Jumat, 20 September 2019

On Friday

Hai September, cepat sekali kamu berlalu! Rasanya tidak ingin melepas September pergi dengan secepat ini :)
Alhamdulillah, ditambahkan umur sama Allah di bulan September ini, yang mana artinya adalah... I'am still YOUNG! Hahaha! Semangat harus tetep muda dunk :D
Well, mau corat-coret santuy ajalah kalau istilah sekarang mah... 
Ngobrolin film aja dulu ya, hehehe...
Jadi, kemarin nih nonton film Pretty Boys yang dibintangi oleh Vincent dan Desta. Asli, ini film lucuuuuu bangetttt!!! Dari awal film dimulai udah ngakak to the max! Joke-jokenya VinDest itu kan ya emang ngeselin gimana gitu ya, haha! 
Selain duo kocak, yang main di film ini ada Roy Marten yang ga akan diragukan lagi dunk kemampuan beliau dalam berakting. Terus ada Imam Darto, Danilla, Onadio, Ferry Maryadi dan masih banyak lagi. Sumpah, ini film seruuu banget! Ah, iya, ada Glenn Fredly yang kece dah! :D
So, kalau butuh hiburan, pengen ketawa ketiwi hula-hula, nonton film Pretty Boys bisa jadi rekomendasi buat ngisi acara weekend ini. 
Well, gara-gara nonton Pretty Boys, jadi teringatkan kembali pada lagu lama "Bukan Pacarmu" yang dinyanyiin Bibus, terus dinyanyiin ulang sama Tompi, yang juga jadi sutradara pada film tersebut. Asli, ini lagu ga santuy banget! *garuk tembok*
Sebagai debut pertama, rasanya Tompi berhasil menyutradarai film ini dengan baik. Diborong deh tuh semua profesi dari dokter bedah, penyanyi, fotografer, dan sekarang, sutradara! Keren Kakak Tompi ini :D
Next, ngobrolin apa yaaaa...
Cinta? 
Eh, ya ampun...
*garuk tembok*
Hahaha!
Topik yang ga pernah ada habisnya buat dibahas itu memang tentang cinta ya :)
So, ada yang sedang jatuh cinta? Semoga saja yang sedang jatuh cinta diberikan jalan yang indah, biar bisa bersama dengan orang yang dicintanya, aamiin
Ah, bakal panjang bener ini kalau ngomongin soal cinta, hahaha! Pending dulu ajalah ngomongin dunia cinta-cinta ini :D
Next, let's talk about... hmmm... ah, kenapa jadi buntu gini! Ga cuman jalan ya yang buntu, asal bukan jalan ke HATI KAMU yang buntu *eeeaaaaaa :p
Lanjut kapan-kapan lagi ya corat coret blog-nya. Mungkin butuh asupan camilan ini jatohnya, hahaha!
Selamat hari Jumat,
Happy weekend bagi yang merayakan!

Minggu, 08 September 2019

#AStoryAbout - OPS



OPS!


“Heran deh, bisa suka banget sih sama tuh donut!” Aku langsung sewot saat melihat Salsa yang sedang membuka kardus berisi 5 donut ukuran mini, saat kami sedang makan di kantin saat istirahat sekolah.
        “Sewot aja sih…”
“Ga bosan apa setiap hari makan tuh donut?”
“Engga dunk! Coba lihat… Ini looh ada yang rasa coklat, kacang coklat, strawberry, lemon, dan greentea. Mau?” Salsa mencomot donut rasa lemon dalam kardus lalu menyodorkan kepadaku.
         “Enggak mau!”
         “Enak tahu…”
         “Aku ga suka donut!”
         “Ih, rugi!”
 “Biarin!”
 “Donut Mungil ini so yummy! Rasanya ga kalah sama donut yang dijual di mal-mal. Senang sekali ketemu donut dengan harga terjangkau tapi rasanya lezat.”
         “Donut itu rasanya sama saja, manis banget, eneg.”
         “Masa?! Nyamnyamnyam…”  
         “Jauhkan donut itu dari hadapanku!”
         Lebay deh kamu.”
      “Jangan sampai selera makan soto hilang ya Salsa gara-gara donut favoritmu itu!”
      “Lihat deh Lulu, donut ini bentuknya mungil, sesuai dengan namanya, Donut Mungil. Terus, bentuknya lucu kan… rasanya lezat… enaakkkk!” Keisengan Salsa semakin menjadi dengan mendekatkan kardus donut tepat disamping mangkuk sotoku.
      “Salsa!” Aku langsung pasang tampang jutek yang disambut gelak tawa Salsa yang menyebalkan itu.

