Oh.... Tak akan lagi, ku menunggumu di depan pintu... *sing
Selasa, 24 Mei 2016
Senin, 01 Juni 2015
I Love You Ibu
Siang menjelang sore bertemankan hujan yang baru saja turun…
Well, tidak mudah rasanya untuk corat-coret blog di hari ini.
Perasaan sedih masih saja datang setiap kali inggat Ibu. Ya, tentu saja tidak
mudah menerima kenyataan, bahwa seseorang yang sangat dicintai sudah tidak
berada lagi dalam hari-hari yang terlewati. Tentu saja tidak mudah menjalani
detik-detik yang berlalu tanpa bisa melihat lagi senyum, tawa Ibu. Sangat tidak
mudah rasanya tidak bisa lagi mengobrol, bercanda, bahkan “berantem” dengan
Ibu. Sungguh, saya merindukan semua itu!
Namun saya tahu, Ibu sudah bahagia di sana, di sisi Allah SWT, amin J
Tanggal 23 Mei 2015 Ibu telah berpulang dengan tenang. Rasanya saya
masih tidak percaya bahwa Ibu sudah pergi untuk selamanya. Saya masih
berkomunikasi dengan Ibu beberapa jam sebelum Ibu pergi, meskipun hanya sepatah
dua patah kata. Tapi saya tahu, ini adalah jalan yang terbaik yang telah
diberikan Allah untuk Ibunda tersayang.
Ibu akan selalu berada di sini, didalam hati saya. Ibu akan selalu ada
dalam kenangan-kenangan indah yang terukir dalam memori ingatan saya.
Terimakasih Ibu. I love you Ibu J
Minggu, 26 April 2015
Ngomongin Idola @ Sunday
Heloo Sunday! Siang menjelang sore dengan cuaca yang lumayan panas. Kalau hujan turun itu sekarang hawanya rada dag-dig-dug... sedih, melihat banjir yang sedang melanda beberapa wilayah di Jogja. Semoga Jogja aman selalu. Amin.
Baik, mari mengobrol tentang... Idola! Hmmm... sampai saat ini Leonardo Di Caprio masih juara! hahaha :D doi itu kece banget pas main di film Romeo Juliet, dan sampai sekarang tuh film masih nempel aja di kepala. Dasyat! Kalau bicara tentang idola itu ya... banyak sih! Dan saya senang bisa bertemu langsung dengan idola-idola :)
Yeah, dari dulu saya nge'fans sama Joko Anwar, sejak dia jadi sutradara di film Janji Joni. Senang bisa bertemu langsung dengan dia, saat mengikuti sebuah workshop film. Glad! :D
Lalu siapa lagi ya? Yang belum ketemu langsung sama Rio Dewanto nih, semoga suatu hari nanti... *wish* sumpah, doi kece banget di film Filosofi Kopi, keren!
Saya rasa, Twitter itu cukup membantu untuk "bertemu" dengan idola hahaha! :) hidup Twitter!
Okeh, sapa lagi ya... Glenn Fredly dunk! Lagu-lagu yang dia bikin itu liriknya cetaarrrrr!!! Menusuk! Dan saya senang bisa bertemu Glenn saat SMA dulu di sebuah station radio, pas dia lagi mau wawancara gituh *jadulabis* :D pernah juga melihat performance'nya, KECEH!
Ah, kalau ngomongin idola itu banyaaak benerrr deh... Bapak tukang sampah yang setiap hari ngambil sampah di lingkungan tempat tinggal, jadi idola juga! Tanpanya... aku butiran debu *efek sampah belum diambil 2 hari* huks! :(((
Ya, begitulah... masing-masing orang pasti punya idola, yang bikin hidup lebih termotivasi gitu kalau buat saya mah :)
Ya, ngeliat film'nya Bang Joko Anwar, jadi mupeng pengen bikin film... amin! Semoga kejadian, at least bisa film pendek dululah *lalalalayeyeyeyeye* ;)
Baca novel-novelnya Mbak Alberthiene Endah, jadi pengen punya novel... *glek* amin! :D
Ngeliat Bapak tukang sampah yang maaf saya tidak tahu namanya, yang ambilin sampah tanpa lelah, jadi bikin lebih cinta lingkungan :)
Ya, begitulah...
Yes! Mari terus melewati hari-hari dengan semangat. Jika semangat sedang meredup, just take a break, lakukan sesuatu yang bikin semangat kembali menyala. Kalau saya mah... makan coklat... lalu ngemil, lalu ngemil lagi... *glek* eh, tapi minumnya air putih dunk! Yeah! :D
Baiklah,
Selamat menikmati Minggu.
