tayang nih, saya sudah menonton beberapa, yaitu... Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI), Bad Boys For Life, dan Akhir Kisah Cinta Si Doel.
Okelah, diobrolin satu-satu kali yaaa...
> Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI),
Keinginan kuat untuk menonton film ini karena ada Rio Dewanto hahaha! Dan, as always, akting Rio ini memang kece sih :) berperan sebagai anak sulung as Mas Angkasa, Rio so niceee...
NKCTHI bercerita tentang sebuah keluarga dengan persoalannya. Kisah tentang Bapak yang terlihat "kejam", Ibu dengan "kediamannya", lalu anak sulung Mas Angkasa, anak tengah Aurora, dan si bungsu Awan. Konflik yang terjadi dalam sebuah keluarga memang menarik untuk dijadikan cerita, apalagi ada "rahasia" yang terungkap pada akhirnya. 
Film yang udah tembuh 2 juta + penonton ini memang seru untuk dinikmati. Nangis juga nonton film ini huhu...
> Bad Boys For Life
Seneng kalau film Bad Boys ditayangin di tv. Jujur saja, Bad Boys versi jadul, ga pernah nonton di bioskop! Dibela-belain tidur malem kalau ada film Bad Boys di tv, haha. 
Nah, pas nonton trailer Bad Boys For Life di bioskop, langsung dalam hati, "guweh harus nonton!" 
Ya sudah, jadilah saya menonton Bad Boys For Life yang dibintangi Will Smith dan Martin Lawrence itu. Duo seru, kocak, dan asyik ini memang ga ada matinya. Meskipun sekarang mereka sudah "berumur", tapi aktingnya tetep jago. Untuk urusan action film ini dapet, urusan kocaknya juga dapet, ah, pokoknya asyik cihuy seru bin hura-hura'lah menonton film ini. 
> Akhir Kisah Cinta Si Doel (AKCSD)
Nah, kalau film ini memang ditunggu sih, penasaran banget siapa yang akhirnya dipilih Bang Doel :)
Cukup emosional sih nonton AKCSD, secara ini kan ending dari penantian 27 tahun kisah Doel-Sarah-Zaenab. Sedih juga endingnya ga sesuai dengan harapankuh hahahaha! :O but it's oke-lah, setidaknya Doel bersama dengan seseorang *eeeaaa*
Yang seru sih Bang Mandra ya, akhirnya doi (hampir) happy ending karena ketemu lagi sama Munaroh, sang pujaan hati, uhuuyyyy ;)
Yang mengikuti film Doel di seri satu, dua, tentunya harus ditutup dengan yang ketiga ini. Hufffffff, akhirnya!
Bwaiklaahh, selamat berakhir pekan...
Happy Fridayzz!

Jumat, 10 Januari 2020

Abracadabra

Welcome 2020!
Mau ngobrolin film ah di awal tahun :)
Well, banyak film film seru yang sedang beredar di bioskop, dan film yang sudah saya tonton adalah Abracadabra. Film yang dibintangi oleh Reza Rahadian ini cukup menyenangkan. Abracadabra adalah film fantasi yang mengisahkan tentang dunia sulap yang bisa ditonton untuk semua umur. Jadi, si Reza Rahadian ini berperan sebagai Lukman, seorang pesulap dengan kotak sulapnya. Dari kotak sulap kayu inilah cerita dimulai. Petualangan yang dilalui Lukman menjadi tontonan yang seru. 
Well, akting seorang Reza Rahadian memang tidak diragukan lagi. Dan di film Abracadabra ini Reza memerankan tokoh Lukman dengan baik. Rasanya Reza ini memang bisa memerankan peran apa saja, hehe...   
Selain Reza Rahadian, banyak pemain film lainnya yang membuat film Abracadabra ini terasa lebih "hidup". Mulai dari Butet Kertarajasa, Lukman Sardi, Dewi Irawan, Jajang C Noer, Asmara Abigail, Imam Darto, hingga favorit saya, Yati Pesek. Banyak bertaburan bintang di film ini. 
Menonton film Abracadabra membuat kita dibawa ke tempat yang antah berantah, dengan nuansa alam yang indah. Gambar yang dihasilkan di film ini juga terasa berbeda, menyenangkan sekali untuk mata.
Kalau suka dengan film absurd, yang kadang mikir, ini ceritanya bagaimana sih sebenarnya, lalu baru nemu jawaban setelah menelaah, ya film Abracadabra ini bisa banget jadi rekomendasi untuk ditonton di bioskop. 
Hmmm kalau saja dengan hanya bilang "Abracadabra" bim salabim, terus tahun 2020 ini jadi seperti apa yang kita inginkan, wah pasti menyenangkan sekali ya, haha! Usaha woiii usaha!!! Hihihi... Iringin juga dengan doa pastinya :) 
Well, semoga apa yang menjadi keinginan di tahun ini bisa terwujudkan ya, aamiin. Selamat menikmati hari-hari yang berjalan ke depan nanti. Semangat!!!
Bismillah. ❤