*

       Jantungku berdebar saat memasuki halaman rumah Putra. Kami berlima, aku, Tyas, Bimo, Iqbal, dan Putra, akan bersama-sama mengerjakan tugas fotografi.
  Aku suka Putra! Cowok kelas sebelah yang selalu terlihat cool dengan gaya cueknya itu. Tidak disangka ternyata aku dan Putra mengambil kelas ekstrakulikuler yang sama di sekolah, yaitu kelas fotografi. Dan aku bahagia sekali, untuk tugas kelompok kali ini, aku dan Putra ada di kelompok yang sama.  
   Salsa yang tahu kalau hari ini aku akan ke rumah Putra untuk menyelesaikan tugas, sejak tadi tidak berhenti mengirim pesan untuk menanyakan situasi yang terjadi. Dasar kepo! Aku memang cerita pada Salsa kalau aku suka Putra. Karena Salsa mengambil ektrakulikuler Musik, jadi ya dia tidak punya alasan untuk bisa ikut ke rumah Putra. Hehe!
      “Nah, silahkan duduk. Lesehan ya teman-teman.” Putra mempersilahkan kami duduk di teras rumahnya yang mirip pendopo.
         “Siap bos!!!” Iqbal, teman sekelasku yang gokil mulai ‘pasang aksi’.
            “Rumah kamu asyik sekali Putra, asri.” Jantungku berdebar saat Putra tersenyum kepadaku.
            “Makasih Lulu. Mama suka berkebun, dan inilah hasilnya.” Putra menunjuk taman asri di depan pendopo.
           Thanks Putra sudah mengundang kami ke rumah kamu, jadi kita tidak perlu repot-repot lagi cari objek foto.” Bimo terlihat happy.
            “Beneran nih kita ga perlu hunting lagi?”
         “Rasanya kebun Mama kamu sudah menjadi objek yang tepat Putra. Untuk tema alam kali ini, pendopo dan kebun Putra cocok untuk objek foto kerja kelompok kita. Setuju kan teman-teman?”
            “Setujuuu…” Kami kompak menjawab Tyas.
        “Tyas, peganging Lulu kenceng-kenceng deh, biasanya dia suka lari-lari terus nari-nari sendiri gitu kalau ngeliat taman. Yah, ga jauh bedalah sama adegan di film-film India itu.”
            “Makasih Iqbal!” Aku langsung sewot.   
            Tawa di pendopo Putra pecah mendengar lelucon Iqbal yang sama sekali ga lucu itu. Eh, tapi aku senang melihat Putra tertawa. Hah!
            Kamipun lalu bersiap-siap untuk mulai memotret.
          “Eh, sebentar ya aku tinggal ke dalam dulu.” Putra lalu masuk ke dalam.
      Putra kembali ke pendopo dengan membawa minuman kemasan botol dan kardus yang rasanya familiar. Perasaanku mulai tidak enak.
       “Ayo kita makan donut dulu sebelum mulai foto-foto. Ini minumannya juga boleh dinikmati looh.”
           Oh, no! Feelingku benar!
           “Waaaa… Thanks Putra! Ini donut paling happening sejagad raya!” Iqbal terlihat girang.
        “Setuju Iqbal, aku suka sekali Donut Mungil!” Tyas menimpali Iqbal. Sedangkan Putra sudah mencomot donut rasa coklat sepertinya.  
            Putra, Iqbal, Bimo, dan Tyas mulai asyik menikmati donut.
          “Lulu, kamu ga mau?” Tyas menyodorkan kardus donut ke hadapanku.
            Hmmm… ini… aku lagi diet hehehe…”
         “Kalau cuman makan satu donut buatan kakakku, berat badan kamu ga akan naik Lulu.” Senyuman Putra membuatku jantungku berdebar lagi.
            But, wait…
            “Jadi, kakak kamu yang bikin Donut Mungil?”
         “Iya Lu. Setiap hari, sebelum kakak berangkat ke kampus, dia mengantar donut ke beberapa tempat, termasuk ke kantin sekolah kita.”
            “Oh.” Aku lalu mengambil donut rasa greentea.
   Baik, aku harus makan donut bikinan kakak Putra. Harus! Ini demi usaha pedekate! ***    