Hidup Idola! :)
Selasa, 26 Agustus 2014
Kumpulan Kata
Waktu berjalan tanpa menunggu.
Hari berlalu tanpa terhenti.
Matahari selalu mengiringi.
Bintang selalu menemani.
Sakit, perih, luka, airmata, adalah bagian yang harus dilalui.
Bahagia, suka, canda, tawa, tak bisa dihindari.
Mimpi, apakah selalu menjadi nyata?
Rindu, haruskah selalu terobati?
Cinta, apakah selalu memiliki?
Pertanyaan, tidak selalu ada jawaban.
Sabtu, 12 Juli 2014
KEKASIH TIAN - #Percikan
“Putus?” aku
menatap Tian yang duduk disampingku.
“Iya Fe, semalam Nina bilang ingin
putus.” Wajah Tian terlihat lesu, ada sorot kesedihan dimatanya.
“Kalian berantem?” Tian menggeleng.
“Lalu?”
“Nina… hmm… Nina…”
“Nina kenapa?”
“Dia tidak ingin kita berteman Fe…”
“Maksud kamu?”
“Kalau kita masih bertemu dan berteman,
Nina mau putus.”
“What?
Tapi Nina kan tahu kita sudah berteman sejak SD. Nina kan tahu kalau kita sudah
sobatan sejak kecil!” Aku bingung. Dadaku mulai terasa sesak.
“Iya Fe, Nina tahu semua itu…”
“Kalian sudah pacaran hampir 2 tahun,
dan selama ini Nina tidak pernah keberatan dengan pertemanan kita kan?”
“Iya Fe. Aku juga bingung, kenapa Nina
bersikap aneh seperti ini.”
Aku mengambil nafas panjang. Menatap Tian,
yang tampak bingung. Sungguh kasihan sahabatku. Aku harus memutuskan sesuatu.
“Baiklah Tian, aku akan menjauh dari
kamu...”
“Jangan seperti ini Fe….”
“Kamu akan melakukan apa saja agar
Nina tetap bersama kamu kan?” Tian mengangguk pelan. “Ya sudah, kita nggak usah
ketemuan lagi Tian.”
Aku berdiri,
mengambil sepeda, dan buru-buru mengayuhnya, meninggalkan Tian yang masih duduk
di bangku taman komplek perumahan tempat kami tinggal.
Tian tidak memanggil
namaku, tidak juga mencegahku untuk tidak pergi, atau menyusulku dengan motor
sekuter hitamnya. Apa artinya Tian
setuju dengan keputusanku? Ah, hatiku mulai terasa perih!
Aku sudah
mengambil keputusan. Aku berusaha keras menahan air mata agar tidak jatuh.
***
Setelah kejadian di taman itu, aku dan
Tian sama-sama menghindar untuk saling ngobrol. Kami hanya saling melambaikan
tangan dan senyum saat berpapasan di sekolah. Sms hanya terjadi ketika ada yang
urgent, seperti saat papanya opname
atau saat mama butuh sesuatu dan aku tahu Tian tahu jawabnya. Orangtuaku dan
orangtua Tian masih berhubungan baik, tetapi kami, anak-anaknya sungguh-sungguh
sudah menjaga jarak. Dan Nina, aku tak peduli dengan dia. Aku bersyukur kami
nggak satu sekolah.
***
Aku membalas
senyuman dan lambaian tangan Tian.
“Take care Tian. I love you!” teriakan Nina membuyarkan konsentrasiku saat sedang
memandangi punggung Tian yang semakin terlihat samar.
Nina menghapus
airmata yang terus jatuh dipipinya.
“Aku tidak ingin
Tian pergi…. aku… aku… aku tidak sanggup kehilangan dia…”
“Tian harus
menyusul keluarganya ke London, dan melanjutkan sekolah disana.”
“Aku tahu Fe…
tapi di London kan banyak cewek-cewek cantik… ”
“So?”
“Apa Tian akan
setia Fe?”
“Aku tidak tahu.”
“Kamu kan
sahabat Tian.”
“Lebih tepatnya,
mantan sahabat.”
Nina diam.
“Aku sudah berhenti
bersahabat dengan Tian, sejak 5 bulan lalu. Kemarin dia menelpon dan memintaku
datang ke bandara. Sebagai kekasih Tian, seharusnya kamu yang lebih tahu
tentang kesetiaan Tian.”