   

Rabu, 04 Desember 2019

#AStoryAbout - Jatuh Cinta Lagi



JATUH CINTA LAGI

        Jatuh cinta lagi? Ah, apa bisa?
          “Wah, wah, ini anak malah bengong.”
          “Aku tuh lagi memikirkan omongan kamu.”
          “Omongan aku yang mana?”
          “Yang barusan ini, soal jatuh cinta…”
          “Nah, akhirnya bisa mikir juga nih anak.”
          Hey, memangnya selama ini aku ga mikir apa?”
   “Ampun Sania! Setiap hari melamun, mata bengkak, diajakin ngobrol ga nyambung...”
          “Ya kan lagi putus cinta…”
          Oke, fine!”
        “Kan butuh waktu buat sedih…”
        “Jadi, kamu siap jatuh cinta lagi?”
          Maybe…”
          “Helooo, wake up Sania! Bayu itu...”
          “Mungkin aku akan jatuh cinta lagi, dengan Bayu.”
          “Helooo!!!!”
          Aku tertawa ngakak, dan Mawar langsung cemberut.
*
          Bukan perkara mudah untuk bisa jatuh cinta lagi saat ini. Kata orang cinta pertama itu susah dilupakan, dan menurutku itu benar adanya. Menjalin cinta selama hampir 2 tahun bersama Bayu, dengan segala suka dan duka yang sudah dilewati, walau pada akhirnya harus putus setelah kami break satu bulan, sangatlah membekas di hati dan ingatan.
Di awal aku dan Bayu berpisah 2 bulan lalu, betapa repotnya harus mengompres mata yang bengkak dengan es batu saat akan berangkat ke sekolah, setelah semalaman menangis. Dan, sialnya, sahabatku Mawar selalu bisa "melihat" kesedihanku itu. Namun masa-masa sedih itu sedikit mulai memudar sekarang. Aku sudah jarang menangis, hanya terkadang rasa sedih datang saat berada di dalam angkot. Teringat dulu Bayu selalu mengantar dan menjemput sekolah dengan motor kesayangannya.  
*

          Aku dan Aryo menuruni anak tangga Perpustakaan Kota setelah kami selesai membaca buku dan menyelesaikan tugas ekstrakulikuler Fotografi. Sebenarnya tadi ada empat orang teman kami yang tergabung dalam kelompok fotografi dari beberapa kelas, tapi mereka sudah pulang duluan setelah tugas selesai dikerjakan.
          “Kita duduk-duduk dulu di situ yuk…” Aryo menunjuk bangku kayu di taman Perpustakaan.
          “Boleh…”
          Kami duduk bersebelahan.
          “Setelah lulus nanti kamu akan kuliah dimana Sania?”
          “Rencananya sih di Jakarta.”
          “Wow, Jakarta! Nice…”
          “Iya, aku memang punya cita-cita kuliah di salah satu Perguruan Tinggi di sana. Dan kebetulan banget ada Tante yang tinggal di Jakarta, jadi aku bisa menetap di rumah beliau kalau nanti diterima di Universitas tersebut.”
          “Oh.”
          “Kalau kamu mau kuliah dimana?”
          “Aku akan kuliah di Yogya saja.”
          “Yogya, kota kita tercinta.”
          “Betul!”
          Bayangan Bayu yang tiba-tiba melintas segera kutepis. Tidak, aku tidak sedang rindu Bayu!
          “Hmmm… Kamu pernah menjalani hubungan LDR Sania?”
          Long distance relationship? Belum.”
          “Kira-kira kamu sanggup tidak kalau menjalani LDR?”
          “Entahlah.”
          “Sejak kita ikut kelas fotografi, kita jadi lebih dekat ya Sania…”
          “Iya sih, padahal kelas kita sebelahan tapi dulu-dulu ga ketemu aja looh.”
          Aryo tertawa.
          “Sania, kalau nanti kamu kuliah di Jakarta, dan aku di Yogya, apa kita bisa…”
          “Bisa apa Aryo?”
          “Aku jatuh cinta dengan kamu Sania…”
          Jantungku berdebar. Bayangan Bayu kembali melintas. ***





