           


Sabtu, 31 Agustus 2019

Ngomongin (film) Gundala

Corat-coret blog dulu... Yah, mumpung malam minggu *aelah*
Baik, mau ngobrolin film yang lagi hits ah, Gundala.
Saya sudah nonton dong filmnya di hari pertama diputar di bioskop, tanggal 29 Agustus lalu, di jam pertama pula :D 
Sejak bocoran film ini mulai bergulir di sosial media-nya Joko Anwar sebagai sutradara (ya, karena saya memang followernya sih), rasa penasaran pada film ini mulai mucul. Jujur saja, saya bukan pembaca komik Gundala, namun secara garis besar, saya tahu tentang cerita Gundala.
Mengintip proses pembuatan film Gundala yang dishare sama Joko Anwar melalui sosmed, jadi semakin excited buat nonton filmnya.
Setelah pengumuman bahwa tiket bisa dibeli beberapa hari sebelum film diputar, saya segera ke bioskop. Syukurlah, keinginan untuk menonton film Gundala di hari pertama, jam pertama, bisa terwujud :)
Okelah, mari ngobrolin tentang film Gundala yang sekarang sedang tayang di bioskop itu. Selama saya menonton film Indonesia di bioskop Empire Jogja, saya belum pernah menonton di studio 1, biasanya dapet studio 4 atau 5. Nah, ternyata karena faktor dolby atmos-nya! Jadi, suara yang dihasilkan bikin filmnya lebih cetar menggelegar! Eh, beneran looh, pas ada petir-petirnya berasa beneran ikut kesamber petir, haha!   
Mengikuti jalan cerita film Gundala memang menyenangkan, meskipun saya sempat bertanya-tanya dalam hati, ini tokoh siapa ya? Kenapa dia begitu ya? Well, sekali lagi, karena saya bukan pembaca komik Gundala ya, jadi masih rada bingung :( ya, tapi dapet bocoran dikit-dikit juga sih dari info yang dishare (lagi-lagi oleh) Joko Anwar tentang beberapa tokoh di film Gundala.
Sebagai penggemar Rio Dewanto, senang bisa lihat dia di film Gundala, meskipun ya hanya sebentar saja munculnya, sebagai bapaknya Sancaka (Gundala), yang akhirnya diceritakan meninggal.
Banyak adegan-adegan seru di film Gundala, meskipun miris juga pas lihat adegan "penyiksaan" pada Gundala kecil, dan juga Pengkor's gank saat kecil, hadeeww ga tega bener :( 
Secara action, film Gundala dapet sih feel-nya, adegan berantemnya cukup menarik. Di antara anak-anaknya "Bapak" Pengkor, yang paling seru menurut saya sih si Asmara Abigail.
Ada beberapa adegan yang "membekas", misalnya adegan di rel kereta api. Jadi nih, kalau sekarang melintasi rel kereta, jadi kebayang aja adegan tersebut, haha! Yang paling menarik buat saya sih saat si Gundala kesamber petir, sumpah itu keren banget. Ya itu tadi, berasa ikutan kesamber petir! :D
Senang bisa menonton film Gundala, dan rasanya penonton lain yang di jam 11.45 hari itu nonton juga senang, tepuk tangan bergemuruh saat film selesai, kece! Film Gundala secara sinematrografi bagus, sound nya bagus, dan akting para pemain filmnya juga bagus. 
Baiklah, sekian ulasan film Gundala ala-ala ini, hihi!
Happy Saturday night! 
Selamat bermalam panjang bagi yang merayakan ;)
❤❤❤ 