Nina masih diam.
“Aku pulang
Nina.”
“Iya Fe.”
Aku berlalu
meninggalkan Nina yang masih berdiri membeku di depan pintu boarding. Tadi saat berpamitan, Tian
berbisik pelan, meminta aku mau menemani Nina, kalau pacarnya kesepian. Aku hanya
pamer senyum. Setelah memintaku menjauhi Tian, kini aku diminta menemani dia? Haha.
Permintaan tolol. Pastinya tak akan aku lakukan. ***
# My PERCIKAN @ Majalah Gadis No. 18 • XLI • 1-10 Juli 2014
Selasa, 01 April 2014
Sepenggal Cerita Kita
Aku tidak menyangka, rasanya akan
serapuh ini, saat Bian memutuskan untuk menunda rencana pernikahan kami, yang
hanya tinggal menghitung bulan saja. Entah apa yang ada di fikiran Bian, saat
beberapa hari yang lalu dia bilang ingin “break”
dulu, dari hubungan kami yang sudah melewati tahun keempat ini.
“Tapi, kenapa Bian?” sekuat tenaga aku
menahan airmataku agar tidak jatuh.
“Aku belum siap…” Bian berulang kali
menghidari kontak mata denganku saat kami berbicara. Bian sibuk mengaduk
minuman. Bian sibuk membaca menu. Bian sibuk dengan ponselnya.
Ah, aku benci situasi ini!
“Kenapa baru sekarang kamu bilang
belum siap? Disaat semua persiapan pernikahan kita sudah berjalan 60 persen.”
Aku kembali menahan amarahku agar tidak meledak.
Kami sedang berada di de Opera At
The Bay Bali, sebuah tempat yang luar biasa indah. Rasanya tidak pantas aku harus
berteriak-teriak ditengah suasana yang sebenarnya menyenangkan, diantara
makanan dan minuman lezat yang tersaji di meja kami.
“Jauh-jauh aku datang dari Jogja
ke Bali untuk membicarakan pernikahan kita, dan….”
Mataku mulai menerawang jauh,
menatap langit sore Bali yang menakjubkan.
“Aku kan sudah bilang Delia, kamu
tidak perlu ambil cuti untuk menyusulku ke Bali. Bulan depan aku yang akan
pulang ke Jogja.”
“Tapi, telfon tempo hari, yang
mengatakan kalau kamu ingin menunda pernikahan kita, tentu saja membuatku ingin
segera bertemu kamu di Bali!”
Bian diam.
“Apa ada yang lain Bian?”
Jantungku berdegup kencang. “Kamu sedang jatuh cinta dengan seseorang?”
“Tidak, Delia.”
“Kamu yakin?” debaran dihatiku
semakin menguat. Aku takut Bian menjawab, iya!
Bian menunduk, menatap gelas
minumannya yang tinggal tersisa setengah.
“Bian, looked me!” amarahku mulai tak terbendung. “Bian!”
“Tidak Delia. Aku setia. Aku
tidak jatuh cinta dengan wanita lain. Hanya kamu.”
Bian menatapku dalam.
“Kamu berubah Bian.” Airmataku
perlahan jatuh.
“Please Delia, jangan menangis…” Bian mengenggam tanganku. Masih
hangat! Ya, aku masih merasakan… his still
my Bian! Mungkin aku yang salah, mungkin memang Bian tidak berubah.
Bian menghapus airmatku dengan
tangannya. Tangannya masih lembut saat menyentuh pipiku. Ah, rasanya malu juga,
kalau ada pengunjung de Opera At The Bay Bali memergoki aku sedang menangis.
Dadaku masih terasa sesak. Tapi,
kelembutan sikap Bian membuat aku percaya bahwa dia setia.
“Jangan seperti ini Bian….”
Suaraku mulai melemah.
Bian tersenyum sambil menatapku
lama. Senyuman Bian tidak pernah berubah, tetap saja memberikan kesejukan dihatiku.
“Ice creamnya di makan Delia,
keburu mencair nanti.” Bian menyuapkan ice cream kemulutku. Ah, romantis sekali
suasana ini. Like this!
“Sudah Brian, malu! Aku bisa
makan sendiri kok.” Aku merebut sendok ice cream dari tangan Bian.
Aku mulai menikmati ice cream dengan
buah pisang yang rasanya memang luar biasa enak!
“You’re still my Delia.”
“And, you’re still my Bian.”
Kami tertawa bersama.