Rabu, 27 November 2019

Siang ke Sore

Corat-coret blog dululah di tengah terik yang membahana ini... Hujan memang sempat turun, tapi rupanya Matahari sedang enggan pergi :) Semoga di cuaca yang panas ini, hati tetep adem, yes!
Ngobrolin apa ya...
Film? Baik!
Setelah memedam rasa penasaran pada Film Perempuan Tanah Jahanam (PTJ), nonton juga dunk akhirnya! :D kalau diinggat-inggat, semoga ga salah inggat ya, PTJ ini adalah film horor pertama yang saya tonton di bioskop. Selama ini kalau nonton film horor ya yang udah tayang di TV komersil gitu... Jadi kan tingkat keseraman levelnya berkuranglah ya dengan diselingi iklan, plus kalau ketakutan bisa kabur dari depan tivi, haha!
Sempet mikir, kalau nonton film horor di bioskop tuh kan rugi bener ya kalau udah bayar tiket, nonton film ga cihuy, secara ketakutan. Tapi akhirnya ya berani juga nonton film Perempuan Tanah Jahanam, meskipun di beberapa adegan merem sih, hahaha! ;p
Karena terbiasa nonton bioskop sendiri, dengan tekad bulat membara akhirnya ya nonton film PTJ sendiri juga, tapi ya pas jam tayang yang siang dong ah! :D Friends yang memang pengen nonton, sudah pada nonton duluan, akhirnya ya nonton sendiri, dan ternyata SERUU! Hahaha! Semacam sedang berpetualang gitu nonton film horor sendiri di bioskop, hihi!
Gimana-gimana kalau melewatkan karya yang memang digemari itu rasanya kok sayang sekali. Ya kalau bukan karena seorang Joko Anwar sih enggalah nonton film horor di bioskop mah, hahaha! :O
Rasa penasaran pada akhirnya memang terbayarkan setelah nonton film PTJ. Dari segi cerita, sinematografi, ya as alwayslah ya kalau filmnya Bang Joko itu menurut saya bagus :) 
Sebagai penonton film memang rasanya seru kalau menonton genre film yang beragam. Kalau misalnya ga suka film horor, ya sesekali nonton film horor oke juga. Memang paling favorit itu jenis film drama sih kalau saya, tapi ya tetep asyik juga nonton film action, tetep seru juga nonton komedi. Marilah banyak-banyak menonton film :)
Next film yang pengen ditonton Day Sleepers.
Ngobrolin apa lagi yaaa...
Mie ayam? Nice ya :) mie ayam gerobak biru memang ga ada matinyah!
Kopi? Ga terlalu suka kopi, tapi kalau k(u)o pi(nang) aku dengan Bismillah, ya nice juga sih... tssssaaaahhhh!!! :p
Teh? Minuman favorit! Ngeteh itu kapan saja waktunya terasa menggembirakan. Mau minum teh pas pagi, siang, sore, malam, tetep asyik sih menurut saya. #TimTeh
Colkat? Paling paporit kalau ini sih... minuman coklat, coklat batangan, makanan yang berbau coklat, sangat menyenangkan, meskipun ya sekarang sedang mengurangi. Bukan kenapa-kenapa, gigi suka ngilu kalau kebanyakan coklat, huhuhu, sad! :(
Lalu... ngomongin kamyuh? Ah, sudahlah! 
Baiklaahhh... selamat menjalankan aktivitas di hari ini. 
Have a nice day :)



  