Jumat, 02 Agustus 2019

Ngobrolin Film

Pink in the morning, 
Kemarin kan nonton film Bridezilla terus jadi pengen corat-coret blog. Secara tema filmnya adalah... jreng... jreng... jreng.... pernikahan! Hmmm... so yummy banget kan ya buat bahan menulis di blog pagi ini, haha!
Baik, mau cerita sedikit tentang film Bridezilla yang dibintangi oleh salah satu idola saya, Rio Dewanto. Well, kemampuan Rio di film menjadi laki-laki yang sweet memang tidak diragukan lagi sih, hihi. Ya, kalau punya calon suami, terus akhirnya jadi suami, se- sweet Alvin (Rio Dewanto) di film Bridezilla, bakal leleh :)
Jadi, pasangannya Alvin, Dara (Jessica Mila) punya impian pernikahan sejak kecil, dan saat dia menikah dengan Alvin, pernikahan impiannya ingin diwujudkan. Meskipun saat menuju pernikahan tersebut ada konflik yang menyertai, namun akhirnya ya mereka menikah juga. Dara yang pendiri Wedding Organizer sudah berkali-kali membuat acara pernikahan untuk orang lain, dan zonk-nya adalah pernikahan gagalnya Queen Lucinta Luna. Asli, pas adegan Lucinta, ngakak! 
So far, film Bridezilla bagus.
Lewat film Bridezilla, saya (yang belum menikah ini) seperti mendapat "pelajaran" tentang pernikahan, terutama dari Abah-nya Dara. Bahwa sebuah pernikahan itu ya bagaimana nanti ke depannya dalam menjalani hidup bersama pasangan. Pernikahan bukan tentang "pesta"nya saja. 
Yang bikin mewek itu, ada kesamaan antara Dara dan saya, Ibunya Dara sudah meninggal, dan saya langsung teringat Almarhumah Ibu. Pada titik itu saya menangis.
Well, pernikahan itu rumit-rumit gampang ya rasanya. Ah, mungkin saya sok tahu, haha! Ingginnya, menikah itu ya sekali seumur hidup. Aamiin. Jadi ya sebuah pernikahan itu rasanya perlu persiapan matang ya. Eh, tapi kalau tiba-tiba ketemu jodohnya, terus langsung klik, kemudian menikah, ya sweet juga sih *ya, kalau jodohnya kaya Rio Dewanto :p
Pernikahan oh pernikahan...
So, apa kamu punya pernikahan impian seperti sosok Dara di film Bridezilla yang sudah "merancang" pernikahannya sejak kecil, dan ingin mewujudkannya saat dewasa ketika menikah? Kalau iya, semoga impian pernikahan yang kamu impikan terwujud ya :)
So, Happy Friday!
      