Tidak bisa kubayangkan apa yang
akan terjadi, bila pernikahan kami benar-benar ditunda. Wajah kedua orangtua, keluarga,
tetangga, sahabat, dan teman-temanku yang sangat antusias menyambut hari
pernikahanku mulai terbayang. Aku tidak ingin mengecewakan mereka!
“Ada apa Bian?”
“Tidak ada apa-apa Delia….”
“Kalau memang tidak ada apa-apa,
kenapa kamu berniat menunda pernikahan kita? Bukankah dua bulan yang lalu, kamu
terlihat sangat siap saat melamarku?”
Bian tersenyum. Mungkin dia
sedang teringat dengan acara lamaran beberapa waktu yang lalu. Pertemuan dari
keluargaku dan keluarga Bian yang berlangsung dengan sangat baik.
“Aku belum siap meninggalkan
Bali.”
“Kamu tidak perlu meninggalkan
Bali.”
“Kamu juga tidak akan meninggalkan
Jogja kan?”
Kali ini aku yang diam. Lidahku
kelu.
“Setahun belakangan ini, kita
menjalani hubungan jarak jauh, dan itu cukup menyiksa Delia.”
“Kita sudah membahas ini berulang
kali Bian…”
“Setelah menikah, aku ingin terus
berada disamping kamu.”
“Aku juga Bian!”
“Tapi kita tahu, kamu akan tetap
di Jogja, dan aku akan tetap berada di Bali.”
“Kita sudah membahas ini Bian….”
“Dan selalu tidak ada titik
temunya bukan?”
“Tapi kita tidak perlu menunda
pernikahan kan Bian?”
Bian diam.
“Kamu mau tambah ice creamnya?”
Aku mengangguk pelan.
Waiters yang datang ke meja kami
mencatat pesanan, dengan sikap ramahnya yang menyenangkan. Sebenarnya, diantara
kegalauan, kekalutan, dan suasana hati yang sedang tidak menentu, aku sangat
menikmati tempat menyenangkan ini! de Opera At The Bay Bali!
“Indah sekali ya Bian disini.”
Aku menatap langit Bali yang mulai gelap. Tanpa terasa malam akan segera tiba.
“Iya. Kamu suka Delia?”
“I love this place!”
“Pilihanku tidak salah kan?”
Aku menggeleng mantap.
“Baru sekali ke Bali, dan aku langsung
jatuh cinta dengan tempat ini.”
“Seperti saat kamu melihatku
untuk pertama kalinya, dan jatuh cinta?” Bian mulai jahil.
“Hah?” Aku pura-pura bodoh.
“Kamu bilang, kamu jatuh cinta
saat melihat aku untuk pertama kalinya, saat kita bertemu di toko buku.” Aku
tertawa terbahak-bahak saat teringat pertemuan pertama kami di sebuah toko
buku. Mungkin terdengar sangat “sinetron”, tapi hari itu tangan kami mengambil
buku yang sama di rak. Dan, aku langsung terpana melihat sosok lelaki
disampingku, yang buru-buru minta maaf karena tidak sengaja menyentuh tanganku.
Lalu, kami mengobrol tentang
buku. Bertukar nomer. Saling bertukar kabar. Ketemuan. Makan bersama. Nonton
film. Sampai akhirnya pacaran.
“Kamu sendiri yang bilang… I falling in love with you from the first
sight Bian!”
“Ihhhhh!!!”
Damb! Bian masih saja membuatku
tersipu.
“Bian, jangan bercanda! Kita
sedang membicarakan masa depan!”
“Ah, aku tidak sabar untuk segera
menikah dengan kamu Delia.”
“WHAT?! You lie to me
Bian!”
“No!”
“Kamu bilang ingin menunda
pernikahan kita, dan sekarang kamu bilang ingin segera menikah dengan aku. Don’t play with me tembem!”
“Hey! Don’t call me tembem!”
“Tembeemmmm!!!!”
Waiters datang mengantarkan ice
cream dengan rasa yang luar biasa dasyat itu, seorang perempuan muda yang manis
itu, ikut tertawa saat melihat Bian berusaha menutup mulutku dengan tangannya
karena aku terus memangilnya tembem.
Bian benci dipanggil tembem!
Waiters yang aku yakini adalah
seorang gadis Bali asli itu, berlalu dari meja kami dengan senyum yang memikat.
“Jadi, apa maksud semua ini Bian?
Kamu hanya ingin aku datang ke Bali.”
Bian tertawa.