Jumat, 20 September 2019

On Friday

Hai September, cepat sekali kamu berlalu! Rasanya tidak ingin melepas September pergi dengan secepat ini :)
Alhamdulillah, ditambahkan umur sama Allah di bulan September ini, yang mana artinya adalah... I'am still YOUNG! Hahaha! Semangat harus tetep muda dunk :D
Well, mau corat-coret santuy ajalah kalau istilah sekarang mah... 
Ngobrolin film aja dulu ya, hehehe...
Jadi, kemarin nih nonton film Pretty Boys yang dibintangi oleh Vincent dan Desta. Asli, ini film lucuuuuu bangetttt!!! Dari awal film dimulai udah ngakak to the max! Joke-jokenya VinDest itu kan ya emang ngeselin gimana gitu ya, haha! 
Selain duo kocak, yang main di film ini ada Roy Marten yang ga akan diragukan lagi dunk kemampuan beliau dalam berakting. Terus ada Imam Darto, Danilla, Onadio, Ferry Maryadi dan masih banyak lagi. Sumpah, ini film seruuu banget! Ah, iya, ada Glenn Fredly yang kece dah! :D
So, kalau butuh hiburan, pengen ketawa ketiwi hula-hula, nonton film Pretty Boys bisa jadi rekomendasi buat ngisi acara weekend ini. 
Well, gara-gara nonton Pretty Boys, jadi teringatkan kembali pada lagu lama "Bukan Pacarmu" yang dinyanyiin Bibus, terus dinyanyiin ulang sama Tompi, yang juga jadi sutradara pada film tersebut. Asli, ini lagu ga santuy banget! *garuk tembok*
Sebagai debut pertama, rasanya Tompi berhasil menyutradarai film ini dengan baik. Diborong deh tuh semua profesi dari dokter bedah, penyanyi, fotografer, dan sekarang, sutradara! Keren Kakak Tompi ini :D
Next, ngobrolin apa yaaaa...
Cinta? 
Eh, ya ampun...
*garuk tembok*
Hahaha!
Topik yang ga pernah ada habisnya buat dibahas itu memang tentang cinta ya :)
So, ada yang sedang jatuh cinta? Semoga saja yang sedang jatuh cinta diberikan jalan yang indah, biar bisa bersama dengan orang yang dicintanya, aamiin
Ah, bakal panjang bener ini kalau ngomongin soal cinta, hahaha! Pending dulu ajalah ngomongin dunia cinta-cinta ini :D
Next, let's talk about... hmmm... ah, kenapa jadi buntu gini! Ga cuman jalan ya yang buntu, asal bukan jalan ke HATI KAMU yang buntu *eeeaaaaaa :p
Lanjut kapan-kapan lagi ya corat coret blog-nya. Mungkin butuh asupan camilan ini jatohnya, hahaha!
Selamat hari Jumat,
Happy weekend bagi yang merayakan!

Minggu, 08 September 2019

#AStoryAbout - OPS



OPS!


“Heran deh, bisa suka banget sih sama tuh donut!” Aku langsung sewot saat melihat Salsa yang sedang membuka kardus berisi 5 donut ukuran mini, saat kami sedang makan di kantin saat istirahat sekolah.
        “Sewot aja sih…”
“Ga bosan apa setiap hari makan tuh donut?”
“Engga dunk! Coba lihat… Ini looh ada yang rasa coklat, kacang coklat, strawberry, lemon, dan greentea. Mau?” Salsa mencomot donut rasa lemon dalam kardus lalu menyodorkan kepadaku.
         “Enggak mau!”
         “Enak tahu…”
         “Aku ga suka donut!”
         “Ih, rugi!”
 “Biarin!”
 “Donut Mungil ini so yummy! Rasanya ga kalah sama donut yang dijual di mal-mal. Senang sekali ketemu donut dengan harga terjangkau tapi rasanya lezat.”
         “Donut itu rasanya sama saja, manis banget, eneg.”
         “Masa?! Nyamnyamnyam…”  
         “Jauhkan donut itu dari hadapanku!”
         Lebay deh kamu.”
      “Jangan sampai selera makan soto hilang ya Salsa gara-gara donut favoritmu itu!”
      “Lihat deh Lulu, donut ini bentuknya mungil, sesuai dengan namanya, Donut Mungil. Terus, bentuknya lucu kan… rasanya lezat… enaakkkk!” Keisengan Salsa semakin menjadi dengan mendekatkan kardus donut tepat disamping mangkuk sotoku.
      “Salsa!” Aku langsung pasang tampang jutek yang disambut gelak tawa Salsa yang menyebalkan itu.