Kamis, 25 Juli 2019

#AStoryAbout - Tetangga Baru




            Aku mengamati truk besar dari balik jendela kamar. Barang-barang yang diangkut truk itu sepertinya akan mengisi rumah kosong yang berada di sebelah kiri rumahku. Sudah sekitar 6 bulanan ini rumah berpagar hijau itu kosong karena pemilik lama pindah ke Kalimantan. Kabar yang beredar kalau rumah berlantai 2 itu sudah laku terjual, sepertinya bukan sekedar gosip belaka.
            Woiii!!! Malamun aja!” Mbak Sari sudah berdiri di samping meja belajar.
            “Apaan sih, ganggu aja!”
            “Meja belajar kamu ini kayanya perlu dipindah deh biar konsen belajar, bukannya malah celingak-celinguk dari balik jendela, lihat sana-sini.”
            Lho, justru semangat belajarku semakin membara saat melihat birunya langit, memandangi orang yang sedang berjalan, me…”
            “Cukup… cukup… puisinya cukup ya!”
            “Mbak, itu tetangga baru kita siapa ya?”
            “Hah? Tetangga? Mana?” Mbak Sari ikutan mengintip dari jendela.
            Ih, ikutan ngintip juga! Tadi protes soal jendela dan meja belajarku…”
            “Akhirnya rumah sebelah ga kosong lagi, serem juga kalau terlalu lama kosong gitu… ntar kalau…”
            Stop! Aku ga mau denger cerita serem!”
            Mbak Sari keluar kamar sambil cekikikan.
*
            Sudah beberapa hari ini, sejak tetangga depan rumah itu pindah, aku sedikit terganggu dengan suara musik yang disetel dengan volume cukup kencang dari lantai 2, terutama saat malam hari.
            “Selamat siang... apa saya bisa… ”
            “Sari?”
            “Mia?”
            Hah? Kenapa Mbak Sari malah peluk-pelukan dengan seseorang yang membukakan pintu, saat siang ini kami datang untuk “protes” ke tetangga baru. Well, lebih tepatnya, aku yang memaksa Mbak Sari untuk menemaniku datang ke rumah tetangga baru itu. Setelah menolak keras, akhirnya dia mau juga menemaniku. Mungkin Mbak Sari juga mulai sedikit terganggu dengan “volume kencang” itu. Papa dan Mama mencoba menahanku untuk protes ke tetangga baru, tapi kesabaranku sepertinya sudah habis!
            “Tidak disangka bertemu kamu Sari.”
            “Eh, iya, hmm… ternyata kita tetanggaan. Rumahku yang di samping itu.” Mbak Sari menunjuk rumah kami. “Eh, ini kenalin ini adikku… Vio.”
            Aku dan teman Mbak Sari yang bernama Mia itu saling berjabat tangan.
            “Mari masuk…”
            “Eh… ini… hmmm…. Kapan-kapan saja deh kami main lagi ke sini. Kebetulan tadi aku sama Vio lagi ngejar tukang bubur ayam, terus mampir. Ini, Vio pengen kenalan sama tetangga baru katanya…” Aku langsung melotot pada Mbak Sari, yang entah kenapa raut wajahnya berubah jadi aneh gitu. Entah panik, entah apa, aku tidak paham.
            “Begini Mbak Mia… sebelumnya…”
            “Ayo Vio, ntar tukang bubur ayamnya keburu jauh…” Mbak Sari menarik tanganku kuat-kuat. “Bye Mia!”
            Bye! Sampai ketemu lagi ya… Sari, Vio…”
            Mbak Sari berjalan cepat sambil terus menarik tanganku kuat-kuat.
            “Mbak! Apa-apaan sih! Sakit nih tanganku. Eh, kita kan mau protes, kenapa malah begini!”
            “Ah, kenapa juga harus Mia!” Akhirnya Mbak Sari melepaskan genggaman tangannya.
            “Kenapa sih emangnya?”
            “Aku dulu merebut Bagas dari Mia.”
            “Mas Bagas yang mantan pacar Mbak beberapa tahun silam itu, yang pas awal-awal SMA kan?” Mbak Sari mengangguk pelan. “Mas Bagas itu pacarnya Mbak Mia lalu…”
            “Gebetan! Mereka belum jadian.”
So? Kalau baru gebetan sih…”
“Tapi semua anak-anak kelas paduan suara tahu kalau Mia itu naksir berat sama Bagas, tapi malah jadiannya sama aku. Ah, bete!”
            “Tapi kan kejadiannya sudah lama, lagian Mbak Sari kan sudah putus sama Mas Bagas.”
            “Mia itu cinta mati sama Bagas…”
            “Ya kan itu dulu… Mungkin saja Mbak Mia sekarang sudah punya pacar.”
“Tapi aku tetap merasa bersalah pada Mia jika inggat kejadian itu.”
“Ya, terus, kalau sudah begini, aku ga boleh protes?”
            “Tau ah!”
            Mbak Sari berjalan lemas menuju rumah. Aku jadi tidak tega melihatnya.
Ah, tapi protes must go on! Someday.***

           