“Kamu malu punya calon istri yang
norak seperti aku. Umur 28 baru menginjakkan kaki di pulau Dewata.”
“Dikit….” Aku mencubit lengan
Bian.
“Sakit!”
“Bodo! Biar saja aku dibilang ga
gaul karena baru pertama kali datang ke Bali, saat usiaku hampir 30 tahun.
Ah, tapi Bali benar-benar memukau! Om Ardi dan Tante Yanti sudah berkali-kali memaksaku
ke Bali. Akhirnyaaaa… sekarang aku
benar-benar menghirup udara Bali! Menyenangkan!”
“Siapa suruh melewatkan tawaran
teman baik Bapak dan Ibu, untuk menginap ke rumah mereka?”
“Hahaha… setiap Om Ardi dan Tante
Yanti datang ke Jogja, mereka selalu ngotot menyuruhku mengunjungi rumah meraka
di Ubud. Bapak senang sekali saat kemaren Om Ardi menelpon dan bilang aku sudah
sampai Bali.”
“Siapa suruh baru datang ke Bali sekarang? Nunggu
aku sampai satu tahun, baru kamu mau datang ke Bali Delia? Nyebelin!”
“Cieee… gitu aja ngambek! Dasar manja! Pakai acara
mau mundurin pernikahan kita. Bilang saja, kamu kangen, terus pengen aku
tengokin.”
“Hmmm… aku cuma ga mau
punya calon istri yang rada kuper.”
“Hey!”
Bian meringis kesakitan saat aku
mencubit lengannya berkali-kali.
“Kalau kita sudah menikah, apa
kamu mau tinggal di Bali bersamaku?”
“Bian…. Jangan mulai…”
Kami mulai terdiam lagi.
Aku kembali sibuk menikmati ice
cream. Bian pun sibuk dengan ponselnya.
“Aku tidak bisa memutuskan
sekarang Bian. Pekerjaanku di Jogja sedang padat-padatnya, keluargaku…. Aku
belum siap untuk berpisah dengan semua itu.”
“Aku tahu Delia, tapi aku akan
menjadi suami kamu. Dan kita bisa tinggal bersama di Bali.”
“Bian…”
“Maaf, Delia….”
“Apa kamu akan tetap menunda hari
pernikahan kita?”
Bian kembali diam.
Situasi yang sama kembali
terulang.
Aku dengan ice cream. Bian dengan
ponselnya.
“Kita akan tetap menikah sesuai
dengan tanggal yang sudah ditentukan.”
Sesak didadaku tiba-tiba menghilang.
Aku memeluk Bian.
“Terimakasih tembem….”
“Don’t call me tembem!” aku tertawa dan mencubit kedua pipi Bian.
“Jadi, kita akan tetap menikah
kan?”
“Iya.”
“Asyiikkk…”
“Kita akan jalani semuanya Delia.
Menikah. Setelah itu, mungkin kamu yang akan tinggal di Bali, atau aku yang
akan pulang ke Jogja. Atau, kita tetap long
distance relationship. Meskipun aku tidak menyukai hubungan jarak jauh
seperti ini.”
“Iya, Bian.”
“Semoga dilancarkan semuanya ya
Delia.”
“Amin.”
Bian mengenggam tanganku erat.
Hatiku diliputi kehangatan.
Matahari mulai terbenam, dan Bali
semakin menawan.
***
Blog post ini
dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness : Share your
happiness with The Bay Bali & Get discovered! (dengan tulisan The Bay Bali
yang di link ke website : www.thebaybali.com)
Kamis, 06 Maret 2014
DIARY UNTUK AWAN - #Percikan
Aku memandangi diary berwarna biru dengan sampul Minnie Mouse yang diberikan Nona
kepadaku, saat siang tadi aku menunggu bus di halte depan sekolah. Dengan jantung
berdebar aku mulai membaca halaman per halaman diary biru berisi puisi-puisi yang ditulis Nona. Perfect! Aku suka sepuluh puisi indah
itu! Aku akan sangat berterimakasih pada Nona, atas apa yang sudah dia lakukan
pada diary biru ini.
“Haloo…” suara Nona diujung
telepon terdengar renyah.
“NONA!!!”
“Sttttt… ini sudah malam Sekar, jangan teriak-teriak…”
“Ops! Maaf…” aku menurunkan volume suaraku. “Aku sudah baca diary birunya.”
“Gimana? Kamu suka?”
“Suka banget! Makasih ya…”
“Sama-sama Sekar.”