*

       Jantungku berdebar saat memasuki halaman rumah Putra. Kami berlima, aku, Tyas, Bimo, Iqbal, dan Putra, akan bersama-sama mengerjakan tugas fotografi.
  Aku suka Putra! Cowok kelas sebelah yang selalu terlihat cool dengan gaya cueknya itu. Tidak disangka ternyata aku dan Putra mengambil kelas ekstrakulikuler yang sama di sekolah, yaitu kelas fotografi. Dan aku bahagia sekali, untuk tugas kelompok kali ini, aku dan Putra ada di kelompok yang sama.  
   Salsa yang tahu kalau hari ini aku akan ke rumah Putra untuk menyelesaikan tugas, sejak tadi tidak berhenti mengirim pesan untuk menanyakan situasi yang terjadi. Dasar kepo! Aku memang cerita pada Salsa kalau aku suka Putra. Karena Salsa mengambil ektrakulikuler Musik, jadi ya dia tidak punya alasan untuk bisa ikut ke rumah Putra. Hehe!
      “Nah, silahkan duduk. Lesehan ya teman-teman.” Putra mempersilahkan kami duduk di teras rumahnya yang mirip pendopo.
         “Siap bos!!!” Iqbal, teman sekelasku yang gokil mulai ‘pasang aksi’.
            “Rumah kamu asyik sekali Putra, asri.” Jantungku berdebar saat Putra tersenyum kepadaku.
            “Makasih Lulu. Mama suka berkebun, dan inilah hasilnya.” Putra menunjuk taman asri di depan pendopo.
           Thanks Putra sudah mengundang kami ke rumah kamu, jadi kita tidak perlu repot-repot lagi cari objek foto.” Bimo terlihat happy.
            “Beneran nih kita ga perlu hunting lagi?”
         “Rasanya kebun Mama kamu sudah menjadi objek yang tepat Putra. Untuk tema alam kali ini, pendopo dan kebun Putra cocok untuk objek foto kerja kelompok kita. Setuju kan teman-teman?”
            “Setujuuu…” Kami kompak menjawab Tyas.
        “Tyas, peganging Lulu kenceng-kenceng deh, biasanya dia suka lari-lari terus nari-nari sendiri gitu kalau ngeliat taman. Yah, ga jauh bedalah sama adegan di film-film India itu.”
            “Makasih Iqbal!” Aku langsung sewot.   
            Tawa di pendopo Putra pecah mendengar lelucon Iqbal yang sama sekali ga lucu itu. Eh, tapi aku senang melihat Putra tertawa. Hah!
            Kamipun lalu bersiap-siap untuk mulai memotret.
          “Eh, sebentar ya aku tinggal ke dalam dulu.” Putra lalu masuk ke dalam.
      Putra kembali ke pendopo dengan membawa minuman kemasan botol dan kardus yang rasanya familiar. Perasaanku mulai tidak enak.
       “Ayo kita makan donut dulu sebelum mulai foto-foto. Ini minumannya juga boleh dinikmati looh.”
           Oh, no! Feelingku benar!
           “Waaaa… Thanks Putra! Ini donut paling happening sejagad raya!” Iqbal terlihat girang.
        “Setuju Iqbal, aku suka sekali Donut Mungil!” Tyas menimpali Iqbal. Sedangkan Putra sudah mencomot donut rasa coklat sepertinya.  
            Putra, Iqbal, Bimo, dan Tyas mulai asyik menikmati donut.
          “Lulu, kamu ga mau?” Tyas menyodorkan kardus donut ke hadapanku.
            Hmmm… ini… aku lagi diet hehehe…”
         “Kalau cuman makan satu donut buatan kakakku, berat badan kamu ga akan naik Lulu.” Senyuman Putra membuatku jantungku berdebar lagi.
            But, wait…
            “Jadi, kakak kamu yang bikin Donut Mungil?”
         “Iya Lu. Setiap hari, sebelum kakak berangkat ke kampus, dia mengantar donut ke beberapa tempat, termasuk ke kantin sekolah kita.”
            “Oh.” Aku lalu mengambil donut rasa greentea.
   Baik, aku harus makan donut bikinan kakak Putra. Harus! Ini demi usaha pedekate! ***    

           


Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...