Kamis, 11 Juli 2019

#AStoryAbout - Novel Untuk Kawa



NOVEL UNTUK KAWA

“Ya ampun Septi, mau berapa toko buku lagi yang akan kita datangi? Seharian muter-muter keliling kota hanya untuk mencari sebuah novel jadul, yang sepertinya sudah tidak beredar lagi di pasaran.” Dena, sahabatku ngomel-ngomel saat kami keluar dari toko buku. Ini adalah toko buku keempat yang sudah kami datangi sepanjang pagi hingga siang ini.
            “Yang sabar ya Dena, aku juga capek nih, tapi aku harus, kudu, dan wajib dapetin novel itu! Pokoknya aku harus bisa persembahkan buku itu untuk Kawa!”
            “Iya deh yang baru jadian. Apa-apa Kawa, apa-apa Kawa!” Aku tertawa melihat Dena yang tamban manyun. “Berarti kita akan hunting ke toko buku yang lain lagi untuk ngedapetin novel yang dicari Kawa-mu itu?”
Aku mengangguk mantap.
“Ya Tuhan, kalau bukan karena kamu, aku engga akan pernah mau roadshow dari satu toko buku ke toko buku yang lain.”
            “Dena, kamu memang sahabat terbaikku!” aku merangkul sahabatku.
Dena nyengir.
Kami lalu melangkah keluar toko buku untuk menuju toko buku selanjutnya. Dalam listku, masih ada empat toko buku lagi yang musti kami kunjungi. Aku yakin, masih ada toko buku yang menjual novel yang dicari oleh Kawa.
*
            Dua hari lalu, saat aku, dan Kawa mengobrol di teras rumah sambil menikmati semilir angin sore, Kawa cerita kalau dia sedang mencari sebuah buku, sebuah novel yang terbit sekitar 5-7 tahun silam. Kawa sudah berusaha mencari novel tersebut di toko buku, namun tidak juga menemukannya. Kawa pernah membaca novel tersebut di Perpustakaan Kota, karena cerita di novel itu sangat bagus menurut Kawa, maka Kawa ingin sekali memiliki novel tersebut. Sebagai pacar yang baik, penuh perhatian, dan rasa sayangku yang besar untuk Kawa, tentu  aku ingin membantu Kawa untuk mendapatkan novel favoritnya itu.
*

            “Apa ini?” Kawa menerima bingkisan yang sudah aku bungkus rapi dengan kertas kado berwarna abu-abu, warna favorit Kawa.
            “Ada deh…”
            “Senyum kamu misterius sekali Septi, aku jadi penasaran…” Aku tertawa. “Boleh aku buka sekarang?”
            “Boleh!”
Kawa membuka bungkusan dengan hati-hati. Kawa tahu aku pasti bakal ngomel kalau dia membuka bungkusan itu dengan asal. Aku, si miss perfect, yang paling tidak suka dengan ketidakrapian! Ah, Kawa memang pacar yang pengertian.
            “Buku?”
            “Iya, itu buku…sebuah novel untuk kamu, Kawa…”
            “Novel? Coba aku lihat siapa pengarangnya….” Kawa memperhatikan dengan seksama buku yang ada digenggamannya. “Ini…kamu yang bikin?” Kawa menatapku kebingungan.
            “Iya, itu novel yang aku persembahkan untuk kamu…” wajahku memanas, tersipu malu. Mungkin saat ini pipiku sudah semerah tomat. “Cetakannya cuman dua.”
“Seriusan?”
Aku mengangguk mantap.
“Satu untuk kamu, dan yang satu lagi untuk aku.”
“Wow!”
“Jadi, aku ditemani Dena datang ke beberapa toko buku, namun kami tidak menemukan buku yang kamu cari…”
            “Novelnya Rizky Hartanto yang Mentari Dan Rembulan?” Aku mengannguk pelan. “Septi, aku kan sudah mencari buku itu, jadi kamu tidak usah repot-repot mencarinya juga.”
            “Aku tahu, tapi aku memang ingin mencari novel itu untuk kamu…” Kawa mengenggam tanganku sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang selalu aku rindukan. “Karena novelnya Rizky ga ada, ya aku bikin novel sendiri aja….”
“Keren!”
“Hmmmm… sebenarnya cerita di novel ini mulai aku tulis saat aku mulai suka sama kamu…” Wajahku kembali menghangat. Tangan Kawa semakin erat mengenggam tanganku.
            “Kawa Dan Senja. Aku suka judul novelnya!”
“Yay!”
“Makasih Septi.” Kawa menatapku dengan tatapan lembut meneduhkan. Tatapan yang membuatku jatuh hati padanya.
            “Semoga kamu suka sama novel aku ya…”
            “Pasti! Aku kan selalu suka tulisan kamu di buletin sekolah. Mana mungkin aku tidak suka dengan novel limited edition ini! Sebuah novel untuk seorang kekasih. Oh, so sweeettttttt….. ”
            Noraaaakkkk!!!”
            Kawa tertawa.
            Ah, aku bahagia! ***
             