“Sesuai janjiku, besok aku
traktir steak kesukaan kamu, boleh
pesen ice cream juga, boleh sama
kentang goreng juga, boleh…”
“Stooopp!! Jangan bikin aku pengen makan steak sekarang juga!”
Aku tertawa cekikikan.
“Sampai bertemu besok ya……”
“Oke deh… makasih ya
Sekar.”
“Sama-sama. Bye!”
Aku memandangi kembali diary biru itu. Senyumku semakin
mengembang saat wajah Awan mulai terbayang. Entah sejak kapan aku mulai jatuh
hati dengan Awan, mungkin sejak aku sering mengobrol dengan Awan. Awan yang
baik, Awan yang menyenangkan, Awan yang cute.
Diary berwarna biru itu membawa sejuta
harapan didalam hatiku.
*
Aku tidak tahu mengapa akhir-akhir
ini Nona sering menghindariku. Setelah kami makan steak bersama beberapa hari yang lalu, Nona mulai bersikap aneh.
Saat kami bertemu di kantin, dia pura-pura tidak melihatku. Saat kami
berpapasan di halaman sekolah, Nona tidak membalas senyumku, padahal jelas-jelas
kami saling bertatapan. Aku tidak tahu mengapa Nona bisa berubah sikap seperti
itu. Semoga hari ini aku menemukan jawabannya.
“Nona… tunggu!” aku
langsung berteriak memanggil Nona, saat dia baru saja keluar kelas. Nona
memandang sekilas kearahku, lalu buru-buru berjalan menjauhiku.
“NONA!” teriakanku semakin kencang.
Aku tidak peduli dengan teman-teman sekelas Nona yang mulai memandangiku.
Nona berhenti, berbalik
badan, dan kami berdiri berhadapan.
“Ada apa Sekar?”
“Akhirnya kamu mau bicara
denganku! Aku telpon ga diangkat, aku sms ga dibalas, setiap kali kita bertemu
kamu seperti menghindariku. Seharusnya aku yang bertanya sama kamu, ada apa
Nona?”
“Tidak ada apa-apa.”
“Bohong! Kalau tidak
apa-apa kenapa kamu menghindariku?”
“Kamu yang bohong!” Nona
menatapku tajam.
“Aku? Bohong?”
“Memberikan puisi pada Awan
melalui diary biru itu adalah sebuah
kebohongan Sekar.”
“Aku belum memberikannya
pada Awan. Kamu benar, jika aku memberikan puisi itu pada Awan, aku sudah
melakukan kebohongan.
Nona diam. Matanya mulai
berkaca-kaca.
“Maafkan aku Sekar, tapi
aku harus jujur sama kamu.”
“Ada apa Nona?”
“Puisi itu… puisi yang kamu
minta untuk diberikan pada Awan.”
“Aku belum menyerahkannya
Nona. Buku diary biru itu masih aku
simpan di laci meja belajar. Aku sadar, aku tidak ingin membohongi Awan dengan
puisi-puisi itu. Meskipun aku telah bohong pada Awan saat aku bilang kalau aku
suka menulis puisi, hanya karena Awan suka puisi. Aku hanya ingin membuat Awan
jatuh hati denganku karena puisi. Namun aku tahu, tidak seharusnya aku
melakukan itu.”
“Aku minta maaf Sekar...”
“Kamu ga salah apa-apa Nona, aku yang
salah karena sudah berbohong pada Awan.”
“Puisi itu memang aku buat untuk
Awan.” Aku mengerutkan dahi. “Aku jatuh
cinta pada Awan.” Jantungku berdegup kencang. “Aku minta maaf Sekar….” Nona
membalikkan badannya dan berlalu meninggalkanku.
Aku masih membeku. Selama ini aku curhat dengan Nona tentang rasa suka yang
kumiliki untuk Awan. Dan baru saja Nona mengaku jatuh cinta pada Awan. Ah,
kenapa jadi begini? ***
# My PERCIKAN, MAJALAH GADIS NO. 02 ● XL ● 14-23 Januari 2014
Langganan:
Postingan (Atom)
Melewati Waktu
Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...
-
Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...
-
Halo 2026! Alhamdulillah sudah memasuki tahun yang baru. Mudah-mudahan hal-hal baik datang di tahun ini, aamiin. Dan, tentu saja, bisa menon...
-
Ngomongin film ah, di malam minggu yang mendayu ini, wohooo! Well, mulai dari Parasite... Gaung film Parasite memang sudah menggema sej...