Sabtu, 06 Juli 2019

Penonton Film #1

Ngomongin film ah, di malam minggu yang mendayu ini, wohooo!
Well, mulai dari Parasite...
Gaung film Parasite memang sudah menggema sejak bulan Juni lalu kalau ga salah, tapi baru kesampaian nonton beberapa hari lalu. Dan, memang, ini film gokil parah! Rasanya ga ada jeda buat ambil nafas pas nonton film ini. Dari awal sampai ending, adegan demi adegan terasa sayang sekali untuk dilewatkan. Sungguh, film Parasite ini kece parah! 
Sekalinya nonton film korea versi layar lebar langsung terpana sama Parasite. Selama ini kan ya nonton Korea'an itu ya Drakor di tv :) 
Sayang, saat saya mau menonton hanya tinggal 1 bioskop saja yang memutar film ini. Ya mungkin kalau menonton di awal, ada banyak bioskop yang menayangkan ya... tapi memang ga rugi bener sih dibelain ke bioskop yang di ujung sana *ya, kan, CGV JWalk jauh ya bok* kalau pada akhirnya beneran gembira bisa nonton Parasite. 
Dengan mengusung genre dark comedy *begitu yang saya baca di salah satu artikel berita online di Twitter* Parasite memang menyuguhkan cerita yang... ah, keren pisan atulah! Akting aktor dan aktrisnya juga kece badai! 
Kehidupan keluarga miskin dan keluarga kaya yang diangkat menjadi cerita di Parasite memang berasa yang... wow, takjub akutuh! Kehidupan orang kaya itu memang menyilaukan! Haha!
Next, Hit&Run,
Film action-comedy yang satu ini memang sayang kalau dilewatkan begitu saja. Joe Taslim yang selama ini kita lihat di film laga, dengan ketegangan dan keseriusan, nyatanya di film ini Joe bisa lucu juga :) lagu "Taman Safari" jadi salah satu magnet juga sih di film ini, asoi geboy hula-hula deh :) Tatjana Saphira cocok bener jadi penyanyi dangut nan lebay. Asyik bangetlah nonton film ini. Komedinya dapet, action-nya juga dapet. 
Lalu ada, Ghost Writer,
Menonton akting Tajtana Saphira lagi dengan peran yang berbeda. Film dengan genre horor-comedy ini memang sayang juga untuk dilewatkan. Selama ini saya takut bener nonton film horor, kalaupun akhirnya nonton di tv, ya pasti sedia bantal buat nutup muka, hehehe... ya meskipun Ghost Writer ini horor dengan unsur komedi, tetep aja tutup muka pakai tas pas hantunya muncul di layar bioskop, haha! 
Yang bikin girang itu ya ada Dave Mahenra juga di film ini, secara memang idola sih :) 
Film ini bercerita tentang hantu yang menjadi "ghost writer" untuk seorang penulis novel. Ya, kalau selama ini istilah ghost writer di dunia penulisan itu ya kaya penulis bayangan begitu, di film ini ghost writer-nya beneran ghost dong :) Secara saya suka nulis, dan punya cita-cita untuk menelurkan novel suatu hari nanti, *Aamiin ya Allah* film ini menyenangkan.
Terus, Si Doel 2,
Nah, kalau film yang satu ini memang sangat familiar ya :) kisah cinta segitiga antara Doel-Sarah-Zaenab memang selalu menarik untuk diikuti. Kirain bakal nemu ending di film Doel 2 ini, ternyataahh belum ending, hohoho... Ah, iya, terimakasih untuk teman yang mentraktir menonton film ini :)
Yah, kita tunggu sajalah bagaimana nanti ending ceritanya, entah Sarah atau Zaenab yang akan dipilih Bang Doel, pastilah itu yang terbaik *uhuk* Ya, namanya juga cinta, pasti ada pengorbanan *uhuk lagi* 
Baik, sebenarnya masih banyak film yang beredar di bioskop, namun ya film-film yang saya tonton ya yang saya tulis diatas tadi. Selera masing-masing orang kan berbeda ya dalam menonton film. Film apapun yang ditonton, pastikan kita memang suka dengan film tersebut. Baik dari genre filmnya, aktor filmnya, segi ceritanya, ah, dari segi apapunlah ya, yang penting suka! 
Lebih sering-seringlah menonton film dalam negri. Sudah banyak film Indonesia yang bagus-bagus kok.  
Bulan Agustus nanti, nungguin banget ini film Gundala, wohoooo!!! 
Okelah, selamat bermalam panjang bagi yang merayakan...
Happy Saturday! 

Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...